Irna Gayatri D. Ardiasnyah 0906641453 Tugas Mata Kuliah Penulisan Populer Amplop Merah untuk Imlek Pagi itu rumah sudah kosong. Josephine...

Irna Gayatri D. Ardiasnyah
0906641453
Tugas Mata Kuliah Penulisan Populer

Amplop Merah untuk Imlek


Pagi itu rumah sudah kosong. Josephine bangun dan mendapati dirinya sendiriran di rumah padahal hari itu adalah Tahun Baru Imlek. Sudah lama ia merasa benar-benar menjadi orang Indonesia setelah lima belas tahun hidup dan tinggal di wilayah Kemang, Jakarta Selatan. Wajahnya khas, punya ciri-cri yang oriental. Matanya sipit, kulitnya kuning pucat, rambutnya hitam panjang dan sangat lurus walaupun tidak di rebonding. Sebenarnya, dengan melihat matanya saja, orang pasti akan langsung tahu bahwa dia keturunan Cina.
Vina, begitu ia biasa dipanggil, terbangun dengan perasaan hampa. Dia benar-benar tidak tahu akan melakukan apa pagi itu. Dia anak tunggal dan kedua orang tuanya sangat memanjakannya. Namun, seperti yang dialami anak tunggal sepertinya yang memiliki orang tua super sibuk, kemanjaan yang mereka berikan hanyalah kemanjaan materi. Vina akhirnya mulai bosan dengan semua itu. dia tidak butuh barang-barang bagus. Dia hanya membutuhkan kehadiran orang tuanya di saat-saat seperti ini.
Vina bangkit, melangkah gontai menuju kamar mandi. Ditatapnya cermin wastafel yang ada di depannya setelah ia membasuh wajahnya dengan air keran yang dingin. Ia berpikir, mengapa Ayah dan Ibu tidak merayakan Imlek lagi seperti dulu? Padahal, enam tahun yang lalu mereka masih merayakan Imlek bersama emak dan encek[1]. Saat ini, Vina benar-benar merindukan saat-saat itu.
Dahulu, biasanya, setiap malam sebelum Imlek, Vina dan orang tuanya sembahyang mendoakan leluhur mereka. Mereka sudah menyiapkan hio lio[2], hio[3], Bacang[4], Kwee cang[5], dan foto kong[6] serta kongco[7]. Mereka juga biasanya membakar kertas sembahyang yang berfungsi untuk mengirim bekal untuk arwah orang-orang yang sudah di sana. Makanan yang dihidangkan di meja abu pun sebetulnya adalah hidangan untuk arwah leluhur. Biasanya, emak juga menyajikan ika bandeng, buah-buahan kualitas terbaik, serta kue keranjang. Vina dan sepupunya, Trisno, biasanya menghabiskan semua sajian itu dengan sangat lahap. Itu masa-masa yang menyenangkan untuk diingat.
Setelah sikat gigi dan mencuci muka, Vina turun ke ruang makan untuk sarapan. Saat itu, dia melihat Mba Sum sedang menyapu lantai. Ia miris sekali melihatnya karena enam tahun lalu, saat mereka masih merayakan Imlek, mereka tidak boleh menyapu rumah saat Imlek karena dianggap akan menyapu rezeki. Jadi, mereka tidak akan menyapu rumah selama sehari penuh. Namun, Vina juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak bisa melarang  Mba Sum yang baru bekerja selama kurang dari dua tahun untuk menyapu rumah saat Imlek.
Vina benar-benar merindukan banyak hal. Dia rindu memakan sajian di meja abu. Dia juga rindu wangi hio dan keramaian rumahnya saat Imlek. Sungguh, hatinya rasanya kosong saat memikirkan itu. Dia benar-benar rindu akan semua hal yang dahulu selalu dia lakukan saat Imlek. Namun, yang paling ia rindukan adalah saat pembagian Angpao.
Masih segar dalam ingatannya keramaian yang ditimbulkan sepupu-sepupunya saat pembagian amplop merah itu. Biasanya, kong dan emak yang membagikan Angpao. Ayah dan ibuku juga ikut membagikan Angpao setelah kong dan emak selesai membagikan Angpao. Kadang, encek juga ikut membagikan Angpao jika ia sedang banyak uang. Jika tidak sedang banyak uang, biasanya encek hanya memberikan uang begitu saja tanpa dibungkus amplop merah itu.
Ya, Vina sangat ingat masa-masa itu. Semuanya masih melekat segar dan sekarang muncul kembali dalam benaknya. Ya, ia rindu mendapatkan Angpao. Setelah sejenak berpikir sambil mengunyah roti isi selai coklatnya, ia beranjak menuju kamarnya. Ia mengambil kertas karton merah, mengguntingnya, lalu merekatkan masing-masing sisinya dengan lem. Ia melihat hasilnya dan tersenyum kecil, lalu membuat satu amplop lagi dengan kertas karton yang masih tersisa.
Ia memandangi amplopnya lagi. Ia senang melihat hasilnya. Lalu, ia menuliskan sesuatu dalam selembar kertas yang kemudian ia masukkan ke dalam Angpao buatannya tersebut. Ia lalu menyimpan Angpao itu di laci meja belajarnya setelah amplop itu diselipkan ke dalam buku catatan belajarnya.
Malam pun datang. Orang tuanya akhirnya pulang. Setelah merasa kedua orang tuanya sudah cukup santai, saat orang tuanya sedang menonton televisi di ruang tengah, Vina memberikan Angpao yang tadi sudah dibuatnya dan mengucapkan “Selamat tahun baru Imlek, ya, Ma, Pa.”
Ayah dan Ibunya menatap Vina dengan wajah terkejut. Seharusnya, Angpao diberikan oleh orang tua atau orang dewasa yang sudah bekerja kepada anak-anak atau remaja-remaja. Namun, kali ini, justru Vina yang memberikan Angpao untuk orang tuanya. Saat dibuka dan ternyata isinya bukan uang, orang tuanya lebih terkejut lagi. Surat yang sudah Vina masukkan ke dalam amplop itu pun dibaca dan mereka terkurung dalam hening. Ibunya menangis, disusul ayahnya yang tiba-tiba menyeka air mata yang turun dari pelipis matanya dengan lengan bajunya.
Kerinduan akan perayaan Imlek seperti dahulu yang dituliskan Vina dalam suratnya telah membuat hati orang tuanya tersentuh. Tidak. Perayaan Imlek memang sudah lama mereka tinggalkan karena kesibukan mereka. Hanya Vina yang merasa merindukan hal itu dan orang tuanya sadar bahwa mereka telah banyak mengecewakan Vina. Akhirnya, malam itu juga, mereka memutuskan untuk pergi ke mini market dan membeli beberapa jenis petasan. Malam itu, mereka merayakan Imlek bersama hanya dengan memasang petasan, tanpa sembahyang, hio, lentera, hiasan-hiasan merah, dan hidangan-hidangan khas Imlek. Namun, mereka merasa bahagia akan hal itu.


[1] Paman dari ayah dalam bahasa Hokkian
[2] Tempat dupa
[3] Dupa
[4] Kue isi daging babi
[5] Kue ketan
[6] Kakek
[7] Kakek buyut


catatan: ini adalah tugas Mata Kuliah Penulisan Populer
mengenai memasukkan unsur budaya lokal ke dalam cerpen

Tugas Mata Kuliah Pengkajian Cerita Anak Perbandingan Sastra Anak dengan Sastra Dewasa Irna Gayatri D. Ardiansyah Selasa, 22 Februari 201...


Tugas Mata Kuliah Pengkajian Cerita Anak
Perbandingan Sastra Anak dengan Sastra Dewasa
Irna Gayatri D. Ardiansyah
Selasa, 22 Februari 2011


Dalam membandingkan sastra anak dengan sastra dewasa, hal yang pertama kali harus diketahui adalah pengertian sastra anak. Sastra anak ialah sastra yang dibaca anak-anak dengan dibimbing oleh orang tua yang ceritanya adalah seputar kehidupan anak dan penulisannya dilakukan oleh orang dewasa. Namun, dalam perkembangannya, saat ini ternyata sudah ada anak yang juga ikut menulis dalam dunia sastra anak. Hal inilah yang menjadi pembeda awal antara sastra anak dengan sastra dewasa, yaitu bahwa sastra anak dibaca oleh anak-anak dan sastra dewasa dibaca oleh orang dewasa.
Tetapi, lebih dari itu, ada banyak hal yang berbeda antara sastra anak dan sastra dewasa. Saya mengambil dua novel sebagai perbandingan, yaitu Pasukan Mau Tahu: Misteri Pondok Terbakar karya Enid Blyton sebagai contoh sastra anak dan Misteri Kereta Api Biru karya Agatha Christie sebagai contoh sastra dewasa. Kedua novel ini adalah novel detektif. Judulnya pun memiliki satu kata yang sama, yaitu misteri. Walaupun begitu, dari sampulnya sudah jelas terlihat perbedaan antara Pasukan Mau Tahu: Misteri Pondok Terbakar dan Misteri Kereta Api Biru. Sampul  novel Pasukan Mau Tahu: Misteri Pondok Terbakar berwarna merah—warna yang menarik bagi anak-anak—dan memiliki judul yang jenis hururfnya menarik dan besar. Gambar dalam sampulnya pun menarik karena sudah menyampaikan informasi awal yang penting, yaitu seperti apa pondok terbakar itu?
Misteri Kereta Api Biru sampulnya berwarna hitam dan putih. Ini bukanlah warna yang menarik anak-anak. Dari warna sampulnya saya dapat melihat bahwa novel ini adalah novel dewasa yang berisi Selain itu, huruf judulnya pun tidak sebesar huruf  Pasukan Mau Tahu: Misteri Pondok Terbakar. Ulasan di bagian belakang pun tidak menggambarkan isi novel secara langsung. Ini berbeda dengan ulasan Pasukan Mau Tahu: Misteri Pondok Terbakar yang diawali dengan kalimat pertama: Sebuah pondok terbakar secara misterius. Kalimat tersebut sudah menggambarkan cerita dalam novel itu. Judulnya novel karya Enid Blyton tersebut sudah menggambarkan isi cerita sehingga dapat dengan mudah dimengerti anak-anak, sedangkan judul novel Agatha, Misteri Kereta Api Biru, bukanlah judul yang dapat membuat kita memahami dan mengetahui seperti apa misteri yang ada dalam novel tersebut.
Selanjutnya, dari segi isi, novel Pasukan Mau Tahu: Misteri Pondok Terbakar memiliki jenis huruf yang menarik dan besar. Di dalamnya pun terdapat beberapa gambar yang menunjang cerita yang sedang berjalan, seperti di halaman 33 dan 117. Dalam Misteri Kereta Api Biru, sama sekali tidak ada gambar untuk menunjang pembaca memahami cerita. Jenis huruf yang digunakan hampir sama seperti jenis huruf yang digunakan dalam makalah ilmiah. Selain itu, ukuran hurufnya juga lebih kecil sehingga lebih banyak tulisan yang bisa termuat dalam satu halaman.
Dari segi tokoh utama, novel Pasukan Mau Tahu: Misteri Pondok Terbakar telah memberitahu pembaca dari judulnya bahwa tokoh utama dalam cerita itu adalah Pasukan Mau Tahu yang terdiri dari lima orang anak. Ini lebih mudah dipahami anak-anak dan tidak membingungkan mereka. Dalam Misteri Kereta Api Biru, tokoh utama sangat sulit ditentukan. Walaupun dalam novel itu tokoh detektif yang dihidupkan adalah Hercule Poirot, tidak sepenuhnya Poirot terlibat dalam cerita. Banyak bagian-bagian yang juga menceritakan kehidupan tokoh lainnya yang juga terlibat dalam kasus tersebut. Hal tersebut membuat novel ini menjadi sulit dipahami,. Orang dewasa pun harus berpikir keras untuk memahami cerita ini.
Dari segi pencerita, keduanya sama-sama menggunakan pencerita diaan. Namun, dalam Misteri Kereta Api Biru, walaupun sama-sama menggunakan pencerita diaan seperti Pasukan Mau Tahu: Misteri Pondok Terbakar, tokoh yang diceritakan sering kali berganti. Dalam bab pertama, tokoh yang difokuskan oleh pencerita adalah seorang gadis Rusia yang menjual berlian bernama Olga Demiroff dan seorang laki-laki Rusia bernama Boris Ivanovitch. Lalu, di bab dua, tokoh yang diceritakan berganti menjadi laki-laki yang dilihat oleh Olga dari kamarnya, bernama M. Marquis dan seorang penjual barang-barang antik bernama D. Papopolous. Di sisi lain, seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya bahwa tokoh utama dalam cerita sudah jelas, yaitu Pasukan Mau Tahu, pencerita Pasukan Mau Tahu: Misteri Pondok Terbakar hanya menceritakan Pasukan Mau Tahu—dan orang-orang yang terlibat dalam kasus, namun tidak banyak—secara rinci. Tentu saja, dengan begitu, di dalamnya juga hanya terdapat satu sudut pandang, yaitu sudut pandang Pasukan Mau Tahu. Dalam Misteri Kereta Api Biru, sudut pandang sering berubah karena tokoh yang difokuskan pencerita juga sering berubah. Bahkan, Poirot, sang detektif, baru muncul setelah bab 11, yaitu setelah pembunuhan terjadi.
Pasukan Mau Tahu: Misteri Pondok Terbakar tidak memiliki banyak narasi. Cakapan antar tokohlah yang membawa pembaca masuk dalam cerita sehingga ini membuat anak-anak lebih mudah memahami cerita. Percakapan antar tokoh itu pun bukanlah percakapan yang panjang dan berbelit-belit. Sebaliknya, dalam Misteri Kereta Api Biru, terdapat banyak narasi dan deskripsi yang mungkin membosankan bagi anak-anak. Percakapan yang ada pun adalah percakapan yang panjang dan tidak langsung membawa pembaca ke dalam inti cerita. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, bahwa bahkan pembaca dewasa akan sulit memahami cerita dan inti cerita Misteri Kereta Api Biru karena memiliki alur dan jalan cerita yang rumit. Banyak konflik di sana yang sulit untuk dipahami. Sebaliknya, Pasukan Mau Tahu: Misteri Pondok Terbakar memiliki alur yang mudah diikuti dan konflik yang enteng. Sebagai contoh, bab pertama menceritakan tentang rumah (pondok) Pak Hick yang terbakar. Lalu, di bab kedua, dari judul bab langsung diketahui alur dan jalan cerita berikutnya, yaitu ‘“Pasukan Mau Tahu” dibentuk’. Bab ketiga pun begitu. Judul babnya adalah “Rapat Pertama” dan dari kalimat pertama pembaca langsung diantar menuju suasana dan tempat rapat pertama tersebut, “Tepat pukul dua siang, kelima anak itu berkumpul dalam kebun rumah Pip yang luas,” (hlm. 24).
Dari semua perbandingan yang telah saya uraikan, perbedaan antara sastra anak dan sastra dewasa sangatlah banyak. Perbedaan tersebut terlihat mulai dari sampul, isi buku yang mencakup jenis huruf, ukuran huruf dan gambar, sampai alur, pencerita, dan sudut pandang. Menurut saya, masih tidak cukup jika hanya membahas perbedaan tersebut dalam dua lembar kertas. Oleh karena itu, yang saya tampilkan di sini adalah perbedaan-perbedaan umum dengan sedikit contoh yang dapat memberikan sedikit bayangan mengenai perbedaan tersebut.

Daftar Pustaka

Blyton, Enid. 2000. Misteri Pondok Terbakar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Budianta, Melani, dkk. 2008. Membaca Sastra. Magelang: Indonesia Tera.
Christie, Agatha. 2008. Misteri Kereta Api Biru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Sarumpaet, Riris K. Toha. 2010. Pedoman Penelitian Sastra Anak. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Hidup itu bertetangga... Hidup itu penuh hadiah... Hidup dapat tumbuh jika disirami dengan ketulusan... ...

Hidup itu bertetangga...
















Hidup itu penuh hadiah...


















Hidup dapat tumbuh jika disirami dengan ketulusan...


















Hidup itu penuh misteri dan kejahatan yang menunggu untuk dibaca...













Tapi . . .





Selalu ada kasih sayang di dalam setiap "coklat"...


















Hidup itu canggih...

  
















Hidup adalah lorong panjang yang di pinggirnya banyak "lukisan" yang dapat kita lihat...

















Karena . . .


Hidup adalah lukisan penuh warna...






Hidup itu indah karena menampilkan dua sisi yang berbeda, namun sama...


Hidup menjadi indah karena kita dikelilingi teman-teman yang setia yang dapat menggantikan makna keluarga yang sebenarnya dalam kehidupan...






Hidupku juga akan terus berjalan seperti itu...

Ketahanan Didong sebagai Tradisi Lisan Gayo dalam Masyarakat Indonesia oleh Irna Gayatri D. Ardiansyah, 0906641453 I.           Tradisi L...

Ketahanan Didong sebagai Tradisi Lisan Gayo dalam Masyarakat Indonesia
oleh
Irna Gayatri D. Ardiansyah, 0906641453



I.          Tradisi Lisan

Kebudayaan di Indonesia merupakan hal yang tidak dapat lepas dari tradisi. Tradisi itu sendiri bukanlah hal yang sudah selesai dan berhenti, melainkan merupakan suatu hal yang masih ada dan terus berkembang. Tradisi ini berkembang mengikuti arus perubahan sosial, namun perubahan yang terjadi tidaklah melenceng jauh dari akarnya. Tradisi tetap menjadi seni tradisi bagi masyarakat setempat yang mengalaminya.
Tradisi lisan telah berkembang di Indonesia sebelum masyarakat Indonesia mengenal aksara. Tradisi lisan pada awalnya subur dan berkembang di seluruh nusantara dan menjadi salah satu kekayaan budaya masyrakat Indonesia. Setelah aksara masuk ke nusantara, tradisi lisan tidak hilang, tetapi berkembang beriringan dengan tradisi tulisan.
Tradisi lisan menurut B.H. Hoed adalah berbagai pengetahuan dan adat kebiasaan yang secara turun-temurun disampaikan secara lisan yang mencakup tidak hanya cerita rakyat, mitos, dan legenda, tetapi juga dilengkapi dengan sejarah, hukum adat, dan pengobatan. Hal-hal yang terkandung dalam suatu tradisi lisan adalah hal-hal yang terlahir dan mentradisi dalam suatu masyarakat yang merupakan warisan nenek moyang. Pada dasarnya, suatu tradisi dapat disebut sebagai tradisi lisan jika tradisi tersebut dikatakan (oleh penutur) dan didengar (oleh penonton). Tetapi, jika suatu tradisi lisan dituliskan, apakah tradisi lisan yang dituliskan tersebut tetap menjadi tradisi lisan, atau justru telah berubah menjadi suatu tradisi tulisan.
Sebenarnya, sulit untuk mempertahankan suatu tradisi lisan pada era modern ini karena manusia modern telah mengenal sistem aksara dan ejaan sehingga lebih tertarik pada sumber-sumber tertulis. Cerita rakyat, misalnya, yang pada awalnya merupakan bagian dari tradisi lisan, di era modern berubah menjadi bagian dari tradisi tulisan karena cerita rakyat tersebut dicetak menjadi sebuah buku. Nilai cerita rakyat sebagai tradisi lisan pun menghilang dan, dengan begitu, esensi cerita rakyat itu pun hilang.
Inilah masalah yang melingkupi tradisi lisan nusantara. Tradisi lisan tidak akan berkembang dan bertahan jika tidak ada penutur dan penonton yang benar-benar mencintainya. Lalu, jika ada usaha untuk mempertahankan tradisi lisan tersebut dengan menuliskannya dalam buku, tradisi lisan itu akhirnya malah berubah menjadi bagian dari tradisi tulisan. Bisa juga, usaha pembukuan dan perekaman tradisi lisan tersebut memang berhasil mempertahankan tradisi lisan tersebut, namun pada hasilnya adalah penghilangan esensi tradisi lisan itu. dengan kata lain, apa yang didengar oleh generasi muda yang tidak sempat mendengar dan melihat tradisi lisan itu bukanlah tradisi lisan yang sebenarnya.
Dalam makalah ini, saya akan mencoba melihat masalah yang melingkupi salah satu tradisi lisan di Gayo, Aceh, yaitu Didong. Masalah yang akan saya bahas adalah apakah Didong akan bertahan sebagai tradisi lisan di Gayo jika melihat kedudukan tradisi lisan nusantara dalam masyarakat Indonesia saat ini. Tradisi lisan yang saat ini sudah jarang ditemukan masyarakat modern Indonesia dapat terancam keberadaannya sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia.

II.          Didong dan Fungsinya bagi Masyarakat Gayo

Salah satu seni tradisi yang ada di Indonesia adalah Didong. Didong adalah kesenian dari Gayo, Daerah Istimewa Aceh. Didong dapat dinyatakan sebagai satu varian dari nyanyian rakyat (Melalatoa, 2001:1). Sebagai suatu kesenian tradisional, Didong telah menjadi keseharian bagi masyarakat Gayo. Mayarakat Gayo, dalam kaitannya dengan Didong, dikenal sebagai masyarakat kebudayaannya amat cepat berubah dibandingkan masyarakat daerah lainnya di Pulau Sumatra. Oleh karena itu, Didong tampil dalam masyarakat Gayo yang cenderung berubah dengan cepat sebagai salah satu kesenian yang cukup kuat bertahan. Didong juga sekaligus menjadi cirri pengenal etnik Gayo (Melalatoa, 2001:2).
Didong adalah suatu tradisi lisan yang dapat dikatakan sebagai ajang unjuk kreatifitas masyarakat Gayo karena, dalam Didong, sang penutur harus menyajikan nyanyian yang berbeda-beda. Berdasarkan buku Didong Pentas Kreatifitas Gayo, Didong adalah seni yang dipertandingkan antara dua kumpulan grup yang masing-masing disebut ulu atau kelop. Acuan dalam pertandingan Didong didasarkan pada pesan budaya yang tersirat dalam unkapan yang dikutip di bawah ini.
Idung bertenunug, adi bermemulo.
Pesan atau arti ungkapan ini adalah:
“Berlombalah untuk (mendapatkan, menciptakan, memberikan, menghidangkan) sesuatu yang terbaik”
Pesan budaya dalam kaitannya dengan pertandingan didong ini berarti “berkompetisi” dalam menciptakan dan menyajikan karya yang ”berkualitas”.” (hlm. 3).
Kutipan di atas telah memberikan sedikit gambaran bahwa Didong adalah kesenian yang menuntut penuturnya untuk selalu kreatif karena Didong adalah sebuah kompetisi yang harus menyajikan karya yang berkualitas.
Peserta yang mengikuti Didong berjumlah sekitar 30 “aktor”. “Aktor” tersebut terbagi lagi ke dalam dua kategori utama, yaitu ceh dan penunung atau penyur (pengiring).  Seseorang yang bisa disebut ceh harus memenuhi beberapa syarat. Modal utamanya adalah suara merdu yang juga didukung dengan kemampuan menciptakan lirik (kekata) sendiri yang akan dilegukan dengan melodi ciptaan sendiri juga. Seorang ceh juga harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai adat istiadat masyarakat Gayo. Pengetahuan luas ini akan diaplikasikan ke dalam perbendaharaan kata untuk lirik yang mereka ciptakan (Melalatoa, 2001:11).
Sistem pertandingan Didong juga membuat seorang ceh harus menciptakan lirik dan melodi secara spontan dan inilah yang membuat Didong disebut sebagai ajang unjuk kreatifitas masyarakat Gayo. Dalam suatu pertandingan Didong, harus ada seorang Ceh Kul atau ‘aktor utama’ yang didampingi oleh pasangannya yang dapat berjumlah dua atau tiga orang yang disebut apit. Apit atau ceh due atau ‘aktor pembantu’ ini berperan membantu aktor utama dalam menghadapi serangan atau menyerang lawan tanding. Ceh Kul memiliki suara yang paling merdu diantara ceh lauin dalam sebuah kelop atau ‘grup’. Ceh Kul juga merupakan pencipta melodi dan lirik, penyusun strategi, serta pendongkrak semangat juang para aktor lain.
Hal yang menarik dari pertandingan Didong ini adalah keberadaan aktor lain yang duduk melingkar mengelilingi ceh untuk mengiringi pertandingan dengan kreasi dan variasi tepuk tangan (tepok) dan variasi gerak tubuh yang serasi (Malalatoa:17). Penonton juga menjadi bagian penting dalam pertandingan Didong karena ceh sering disebut berhasil menembangkan lagunya jika sudah dapat mencuri perhatian penonton. Penonton dapat menunjukkan rasa simpati pada ceh dari salah satu kelop jika mereka merasa lirik yang ditampilkan sesuai dan mengena dengan melodi yang dinyanyikan.
Melodi dan lirik adalah hasil cipta seorang ceh dan menjadi milik sebuah kelop pada akhirnya. Satu hal yang dituntut dari seorang ceh adalah melodi dan lirik yang baru. Pernyataan ini kembali berhubungan dengan pernyataan bahwa Didong adalah pentas kreatifitas Gayo. Jika seorang ceh tidak dapat menciptakan melodi-melodi yang baru secara spontan, hujatan penonton dan serangan balik dari lawan sudah menunggu ceh tersebut dan tentu saja hujatan juga ditujukan untuk kelop tersebut. Oleh karena itu, Melalatoa menyebut pertandingan Didong sebagai pertandingan yang mempertaruhkan harga diri ceh dan tentu saja harga diri kelop yang menaunginya.
Jika dalam pantun kita mengenal rima, dalam Didong kita akan menemui variasi tata bunyi yang sekilas mirip dengan rima. Variasi tata bunyi tersebut adalah hasil dari kreatifitas ceh. Biasanya, variasi bunyi yang dihasilkan adalah variasi di bagian akhir lirik bait pertama, bagian tengah bait kedua, dan bagian akhir bait kedua. Pola ini terus berulang sampai akhir lirik. Contoh pola lirik ini akan saya berikan di bagian lampiran.
Untuk tema lirik Didong, biasanya seorang ceh mengambil tema dari masalah yang sedang berlangsung dan populer saat itu. Tema ini berkaitan dengan fungsi Didong bagi masyarakat Gayo. Fungsi Didong bagi masyarakat Gayo terus berkembang dan beragam mengikuti perkembangan zaman. Berdasarkan buku Didong Pentas Kreatifitas Gayo, fungsi Didong bagi masyarakat Gayo adalah untuk (1) mempertahankan struktur sosial, sebagai media (2) keindahan dan hiburan, sebagai (3) pelestari sistem budaya, (4) pencari dana sosial, media (5) penerangan, dan media (6) kontrol sosial.
Fungsi Didong sebagai media hiburan dilihat berdasarkan lirik dan melodi yang memiliki keindahan atau nilai estetika. Lirik dan melodi yang indah tentu menjadi salah satu fokus utama dalam Didong dan hal ini menjadi fokus karena seorang ceh dikatakan berhasil setelah dapat merebut simpati dan perhatian penonton. Jika penonton merasa tidak terhibur, gagallah seorang ceh dalam menembangkan lagunya. Hal ini menjadi penting karena penonton sebuah pertandingan Didong dapat menjadi sangat fanatik terhadap pertandingan maupun kelop yang bertanding. Oleh karena itu, fungsi hiburan dan keindahan yang dirujuk di sini adalah berdasarkan keberadaan dan kepentingan penonton dalam pentas Didong tersebut.
Didong berfungsi sebagai pelestari sistem budaya karena, di dalam lirik Didong, terdapat banyak muatan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di Gayo, seperti adat perkawinan, adat mendirikan rumah, dan upacara adat lainnya. Pentas Didong juga dapat menanamkan sistem nilai masyarakat Gayo seperti harga diri, disiplin, jiwa kompetitif, dan kualitas yang semuanya tercermin dalam peserta Didong.Pemahaman para ceh atas system nilai ini menjadi roh dari karya-karya yang dihasilkannya (Melalatoa, 2001:61).
Didong juga berfungsi sebagai pencari dana sosial. Hal ini dapat terjadi karena setelah masa kemerdekaan, banyak dilaksanakan pembangunan di mana-mana, begitu pun di Gayo. Pembangunan yang dilaksanakan antara lain adalah pembangunan tempat ibadah seperti masjid atau musala, pembangunan jembatan, sekolah, serta pembangunan sarana umum lainnya. Untuk menghimpun dana, diadakanlah pertandingan Didong. Para penonton yang datang harus membayar uang tiket masuk dan biaya dari penjualan tiket masuk inilah yang digunakan untuk memperlancar pembangunan tersebut.
Kesenian dapat menjadi lebih menarik dan memudahkan penyampaian pendidikan. Kasus yang terjadi dalam masyarakat Gayo, khususnya para orang tua yang umumnya buta huruf, adalah mereka tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Didong, yang liriknya berisi sistem nilai masyarakat Gayo dan masalah-masalah yang sedang banyak dibicarakan pada masa itu, merupakan cara terbaik untuk menyampaikan dan menerangkan masalah dan isu apa yang sedang beredar. Para orang tua di Gayo memiliki kesulitan memahami Pancasila karena bahasanya yang begitu sulit serta keminiman kemampuan membaca mereka. Melalui Didong, mereka dapat memahami dan mengetahui Pancasila serta maknanya, apalagi penyajian yang disuguhkan oleh ceh dengan irama yang enak didengar telah membuat para orang tua itu memahaminya dengan mudah. Dibandingkan dengan penyampaian isu-isu atau program-program pemerintah melalui pidato pejabat setempat, Didong telah menjelma menjadi media penyampaian paling efektif bagi masyarakat Gayo.
Tentu saja, karena Didong merupakan media penyampaian yang paling efektif bagi masyarakat Gayo, Didong menjadi media kontrol sosial yang paling efektif juga. Hal ini disebabkan oleh cara penyampaian yang dilakukan ceh yang jauh lebih mudah dipahami daripada cara penyampaian oleh pejabat tadi. Situasinya sama seperti lagu-lagu rohani yang dapat menjadi media penyampaian agama dan kontrol sosial karena di dalamnya terdapat peringatan dan pemberitahuan hukuman bagi orang yang berbuat dosa. Didong pun demikian halnya. Di dalam Didong, terdapat lirik-lirik yang sifatnya kritis dan lirik-lirik ini dapat menyindir individu, masyarakat atau pemerintah. Sebuah lirik dapat berisi saran untuk selalu hidup rukun dalam berumah tangga, pentingnya pendidikan bagi masyarakat, serta banyak lagi yang menyindir perilaku manusia yang meremehkan nilai-nilai adat. Sindiran kepada pemerintah biasanya dibicarakan melalui lirik yang berisi tentang korupsi, ketidakberpihakan kepada rakyat, dan lain-lain (Malalatoa:65).

III.          Didong sebagai Tradisi Lisan di Gayo dan Ketahanannya sebagai Tradisi Lisan Nusantara

Didong telah melekat ke dalam kehidupan masyarakat Gayo. Walaupun begitu, hal yang patut dicurigai adalah apakah Didong sebagai tradisi lisan ini dapat bertahan sementara kehidupan masyarakat Aceh pada umumnya sudah jauh berkembang menuju ke arah modernisasi. Modernisasi membawa masyarakat Aceh daerah perkotaan menjadi masyarakat yang cenderung tidak mengindahkan tradisi lisan. Hal ini senada dengan pernyataan awal para sarjana Belanda dari zaman sebelum Perang Dunia II mengenai folklor yang hanya sebagai kebudayaan orang pedesaan yang lebih rendah dari kebudayaan orang kota. Folklor yang dimaksud di sini adalah tradisi lisan.
Dalam sebuah film mengenai seorang ceh cilik (ceh kucak) yang mewariskan tradisi Didong dari ayahnya, terlihat suatu masalah bahwa dalam Didong terdapat suatu kelemahan. Karena para ceh harus memiliki kemampuan untuk mengarang lirik dan melagukannya secara spontan, tentu saja, para ceh tersebut tidak mencatat lirik yang pernah mereka buat. Walaupun begitu, para ceh dapat mengingat lirik dan melodi yang pernah mereka buat sambil terus membuat lirik dan melodi baru dalam pentas. Oleh karena itu, pencatatan dan perekaman tentulah harus dilakukan oleh peneliti.
Upaya pencatatan lirik-lirik dalam Didong perlu dilakukan untuk menjaga keberadaan Didong dalam masyarakat Gayo. Perekaman melodi Didong ke dalam kaset dan video juga merupakan hal yang tidak kalah penting. Baik pencatatan lirik maupun perekaman melodi memang sudah dilakukan dalam penelitian, tetapi sebenarnya upaya tersebut telah menghilangkan esensi Didong dan tentu saja esensi tradisi lisan secara umum.
Sebuah film mengenai ceh kucak telah membuktikan bahwa esensi Didong hanya dapat ditemukan dalam pentas Didong. Dalam Didong, unsur yang penting bukan hanya lirik yang dilagukan oleh ceh, melainkan juga partisipasi penonton dan keriuhan penonton yang melihat pentas tersebut. Dalam tradisi lisan, terjadi dialog antara pembicara/penutur dan pendengar/penonton serta terdapat mimik yang dapat menggambarkan emosi dengan sejelas-jelasnya. Hal ini tidak dapat digantikan oleh pencatatan dan tentu hasilnya akan berbeda dengan pencatatan. Makna yang ingin disampaikan oleh penutur juga akan berbeda karena dalam membaca, pembaca dapat menafsirkan sendiri isi bacaannya. Inilah yang disebut pencatatan menghilangkan esensi tradisi lisan Didong. Perekaman berupa video memungkinkan orang-orang yang tidak melihat langsung pentas Didong dapat melihat dengan jelas bagaimana pentas Didong itu berjalan. Namun, kembali lagi, esensi yang didapatkan tidak ada karena perekaman tidak meliputi keseluruhan pentas Didong.
Tradisi lisan dalam masyarakat Gayo bukan hanya Didong. Di Gayo, terdapat tradisi lisan lain berupa kekeberen, sair, dan saman. Masalah yang sama juga dialami oleh tradisi lisan yang lain. Masalah yang diungkapkan oleh Hanafiah dan kawan-kawan mengenai tradisi lisan Gayo adalah pencatatan dan pengumpulan tradisi lisan Gayo masih tersebar bentuknya (1985:2). Kesulitan penelitian yang dihadapi juga meliputi penutur yang kebanyakan berada di kecamatan yang “tua” dan sebagian besar merupakan manula dan umumnya tinggal di daerah asalnya. Hal ini sama dengan Didong. Sebagian besar penutur atau ceh merupakan orang tua dan manula. Bahkan, dapat dikatakan bahwa Didong mengalami krisis ceh kucak atau paling tidak ceh muda. Didong pun tidak berkembang di daerah perkotaan Aceh dan tidak diketahui masyarakat di daerah lain di luar Aceh.
Pentas Didong saat ini masih dilakukan oleh orang-orang tua. Dengan kata lain, saat para ceh yang merupakan orang-orang tua itu meninggal, Didong pun dapat ikut mati. Oleh karena itu, krisis ceh cilik dan muda harus segera diatasi untuk menghindari kematian Didong sebagai tradisi lisan Gayo dan Nusantara. Modernisasi yang telah menjamah hampir seluruh wilayah nusantara dapat membuat tradisi lisan dilupakan.
Minimnya buku yang membahas tentang Didong juga membuat informasi mengenai Didong tidak lengkap dan hal ini dapat mengakibatkan kesenian ini tenggelam dan hilang. Kemungkinan ini dapat terjadi karena dengan semakin sedikitnya sumber yang dapat ditemukan, baik sumber tertulis maupun sumber lisan atau dengan kata lain ceh yang ikut menjadi bagian dari pentas Didong, eksistensi Didong sebagai bagian dari tradisi lisan Gayo juga akan semakin tenggelam. Apalagi, jika tidak ada regenerasi karena tidak ada generasi berikutnya dari seorang ceh yang mendapat anugrah dan bakat yang sama yang sanggup meneruskan tradisi tersebut, bukannya tidak mungkin Didong akan benar-benar hilang. Minimnya buku yang membahas dan setidaknya menyinggung hal-hal seputar Didong tidak menutup kemungkinan bahwa masyarakat perkotaan Indonesia tidak akan mengetahui tradisi lisan tersebut. Ketidaktahuan ini akan terus berlanjut sehingga kemungkinan terburuk yang terjadi adalah Didong sebagai tradisi lisan akan benar-benar hilang.
Penelitian yang dilakukan tetap berdasarkan sumber lama yang telah ada, namun juga melengkapi sumber itu. cara terbaik untuk melestarikan tradisi lisan Didong ini adalah dengan mencatat semua lirik yang pernah dibuat—dalam hal ini, lirik yang dimaksud adalah lirik yang berasal dari ceh yang masih hidup—dan merekam melodi yang dihasilkannya. Dokumentasi seperti ini menjadi penting karena sebelumnya tidak ada masyarakat Gayo sendiri yang pernah mencatat lirik yang pernah dihasilkan dalam sebuah pertandingan Didong. Pencatatan secara lengkap dan perekaman adalah cara untuk melestarikan tradisi Didong ini. Walaupun begitu, cara pelestarian terbaik tentu saja hanya dapat dilakukan oleh masyarakat Gayo, khususnya ceh, yaitu dengan mengajarkan secara langsung lirik-lirik dan melodi yang pernah ada dan mengajak sang penerus tersebut menonton suatu pertandingan Didong. Hal ini dapat mengasah kemampuan sang penerus untuk menghasilkan lirik-lirik dan melodi khas Gayo secara spontan.

IV.          Kesimpulan

Didong sebagai tradisi lisan adalah salah satu kesenian yang sangat menarik karena Didong membutuhkan keterampilan dan kemahiran dari penuturnya. Sayang sekali jika kesenian ini hilang begitu saja tanpa adanya dokumentasi lengkap sehingga masyarakat Indonesia tidak dapat mengetahui kesenian ini. Upaya mendokumentasikan tradisi lisan Didong ke dalam tulisan memang telah dilakukan, namun upaya ini telah menghilangkan esensi Didong pada umumnya. Hal ini disebabkan oleh sistem yang terdapat dalam tradisi tulisan sama sekali berbeda dengan sistem yang ada dalam tradisi lisan. Dalam tradisi tulisan, unsur pembangun yang paling penting adalah aksara dan ejaan. Emosi yang terdapat dalam penceritaan langsung—dapat terjadi dalam tradisi lisan—digantikan kedudukannya dengan tanda baca. Hal ini menghilangkan esensi dari tradisi lisan tersebut, seperti Didong.
Di lain pihak, untuk mempertahankan esensi tersebut, dilakukanlah perekaman ke dalam kaset dan video. Namun, hal yang sangat disayangkan adalah bahwa perekaman Didong ke dalam kaset dan video dilakukan untuk tujuan komersial. Pada akhirnya, upaya terbaik untuk mempertahankan Didong sebagai tradisi lisan nusantara hanya dapat dilakukan dengan bantuan penutur/pencerita dan penonton/pendengar. Penutur—dalam hal ini ceh—harus memiliki penerusnya, generasi muda, karena tradisi lisan merupakan kelisanan yang disampaikan turun-temurun. Jika kelisanan tersebut berakhir atau mati pada suatu generasi, tentu saja kelisanan tersebut tidak akan menjadi tradisi lagi dan menghilang.


Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sastra Lisan Gayo. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan. 1985.
Melalatoa, M. Junus. Didong Pentas Kreativitas Gayo. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia, 2001.
MPSS, Pudentia, peny. Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia. 1998.
Sulaiman, Drs. Nasruddin, Drs. Rusdi Sufi, Tuanku Abdul Jalil. Aceh Manusia
Masyarakat Adat dan Budaya. Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh,
1992.

* * * * *

Lampiran

Contoh Pola Lirik Didong
Karya Abd. Rauf (grup “Kabinet Mude”)

Kurik Kampung

Wo si penonton enti mulo inger
ku si munengon kami berunger
ike ku person gelahmi seber
enti inah kin keber ni tudung payung
kati kite angon didong si bener
nume person la si kite bungker
mudah-mudahen mujadi ihtiber
ini kuseder ni kurik kampung

Meh di konae la ni kurik Bangkok
teduh ikeke rede icicok
pora mulape munyino berok
isi ni rongok gere nguk gantung
rongka ni tubuhe ulah-ulah jongok
alih relane asal mengok-mengok
urum geli netawe munengin itik entok
pepala mumepik nge lagu ketibung …

(1962)
(dikutip dari Didong Pentas Kreativitas Gayo, hlm. 131)

Sepertinya sudah lama aku tidak makan coklat. *???* Sebetulnya, aku mau membicarakan coklat valentine~ hehheee.. Tahun lalu, aku mendapat co...

Sepertinya sudah lama aku tidak makan coklat. *???*
Sebetulnya, aku mau membicarakan coklat valentine~ hehheee..
Tahun lalu, aku mendapat coklat valentine dari So~ Itu coklat pertama valentine pertamaku lhoo~ Oh iya, So itu temanku di Sastra Indonesia yang berasal dari Korea. Dia hanya satu semester kuliah di UI. Nah, tahun ini, aku kembali mendapatkan coklat valentine. Yang memberikannya adalah Yoonhee~ Yoonhee juga seorang temanku yang berasal dari Korea.. Lalu, Jiro juga memberikan コアラノマチー untuk teman-teman yang ada di perpustakaan saat itu. Hwaa~ Ketika kupikir-pikir lagi, aku belum pernah mendapatkan coklat valentine dari orang Indonesia lhoo~ Mungkin karena aku jomblo yaa?? *jadi curcol :P* Aku selalu mendapatkan coklat dari temanku yang bukan orang Indonesia alias orang asing.. hhmmm.. Tapi, kemarin aku lupa memfoto coklat dari Yoonhee~ Padahal bungkusnya lucu~ Yoonhee membuat origami berbentuk seperti Tulip untuk membungkusnya.. Niat sekalii~ hehheee.. So juga dulu membungkus coklat valentine untuk teman-teman sekelas dengan bungkus plastik yang sangat cantik! Orang Korea mungkin memang selalu bersemangat membuat hadiah (coklat) valentine~ Manisnyaaa~ >.<


*coklat dari So, tapi ada permennya juga :P*