RSS

Makalah Akhir Kelas Kebudayaan Indonesia: Ketahanan Didong sebagai Tradisi Lisan Gayo dalam Masyarakat Indonesia

Ketahanan Didong sebagai Tradisi Lisan Gayo dalam Masyarakat Indonesia
oleh
Irna Gayatri D. Ardiansyah, 0906641453



I.          Tradisi Lisan

Kebudayaan di Indonesia merupakan hal yang tidak dapat lepas dari tradisi. Tradisi itu sendiri bukanlah hal yang sudah selesai dan berhenti, melainkan merupakan suatu hal yang masih ada dan terus berkembang. Tradisi ini berkembang mengikuti arus perubahan sosial, namun perubahan yang terjadi tidaklah melenceng jauh dari akarnya. Tradisi tetap menjadi seni tradisi bagi masyarakat setempat yang mengalaminya.
Tradisi lisan telah berkembang di Indonesia sebelum masyarakat Indonesia mengenal aksara. Tradisi lisan pada awalnya subur dan berkembang di seluruh nusantara dan menjadi salah satu kekayaan budaya masyrakat Indonesia. Setelah aksara masuk ke nusantara, tradisi lisan tidak hilang, tetapi berkembang beriringan dengan tradisi tulisan.
Tradisi lisan menurut B.H. Hoed adalah berbagai pengetahuan dan adat kebiasaan yang secara turun-temurun disampaikan secara lisan yang mencakup tidak hanya cerita rakyat, mitos, dan legenda, tetapi juga dilengkapi dengan sejarah, hukum adat, dan pengobatan. Hal-hal yang terkandung dalam suatu tradisi lisan adalah hal-hal yang terlahir dan mentradisi dalam suatu masyarakat yang merupakan warisan nenek moyang. Pada dasarnya, suatu tradisi dapat disebut sebagai tradisi lisan jika tradisi tersebut dikatakan (oleh penutur) dan didengar (oleh penonton). Tetapi, jika suatu tradisi lisan dituliskan, apakah tradisi lisan yang dituliskan tersebut tetap menjadi tradisi lisan, atau justru telah berubah menjadi suatu tradisi tulisan.
Sebenarnya, sulit untuk mempertahankan suatu tradisi lisan pada era modern ini karena manusia modern telah mengenal sistem aksara dan ejaan sehingga lebih tertarik pada sumber-sumber tertulis. Cerita rakyat, misalnya, yang pada awalnya merupakan bagian dari tradisi lisan, di era modern berubah menjadi bagian dari tradisi tulisan karena cerita rakyat tersebut dicetak menjadi sebuah buku. Nilai cerita rakyat sebagai tradisi lisan pun menghilang dan, dengan begitu, esensi cerita rakyat itu pun hilang.
Inilah masalah yang melingkupi tradisi lisan nusantara. Tradisi lisan tidak akan berkembang dan bertahan jika tidak ada penutur dan penonton yang benar-benar mencintainya. Lalu, jika ada usaha untuk mempertahankan tradisi lisan tersebut dengan menuliskannya dalam buku, tradisi lisan itu akhirnya malah berubah menjadi bagian dari tradisi tulisan. Bisa juga, usaha pembukuan dan perekaman tradisi lisan tersebut memang berhasil mempertahankan tradisi lisan tersebut, namun pada hasilnya adalah penghilangan esensi tradisi lisan itu. dengan kata lain, apa yang didengar oleh generasi muda yang tidak sempat mendengar dan melihat tradisi lisan itu bukanlah tradisi lisan yang sebenarnya.
Dalam makalah ini, saya akan mencoba melihat masalah yang melingkupi salah satu tradisi lisan di Gayo, Aceh, yaitu Didong. Masalah yang akan saya bahas adalah apakah Didong akan bertahan sebagai tradisi lisan di Gayo jika melihat kedudukan tradisi lisan nusantara dalam masyarakat Indonesia saat ini. Tradisi lisan yang saat ini sudah jarang ditemukan masyarakat modern Indonesia dapat terancam keberadaannya sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia.

II.          Didong dan Fungsinya bagi Masyarakat Gayo

Salah satu seni tradisi yang ada di Indonesia adalah Didong. Didong adalah kesenian dari Gayo, Daerah Istimewa Aceh. Didong dapat dinyatakan sebagai satu varian dari nyanyian rakyat (Melalatoa, 2001:1). Sebagai suatu kesenian tradisional, Didong telah menjadi keseharian bagi masyarakat Gayo. Mayarakat Gayo, dalam kaitannya dengan Didong, dikenal sebagai masyarakat kebudayaannya amat cepat berubah dibandingkan masyarakat daerah lainnya di Pulau Sumatra. Oleh karena itu, Didong tampil dalam masyarakat Gayo yang cenderung berubah dengan cepat sebagai salah satu kesenian yang cukup kuat bertahan. Didong juga sekaligus menjadi cirri pengenal etnik Gayo (Melalatoa, 2001:2).
Didong adalah suatu tradisi lisan yang dapat dikatakan sebagai ajang unjuk kreatifitas masyarakat Gayo karena, dalam Didong, sang penutur harus menyajikan nyanyian yang berbeda-beda. Berdasarkan buku Didong Pentas Kreatifitas Gayo, Didong adalah seni yang dipertandingkan antara dua kumpulan grup yang masing-masing disebut ulu atau kelop. Acuan dalam pertandingan Didong didasarkan pada pesan budaya yang tersirat dalam unkapan yang dikutip di bawah ini.
Idung bertenunug, adi bermemulo.
Pesan atau arti ungkapan ini adalah:
“Berlombalah untuk (mendapatkan, menciptakan, memberikan, menghidangkan) sesuatu yang terbaik”
Pesan budaya dalam kaitannya dengan pertandingan didong ini berarti “berkompetisi” dalam menciptakan dan menyajikan karya yang ”berkualitas”.” (hlm. 3).
Kutipan di atas telah memberikan sedikit gambaran bahwa Didong adalah kesenian yang menuntut penuturnya untuk selalu kreatif karena Didong adalah sebuah kompetisi yang harus menyajikan karya yang berkualitas.
Peserta yang mengikuti Didong berjumlah sekitar 30 “aktor”. “Aktor” tersebut terbagi lagi ke dalam dua kategori utama, yaitu ceh dan penunung atau penyur (pengiring).  Seseorang yang bisa disebut ceh harus memenuhi beberapa syarat. Modal utamanya adalah suara merdu yang juga didukung dengan kemampuan menciptakan lirik (kekata) sendiri yang akan dilegukan dengan melodi ciptaan sendiri juga. Seorang ceh juga harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai adat istiadat masyarakat Gayo. Pengetahuan luas ini akan diaplikasikan ke dalam perbendaharaan kata untuk lirik yang mereka ciptakan (Melalatoa, 2001:11).
Sistem pertandingan Didong juga membuat seorang ceh harus menciptakan lirik dan melodi secara spontan dan inilah yang membuat Didong disebut sebagai ajang unjuk kreatifitas masyarakat Gayo. Dalam suatu pertandingan Didong, harus ada seorang Ceh Kul atau ‘aktor utama’ yang didampingi oleh pasangannya yang dapat berjumlah dua atau tiga orang yang disebut apit. Apit atau ceh due atau ‘aktor pembantu’ ini berperan membantu aktor utama dalam menghadapi serangan atau menyerang lawan tanding. Ceh Kul memiliki suara yang paling merdu diantara ceh lauin dalam sebuah kelop atau ‘grup’. Ceh Kul juga merupakan pencipta melodi dan lirik, penyusun strategi, serta pendongkrak semangat juang para aktor lain.
Hal yang menarik dari pertandingan Didong ini adalah keberadaan aktor lain yang duduk melingkar mengelilingi ceh untuk mengiringi pertandingan dengan kreasi dan variasi tepuk tangan (tepok) dan variasi gerak tubuh yang serasi (Malalatoa:17). Penonton juga menjadi bagian penting dalam pertandingan Didong karena ceh sering disebut berhasil menembangkan lagunya jika sudah dapat mencuri perhatian penonton. Penonton dapat menunjukkan rasa simpati pada ceh dari salah satu kelop jika mereka merasa lirik yang ditampilkan sesuai dan mengena dengan melodi yang dinyanyikan.
Melodi dan lirik adalah hasil cipta seorang ceh dan menjadi milik sebuah kelop pada akhirnya. Satu hal yang dituntut dari seorang ceh adalah melodi dan lirik yang baru. Pernyataan ini kembali berhubungan dengan pernyataan bahwa Didong adalah pentas kreatifitas Gayo. Jika seorang ceh tidak dapat menciptakan melodi-melodi yang baru secara spontan, hujatan penonton dan serangan balik dari lawan sudah menunggu ceh tersebut dan tentu saja hujatan juga ditujukan untuk kelop tersebut. Oleh karena itu, Melalatoa menyebut pertandingan Didong sebagai pertandingan yang mempertaruhkan harga diri ceh dan tentu saja harga diri kelop yang menaunginya.
Jika dalam pantun kita mengenal rima, dalam Didong kita akan menemui variasi tata bunyi yang sekilas mirip dengan rima. Variasi tata bunyi tersebut adalah hasil dari kreatifitas ceh. Biasanya, variasi bunyi yang dihasilkan adalah variasi di bagian akhir lirik bait pertama, bagian tengah bait kedua, dan bagian akhir bait kedua. Pola ini terus berulang sampai akhir lirik. Contoh pola lirik ini akan saya berikan di bagian lampiran.
Untuk tema lirik Didong, biasanya seorang ceh mengambil tema dari masalah yang sedang berlangsung dan populer saat itu. Tema ini berkaitan dengan fungsi Didong bagi masyarakat Gayo. Fungsi Didong bagi masyarakat Gayo terus berkembang dan beragam mengikuti perkembangan zaman. Berdasarkan buku Didong Pentas Kreatifitas Gayo, fungsi Didong bagi masyarakat Gayo adalah untuk (1) mempertahankan struktur sosial, sebagai media (2) keindahan dan hiburan, sebagai (3) pelestari sistem budaya, (4) pencari dana sosial, media (5) penerangan, dan media (6) kontrol sosial.
Fungsi Didong sebagai media hiburan dilihat berdasarkan lirik dan melodi yang memiliki keindahan atau nilai estetika. Lirik dan melodi yang indah tentu menjadi salah satu fokus utama dalam Didong dan hal ini menjadi fokus karena seorang ceh dikatakan berhasil setelah dapat merebut simpati dan perhatian penonton. Jika penonton merasa tidak terhibur, gagallah seorang ceh dalam menembangkan lagunya. Hal ini menjadi penting karena penonton sebuah pertandingan Didong dapat menjadi sangat fanatik terhadap pertandingan maupun kelop yang bertanding. Oleh karena itu, fungsi hiburan dan keindahan yang dirujuk di sini adalah berdasarkan keberadaan dan kepentingan penonton dalam pentas Didong tersebut.
Didong berfungsi sebagai pelestari sistem budaya karena, di dalam lirik Didong, terdapat banyak muatan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di Gayo, seperti adat perkawinan, adat mendirikan rumah, dan upacara adat lainnya. Pentas Didong juga dapat menanamkan sistem nilai masyarakat Gayo seperti harga diri, disiplin, jiwa kompetitif, dan kualitas yang semuanya tercermin dalam peserta Didong.Pemahaman para ceh atas system nilai ini menjadi roh dari karya-karya yang dihasilkannya (Melalatoa, 2001:61).
Didong juga berfungsi sebagai pencari dana sosial. Hal ini dapat terjadi karena setelah masa kemerdekaan, banyak dilaksanakan pembangunan di mana-mana, begitu pun di Gayo. Pembangunan yang dilaksanakan antara lain adalah pembangunan tempat ibadah seperti masjid atau musala, pembangunan jembatan, sekolah, serta pembangunan sarana umum lainnya. Untuk menghimpun dana, diadakanlah pertandingan Didong. Para penonton yang datang harus membayar uang tiket masuk dan biaya dari penjualan tiket masuk inilah yang digunakan untuk memperlancar pembangunan tersebut.
Kesenian dapat menjadi lebih menarik dan memudahkan penyampaian pendidikan. Kasus yang terjadi dalam masyarakat Gayo, khususnya para orang tua yang umumnya buta huruf, adalah mereka tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Didong, yang liriknya berisi sistem nilai masyarakat Gayo dan masalah-masalah yang sedang banyak dibicarakan pada masa itu, merupakan cara terbaik untuk menyampaikan dan menerangkan masalah dan isu apa yang sedang beredar. Para orang tua di Gayo memiliki kesulitan memahami Pancasila karena bahasanya yang begitu sulit serta keminiman kemampuan membaca mereka. Melalui Didong, mereka dapat memahami dan mengetahui Pancasila serta maknanya, apalagi penyajian yang disuguhkan oleh ceh dengan irama yang enak didengar telah membuat para orang tua itu memahaminya dengan mudah. Dibandingkan dengan penyampaian isu-isu atau program-program pemerintah melalui pidato pejabat setempat, Didong telah menjelma menjadi media penyampaian paling efektif bagi masyarakat Gayo.
Tentu saja, karena Didong merupakan media penyampaian yang paling efektif bagi masyarakat Gayo, Didong menjadi media kontrol sosial yang paling efektif juga. Hal ini disebabkan oleh cara penyampaian yang dilakukan ceh yang jauh lebih mudah dipahami daripada cara penyampaian oleh pejabat tadi. Situasinya sama seperti lagu-lagu rohani yang dapat menjadi media penyampaian agama dan kontrol sosial karena di dalamnya terdapat peringatan dan pemberitahuan hukuman bagi orang yang berbuat dosa. Didong pun demikian halnya. Di dalam Didong, terdapat lirik-lirik yang sifatnya kritis dan lirik-lirik ini dapat menyindir individu, masyarakat atau pemerintah. Sebuah lirik dapat berisi saran untuk selalu hidup rukun dalam berumah tangga, pentingnya pendidikan bagi masyarakat, serta banyak lagi yang menyindir perilaku manusia yang meremehkan nilai-nilai adat. Sindiran kepada pemerintah biasanya dibicarakan melalui lirik yang berisi tentang korupsi, ketidakberpihakan kepada rakyat, dan lain-lain (Malalatoa:65).

III.          Didong sebagai Tradisi Lisan di Gayo dan Ketahanannya sebagai Tradisi Lisan Nusantara

Didong telah melekat ke dalam kehidupan masyarakat Gayo. Walaupun begitu, hal yang patut dicurigai adalah apakah Didong sebagai tradisi lisan ini dapat bertahan sementara kehidupan masyarakat Aceh pada umumnya sudah jauh berkembang menuju ke arah modernisasi. Modernisasi membawa masyarakat Aceh daerah perkotaan menjadi masyarakat yang cenderung tidak mengindahkan tradisi lisan. Hal ini senada dengan pernyataan awal para sarjana Belanda dari zaman sebelum Perang Dunia II mengenai folklor yang hanya sebagai kebudayaan orang pedesaan yang lebih rendah dari kebudayaan orang kota. Folklor yang dimaksud di sini adalah tradisi lisan.
Dalam sebuah film mengenai seorang ceh cilik (ceh kucak) yang mewariskan tradisi Didong dari ayahnya, terlihat suatu masalah bahwa dalam Didong terdapat suatu kelemahan. Karena para ceh harus memiliki kemampuan untuk mengarang lirik dan melagukannya secara spontan, tentu saja, para ceh tersebut tidak mencatat lirik yang pernah mereka buat. Walaupun begitu, para ceh dapat mengingat lirik dan melodi yang pernah mereka buat sambil terus membuat lirik dan melodi baru dalam pentas. Oleh karena itu, pencatatan dan perekaman tentulah harus dilakukan oleh peneliti.
Upaya pencatatan lirik-lirik dalam Didong perlu dilakukan untuk menjaga keberadaan Didong dalam masyarakat Gayo. Perekaman melodi Didong ke dalam kaset dan video juga merupakan hal yang tidak kalah penting. Baik pencatatan lirik maupun perekaman melodi memang sudah dilakukan dalam penelitian, tetapi sebenarnya upaya tersebut telah menghilangkan esensi Didong dan tentu saja esensi tradisi lisan secara umum.
Sebuah film mengenai ceh kucak telah membuktikan bahwa esensi Didong hanya dapat ditemukan dalam pentas Didong. Dalam Didong, unsur yang penting bukan hanya lirik yang dilagukan oleh ceh, melainkan juga partisipasi penonton dan keriuhan penonton yang melihat pentas tersebut. Dalam tradisi lisan, terjadi dialog antara pembicara/penutur dan pendengar/penonton serta terdapat mimik yang dapat menggambarkan emosi dengan sejelas-jelasnya. Hal ini tidak dapat digantikan oleh pencatatan dan tentu hasilnya akan berbeda dengan pencatatan. Makna yang ingin disampaikan oleh penutur juga akan berbeda karena dalam membaca, pembaca dapat menafsirkan sendiri isi bacaannya. Inilah yang disebut pencatatan menghilangkan esensi tradisi lisan Didong. Perekaman berupa video memungkinkan orang-orang yang tidak melihat langsung pentas Didong dapat melihat dengan jelas bagaimana pentas Didong itu berjalan. Namun, kembali lagi, esensi yang didapatkan tidak ada karena perekaman tidak meliputi keseluruhan pentas Didong.
Tradisi lisan dalam masyarakat Gayo bukan hanya Didong. Di Gayo, terdapat tradisi lisan lain berupa kekeberen, sair, dan saman. Masalah yang sama juga dialami oleh tradisi lisan yang lain. Masalah yang diungkapkan oleh Hanafiah dan kawan-kawan mengenai tradisi lisan Gayo adalah pencatatan dan pengumpulan tradisi lisan Gayo masih tersebar bentuknya (1985:2). Kesulitan penelitian yang dihadapi juga meliputi penutur yang kebanyakan berada di kecamatan yang “tua” dan sebagian besar merupakan manula dan umumnya tinggal di daerah asalnya. Hal ini sama dengan Didong. Sebagian besar penutur atau ceh merupakan orang tua dan manula. Bahkan, dapat dikatakan bahwa Didong mengalami krisis ceh kucak atau paling tidak ceh muda. Didong pun tidak berkembang di daerah perkotaan Aceh dan tidak diketahui masyarakat di daerah lain di luar Aceh.
Pentas Didong saat ini masih dilakukan oleh orang-orang tua. Dengan kata lain, saat para ceh yang merupakan orang-orang tua itu meninggal, Didong pun dapat ikut mati. Oleh karena itu, krisis ceh cilik dan muda harus segera diatasi untuk menghindari kematian Didong sebagai tradisi lisan Gayo dan Nusantara. Modernisasi yang telah menjamah hampir seluruh wilayah nusantara dapat membuat tradisi lisan dilupakan.
Minimnya buku yang membahas tentang Didong juga membuat informasi mengenai Didong tidak lengkap dan hal ini dapat mengakibatkan kesenian ini tenggelam dan hilang. Kemungkinan ini dapat terjadi karena dengan semakin sedikitnya sumber yang dapat ditemukan, baik sumber tertulis maupun sumber lisan atau dengan kata lain ceh yang ikut menjadi bagian dari pentas Didong, eksistensi Didong sebagai bagian dari tradisi lisan Gayo juga akan semakin tenggelam. Apalagi, jika tidak ada regenerasi karena tidak ada generasi berikutnya dari seorang ceh yang mendapat anugrah dan bakat yang sama yang sanggup meneruskan tradisi tersebut, bukannya tidak mungkin Didong akan benar-benar hilang. Minimnya buku yang membahas dan setidaknya menyinggung hal-hal seputar Didong tidak menutup kemungkinan bahwa masyarakat perkotaan Indonesia tidak akan mengetahui tradisi lisan tersebut. Ketidaktahuan ini akan terus berlanjut sehingga kemungkinan terburuk yang terjadi adalah Didong sebagai tradisi lisan akan benar-benar hilang.
Penelitian yang dilakukan tetap berdasarkan sumber lama yang telah ada, namun juga melengkapi sumber itu. cara terbaik untuk melestarikan tradisi lisan Didong ini adalah dengan mencatat semua lirik yang pernah dibuat—dalam hal ini, lirik yang dimaksud adalah lirik yang berasal dari ceh yang masih hidup—dan merekam melodi yang dihasilkannya. Dokumentasi seperti ini menjadi penting karena sebelumnya tidak ada masyarakat Gayo sendiri yang pernah mencatat lirik yang pernah dihasilkan dalam sebuah pertandingan Didong. Pencatatan secara lengkap dan perekaman adalah cara untuk melestarikan tradisi Didong ini. Walaupun begitu, cara pelestarian terbaik tentu saja hanya dapat dilakukan oleh masyarakat Gayo, khususnya ceh, yaitu dengan mengajarkan secara langsung lirik-lirik dan melodi yang pernah ada dan mengajak sang penerus tersebut menonton suatu pertandingan Didong. Hal ini dapat mengasah kemampuan sang penerus untuk menghasilkan lirik-lirik dan melodi khas Gayo secara spontan.

IV.          Kesimpulan

Didong sebagai tradisi lisan adalah salah satu kesenian yang sangat menarik karena Didong membutuhkan keterampilan dan kemahiran dari penuturnya. Sayang sekali jika kesenian ini hilang begitu saja tanpa adanya dokumentasi lengkap sehingga masyarakat Indonesia tidak dapat mengetahui kesenian ini. Upaya mendokumentasikan tradisi lisan Didong ke dalam tulisan memang telah dilakukan, namun upaya ini telah menghilangkan esensi Didong pada umumnya. Hal ini disebabkan oleh sistem yang terdapat dalam tradisi tulisan sama sekali berbeda dengan sistem yang ada dalam tradisi lisan. Dalam tradisi tulisan, unsur pembangun yang paling penting adalah aksara dan ejaan. Emosi yang terdapat dalam penceritaan langsung—dapat terjadi dalam tradisi lisan—digantikan kedudukannya dengan tanda baca. Hal ini menghilangkan esensi dari tradisi lisan tersebut, seperti Didong.
Di lain pihak, untuk mempertahankan esensi tersebut, dilakukanlah perekaman ke dalam kaset dan video. Namun, hal yang sangat disayangkan adalah bahwa perekaman Didong ke dalam kaset dan video dilakukan untuk tujuan komersial. Pada akhirnya, upaya terbaik untuk mempertahankan Didong sebagai tradisi lisan nusantara hanya dapat dilakukan dengan bantuan penutur/pencerita dan penonton/pendengar. Penutur—dalam hal ini ceh—harus memiliki penerusnya, generasi muda, karena tradisi lisan merupakan kelisanan yang disampaikan turun-temurun. Jika kelisanan tersebut berakhir atau mati pada suatu generasi, tentu saja kelisanan tersebut tidak akan menjadi tradisi lagi dan menghilang.


Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sastra Lisan Gayo. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan. 1985.
Melalatoa, M. Junus. Didong Pentas Kreativitas Gayo. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia, 2001.
MPSS, Pudentia, peny. Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia. 1998.
Sulaiman, Drs. Nasruddin, Drs. Rusdi Sufi, Tuanku Abdul Jalil. Aceh Manusia
Masyarakat Adat dan Budaya. Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh,
1992.

* * * * *

Lampiran

Contoh Pola Lirik Didong
Karya Abd. Rauf (grup “Kabinet Mude”)

Kurik Kampung

Wo si penonton enti mulo inger
ku si munengon kami berunger
ike ku person gelahmi seber
enti inah kin keber ni tudung payung
kati kite angon didong si bener
nume person la si kite bungker
mudah-mudahen mujadi ihtiber
ini kuseder ni kurik kampung

Meh di konae la ni kurik Bangkok
teduh ikeke rede icicok
pora mulape munyino berok
isi ni rongok gere nguk gantung
rongka ni tubuhe ulah-ulah jongok
alih relane asal mengok-mengok
urum geli netawe munengin itik entok
pepala mumepik nge lagu ketibung …

(1962)
(dikutip dari Didong Pentas Kreativitas Gayo, hlm. 131)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Poskan Komentar