Ujian Tengah Semester Pengkajian Cerita Anak: Tokoh Upin dan Ipin sebagai Gambaran Kehidupan Anak

Tokoh Upin dan Ipin sebagai Gambaran Kehidupan Anak dalam dalam Serial Upin dan Ipin dan Kawan-kawan
oleh Irna Gayatri D. Ardiansyah, 0906641453
Selasa, 22 Februari 2011


Dunia anak adalah dunia yang penuh dengan imajinasi dan kegiatan bermain dan belajar. Dunia anak sering digambarkan dalam cerita atau serial televisi. Cerita anak sebenarnya bukan hanya berupa cerita yang berbentuk prosa, melainkan kehidupan anak secara keseluruhan. Akan tetapi, dalam buku Children & Books, disebutkan bahwa “children’s literature consists of books that are not only read and enjoyed, but also that have been written for children and that meet high literary and artictic standards” (1996: 6). Pendapat ini adalah sebuah pandangan mengenai sastra anak dan dalam hal ini, pandangan mengenai cerita anak sudah pasti lebih luas, bukan hanya mengenai buku dan sastra.
Tontonan anak dan tayangan televisi juga termasuk ke dalam cerita anak. Dibandingkan dengan sastra untuk anak yang berupa buku cerita atau cerita bergambar, tontonan anak lebih rentan menyajikan tindakan-tidakan yang tidak seharusnya ditiru anak. Penelitian yang pernah dilakukan mengenai pengaruh tontonan-tontonan anak terhadap anak telah menggambarkan sebagian besar poin berikut. (1) Anak yang menonton televisi tanpa dibatasi waktunya oleh orang tua memiliki prestasi belajar yang buruk. (2) Anak yang menonton tontonan humor yang kasar seperti Opera Van Java banyak meniru adegan-adegan kasar dalam tontonan tersebut. (3) Anak yang selalu ditemani orang tua dalam menonton tayangan tersebut akan memiliki perilaku yang baik karena orang tua yang menemani mereka menonton telah menjadi panutan bagi mereka.
Menurut saya, anak akan selalu menonton apa saja yang disajikan dihadapannya. Oleh karena itu, dalam penelitian-penelitian sebelumnya juga, sering ditemukan anak yang menonton sinetron dewasa karena orang tuanyalah yang memulai menonton sinetron tersebut. Dalam kasus ini, anak menonton karena orang tuanya yang menjadi contoh bagi dirinya terlebih dahulu menonton itu. Akan tetapi, jika tontonan yang ditonton anak adalah tontonan yang berkualitas, hal itu tidak akan jadi masalah. Berkualitas dalam hal ini adalah tontonan tersebut memiliki unsur pendidikan anak yang tersurat atau jelas dan bebas dari hal-hal yang berbau kekerasan.
Untuk mengetahui lebih jauh mengenai unsur pendidikan tersebut, marilah terlebih dahulu kita sedikit melihat serial Upin dan Ipin dan Kawan-kawan. Upin dan Ipin dan Kawan-kawan adalah serial anak yang berasal dari Malaysia. Mengapa Upin dan Ipin dan Kawan-kawan yang saya jadikan contoh?
Dalam serial ini, tokoh utama yang disorot adalah anak, yaitu Upin dan Ipin. Kemudian, karena tokoh utamanya adalah anak-anak, hal yang menjadi isi cerita setiap episodenya adalah seputar kehidupan anak. Konflik yang ditampilkan juga hanya konflik anak yang sederhana. Sebagai contoh, dalam episode “Gosok Jangan Tak Gosok”, konflik yang dialami oleh tokoh Upin, Ipin, dan teman-temannya di TK Yadhika Mesra adalah ketakutan mereka akan kedatangan dokter gigi yang ingin memeriksa gigi mereka. Mereka takut akan banyak gigi mereka yang dicabut. Oleh karena itu, mereka mencoba membohongi nenek mereka saat meminta surat izin untuk pemeriksaan gigi tersebut. Mereka sedikit berbuat jahil dengan menyembunyikan kacamata nenek mereka sehingga nenek mereka tidak bisa membaca tulisan di surat izin tersebut. Mereka juga berbohong mengenai isi surta izin tersebut. Namun, hal ini diketahui oleh kakak mereka sehingga kebohongan mereka pun gagal.
Sebagian kecil kutipan salah satu episode di atas telah menunjukkan sedikit penokohan Upin dan Ipin. Upin dan Ipin adalah anak kembar yang dikisahkan tinggal di Kampung Durian Runtuh, Malaysia. Mereka tinggal bersama nenek dan kakak mereka yang bernama Kak Ros. Mereka adalah anak kembar yang tidak mempunyai orang tua. Ibu mereka dikisahkan sudah meninggal, sedangkan ayah mereka tidak pernah disebutkan dalam cerita. Sebagai anak yang sudah tidak memiliki orang tua, mereka adalah simbol anak yang tetap bahagia dalam suasana apa pun. Mereka dapat menikmati hidup mereka dengan perasaan puas dan apa adanya, walaupun mereka tidak kaya dna tidak memiliki orang tua.
Banyak kasus anak yang tidak memiliki orang tua atau memiliki orang tua yang tidak lengkap yang digambarkan dalam cerita atau serial televisi. Beberapa cerita yang menggambarkan kasus tersebut adalah Lizzie Zip Mouth. Dalam Lizzie Zip Mouth, tokoh Lizzie digambarkan tidak ingin berbicara atua membuka mulutnya setelah ayah dan ibunya bercerai. Dia juga tidak mau tersenyum sama sekali. Kemudian, Lizzie tinggal bersama ibunya dan masih tetap tidak mau berbicara atau tersenyum sama sekali. Sikap Lizzie dapat dikatakan sebagai suatu bentuk pemberontakan terhadap tindakan orang tuanya yang berpisah tanpa memikirkan Lizzie sebagai anak mereka.
Dalam hal ini, kita dapat lihat perbedaannya dengan tokoh Upin dan Ipin dalam serial Upin dan Ipin dan Kawan-kawan. Upin dan Ipin digambarkan sebagai tokoh anak yang sama sekali berbeda dengan gambaran anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tua mereka. Dalam sebuah sinetron di Indonesia pun tokoh anak yang ditinggalkan oleh orang tua mereka atau anak-anak yang lebih sering disebut dengan istilah anak broken home banyak yang digambarkan menjadi anak yang pemberontak.
Tayangan yang menggambarkan anak broken home sebagai anak yang sering memberontak dan “kurang ajar” dapat menjadi standar pola tingkah laku anak-anak senasib. Memang, untuk mengatakan hal ini, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Akan tetapi, dalam pandangan saya, tayangan seperti itu memang dapat membawa anak mengetahui bahwa mereka memang dapat berbuat seperti itu terhadapt orang tua mereka atau keluarga dan teman-teman mereka yang lain.
Tayangan anak, menurut saya, seharusnya menyajikan cerita-cerita yang menggambarkan keharmonisan hidup dan keluarga serta penuh dengan kasih sayang. Mungkin tayangan-tayangan seperti ini terkesan menutupi kebenaran, namun pendidikan anak terbaik dalam hal ini adalah menunjukkan kasih sayang sebanyak-banyaknya agar anak merasa bahwa kasih sayang seperti itulah yang ia dapatkan dari orang tuanya. Dalam hal ini, tayangan yang mendekati kehidupan keluarga yang harmonis adalah Upin dan Ipin dan Kawan-kawan.
Tokoh Upin dan Ipin, seperti yang sudah saya sebutkan di atas, adalah tokoh anak yang bahagia dan mendapatkan banyak cinta dari orang-orang di sekitarnya, walaupun mereka tidak memiliki orang tua lagi. Menurut Zena Sutherland, “sometimes stories about family life signify to fortunate children the aspects of their own experiences that might otherwhise be taken for granted” (1996: 16). Tokoh Upin dan Ipin merupakan salah satu contoh terdekat untuk menggambarkan anak dalam hal tersebut, yaitu anak butuh mencintai dan dicintai.
Riris K. Toha Sarumpaet menyebutkan hal ini dalam bukunya, Pedoman Penelitian Sastra Anak.
“Ada berbagai jalan untuk mengetahui isi sebuah karya. Salah satunya adalah melalui bentuk dan jalan ceritanya. Kalau sebuah cerita berikhtiar menyampaikan sesuatu dan sesuatu itu disampaikan lewat seseorang yaitu tokoh utama, maka sang tokoh mau tak mau dalam lakuannya sebagai manusia yang bernafas, pasti menjalanai pola tertentu” (hlm. 86).
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat dilihat bahwa tokoh Upin dan Ipin telah menyampaikan alur dan jalan cerita dalam setiap episode serial Upin dan Ipin dan Kawan-kawan secara langsung. Tokoh Upin dan Ipin menjalani pola tertentu berupa anak yang selalu bermain bersama teman-teman mereka dan memiliki imajinasi tinggi dalam setiap permainan mereka. Pola lainnya yang juga digambarkan melalui tokoh Upin dan Ipin adalah kasih saying Upin dan Ipin terhadap nenek mereka yang merupakan pengganti orang tua bagi mereka. Tokoh Kak Ros yang selalu memarahi mereka jika mereka berbuat salah atau sedikit nakal juga telah menambah kualitas tokoh Upin dan Ipin dalam serial Upin dan Ipin dan Kawan-kawan.
            Anak tanpa orang tua memang merupakan ide cerita yang sudah banyak kita temukan dalam banyak buku cerita anak sera tayangan televisi, khususnya di Indonesoa. Akan tetapi, ide untuk menampilkan tokoh anak tanpa orang tua yang hidup bahagia bukanlah merupakan hal yang umum dalam televisi Indonesia. Upin dan Ipin dan Kawan-kawan adalah satu-satunya serial televisi di Indonesia yang saya temukan menyajikan cerita tentang anak tanpa orang tua yang hidup bahagia. Apalagi, dalam setiap episodenya, Upin dan Ipin dan Kawan-kawan selalu menyajikan situasi saat Upin, Ipin, dan teman-teman mereka bermain permainan anak-anak, seperti menerbangkan pesawat atau menggambar dan membuat kartu ucapan “selamat hari Ibu”.
Gambaran inilah yangsebenarnya dibuthkan oleh anak, yaotu bahwa kehidupan anak sebenarnya penuh dengan “main-main” dan “kesenangan”. Anak sudah seharusnya hanya mengetahui kesenangan dan cinta yang dapat dia rasakan, bukan kesedihan dan penderitaan. Hal ini berkaitan dengan perkembangan psikologi anak. Apalgi, dalam serial Upin dan Ipin dan Kawan-kawan, anak yang menjadi tokoh utama adalah anak tanpa orang tua. Upin dan Ipin, seperti yang sudah saya katakana sebelumnya, telah menggambarkan kehidupan anak yang seharusnya dilihat anak.
Upin dan Ipin juga merupakan tokoh yang dikelilingi teman dan keluarga yang harmonis karena mencintai mereka. Tokoh Datuk atua kakek dalam serial ini merupakan gambaran tokoh kakek yang mencintai cucunya. Upin dan Ipin selalu dibantu oleh Datuk, seperti saat mereka tidak punya raket bulu tangkis, sepeda, atau saat mereka ingin makan rambutan. Tokoh Datuk semakin menambah wawasan anak bahwa betapa aik dan nikmatnya saat memiliki kakek yang mencintai cucunya seperti dalam serial tersebut.
Ini bukanlah hal yang membuat anak terlalu banyak bermimpi. Anak justru dapat melihat kehidupan anak yang sebenarnya dapat begitu indah. Dalam hal ini, imajinasi anak dapat membuat hidup mereka terasa lebih indah. Imajinasi seperti itu dapat dibentuk dari tontonan mereka yang menggambarkan kehidupan anak dan keluarga yang begitu harmonis dan penuh cinta.
Kehidupan anak yang penuh cinta tersebut tidak hanya digambarkan dengan cinta antara anak dan orang tua, kakak, nenek, atau teman-teman. Dalam Upin dan Ipin dan Kawan-kawan, kehidupan anak yang penuh cinta juga digambarkan dengan cinta akan binatang. Tokoh Upin dan Ipin, dalam satu episode, diceritakan menemukan ceekor kucing kecil yang tidak punya orang tua dan mereka merasa bahwa anak kucing tersebut memiliki nasib yang sama dengan mereka. Dalam episode tersebut, Upin dan Ipi akhirnya tidak tega dan memelihara anak kucing tersebut. Cinta Upin dan Ipin terhadap anak kucing tersebut merupakan gambaran yang sangat baik terhadap anak yang cinta kepada binatang yang tidak berdaya. Tidak seperti serial The Wondrous Feats yang justru menggambarkan pembunuha terhadap iblis yang disimbolkan sebagai binatang-binatang raksas, Upin dan Ipin menggambarkan tokoh anak yang justru menyayangi dan mencintai binatang.
Kecintaan tersebut merupakan contoh kecil yang dapat ditiru anak. Anak menjadi mencintai kucing. Dalam hal ini, saya menemukan contohnya dalam diri adik saya yang selalu mengatakan “comelnye” setiap melihat kucing saya, padahal tadinya dia acuh saja saat melihat kucing. Sekarang, saat melihat kucing yang dipelihara di rumah saya, adik saya langsung memeluknya, mengelusnya dengan penuh kasih sayang, dan berkata bahwa kucing tersebut sangat lucu. Cinta yang sebenarnya tergambar secara tidak langsung melalui tokoh Upin dan Ipin dapat langsung ditiru oleh anak, dalam hal ini contoh langsungnya adalah adik saya. Tokoh Upin dan Ipin telah menjadi favorit anak juga karena mereka banyak menyampaikan kasih sayang dan kesenangna yang dialami anak-anak dalam kehidupan mereka.
Dari semua pembahasan di atas, Upin dan Ipin adalah tokoh yang menggambarkan anak dan kehidupan anak yang bahagia dan senantiasa menyenangkan. Upin dan Ipin juga merupakan gambaran anak yang tidak punya orangtua, namun selalu merasa dicintai dan mencintai orang-orang di sekitarnya. Dalam hal ini, Upin dan Ipin telah menggambarkan kehidupan anak yang dikelilingi teman dan keluarga yang harmonis dan nyaman sehingga anak—Upin dan Ipin—dapat selalu merasa benar-benar pulang ke rumah. Gambaran-gambaran akan anak tersebut merupakan cara pendidikan anak yang paling baik bagi anak. Tayangan sudah seharusnya menyajikan anak dan kehidupan mereka yang penuh imajinasi dan permainan, bukan menggambarkan kehidupan anak yang sengsara dan selalu dikurung kesedihan. Tokoh Upin dan Ipin secara tidak langsung telah memberikan gambaran yang sangat baik yang dapat diconton dan aman ditonton oleh anak. Terlepas dari asal serial Upin dan Ipin dan Kawan-kawan tercipta dan pertama kali disiarkan, yaitu Malaysia, tayangan ini adalah tayangan yang dapat ditonton semua anak di Indonesia. Selain karena budaya Indonesia dan Malaysia tidak jauh berbeda, tayangan ini mudah dimengerti oleh anak-anak karena menyajuikan cerita anak yang sederhana dan umum dialami oleh mereka. Oleh karena itu, tokoh Upin dan Ipin dapat menjadi favorit anak-anak dan ditiru cara bicaranya dengan cepat oleh anak-anak Indonesia adalah karena tokoh Upin dan Ipin merupakan gambaran kehidupan anak yang ingin dilihat anak.


Daftar Pustaka

Sarumpaet, Riris K. Toha. 2010. Pedoman Penelitian Sastra Anak. Jakarta: Yayasan
Obor Indonesia.
Sutherland, Zena. 1996. Children and Books. New York: Longman.

2 komentar :: Ujian Tengah Semester Pengkajian Cerita Anak: Tokoh Upin dan Ipin sebagai Gambaran Kehidupan Anak

  1. Menarik tulisannya...tahniah..UPIN IPIN memang mengajar anak kecil dengan nilai-nilai murni...

  2. terima kasih.. :)

Poskan Komentar

Best Photo of The Year

Best Photo of The Year