A ku kuliah di Program Studi Indonesia atau biasanya lebih sering disebut Jurusan Sastra Indonesia. Apa saja yang aku pelajari dalam kuliah-...

Aku kuliah di Program Studi Indonesia atau biasanya lebih sering disebut Jurusan Sastra Indonesia. Apa saja yang aku pelajari dalam kuliah-kuliah di prodi Indonesia ini? Dalam tulisan ini, akan aku beritahu hal-hal menarik yang kami (mahasiswa prodi Indonesia) pelajari.

Sebelumnya, aku ingin menyampaikan kebosanannku terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti ini:
Orang: "Kuliah di mana?"
Aku: "Di UI" sambil tersenyum memaksa. Kadang aku bahkan tidak menatap mata lawan bicaraku jika menyebutkan nama kampusku itu. Aku tidak suka melihat ekspresi mereka yang seakan melihat sesuatu yang hebat.
Orang: "Oh~ Jurusan apa?"
Aku: "Sastra Indonesia"
Orang: "Oh~ bahasa ya~ kenapa gak Sastra Inggris aja?"
bahkan, ada yang mengatakan begini:
Orang 2: "Sastra Indonesia? Gak sekalian aja Sastra Jawa"

Haloooo..!! Emang kenapa ya kalau gw maunya di Sastra Indonesiaaaa??

Nah, itu hanya sebagian kekesalanku dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Aku tidak begitu bangga telah diterima di UI, tapi aku sangat senang karena telah diterima di Sastra Indonesia. Memang, Sastra Indonesia adalah pilihan keduaku, tapi itu bukan jurusan yang kupilih hanya demi alasan yang penting diterima di UI. Sama sekali bukan karena itu. Aku memilihnya karena aku memang ingin mempelajari itu. Aku memilihnya karena aku tertarik akan hal itu.

Mungkin curhatnya sampai di situ saja ya.. hehheee..
Sekarang kembali fokus! Aku akan memberitahukan pada kalian hal menarik yang kami kerjakan di Sastra Indonesia.

Pertama, sudah pasti kami sering bertemu dengan puisi, cerpen, novel, dan hal-hal lainnya yang berbau sastra. Tapi, kami tidak belajar hanya untuk dapat menulis sebuah puisi, cerpen, atau jenis sastra lainnya. Kami belajar untuk dapat mengkaji karya-karya yang sudah ada, mengkritik, dan meninjau karya tersebut dengan teori dari berbagai bidang ilmu. Ini sangat menarik dan secara tidak langsung telah melatih kami untuk bersikap kritis dalam membaca apa pun. Kami diajarkan untuk tidak menjadi pembaca yang membaca suatu karya lalu karya tersebut lewat begitu saja dalam otak. Dalam membaca suatu karya, kami harus memisihkan antara karya dan pengarang dan melakukan analisis unsur intrinsik dan ekstrinsik. Mungkin ini terlihat sama seperti yang sudah diajarkan di SMA. Aku juga tadinya merasa begitu dan menganggap itu hal yang mudah untuk dilakukan. Namun, aku salah. Pengajaran di SMA tentang unsur intrinsik dan ekstrinsik ternyata baru sampai pada kulit terluar saja. Di dalamnya, masih banyak hal-hal yang bisa dieksplorasi dan baru kami ketahui dalam kuliah-kuliah kami.

Kedua, kami juga belajar mengenai sastra klasik. Berbeda dengan sastra di atas, sastra klasik, seperti namanya, adalah sastra yang berkembang pada zaman kerajaan-kerajaan Indonesia. Sebenarnya, sastra klasik ini sama dengan sastra kuno atau sastra melayu kuno atau sastra nusantara kuno. Kami belajar membaca naskah kuno yang berupa hikayat dan syair, mempelajari teori-teorinya, dan belajar bahasa Arab. Kami harus mempelajari bahasa Arab karena sebagian besar naskah kuno ditulis dengan huruf Arab dan bahasa Melayu (Jawi). Tapi, itu menyenangkan karena kepuasan dan kegembiraan yang dirasakan setelah dapat membaca suatu naskah sama rasanya dengan dapat menyelesaikan satu soal Fisika atau Matematika yang rumit. Kalian tahu mengapa membaca naskah dianggap begitu rumit? Ini karena naskah tersebut ditulis dengan huruf Jawi dan merupakan sebuah tulisan tangan. Apalagi, kadang kertasnya juga sudah menguning dan rusak. Banyak kertas yang berlubang sehingga kami sedikit kehilangan konteks. Tulisannya juga memiliki ciri khas karena bukan tulisan tercetak. Jadi, kita juga harus memikirkan ciri khas tulisan seorang penyalin atau penulis naskah saat membacanya sehingga pembacaan yang dilakukan menjadi lebih mudah.



Ketiga, kami tentu saja mempelajari ilmu bahasa (linguistik). Nah, menurutku, linguistiklah yang paling sulit diantara semua bidang studi yang lain. Kami mempelajari cabang-cabang linguistik seperti morfologi, fonologi, semantik, sintaksis, dialektologi, dan lain-lain. Yah, aku merasa ini memang sangat sulit. Oleh karena itu, aku tidak mau membahasnya terlalu banyak. Memikirkannya saja sudah membuatku pusing. hehhheee..

Jadi, anggapan bahwa mempelajari bahasa dan sastra Indonesia adalah pekerjaan yang membuang-buang waktu sebenarnya salah besar. Karena di kampusku banyak mahasiswa asing yang belajar bahasa Indonesia, aku jadi tahu betul bahwa orang Indonesia pada umumnya sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia. Aku merasa yakin akan hal ini setelah mengikuti kuliah Morfologi dengan Dr. Felicia N.U. Aku pun merasa begitu setelah mengajar seorang mahasiswa dari Program BIPA 1 bernama Choi Ji Son. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dosen serta muridku mengenai bahasa Indonesia telah menyadarkanku bahwa mempelajari bahasa Indonesia sangat penting karena bahasa adalah identitas suatu bangsa juga kan. :))

Aku bangga menjadi mahasiswa
Program Studi Indonesia.


  Olahraga Bukan Ajang Aji Mumpung Mencari Ketenaran Belakangan ini, demam sepak bola merajalela dan melanda hampir seluruh lapisan masy...

 

Olahraga Bukan Ajang Aji Mumpung Mencari Ketenaran

Belakangan ini, demam sepak bola merajalela dan melanda hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Mulai dari rakyat kelas menengah ke bawah, artis, sampai orang nomor satu di Indonesia pun tak mau ketinggalan momen berharga yang satu ini. Ya, Indonesia memang sedang dalam masa kejayaan sepak bola. Setelah mengalahkan Malaysia 5-1 dalam pertandingan pertama penyisihan Grup A, Tim Garuda terus meraih kemenangan atas lawan-lawan berikutnya. Bisa jadi, kemenangan mutlak pertama Tim Garuda atas Malaysia di ajang Suzuki AFF Cup merupakan titik tolak yang membuat semangat Tim Garuda meningkat. Bahkan, semangat ini juga dirasakan oleh seluruh rakyat hingga Stadion Gelora Bung Karno penuh sesak dipadati pendukung Tim Garuda.
Demam sepak bola ini nampaknya bukan hanya karena kemenangan berturut-turut Tim Garuda, melainkan juga karena adanya dua anggota tim yang baru saja melewati proses naturalisasi. Mereka adalah Irfan Harrys Bachdim dan Christian Gonzales. Namun, sosok pemain yang paling fenomenal saat ini adalah Irfan Harrys Bachdim.
Irfan Bachdim awalnya merupakan warga negara Belanda yang pada bulan Agustus melewati proses naturalisasi dan menjadi WNI. Nama Irfan Bachdim mulai mencuat setelah dia turut menyumbangkan gol terakhir untuk Indonesia dalam pertandingan Indonesia melawan Malaysia. Setelah itu, sosok Irfan Bachdim muncul dalam majalah, surat kabar, bahkan di acara gosip selebriti di stasiun TV tanah air. Irfan Bachdim telah menjelma menjadi idola rakyat Indonesia.
Setiap pagi, dalam setiap acara gosip selebriti di televisi, Irfan Bachdim selalu disebut-sebut oleh para selebriti sebagai sosok yang ditunggu dan disukai oleh mereka. Masyarakat umum pun juga begitu. Lalu, sebenarnya, apakah yang melanda masyarakat Indonesia saat ini? Apakah benar hanya gila bola?
Kira-kira satu minggu belakangan ini, di berbagai situs informasi online, bahkan muncul berita-berita mengenai kekasih Irfan Bachdim, seorang model berkebangsaan Jerman yang juga berdarah campuran Indonesia-Jerman. Berita mengenai Irfan Bachdim sang pacar juga tampaknya telah menjadi berita utama yang paling banyak dilihat pengunjung internet.
Beberapa kali Gonzales yang menjadi pahlawan bagi Tim Garuda, namun berita mengenai dirinya tidak seramai berita mengenai Irfan Bachdim. Mungkin benar, rakyat Indonesia membutuhkan sosok idola. Irfan Bachdim datang dan muncul di saat yang tepat sehingga dia pun menjadi sosok idola yang diidam-idamkan.
Dilihat dari jumlah gol yang disumbangkan, sebenarnya, Irfan Bachdim tidak memberikan sumbangan yang cukup besar untuk kemenangan Tim Garuda. Bahkan, dalam dua pertandingan terakhir, yaitu pertandingan Indonesia melawan Filipina, hanya Gonzales yang mampu menjawab harapan rakyat Indonesia dengan mencetak gol tunggal dalam pertandingan tersebut. Peran Irfan Bachdim dalam dua pertandingan tersebut bahkan tidak menonjol. Irfan Bachdim justru digantikan oleh Bambang Pamungkas dalam babak kedua pertandingan pertama Indonesia melawan Filipina. Ini membuktikan bahwa sebenarnya kemampuan Irfan Bachdim belum bisa diagung-agungkan. Bandingkan dengan kesuksesan Gonzales dalam mencetak gol yang menjadi kunci kemenangan Indonesia. Jadi, apa sebenarnya yang dilihat masyarakat Indonesia dalam diri Irfan Bachdim?
Kemenangan Tim Garuda selalu dikaitkan dengan Irfan Bachdim. Bahkan, Tim Garuda juga sering disebut dengan “Irfan Bachdim dan kawan-kawan”. Sosok Irfan Bachdim begitu menarik perhatian masyarakat Indonesia. Sayangnya, ketenaran ini tidak diikuti prestasi yang stabil. Kepopuleran yang didapatkannya lebih disebabkan oleh ketampanan dan naturalisasi yang dilewatinya. Ketenaran Irfan Bachdim juga berimbas pada ketenaran sang pacar yang merupakan model profesional Jerman. Berita mengenai Irfan Bachdim akhir-akhir ini diikuti oleh berita yang berbau kontroversi mengenai sang pacar, Jennifer. Jadi, apakah olahraga merupakan media untuk mendapatkan kepopuleran? Sebaiknya, masyarakat Indonesia melihat kasus ini secara objektif. Jangan justru ikut-ikutan menjadi agen penambah ketenaran di tengah ajang olahraga yang sedang berlangsung. Jika masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang pintar, pasti masyarakat Indonesia bisa menilai idola yang sebenarnya.




Sumber: www.vivanews.com


 oleh
Irna Gayatri D. Ardiansyah
Tugas Penulisan Populer

Kamis, 13 Mei 2010, seorang temanku mengajakku ikut jalan-jalan ke Pelabuhan Sunda Kelapa dan Kota Tua. Jalan-jalan ini diadakan sekaligus s...

Kamis, 13 Mei 2010, seorang temanku mengajakku ikut jalan-jalan ke Pelabuhan Sunda Kelapa dan Kota Tua. Jalan-jalan ini diadakan sekaligus sebagai acara perpisahan dengan seorang teman kami yang harus kembali ke Korea pada hari Sabtu. Sebenarnya, aku ikut jalan-jalan itu tanpa tahu siapa yang ikut juga. Jadi, aku baru mengenal mereka, kecuali satu orang temanku yang mengajakku, saat bertemu di Stasiun UI. Tapi, ini benar-benar pengalaman yang menyenangkan. Ini pertama kalinya aku pergi ke Pelabuhan Sunda Kelapa yang ternyata sangat panas. Kulitku sampai belang lho~ hehheee..
























Tujuan terakhir kami adalah Kota Tua. Setelah kami makan di KFC, kami langsung naik angkot menuju ke Kota Tua. Saat itu sudah sangat sore. Langit sudah mulai gelap. Tapi, Kota Tua tetap ramai sehingga kami sedikit kesulitan mencari tempat bagus untuk berfoto ria bersama. Huuffh.. Kalau diingat lagi, menyenangkan sekali~ >< 


























btw, aku mendapatkan inspirasi untuk cerpen yang kuikutkan dalam lomba di sana~ hehheee..

Usaha si Bodoh Ini bukan kisah cinta. Saat kau membacanya, mungkin ini akan terlihat seperti kisah murahan seorang gadis yang—entah b...

Usaha si Bodoh

Ini bukan kisah cinta. Saat kau membacanya, mungkin ini akan terlihat seperti kisah murahan seorang gadis yang—entah bagaimana—bisa jatuh cinta dengan seorang laki-laki yang bahkan tidak pernah menyapanya sama sekali. Ini kisah yang bodoh, menurutku. Gadis ini sungguh terlalu lugu—hingga mungkin pantas disebut menyedihkan—karena dia sendiri, dengan cara yang sungguh bodoh, hanya memandang orang yang disukainya itu secara diam-diam dari tempat duduknya. Dia hanya melihatnya lewat di depannya, makan, mengobrol, dan melihat hal-hal tak penting lainnya. Sungguh konyol. Dia benar-benar hanya melihatnya tanpa berani menyapa atau menanyakan namanya. Sesekali, dia melemparkan senyum simpulnya yang sebenarnya tidak terlihat menawan.
Gadis bodoh itu bernama Kirana Larasati. Dia temanku satu jurusan di Sastra Jepang. Dia bukan gadis yang cantik, namun dia juga bukan seorang gadis yang terlalu buruk rupa sampai tidak pernah ada yang mau berpacaran dengannya. Memang, sampai detik ini, saat usianya sudah 18 tahun lebih 3 bulan 25 hari, dia belum pernah berpacaran. Dia sama sekali belum pernah menyukai lawan jenisnya. Inilah yang pertama baginya. Dia akhirnya menyukai seorang laki-laki dari jurusan Ilmu Perpustakaan.
Sebenarnya, orang yang disukainya bukanlah orang yang populer di kampus. Aku bahkan baru mengetahui keberadaan orang itu saat Kirana menceritakannya padaku. Laki-laki itu cukup tampan, namun entah mengapa kurang menarik perhatian. Sepertinya, dia tidak memiliki aura seorang bintang. Padahal, jika dibandingkan dengan artis korea yang sedang begitu digilai anak muda, termasuk mahasiswa, laki-laki itu lebih tampan. Hanya kurang sedikit polesan pada wajah, rambut, dan gaya berpakaiannya. Yah, itu hanya menurutku. Mungkin kalian punya pendapat yang sedikit berbeda.
Sudah dua bulan berlalu sejak Kirana mulai memperhatikan laki-laki itu. Sudah kukatakan sebelumnya bahwa dia gadis yang bodoh. Selama dua bulan itu, dia sama sekali tidak berusaha mencari tahu nama orang itu. Hanya memperhatikannya saja dari jauh dengan wajah berseri dan mata berbinar-binar seperti tokoh perempuan dalam manga. Kadang, dia mendesah dan mengatakan “Kawaii~”, kemudian tersenyum lebar seperti ibu gila yang melihat boneka anak-anakan. Tidak pernah ada keinginan dalam dirinya untuk mengetahui nama orang yang disukainya itu.
Akhirnya, terpaksa aku yang megambil tindakan mencari tahu namanya. Aku bertanya pada beberapa temanku yang kuliah di jurusan yang sama dengan orang itu dan beberapa temanku dari jurusan lain yang mungkin mengenalnya. Usahaku ini berhasil. Namanya berhasil kudapatkan dan, menurutku, namanya cukup aneh untuk ukuran nama orang Indonesia standar.
Aram Sagara Pallawa. Nama macam apa itu? Aku tertawa saat pertama kali mendengarnya langsung diucapkan oleh temanku, Hendi, dari jurusan Ilmu Perpustakaan angkatan 2007. Mereka teman satu angkatan sehingga aku bisa mendapatkan semua informasi yang mungkin kuperlukan darinya.
Aku memberitahukan semua informasi yang kudapatkan pada Kiran. Dia terlihat sangat senang begitu tahu namanya. Aku juga sebenarnya senang karena hasil kerjaku ternyata memuaskan. Tetapi, setelah tahu nama cowok itu, Kiran tidak menunjukkan sikap yang memuaskan. Maksudku, sebenarnya aku ingin dia semakin semangat untuk lebih mengenalnya, paling tidak mengobrol dengannya. Namun, ia sama sekali tidak menunjukkan keinginan untuk lebih dekat, bhkan saat dia sudah tahu nama dan beberapa indormasi lainnya sekalipun. Aku bingung.
Lama kelamaan, aku mengerti bahwa sebenarnya Kirana hanya suka melihat wajahnya yang tampan. Kurasa, ini seperti kisah cinta fans dan artis idolanya. Menurutku, dia seperti menggemari cowok idolanya itu secara berlebihan, namun tidak ingin menjadi lebih dekat karena mungkin sensasi yang dirasakan akan berbeda. Tidak terlalu menyenangkan seperti sensasi yang ia rasakan sebelumnya.
Aku cukup mengerti akan hal itu dan aku tidak memintanya melakukan hal lain lebih jauh. Biarkan saja dia menyukai orang itu dengan caranya, walaupun cara itu sama sekali tidak bisa kuterima. Caranya menyukai orang itu memang aneh dan ini baru pertama kali kulihat.
Ya, biarlah ini menjadi pengalamanku. Cinta itu tidak harus berbalas dan dari dua belah pihak, laki-laki dan perempuan. Cinta juga bisa dirasakan satu arah dan aku rasa itu baik-baik saja selama salah seorang pihak merasa bahagia akan hal itu dan tidak ada yang disakiti atau merasa dirugikan. Semudah itulah cinta yang dirasakan oleh Kirana, temanku yang bodoh itu.

KETIDAKMAMPUANKU Hening. Senyap. Sepi. Sepertinya hanya itulah kata yang paling tepat melukiskan suasana di kelas saat itu. Aku hanya ber...

KETIDAKMAMPUANKU



Hening. Senyap. Sepi. Sepertinya hanya itulah kata yang paling tepat melukiskan suasana di kelas saat itu. Aku hanya berdua dengannya, duduk bersender di dinding belakang kelas. Dia duduk di sampingku, membaca sebuah buku berbahasa Inggris yang sama sekali tidak kumengerti artinya. Sesekali aku mengerling padanya memastikan apakah dia sudah selesai membaca bukunya. Tidak ada satu pun dari kami yang bicara. Cahaya keemasan merangkap masuk melalui jendela yang gordennya tidak terpasang. Kami tetap tidak bicara. Dia bahkan tidak menatapku sama sekali. Matanya tetap tertuju pada bukunya itu.

Telepon genggamku berdering memecah kesunyian yang merintis sampai ke tulangku. Aku segera meraihnya. Ada nama Misa dan gambar amplop yang bergerak-gerak di layar handphone-ku. Dia menoleh sesaat lalu kembali membaca bukunya. Aku juga tidak terlalu peduli akan isi pesan singkatnya itu. Karena tidak ingin mengganggu konsentrasinya, aku segera menonaktifkan handphone-ku.

Tiba-tiba dia menutup bukunya. Dia melepas kacamatanya lalu memejamkan mata. Kami masih mengunci mulut masing-masing. Kaku. Tapi tidak pernah membuatku bosan. Itulah dia. Selalu ada perasaan bahagia saat bersamanya, walaupun sebenarnya tidak banyak yang kami lakukan saat bersama. Selalu sama seperti hari ini. Kami menunggu sampai ruang kuliah kosong kemudian dia membaca buku-bukunya yang selalu berbahasa Inggris. Dan aku hanya duduk di sampingnya. Sesekali memandangnya, mengamati wajah seriusnya. Mungkin aku lebih banyak melamun saat bersamanya dan tidak pernah bicara.

Aku menyukai suasana seperti ini. Mungkin aku seperti orang bodoh yang tidak tahu harus berbuat apa, tapi aku lebih senang seperti ini. Tidak melakukan apa-apa. Asalkan aku bisa terus bersamanya, lebih lama, dan lebih lama lagi. Rasanya 6 jam sehari sama sekali tidak cukup bagiku. Aku ingin lebih. Mungkin hasrat ini memang aneh, tapi ini normal bagiku.

Aku bisa mendengar suara napasnya yang berat tapi terdengar sangat lembut di telingaku. Dia tertidur, kurasa. Kepalanya terkulai ke arahku kemudian terjatuh lemah ke pundakku. Aku tidak menolaknya sama sekali. Semua kubiarkan berjalan apa adanya, tanpa protes, tanpa keluhan apapun, tanpa menyesal sedikit pun.

Masih hening. Lambat. Baik waktu maupun desah napas kami. Semuanya terasa melambat, seakan ingin membiarkan kami menikmati detik demi detik yang langka ini.

“Sampai kapan kau ingin terus di sini?” tiba-tiba dia bertanya, nyaris membuat jantungku melompat keluar.

“A-apa?” tanyaku gugup. Belum sempat menyiapkan hatiku untuk mendengar suaranya yang lembut dan merdu itu. Jantungku masih melompat-lompat di tempatnya.

“Kau tidak mungkin terus berada di kelas kan?” tanyanya lagi, tanpa memperjelas pertanyaan pertamanya. Bingung, aku malah balik bertanya padanya.

“Maksudmu?” dia mengangkat kepalanya kemudian berdiri.

“Ayo pulang.” dia melangkah pergi.

Aku kesulitan mengikuti langkahnya yang lebar. Namun, dia selalu berhenti sebentar untuk menyamakan langkah kami. Kami berjalan beriringan, walaupun rasanya aku tidak pantas berjalan di sampingnya.
Kami selalu menjadi pusat perhatian dalam saat-saat seperti ini. Sebenarnya, hanya dialah yang selalu menjadi pusat perhatian orang-orang. Kulitnya yang putih seperti pualam, wajahnya yang seakan-akan dipahat di atas berlian dengan sangat sempurna berpendar seperti bulan purnama, suaranya yang lembut dan merdu, sangat natural seperti suara pagi hari yang sejuk. Matanya hitam kelam, memancarkan kepastian yang tidak akan goyah.

Dia sangat sempurna, memang sangat sempurna. Aku tak bisa menahan diriku untuk tidak mengagumi kesempurnaannya itu. Aku bahkan merasa bersalah melihat tatapan orang-orang—apalagi teman-temanku di kampus—yang seakan-akan menuduhku telah merebut kesempatan mereka untuk menikmati kesempurnaan itu.

Tapi aku mencintainya. Mengagumi kesempurnaannya adalah anugerah yang tidak henti-hentinya kusyukuri. Dan kunjungan ke Perpustakaan Nasional di siang yang menyengat itu merupakan kunjungan yang pasti akan selalu melekat di ingatanku. Tak akan kulupakan walaupun aku terserang alzheimer sekalipun. Mungkin.
Pikiranku melayang ke saat-saat itu. Dia tiba-tiba berdiri di sampingku, memanggil namaku dengan suara yang lembut namun pasti. Aku menengok karena kaget dan tanpa basa-basi lagi dia langsung menyatakan kecintaannya akan diriku.

Aku terbelalak menatapnya tak percaya, seakan-akan dia baru saja menemukan keajaiban dunia ke-8. Tapi dia terus menatapku. Tatapannya dalam dan tegas, tak pernah membiarkanku memalingkan wajah. Tanpa ragu-ragu, dia mengulang kalimatnya lagi.

”Hei, kau tidak dengar, ya? Kubilang, aku mencintaimu”, begitu katanya. Nada suaranya memang sedikit merendahkanku. Membodo-bodohi aku. Tapi aku tidak bisa menolaknya, bahkan sampai sekarang pun tetap tidak bisa. Aku bergantung padanya. Aku juga mencintainya.

Malam itu, kami pergi ke suatu tempat yang ingin ditunjukkan olehnya. Rumah ayahnya yang terletak di daerah Cisarua, Bogor. Rumah itu hanya ditempati jika ada acara keluarga seperti arisan, pesta syukuran, dan pesta-pesta lainnya. Jika tidak ada acara-acara itu, rumah itu kosong, hanya diurus oleh seorang pembantu dan seorang tukang kebun, sepasang suami istri.

Istana. Rumah ayahnya memang seluas istana. Megah dan mewah. Seluruh lantainya beralaskan marmer merah muda yang sedap dipandang mata. Lampu kristal menggantung di tiap ruang dalam berbagai ukuran. Memantulkan warna-warna pelangi yang bercahaya dan menyilaukan.

Setelah meminta kunci dari Mbok Ijem—begitu dia memanggilnya tadi—dia mengunci seluruh pintu rumah yang dapat menghubungkan kami dengan dunia luar. Aku bertanya dalam hati untuk apa dia melakukan itu, tapi tidak kuutarakan padanya. Aku diam saja. Kali ini pun aku tidak bisa menolaknya. Sama sekali tidak ingin.

Dia mengajakku ke sebuah kamar di lantai atas. Pintunya dikunci rapat. Kemudian, dia mendorongku ke atas spring bed yang ada di dalam kamar luas itu. Aku menghempas pasrah. Dia menindihku. Aku bisa melihat bintik-bintik merah di wajahnya yang merona. Matanya yang biasanya kelam, entah kenapa kini terlihat bercahaya. Dia mengatup bibirku perlahan dengan bibirnya. Lembut namun sangat lekat. Aku mengerang.
“Daniel…” hanya itu yang dapat kukatakan.

Sesekali dia melepaskan bibirnya dan mengambil napas sebentar kemudian melanjutkan kembali ciumannya, lalu melepaskannya lagi, menarik napas, lalu melanjutkannya lagi. Begitu terus sampai berkali-kali selama sepuluh menit. Tangannya menggerayangi tubuhku, membelai dengan lembut. Aku terbuai dalam kenikmatan yang tiada tara. Akankah ini jadi malam pertamaku?

Tidak. Aku tidak boleh begini. Terbuai dalam sentuhan dan rabaannya. Pakaianku sudah terlepas semuanya dan dia menerjangku dengan kasar. Lagi-lagi, dia tak membiarkanku menolaknya. Dan aku memang tidak ingin menolaknya. Aku diam saja, mengikuti semua yang diinginkannya.

Dan malam itu, dinding, lemari, lampu, kursi, dan semua benda-benda mati bisu yang ada di kamar itulah yang menjadi saksi kami. Kami terjaga sepanjang malam. Bahkan, sampai pagi pun aku tetap tak mampu menolaknya.



Jakarta, 10 Maret 2010

Burung Biru Hujan sore itu telah mengurungku di rumah. Terjebak aku di tengah kebosanan dan kehampaan diri sendiri. Bingung, aku pergi k...

Burung Biru


Hujan sore itu telah mengurungku di rumah. Terjebak aku di tengah kebosanan dan kehampaan diri sendiri. Bingung, aku pergi ke perpustakaan pribadiku—sebenarnya itu adalah kamar kosong yang tidak terpakai dan sebelum dijadikan gudang, aku mengusulkan untuk menaruh lemari dan rak buku di sana, tempat menyimpan buku-bukuku—dan mencari buku yang cocok dibaca saat ini.

Aku melihat banyak judul. Salah satu di antaranya berjudul Matahari dan Bulan Berkawan. Itu adalah buku bergambar yang diberikan ibu saat aku sudah mulai bisa membaca. Aku masih ingat ceritanya dengan sangat jelas dan entah kenapa saat itu aku tergugah untuk membacanya kembali. Aku mulai membuka lembar sampulnya yang bergambar matahari dan bulan. Isinya sama, tepat seperti yang kuingat selama ini. Memang benar, aku masih ingat semuanya sampai ke detail-detail kecilnya.

Aku menutup buku itu dan meletakkannya kembali ke tempat semula. Aku kembali melihat sekeliling, mencoba mencari buku apa lagi yang sebaiknya kubaca. Namun, aku tidak menemukan buku lain yang menarik. Akhirnya aku melangkah keluar dan menutup pintu perpustakaanku. Aku masih sendirian di rumah. Ibu sepertinya masih betah mengobrol sambil arisan di tempat Tante Dewi. Ibu memang sudah mengajakku tadi, namun aku menolak. Aku menolak untuk terlibat ke dalam perkumpulan dan obrolan ibu-ibu yang sudah berumur. Pasti akan jauh lebih membosankan daripada sendirian di rumah. Oh iya! Aku hampir lupa memberitahu.

Ayahku sedang berlibur ke Monaco bersama bos—Pak Nasrudin—dan beberapa temannya sekantor. Sebenarnya, liburan ini diberikan oleh Pak Nasrudin karena anaknya akan menikah di sana dan ayahku—yang kebetulan merupakan pegawai kepercaaan Pak Nasrudin—diundang untuk menghadirinya juga. Beruntung sekali dia. Sebenarnya, Pak Nasrudin menyuruh ayahku untuk membawa serta ibu dan aku, namun ayah menolak. Ayah bilang, dia tidak ingin keluarganya merepotkan. Apanya yang merepotkan? Akibatnya, sekarang aku jadi terjebak di rumah dan didera kebosanan.

Di luar semua hal yang sedang terjadi dan sudah terlewat itu, memang kepergian ayah ke Monaco itulah yang peling kusesali. Oleh karena itu, sebagai ganti karena aku tidak diajak ke Monaco, aku minta dibelikan oleh-oleh tas, gelang, dan kalung dari Monaco. Bukankah Monaco memang terkenal akan perhiasannya? Aku tidak mau rugi dan melewatkan kesempatan ini. Saat ayah menelepon tadi pagi, aku kembali mengingatkannya untuk membelikan pesananku.

Aku berjalan menuju dapur dan mencoba menjelajah isi lemari es. Ada sekotak es krim dan sekotak kue brownies kukus di sana. Tanpa pikir panjang, aku segera menghabiskannya. Perutku kenyang, sangat kenyang. Campuran es krim vanila yang dioleskan di atas brownies kukus coklat memang sungguh nikmat dan mengenyangkan. Sekarang, aku malah merasa ingin muntah.

Aku pergi ke sofa di ruang baca untuk berbaring sebentar. Kurebahkan punggungku di sana dan kutepuk-tepuk perutku yang membuncit setelah menghabiskan es krim dan brownies. Ruang baca di rumahku sebenarnya tidak memiliki ruangan sendiri. Ruangan itu masih bergabung dengan ruang keluarga yang letaknya sudah agak ke tengah rumah. Ruang baca sengaja dibuat tanpa pintu namun letaknya sedikit ditinggikan sehingga memiliki kesan terpisah dari ruang keluarga.

Aku memandang sekeliling. Saat itu, mataku terpaku pada sebuah pajangan kaca di tengah ruangan yang di dalamnya terdapat seekor burung biru yang diawetkan. Ayah bilang, dulunya burung itu merupakan peliharaan ayah. Namun, saat ayah mulai sibuk bekerja, ayah jadi lupa pada burung itu dan lalai merawatnya. Akibatnya, dia mati. Ayah yang sangat menyayangi burung itu tidak mau kehilangannya terjadi secepat itu. oleh karena itu, dia mengawetknnya dan mengurungnya di dalam kotak kaca yang indah.

Memang, pajangan itu sangat indah. Di bagian dasar kotak terdapat tempelan rerumputan hijau dan bunga plastik yang kaya warna. Lalu, tempat bertengger burung itu adalah sebatang kayu—mungkin lebih tepat dikatakan sepotong ranting—coklat tua yang bercabang tiga di bagian bawah dan dua di dekat puncaknya. Sang burung bertengger di cabang yang mendekati puncak. Di potongan ranting itu menempel daun-daun yang tidak biasa kulihat di sini. Bentuknya seperti daun papaya, namun tidak selebar itu. Warnanya pun bukan hijau, melainkan jingga. Sebagian lainnya berwarna kuning keemasan. Inilah yang menambah keindahan burung biru dalam pajangan.

Pandanganku seakan terseret ke dalam kotak itu, tepat ke arah pemandangan burung biru yang hendak mengembangkan sayapnya. Aku baru sadar, warna mata burung itu kuning cerah, hampir seperti emas, dan pupil matanya elips, seperti mata kucing. Apakah mata burung memang seperti itu? ah! Aku ini bukan penggemar dan pemerhati burung. Mana aku tahu bagaimana mata burung-burung pada umumnya. Lagipula, entah sejak kapan aku jadi terbawa suasana dan terus memerhatikan pajangan itu.

Aku bangkit dan meninggalkan ruang baca. Sebelum keluar, muncul dorongan dalam diriku untuk menengok dan melihat kembali pajangan burung itu. Burung itu menatap ke arahku. Tatapanya tajam karena pupilnya yang seperti pupil kucing. Sedetik kemudian aku bergidik. Aku menyadari keanehan yang terjadi. Mana mungkin burung itu menatapku! Saat aku duduk tadi, dia memang menatapku karena aku memang tepat berada di depannya! Tetapi sekarang aku jelas-jelas membelakanginya! Seharusnya, yang kulihat adalah punggung burung itu—jika burung memang mempunyai bagian belakang yang bisa disebut punggung—bukan berhadapan dan saling menatap begini!

Aku berlari. Berlari secepat-cepatnya ke luar rumah. aku meraih pintu depan rumahku dan bertubrukan dengan orang yang kedatangannya sebenarnya tidak kunantikan, namun kusyukuri. Ibu! Ibu datang di saat yang tepat. Aku segera memeluknya dan ibu terlihat bingung menerima perlakuanku.

“Ada apa ini? Ibu kan hanya pergi arisan saja,” tanya ibu setelah aku melepaskan pelukakanku.

Aku ingin segera menjawabnya dan menceritakan kejadian aneh yang baru saja kualami tadi. Kukatakan, 

“Burung itu aneh, bu. Tadi burung itu menatapku saat aku duduk di ruang baca, lalu saat aku menengok lagi, burung itu menatapku lagi, padahal harusnya burung itu membelakangiku, bu. Burung itu bergerak, padahal burung itu hanya burung yang diawetkan dan sudah mati. Aku tidak tahu kenapa burung itu bisa bergerak, bu, tapi aku benar-benar takut. Burung itu menatapku dan tatapannya tajam menusuk, bu. Aku takut sekali. Syukurlah ibu datang.” Aku mengatakannya dengan sangat cepat sehingga aku tidak yakin ibu mendengar seluruhnya atau tidak.

Ekspresi ibuku benar-benar menakutkan saat itu. Dia menatapku dengan mata terbuka hampir keluar. Dia memegangi pipiku kemudian bertanya dengan wajah serius, “Ada apa dengan suaramu, Nike?”

Suaraku? Ada apa dengan suaraku? Kenapa ibu menanyakan hal itu? memangnya ada yang salah dengan suaraku? Aku sungguh-sungguh tidak mengerti.

“Nike, jawab ibu!” ibu berseru sambil mengguncang-guncangkan tubuhku. Aku masih tidak mengerti kenapa ibu bersikap begitu.

“Memangnya ada apa dengan suaraku, bu? Tidak ada yang salah, kan? Suaraku masih sama seperti biasa.” jawabku jujur. Ekspresi ibuku masih sama. Barulah saat itu kusadari bahwa suaraku tidak keluar. Aku hanya menggerakkan mulut saja, tanpa ada suara yang keluar. Sekarang, ekspresi wajahku sama dengan ibuku. Aku terkejut luar biasa. Kenapa suaraku bisa hilang? Tidak mungkin! Apa karena terlalu banyak makan es krim dan coklat? Ah! Itu tidak ada pengaruhnya. Tidak mungkin suara bisa hilang secepat itu. setidaknya, pasti suaraku akan serak dulu.

“Kita ke dokter ya, Nike. Sekarang. Kita ke tempat Om Rudi,” Ibuku memegang pundakku erat-erat sambil mengatannya. Aku mengangguk.

“Bi Sumi kemana ya? Harusnya jam segini ‘kan dia menyiram kebun mawar ibu,” tanya ibu pada dirinya sendiri.

Benar juga! Tidak mungkin aku sendirian di rumah. Seharusnya ada Bi Sumi. Sebelum ibu pergi, dia masih ada. Bahkan, saat menerima telepon dari ayah tadi pagi juga masih ada. Setelah aku pergi ke kamar, aku memang tidak mendengarnya lagi. Saat makan siang juga dia tidak memanggilku. Tapi, saat itu makanan sudah tersedia di meja makan jadi aku tidak banyak tanya. Pertanyaan besar baru muncul sekarang, kemana Bi Sumi?

Ibu menyuruhku masuk ke mobil lebih dahulu sementara dia mencari Bi Sumi di dalam. Sudah lewat sepuluh menit, namun ibu masih belum keluar. Aku menunggu dengan tidak sabar dan akhirnya aku memutuskan untuk menyusul ibu. Aku mendengar suara ibu dari dapur dan segera menyusulnya ke sana. Ibu masih meneriaki nama Bi Sumi namun tetap tidak ada jawaban. Ini aneh, sangat aneh. Akhirnya ibu menyerah dan membiarkan rumah terkunci selama kami pergi ke tempat praktik Om Rudi.

Aku segera diperiksa begitu sampai di sana. “Semuanya normal, tidak ada yang salah dengan pita suaraku. Bisa dibilang, ini peristiwa yang sangat aneh. Saat ini, Nike sudah menjadi seorang tunawicara. Dia bisu dan itu sebebnya kenapa suaranya tidak keluar,” begitu penjelasan Om Rudi.

Ibu masih tidak percaya dan menanyakan keadaanku sekali lagi pada Om Rudi. Tetapi, jawaban Om Rudi sama. Dia jelas-jelas bingung melihat keadaanku. Suaraku tiba-tiba hilang. Aku pun tidak mengerti kenapa. Semua ini memang aneh. Aku dan ibu pulang dengan tanda tanya besar dalam hati. Aku seorang tunawicara sekarang.

***


Sudah satu bulan sejak suaraku tiba-tiba menghilang begitu saja. Sejak saat itu juga, Bi Sumi tidak pernah ditemukan dan tidak tahu menghilang kemana. Ibu sudah melapor ke kepolisian daerah dan meminta bantuan untuk mencarinya, namun hasilnya tidak ada. Bi Sumi lenyap begitu saja, sama seperti suaraku yang lenyap dan hilang tak berbekas secara tiba-tiba. Ibu sudah memberitahukan ini pada keluarga Bi Sumi di kampung dan meminta maaf atas kejadian ini. Untungnya, keluarga Bi Sumi sudah mengikhlaskan sehingga ibu tidak terlalu merasa bersalah. Keluarga Bi Sumi juga tidak menyalahkan keluarga kami atas hilangnya Bi Sumi.

Teman-teman sekolahku sama bingungnya denganku begitu tahu aku bisu. Ibu sudah menjelaskan pada kepala sekolah soal hilangnya suaraku dan kepala sekolah juga menjelaskan dengan baik pada wali kelasku, begitu pun wali kelasku yang menjelaskan dengan baik pada teman-teman sekelasku.

Aku menjalani kehidupan dua bulan berikutnya dengan biasa saja. Ayah yang pulang minggu berikutnya setelah peristiwa hilangnya suaraku sangat terkejut. Hal itu kuanggap wajar karena aku pun terkejut. Aku tidak pernah menghubungkan keanehan pada burung biru itu dengan hilangnya suaraku dan menceritakannya pada orang tuaku serta semua orang yang kukenal. Karena saat ini aku bisu, cara yang bisa kulakukan untuk menyampaikan isi hati dan pikiranku adalah menulis. Ke mana pun aku pergi, aku selalu membawa buku catatan yang mudah disobek dan tentu saja pulpen atau spidol.

Ibu mengusulkan padaku untuk mengikuti kursus bahasa isyarat, tetapi kurasa itu tidak perlu. Aku tidak tuli, suaraku hanya menghilang begitu saja. Aku masih meyakini bahwa suaraku pasti hanya menghilang sesaat. Aku tidak ingin berpikiran buruk tentang musibah yang menimpaku. Aku hanya ingin berpikiran positif bahwa suaraku pasti akan kembali. Aku akan berbicara sebentar lagi.

Hari minggu, tepat dua bulan 17 hari sejak suaraku hilang. Ibu pergi arisan ke rumah Tante Umi dan kali ini 
pun aku menolak untuk ikut. Ayah tentu saja pergi ke kantor untuk lembur. Ibu sudah menyewa pembantu lain untuk menggantikan Bi Sumi, namanya Mba Ita. Usia Mba Ita hanya dua tahun lebih tua dariku. Dia orang yang lumayan bersahabat dan sangat lucu. Pandai membuat lelucon konyol yang kreatif. Aku menyukainya sejak pertama kali dia datang. Hasil kerjanya juga rapi dan bersih, tidak kalah dengan hasil kerja Bi Sumi.

Minggu siang itu, aku menonton televisi ditemani Mba Ita. Mba Ita dengan senang hati mau membuatkan pasta dicampur kornet dan parutan keju yang sangat lezat. Aku memakannya dengan lahap sambil menonton film yang sedang diputar di DVD Player-ku.

“Pastanya enak, non?” tanya Mba Ita.

“Iya, mba. Enak banget. Enggak kalah sama pizza mie yang kemarin mba buat.” jawabku tulus.

“Syukur deh, non. Saya takut non enggak doyan pasta.” Mba Ita menghela napas lega.

“Ah, kalau masakan Mba Ita mah aku pasti suka.”

“Ya udah, non. Saya mau ke kamar dulu ya. Mau nyetrika sebentar.”

“Oh, iya mba. Makasih ya, mba, pastanya.”

Aku kembali sendirian siang itu. Film yang kutonton adalah film horror Jepang tentang hantu wanita bermulut sobek. Aku memang menyukai film-film seperti ini sejak dulu, bahkan ibu pernah mengatakan padaku bahwa waktu kecil aku bisa melihat hantu. Namun, aku sendiri tidak pernah ingat bagaimana wujud hantu itu sebenarnya, selain hantu-hantu yang pernah kulihat di acara-acara televisi dan film-film.

Aku haus dan berjalan ke dapur untuk membuat sirop rasa cocopandan dengan campuran irisan buah apel. Setelah itu, aku kembali ke ruang tengah untuk melanjutkan acara menontonku. Namun, ternyata televisinya sudah dimatikan, begitu pun filmnya. Kupikir, mungkin aku tanpa sengaja menekan tombol timer tadi. Aku berjalan untuk menyalakan televisi lagi, tetapi tiba-tiba aku sudah berdiri di ruang baca, berhadapan dengan burung biru itu.

Oh, Tuhan, aku pasti bemimpi! Keanehan apa lagi ini! Burung biru itu saat ini ada di depanku dan bukannya di dalam kotak kaca namun di atasnya. Burung aneh itu bertengger di atas kotak kaca sambil menatap ke arahku. Matanya berkedip, mata yang seperti mata kucing. Kuning cerah dan tajam. Dia berkedip lagi, dua kali. Kali ini, aku yang tak bisa berkedip. Aku bahkan merasa mataku tertarik ke sana, aku merasa burung itu mencoba menarik mataku keluar dari kelopaknya. Aku ingin berteriak, namun tidak bisa. Aku bisu. Aku mencoba menutup mataku dengan kedua tanganku namun aku merasakan sesuatu menjalar di sana. Aku takut, luar biasa takut. Lalu aku merasakan ada yang menarik tubuhku ke belakang dan sedetik kemudian aku merasa seperti terhempas dari gedung pencakar langit.

“Non Nike! Non Nike kenapa?” wajah Mba Ita yang ketakutan terlihat samar-samar.

“....”

“Non tadi teriak kencang sekali, seperti dikejar setan! Non teriak, non! Non bisa bicara lagi kan?”

“…..”

“Saya yakin tadi non teriak!”

“Ah..” aku mencoba bicara.

“Iya non. Non bisa bicara lagi!”

“Aku…” aku bisa merasakan pita suaraku bergetar.

“Alhamdulillah! Allah masih sayang sama non!” Mba Ita berseru gembira.

“Aku mau nelpon ibu. Mba Ita temenin saya, ya?”

"Iya non. Ayo, jalannya pelan-pelan aja.”

Napasku masih tersengal-sengal karena mimpi tadi. Aku segera menelepon ibu dan ayah dan keduanya langsung pulang berselang tiga puluh menit sampai satu jam kemudian. Mereka luar biasa senang melihat aku bisa bicara lagi. Mereka bahkan nyaris tidak percaya bahwa yang menelepon tadi adalah aku. Tanpa ragu lagi, aku segera menceritakan kejadian aneh sebelum suaraku hilang serta mimpi aneh yang kualami tadi. Mereka semua terkejut mendengarnya, termasuk Mba Ita yang saat itu ikut mendengarkan. Tapi yang paling terkejut diantara mereka bertiga adalah ayah. Ayah masih menolak untuk percaya bahwa penyebab hilangnya suaraku adalah pajangan burung biru itu.

“Tidak mungkin. Itu tidak masuk akal.” ayah bersikeras.

“Tapi itu yang terjadi, Ayah. Nike yang mengalaminya. Nike tidak mungkin bohong soal ini.” ibu juga tidak mau kalah.

“Aku tidak bilang Nike telah berbohong, tapi kejadian ini memang tidak masuk akal. Aku bertahun-tahun membaca di ruang baca dan tak pernah mengalami kejadian seerti itu. Mungkin itu hanya prasangka.”

“Bagaimana kalau sekarang kita melihat pajangan itu di ruang baca.” Aku mengusulkan.

Kami berjalan bersama menuju ruang baca. Dari jauh sudah terlihat burung biru itu. Lagi-lagi kuakui, pajangan itu memang sangat indah. Ayah yang berjalan di depan segera menghampiri pajangan itu dan memelototinya dari dekat. Adri setiap sudut.

“Lihat, tidak ada yang salah. Matanya juga seperti mata burung lainnya dan memenag sejak dulu matanya seperti itu. dengar, Nike, ayah senang suaramu sudah kembali dan ayah percaya itu karena kondisi kejiwaanmu sudah membaik. Kau mungkin shock saat melihat keanehan pada pajangan ini dulu.”

“Astaga! Sekarang ayah menganggap Nike sakit jiwa!” ibu memekik.

“Bukan begitu, Lis.”

“Ayah, sekarang sebaiknya ayah menjawab pertanyaanku. Burung ini dulunya hidup kan? Ayah membelinya di mana? Siapa yang mengawetkannya?” inilah pertanyaan yang sejak lama ingin kutanyakan.

“Ah, itu.. Ya pasti lah ayah beli di Irian. Itu kan Burung Cendrawasih.” Aku baru tahu bahwa rupa Burung Cendrawasih adalah seperti itu.

“Iya, waktu itu belinya bareng kan? Sama Pak Sadikin atau siapa itu nama penjualnya.”

“Iya, benar. Penjualnya Pak Sadikin. Memang kenapa sih, Ke?”

“Siapa yang mengawetkan?”

“Waktu itu, ayah minta tolong teman ayah, namanya Pak Idrus. Mungkin dia yang bawa ke tempat pengawetan burung.”

“Pak Idrus itu.. Apakah ayah pernah punya masalah dengan Pak Idrus. Maksudku, ayah pernah bertengkar serius dengan Pak Idrus? Keluarga Pak Idrus ada yang sudah meninggal kan?”

“Kenapa tanya soal itu?” ayah bertanya dengan pandangan skeptis. Sepertinya dia sedikit curiga padaku.

“Karena, jika dugaanku benar, burung ini adalah medium arwah. Aku pernah membaca sebuah buku soal itu.”

“Omong kosong! Kau terlalu terobsesi dengan dunia gaib dan hal-hal mistik!” nada suara ayah meninggi saat mengucapkan kalimat itu.

“Ayah, dengarkan dulu penjelasan Nike.” Ibu menenangkan ayah. Mba Ita mengangguk setuju.

“Iya non. Di kampung mba juga pernah ada kok ibu yang kehilangan anaknya, terus ibunya itu pergi ke orang pinter untuk minta tolong supaya anaknya bisa hidup lagi. Akhirnya, arwah anaknya dipanggil terus dimasukin ke dalam boneka bayi.”

“Ah, saya tidak percaya omong kosong seperti itu.” ayah masih bersikeras.

“Itu benar terjadi, Ita?” tanya ibu yang sambil mengepalkan tangan di depan dadanya.


“Iya, nya. Di kampung Ita mah banyak yang kaya gitu. Malah, si mbah yang didatengin ibu itu terkenal banget di kampung, nya.”

“Nah, ayah. Coba sekarang ayah bicara jujur.” kataku.

“Ayah, jangan-jangan soal itu ya?” ibu memekik tertahan.

“Ya, memang.” ayah menghela napas panjang. “Ayah pernah menyakiti hati Pak Idrus. Dulu, ayah dan Pak Idrus masih PKL di perusahaan Pak Nasrudin. Waktu itu, Pak Idrus jatuh cinta sama salah satu teman PKL kami, namanya Sari. Mereka sudah seperti Romeo dan Juliet, dua sejoli yang saling jatuh cinta. Tapi, suatu hari, terjadi kebakaran di kantor Pak Nasrudin. Waktu itu kantornya belum sebesar sekarang. Masih menyewa ruko lima tingkat di daerah Priok. Kebakaran itu terjadi di lantai empat, sedangkan Sari dan ayah ada di lantai lima, sedang mengambil satu box kertas.”

“Lalu, kami terjebak di lantai lima. Hanya kami berdua yang masih ada di dalam ruko sedangkan Pak Idrus dan yang lainnya sudah menyelamatkan diri dan berkumpul di jalanan. Kami mencoba mencari jalan keluar bersama, namun api sudah terlanjur membakar habis seluruh ruko. Atap mulai runtuh dan kami terpisah saat itu. Ayah sudah tidak bisa melihat apa-apa lagi di sana. Lalu, ayah melihat api tiba-tiba menyingkir memberikan jalan pada ayah. Saat itu, ayah percaya bahwa Allah masih bersama ayah. Ayah segera menuruni tangga, berusaha keluar dari ruko.”

“Ayah selamat dengan hanya menderita luka bakar 30% di pergelangan kaki kiri. Begitu apa berhasil dipadamkan, yang ditemukan hanya mayat seorang gadis yang hangus terbakar di lantai lima. Itu Sari.”
“Ah, mengerikan sekali.” kataku setelah ayah mengakhiri ceritanya. Saat itu kulihat ibu menunduk dan Mba Ita menutup mulutnya dengan wajah terkejut luar biasa.

“Ya, memang mengerikan. Ayah tidak bisa menyelamatkan Sari. Pak Idrus sangat marah saat itu dan berulang kali mengatakan bahwa kematian Sari adalah salah ayah. Mungkin dia memang benar, itu esalahan ayah. Harusnya ayah bisa membawanya turun dan keluar bersama ayah.”

“Ah, begitu. Jadi, sekarang semuanya jelas. Pak Idrus pasti telah memasukkan arwah istrinya ke dalam burung ini. Mba Ita, apakah arwah yang dimasukkan ke dalam suatu benda mati bisa membalas dendam?”

“Ah, saya mah enggak tahu, non. Mending dibawa ke orang pinter di kampung saya, non. Kalau dia pasti ngerti.”
Usulan Mba Ita diterima oleh ayah dan ibu. Kami—termasuk Mba Ita tentunya—akhirnya pergi mengunjungi orang pinter yang dimaksud. Kampung Mba Ita ada di puncak Gunung Salak. Di sana benar-benar seperti kampung, dengan sedikit rumah yang masing-masing letaknya berjauhan, berjarak ratusan meter dan dikelilingi hutan bambu. Wajar saja jika hal-hal mistik masih bertahan di tempat ini.

Kami segera mengunjungi mbah dukun itu, namanya Mbah Sunanto. Dia orang Jawa yang lama menetap di kampung Mba Ita. Pajangan burung itu segera kami tunjukkan begitu bertemu dengan si mbah. Sebenarnya, ayah tidak ingin mengunjungi mbah dukun itu karena itu berarti kami tidak mempercayai kekuasaan Allah, tetapi ibu dan aku berusaha meyakinkan bahwa kita hanya sedikit bertanya. Tidak akan terlalu percaya pada orang itu.

Penampilan Mbah Sunanto tidak seperti dukun yang selama ini tampil di sinetron-sinetron atau di tayangan televisi lainnya. Dia memakai kemeja putih dan celana panjang coklat biasa, tanpa kalung-kalung menggantung dan cincin-cincin berhiaskan batu giok di tangannya. Rambutnya tidak panjang dan kusut dan tidak ada janggut di sana. Tidak ada sesajen atau bau-bau kemenyan di rumahnya. Benar-benar di luar perkiraanku.



Bersambung...

Judul buku : Peace Maker Jenis buku : Komik berseri Tebal buku : 185 halaman Pengarang : Nanae chrono Jumlah seri : 1-5 Berlata...

Judul buku : Peace Maker
Jenis buku : Komik berseri
Tebal buku : 185 halaman
Pengarang : Nanae chrono
Jumlah seri : 1-5


Berlatar kehidupan Kekaisaran Jepang di era Meiji, buku ini bercerita tentang seorang anak berusia 14 tahun bernama Tetsunosuke. Dia bertekad ingin menjadi anggota Shinsengumi dengan tujuan agar menjadi kuat supaya bisa membalaskan dendam pada pembunuh ayah dan ibunya. Shinsengumi adalah kelompok samurai milik pemerintah Meiji yang bertugas menjaga keamanan kota Kyoto. Tetsu yang masuk ke Shinsengumi sebagai pelayan Wakil Ketua pada akhirnya berhasil menjadi anggota pasukan Shinsengumi setelah berhasil membunuh Ketua Kelompok pemberontak pada Insiden Ikedaya.
Buku ini sangat bagus karena menceritakan sisi baik dan buruk menusia melalui seorang Tetsunosuke. Di dalam buku ini juga terdapat banyak adegan pertarungan pedang yang sedikit sadis. Walaupun begitu buku ini sangat disarankan untuk dimiliki bagi kalian yang menyukai cerita berlatar belakang kehidupan samurai Jepang. It’s up to you!!




Resensi buku ini dibuat oleh :

Nama : Irna Gayatri D. Ardiansyah
Kelas : XII Sos 1
No. Absen : 17

I did it again! I tried to used another aplication on Facebook and I've got this. :) who's in this photo?? 1. Atha 2. Dera 3. ...

I did it again! I tried to used another aplication on Facebook and I've got this. :)




who's in this photo??

1. Atha
2. Dera
3. Alfi
4. Andong
5. Reni
6. Suci
7. Henry
8. Hajar :P
9. Luvy
10. Ana

*if u think this note is unimportant, just forgive me because I type and post this ini this middle night with a hungry belly* hehheee..

btw, Minggu, 26 Desember 2010, aku menghabiskan satu hari itu dengan menonton sebuah anime sampai episode 25. Jadi, dengan kata lain, aku ha...

btw, Minggu, 26 Desember 2010, aku menghabiskan satu hari itu dengan menonton sebuah anime sampai episode 25. Jadi, dengan kata lain, aku hampir tidak mengerjakan apa-apa hari itu. Lalu, saat aku sedang menonton anime itu, tanteku membuka lemari buku yang ada di sampingku dan mengeluarkan VCD-VCD serta kaset-kaset dari dalam rak paling atas. Coba tebak apa yang ditemukan di dalam sana?? Ya!! Banyak sekali VCD dari film-film terkeren yang pernah ada. Maksudku, sebagian besar adalah film-film yang telah meraih berbagai penghargaan. Tapi, yang paling penting dari semua itu adalah semua VCD itu ASLI!! ORIGINAL!!
Hwaaaaa~ Senangnya hatikuuu~ ^^
Saat itu, aku sudah sedikit bosan menonton dan akhirnya aku ikut melihat-lihat koleksi yang ditemukan dalam lemari. Nah, inilah VCD film-film yang kami temukan.



































Lalu, yang perlu ditanyakan adalah, siapa pemilik semua VCD ini?? hehheee..
Jawabannya hanya kami yang tahu. *rahasia ^^v*
:PPP