Kepada IKSI 2009, Apa yang terjadi Jumat lalu, adalah kenangan yang paling berharga dalam hidupku. Bahkan, jauh lebih berharga dibandingk...

Kepada IKSI 2009,


Apa yang terjadi Jumat lalu, adalah kenangan yang paling berharga dalam hidupku. Bahkan, jauh lebih berharga dibandingkan kenangan ketika aku mengenalmu. Sungguh. Sekarang, aku bahkan masih merasa jiwaku belum berada di sini. Jiwa dan ingatanku masih di sana, menelusuri kembali semua yang terjadi di antara kita. Semua pengakuan yang kita ungkapkan dan kita dengar bersama adalah hal tertulus yang pernah kudengar. Seandainya kita bisa menghabiskan kebersamaan itu lebih lama, aku berharap bisa mengukir kenangan indah lebih banyak lagi bersama kalian. Bagiku, satu malam itu tidak cukup untukku dan untuk kita semua. Tapi, satu malam itu dapat merangkumkan kebersamaan kita selama 3,5 tahun ini. Kata temanku di sana, jika ucapan adalah doa, maka jangan mengatakan bahwa kita akan berpisah karena kita tidak akan benar-benar berpisah. Jika kita bertemu lagi di lain hari, aku ingin kita bisa menulusuri kembali kenangan yang sama. Aku senang bisa menjadi bagian dari keluarga kecil ini. Aku senang bisa mengguratkan kenangan bersama kalian. Kuharap, kita tidak akan lupa bahwa kita pernah tertawa bersama dan menangis bersama. Untuk teman-temanku yang akan lulus bulan Februari nanti, selamat menempuh jalan kalian masing-masing. Semangat menjalaninya! :)


みんな、とっても だいすき!

posted from Bloggeroid

Teka-teki Tidak menyilang Tidak bersembunyi Tidak mengacak, dan Tidak beranak. posted from Bloggeroid

Teka-teki
Tidak menyilang
Tidak bersembunyi
Tidak mengacak, dan
Tidak beranak.



posted from Bloggeroid

Hidup ini semu Semuanya serba sementara Sukses hanya sementara Kaya hanya sementara Miskin yang sedikit tahan lama Hubungan kita juga s...

Hidup ini semu
Semuanya serba sementara
Sukses hanya sementara
Kaya hanya sementara
Miskin yang sedikit tahan lama
Hubungan kita juga sementara
Bahkan hidup ini juga sementara
Hanya ada Kau, aku, dan orang-orang asing
Yang serba tidak peduli dan peduli pada waktu yang sama
Ketika akhir yang sebenarnya mendatang

posted from Bloggeroid

            Laporan bacaan ini berasal dari buku Feminist Cultural Studies. Secara lebih rinci, kami melaporkan sebuah artikel dari Be...



            Laporan bacaan ini berasal dari buku Feminist Cultural Studies. Secara lebih rinci, kami melaporkan sebuah artikel dari Beverley Alcock dan Jocelyn Robson yang berjudul “Cagney and Lacey Revisited”. Artikel tersebut secara garis besar membahas feminisme radikal yang disampaikan melalu media televisi.
            Sebelum ada gerakan feminis semacam itu, gerakan feminis lebih mengutamakan kesejajaran kedudukan perempuan dan laki-laki. Hal inilah yang membuat kita sering mendengar istilah kesetaraan gender. Lambat laun, gerakan feminis merambah ke anggapan bahwa perempuan tidak membutuhkan laki-laki. Hal inilah yang memicu gerakan feminis radikal.
            Di dalam artikel “Cagney and Lagney Revisited”, Alcock dan Robson mendeskripsikan pendapat Mulvey mengenai feminisme dalam film-film yang diputar pada awal tahuan 1980-an. Hal itu dipicu dengan adanya Teori Film Feminis yang dikemukakan oleh kaum Freudian. Teori tersebut mencoba mengeksplorasi psikologi seksual dalam budaya patriarki. Salah satu film yang menyerap teori tersebut adalah Duel in The Sun yang tayang pada tahun 1981.
            Film-film yang menggunaka Teori Film Feminis berfungsi menjadi sarana dalam memperlihatkan fenomena yang terjadi dalam budaya patriarkat. Hal tersebut bertujuan untuk mengubah pandangan penonton terhadap posisi perempuan. Tentu saja sasaran utama dari teori ini adalah para penonton perempuan. Namun, melalui teori ini, diharapkan pula para penonton laki-laki dapat dipengaruhi perasaan genderisnya untuk menjadi lebih feminis. Secara umum, film dianggap menjadi alat yang mampu memperjuangkan ideologi kaum feminis. Teori Film Feminis ini juga menuntut peran aktif penonton—khususnya perempuan—dalam menyikapi dominasi dan oposisi dalam budaya patriarki.
            Mulvey sebagai pemerkasa yang mencuatkan Teori Film Feminis ini beranggapan bahwa media visual, seperti film, lebih dapat memengaruhi sudut pandang penikmatnya dibandingkan dengan buku-buku teori. Ia beranggapan demikian karena pada masa tersebut minat baca pada kaum perempuan masih tergolong rendah. Hiburan yang paling disukai dan mampu memberi kesan di hati adalah film-film, baik yang ada di bioskop maupun yang terdapat dalam bentuk serial. Hal inilah yang menjadi dasar pembuatan film-film feminis.
            Film feminis karya Mulvey yang sarat dengan gerakan feminis radikal adalah serial “Cagney and Lacey”. Seorang kritikus bernama Lorraine Gamman beranggapan bahwa film ini mencoba mengubah pandangan mengenai dominasi laki-laki dalam hubungan seksual. Berbeda dengan banyak film lainnya pada masa itu yang cenderung menampilkan laki-laki sebagai sosok protagonis, “Cagney and Lacey” menjadikan dua pemeran perempuan sebagai dua tokoh utama dan protagonis. Berdasarkan hal tersebut, dapat diambil kesan bahwa perempuan sudah tidak memerlukan pria.
            Adanya dua peran protagonis yang berjenis kelamin perempuan tersebut secara tidak langsung melemahkan kedudukan pria. Film tersebut seakan hendak
menggambarkan bahwa perempuan dapat berdiri tanpa topangan laki-laki. Tentu saja hal tersebut bertujuan untuk mendobrak budaya patriarki yang selama itu berkembang.
            Film-film yang mengandalkan kekuatan psikoanalisis mendeskripsikan sosok perempuan sebagai sosok yang mampu bekerja di semua wilayah, bukan hanya di kawasan lokal—dapur dan rumah—yang selama ini ada di budaya patriarkat. Salah satu contoh film yang menggambarkan hal tersebut adalah Bringing Up Baby or The African Queen”. Subjek lain yang dapat dilihat dari sudut pandang perempuan adalah penentangan terhadap heteroseksual. Hal tersebut dapat dilihat dalam serial Cagney and Lacey.
Dalam serial Cagney and Lacey”, peran gender tradisional tampaknya ditantang oleh dua perempuan yang bekerja sebagai polisi. Serial ini menceritakan hubungan semacam 'teman' antara Cagney dan Lancey yang mencerminkan perubahan peran perempuan dalam masyarakat. Perpotongan generik antara serial polisi dan drama ini berfungsi untuk menunjukkan bahwa aspek maskulin dan feminin bertemu dan tumpang tindih dalam tubuh Christine Cagney dan Marry Beth Lacey.
Serial ini muncul untuk menantang batas yang ketat dalam peran gender tradisional. Tahun 70-an merupakan benih dari 'film perempuan' yang menampilkan karakter dan persahabatan yang kuat antara perempuan. Film tersebut dapat dianggap sebagai warisan feminisme tahun 70-an. “Cagney and Lacey membagi beberapa kekhawatiran mereka, terutama keprihatinan dengan hubungan antara kerja perempuan dan kehidupan pribadi perempuan.
            Mary Beth Lacey adalah perempuan yang sukses karena ia dapat menyatukan kewajiban pekerjaan dengan tugas di rumah di samping berbagai tuntutan. Pada kenyataannya, Mary memiliki keluarga yang sejahtera, suami yang penuh kasih sayang, anak, dan sebuah rumah. Bukan hanya itu, ia juga seorang perempuan yang dapat hidup mandiri meskipun memiliki hubungan yang tidak harmonis dengan ayahnya. Dia memiliki sifat seperti perempuan pada umumnya, yaitu menolak menggunakan celana baik di rumah atau di kantor. Rekan kerjanya sangat menghormatinya. Ia merupakan perempuan sejati. Dia seorang ibu, emosional, menangis, memiliki rasa takut dan juga kegembiraan.
Di sisi lain, Christine Cagney adalah perempuan yang ingin menjadi laki-laki. Ia menginginkan persamaan kekuasaan dan status serta kebebasan. Baginya, ayahnya, Charlie adalah sosok ideal. Ia merupakan mantan anggota kepolisian dan memiliki kebiasaan minum-minuman keras. Kehidupannya jauh dari kata bahagia. Kedua orang tuanya bertengkar hebat dan Christine lebih berpihak pada ayahnya.
Bagi Christine, Mary merupakan sosok perempuan sejati. Christine, yang tidak terpenuhi dengan baik peran gendernya, membutuhkan sosok perempuan sejati itu untuk dirinya. Posisi Christine berada dalam batas gender. Ia menolak keras sistem patriarkat. Akan tetapi, secara alami, peran gender yang membangunnya adalah peran maskulin. Christine adalah separuh ayahnya. Akan tetapi, kita dapat melihat dua perbedaan penting. Charlie adalah seorang laki-laki dan Christine adalah perempuan. Dalam konteks ini, kita dapat menghapuskan peran-peran gender dari Christine.
            Dalam serial “Cagney and Lacey”, tokoh Cagney digambarkan sebagai seorang perempuan yang menyangkal untuk menjadi perempuan. Karena dia sangat mengagumi Charlie, ayahnya, dia ingin menjadi seperti sosok ayahnya. Karena itu, dia menjadi polisi, mabuk, memegang senjata, dan melakukan aktivitas yang banyak dilakukan oleh laki-laki. Dia bahkan tidak ingin memakai jaket antipeluru karena anggapan bahwa jaket tersebut adalah beban dan bahwa jaket tersebut adalah untuk perempuan.
            Peran gender tidak terlihat dalam tokoh Cagney karena Cagney tidak bersifat seperti layaknya perempuan lainnya. Ia pandai menembak, ia juga kuat dan pemberani, dan itu semua karena ia begitu mengagumi sosok ayahnya. Ketika semua orang mengatakan ayahnya adalah pemabuk gila, ia justru malah menyalahkan ibunya dan tetap membela ayahnya. Oleh karena itu, ia kehilangan peran perempuan dalam dirinya dan justru membawa peran laki-laki bersamanya.
            Sebaliknya, tokoh Lacey justru digambarkan sebagai sosok perempuan yang ideal. Dia istri sekaligus polisi yang baik. Oleh karena itu, Cagney merasa menemukan sosok dan peran perempuan dalam diri Lacey yang tidak ditemukannya dalam dirinya.
Ketika ada kasus yang berhubungan dengan kolektor senjata, dikatakan bahwa, dalam kepolisian, pistol dikenal identik dengan Cagney. Mereka juga dihubungkan secara jelas dengan interaksi seksual. Kolektor senjata tersebut menggoda Christine dan mengundangnya untuk ikut latihan menembak. Kolektor itu meyakinkannya bahwa menarik pelatuk pada senapan otomatis merupakan hal yang menarik.
‘Insiden’ dengan kolektor senjata tersebut membawa kita kepada situasi kontradiktif yang melekat pada karakter Cagney, yaitu seorang perempuan pirang yang menarik dan mempesona pria serta sebagai satu kekuatan dan juga bahaya. Pada diri Cagney kita melihat gambaran perempuan kuat. Hal ini merupakan kontradiksi karena sebelumnya kekuatan dipandang sebagai atribut maskulin.
Para pria dalam serial ini tidak menganggap terlalu serius soal persenjataan dan kekuatan. Mereka justru muncul untuk memamerkan hal tersebut dan benci akan usaha-usaha Cagney untuk membuat mereka lebih bertanggung jawab. Pengumpulan senjata yang hilang belakangan melukai Lacey. Lacey, si korban, sangat berhati-hati dengan senjatanya dan tubuhnya; Cagney—seperti laki-laki—sembrono dan tidak bisa merawat barang kepunyaannya. Si perempuan memberitahukan bahwa yang dapat melindungi dari tembakan senjata adalah jaket antipeluru. Sesuai dengan peraturan yang berlaku di daerah setempat, Lacey memakai jaket antipelurunya dan Cagney, sama seperti Isbecki, juga sudah diingatkan. Jaket antipeluru adalah beban bagi Cagney.
Dalam bagian kedua, ketika mereka dihadapkan dalam kasus pencurian senjata, Christine meninggalkan tempatnya tanpa mengenakan jaket antipelurunya. Dia melepaskan dan meninggalkan jaketnya malam sebelumnya ketika sedang bersama Charlie. Karena jaket tersebut menandakan keringkihan dan keperempuanan, Christine begitu saja “melupakan” itu dan hal ini terlihat seperti penolakan untuk menerima peran gendernya. Dia “dihukum” karena hal ini dengan dihadapkan pada pilihan bahwa jika dia tertembak—dan bukannya Lacey— dia akan mati.
Karakter-karakter pria menanggapi hal ini dengan cara khusus. Charlie mengembalikan jaket Christine dan menggunakan kesalahannya untuk memaksanya memakai jaket itu. Harvey begitu marah dan kecewa karena menganggap Cagney tidak bertanggung jawab. Lacey tetap hidup karena dia mengikuti peraturan yang ada; dia melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh polisi yang baik dan ia percaya pada akhirnya ia akan dipromosikan jika terus mengikuti peraturan. Ada keterlibatan lainnya pula, bahwa dia tetap hidup dan itu semua karena penerimaannya terhadap keringkihannya sebagai perempuan. Dia meyakinkan Harvey mengenai kesetiaannya sebagai seorang istri: “Jika kamu memintaku memilih antara kau dan pekerjaan, aku akan selalu memilihmu.”
Akan tetapi, dia tidak sepenuhnya bahagia. Dia marah kepada rekannya dan dengan mantap dia sekarang menolak untuk melepaskan jaketnya. Sebagai tanggapan atas pertanyaan Christine apakah jaketnya itu berfungsi untuk melindungi tulang rusuknya yang patah, dia menjawab itu untuk melindungi segalanya yang ada dalam dirinya. Jelas sekali, episode ini berfungsi untuk menunjukkan kepada kita bahwa terdapat perbedaan antara dua perempuan dewasa dan untuk merepresentasikan krisis yang nantinya akan dialami Cagney yang merupakan hasil pembengkokkan batasan-batasan gender.
Dalam bagian kunjungan Lacey dan Cagney ke psikolog, terdapat lebih dari sekadar petunjuk akan kemarahan seksual dan daya tarik fisik. Psikolog itu meninggalkan mereka berdua sendirian di dalam ruangan tersebut. Kemudian, Mary Beth berusaha untuk menyentuh bahu Christine, namun diurungkannya. Saat-saat seperti ini, ketika muncul usaha untuk melakukan kontak fisik hanya digunakan untuk menyampaikan kemungkinan adanya gagasan lesbian. Momen seperti ini tidak hanya dramatis, tetapi juga memiliki intensitas seksual.
Christine menolak untuk mengakui sisi emosionalnya dan, baginya, ketidakberdayaannya sebagai seorang perempuan adalah jalan menuju penghancuran dirinya sendiri. Lacey menyalahkannya atas pengkhianatan yang dilakukannya terhadap hubungan rekanan dan persahabatan mereka. Ada hal mendasar yang disarankan psikolog Lacey dalam wawancara tersebut, yaitu bahwa ketergantungan Cagney terhadap alkohol meningkat dan dia membutuhkan lebih dari sekadar psikolog. Ia akan diminta untuk istirahat dengan tujuan supaya dia menemukan identitas dirinya sebagai seorang perempuan.
Dalam bagian lain, perbedaan antara Cagney dan Lacey semakin jelas. Perbedaan itu akhirnya meledak menjadi konflik moral yang tidak dapat dinegosiasikan. Mary Beth yang memiliki emosi stabil, seorang istri, dan ibu heteroseksual, dibandingkan dengan Christine yang sembrono, menyimpang, dan pecandu alkohol. Hasilnya terlihat jelas. Ditambah lagi dengan bagian yang dramatis dalam episode lainnya, ketika Lacey menyelamatkan seorang bayi dari peristiwa kebakaran.
Dalam bagian tersebut, sekali lagi Lacey terlihat sebagai perempuan yang peduli. Dia menikmati pujian yang cukup serta kekaguman dari rekan prianya dan keluarganya untuk tindakannya yang berani. Sebaliknya, Christine justru harus menerima bahwa dirinya adalah pecandu alkohol dan letnanya ingin agar dia mengobati kecanduannya itu. Ayahnya, Chralie, meninggal karena alkohol. Ketika kakaknya, Brian, datang ke pemakaman Charlie, semua masalah menjadi jelas. Pandangan mereka berdua tentang kehidupan keluarga mereka jelas sangat berbeda. Brian dibesarkan oleh ibunya, sementara dirinya tinggal dengan ayahnya. Oleh karena itu, ia sulit menemukan sosok ibu yang diinginkannya. Namun, setelah melihat aksi penyelamatan Mary Beth, ia agaknya menemukan sosok ibu yang dicarinya.
Setelah kematian Charlie, Christine tinggal bersama Mary Beth. Seperti ayahnya, Christine minum terlalu banyak dan memiliki kesulitan mempertahankan hubungan.  Hidup tanpa Charlie adalah ujian yang menyakitkan untuk Christine. Ketika Mary Beth menerima penghargaan untuk keberaniannya, Christine malah mabuk-mabukan di jalan. Dia absen dari pesta Mary Beth untuk merayakan promosinya.
Keputusan Mary Beth untuk tinggal dengan Christine dan merawatnya daripada kembali ke Harvey dan anak-anak merupakan salah satu yang penting. Ketika itu, Mary Beth bisa menyeberangi kesenjangan antara keluarga dan pekerjaan, seperti yang disarankan dalam wawancara pertama dengan terapis. Dia merasa Christine telah menjadi bagian dari keluarganya dan meskipun Christine tidak ada saat perayaan pesta, Mary Beth membuktikan dirinya mampu memberikan peran sebagai seorang perempuan.
"Aku tidak membutuhkan seorang ibu,” kata Christine keesokan harinya.  “Charlie tidak pernah menunjukkannya padamu. Dia tidak pernah membuatmu merasa baik-baik saja," kata Mary Beth. Charlie mencintaiku apa adanya,” jawab Christine. ''Charlie bunuh diri. Dia tidak hanya jatuh, Christine. Dia mabuk. Ayahmu adalah seorang pemabuk, Christine. Sama sepertimu. Jadi, kita lebih baik kembali ke hidup kita, yaitu hubungan antara dua perempuan,” tukas Mary Beth mencoba melepaskan intensitas seksual Christine.
Christine kalah. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan,” kata Christine. " Apa yang harus dilakukan, tentu saja, adalah untuk mengakui identitasmu yang sebenarnya, bahwa kau feminin dan kau juga rentan dan ringkih.”
Perempuan yang melanggar tatanan heteropatriarchal akan dihukum. Christine Cagney telah menyelamatkan dirinya dari hukuman tersebut dengan bantuan temannya, Mary Beth Lacey. Penyelamatan Christine Cagney oleh teman perempuannya, Mary Beth Lacey, yang pada tingkat ideologis sebenarnya adalah penyembuhan—bukan penyelamatan—dari seorang perempuan yang bebas karena kekuatan hukum dan ketertiban. Dengan demikian, Mary Beth adalah agen patriarkat yang menyeret Christine kembali ke jalan yang lurus.
Cagney dapat diidentifikasicsebagai tokoh sentral yang melanggar batas ketertiban sosial dan gender, namun juga sekilas menunjukkan citra positif terhadap penyimpangan perempuan. Dalam penyimpangannya, Cagney menghancurkan dirinya sendiri dan akhirnya mendapat masalah dalam hidupnya. Cagney menjadi korban pemerkosaan dan hubungan tanpa status yang berkepanjangan. Karakter Cagney juga dapat dilihat keberadaannya sebagai situs aktif keinginan perempuan. Secara tekstual, Cagney ditunjuk 'menyimpang' karena dia selalu berbusana sembrono dan angkuh. Hal ini juga memungkinkan untuk membaca hubungan antara Cagney dan Lacey sebagai sebuah keinginan. Hal ini dapat terlihat ketika terjadi konflik emosional yang kuat antara keduanya sebagai sesuatu yang erotis, namun positif.
Dari hubungan yang terjadi antara Cagney dan Lacey, kita dapat menyimpulkan bahwa yang terjadi bukan hanya hubungan persahabatan dan rekanan kerja, melainkan hubungan lain yang jauh lebih intim. Dalam Contemporary Feminist Thought, Ti-Grace Atkinson mengatakan bahwa salah satu bentuk pergerakan perempuan adalah lesbianis. Dia melihat para lesbian sebagai orang-orang yang bergerak dalam feminisme radikal. Kemudian, karena pilihan akan orientasi seksual dan kehidupan sosial meeka, para lesbian tersebut menolak segala stereotip yang melingkupi perempuan.
Dalam “Cagney and Lacey”, tokoh Cagney agaknya sedikit mewakili pendapat Atkinson tersebut. Cagney jelas-jelas menolak segala sesuatu yang dianggap keperempuanan atau feminin. Lesbianisme radikal mengungkapkan bahwa lesbian adalah seseorang yang telah menarik diri dari definisi yang konvensional mengenai kefemininan.Dengan kata lain, tokoh Cagney sebenarnya dapat dikatakan sebagai lesbian, walaupun tidak radikal karena pada akhirnya ia meninggalkan kecenderungannya tersebut karena merasa tidak dapat menang melawan hukum.
Sementara itu, kaum lesbian radikal juga mengungkapkan pendapat mereka mengenai “true woman”. Seorang perempuan sejati atau perempuan asli adalah seorang perempuan yang menyerahkan dirinya kepada laki-laki demi menerima, bukan hanya nama laki-laki tersebut (nama suaminya), melainkan juga legitimasi akan kekuatan si laki-laki itu, statusnya, dan prestasinya, dengan bersifat sebagai perpanjangan dari laki-laki (suaminya) tersebut. Dari definisi tersebut, kita tentu dapat menemukan tokoh yang mewakili “true woman”, yaitu Lacey. Lacey dengan tegas mengatakan kepada suaminya bahwa ia akan lebih memilih suaminya dibandingkan pekerjaannya. Dengan kata lain, ia sudah menyerahkan dirinya kepada suaminya, lelakinya.
Beverley Alcock dan Jocelyn Robson juga telah menyebutkan bahwa tokoh Lacey telah membawa Cagney kembali ke jalan yang lurus dan meninggalkan dirinya yang menyimpang di masa lalu. Lesbianisme, menurut Eisenstein, tidak melulu soal hubungan seksual antara satu perempuan dengan perempuan lainnya. Dalam hal ini, Caney dan Lacey ikut merasakannya. Lacey juga hampir melakukan kontak fisik dengan Cagney, walaupun akhirnya diurungkannya. Cagney juga hanya merasa nyaman bersama Lacey karena dalam diri Lacey terdapat sosok ibu yang dicarinya, walaupun dia juga mengatakan bahwa dia tidak butuh ibu.
Lebih jauh lagi, lesbianisme adalah penemuan akan model alternatif dari identitas perempuan. Penemuan akan peran lain selain peran perempuan yang ringkih dan rentan ditemukan pula oleh Cagney. Oleh karena itu, ia menolak untuk menjadi seperti “perempuan” dan justru malah berusaha untuk menjadi seperti ayahnya. Bahkan, ia bersumpah untuk menjadi polisi agar bisa seperti ayah. Ia juga sampai mabuk-mabukan agar terlihat seperti ayahnya. Semua itu juga adalah peran atau model alternatif dari identitas perempuan.
Secara garis besar, Beverley Alcock dan Jocelyn Robson memberikan contoh yang baik mengenai lesbian dan kehidupan psikologi mereka, yaitu dengan menampilkan tokoh Cagney dan Lacey dari serial “Cagney and Lacey”. Akan tetapi, yang diberikan oleh Beverley Alcock dan Jocelyn Robson dalam artikel “Cagney and Lacey Revisited” hanyalah sebatas contoh adanya gerakan lesbianisme pada tahun 70-an, yaitu dengan dimunculkannya serial “Cagney and Lacey” yang mendobrak fenomena serial-serial yang “lebih perempuan” yang populer pada masa itu. Tidak diungkapkan pembahasan lebih jauh mengenai apa yang sebenarnya dialami oleh Cagney sehingga pembaca mungkin akan bertanya-tanya, apakah ini penyimpangan seksual atau perbedaan orientasi seksual atau hal lainnya. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, satu artikel ini tidak cukup dijadikan patokan.
Sebenarnya, apa yang diungkapkan oleh Beverley Alcock dan Jocelyn Robson melalui analisis tokoh dalam serial “Cagney and Lacey” cukup kompleks. Analisisnya tidak hanya meliputi tokoh perempuan, Cagney dan Lacey, tetapi juga tokoh laki-laki dan sistem patriarkat yang masih begitu kuat pada masa itu. Namun, Beverley Alcock dan Jocelyn Robson kami rasa telah cukup tepat tidak menggunakan istilah-istilah yang rumit dan butuh pemahaman lebih lanjut karena hal tersebut hanya akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lainnya dari satu artikel ini. Walaupun artikel ini merupakan satu kesatuan dalam buku Feminist Cultural Studies, kami rasa artikel ini dapat dipahami atau berdiri sendiri karena tidak menggunakan istilah-istilah rumit yang butuh pemahaman lebih lanjut serta fokus artikel ini yang hanya membahas Cagney dan Lacey.

Sumber Pustaka
Terry Lovell. (ed.). 1995. Feminist Cultural Studies. Cambridge: University Press.
Hester Eisenstein. 1984. Contemporary Feminist Thought. London: Unwin Paperbacks.







*Nb: Laporan bacaan ini dibuat oleh Anisya Noviani, Irna Gayatri D, Ardiansyah, Putri Luvyta, dan Teodora Nirmala Fau*