Tampilkan postingan dengan label iseng iseng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iseng iseng. Tampilkan semua postingan

Aku tak pernah terlalu ingat kapan tepatnya aku mulai mengenalnya. Aku baru saja bertengkar dengannya minggu lalu saat aku tak sengaja m...

Setoples Manik-manik



Aku tak pernah terlalu ingat kapan tepatnya aku mulai mengenalnya. Aku baru saja bertengkar dengannya minggu lalu saat aku tak sengaja menjatuhkan toples miliknya yang berisi manik-manik indah. Aku bahkan tak bisa mengingat warna manik-manik itu. Aku terus memikirkan hal itu sepanjang perjalanan pulang.
Hari itu hujan, sungguh hari senin yang membosankan. Ayah menyuruh Kasim, supir kami, untuk menjemputku dan mengantarku pulang dengan selamat. Ayah selalu begitu sejak dahulu, sangat protektif terhadapku walaupun dia sendiri bahkan hampir tidak pernah ada di rumah. Aku merasakan sesuatu bergetar di dalam tasku saat kami terjebak kemacetan di Matraman.
Aku merogoh-rogoh isi tasku untuk mencari hand phone-ku yang bergetar itu. Tulisan di layarnya menunjukkan bahwa sudah ada dua pesan dan beberapa kali panggilan telepon dari temanku, Emily. Aku membaca pesan darinya dalam hati, agak bosan juga aku karena dia kembali membicarakan Joe, cowok sok keren yang dan menyebalkan yang dia sukai. Dia mengatakan bahwa Joe mengajaknya pergi nonton sore ini dan aku mau tak mau turut senang karenanya. Aku membalas pesannya dengan singkat, menanggapinya dengan satu kata, ‘selamat’.
Setelah membalas pesan dari Emily aku kembali menjejalkan hand phone-ku ke dalam tas. Kami hanya beranjak beberapa puluh sentimeter dari tempat kami berhenti tadi. Jalanan macet total. Dalam hati aku penasaran kenapa jalanan bisa semacet ini. Aku melirik jam tanganku dan kulihat sudah pukul tiga sore.
Bosan rasanya menunggu kemacetan berakhir sehingga aku memutuskan untuk menyalakan musik. Aku menyetel Bella’s Lullaby karena kurasa lagu itulah yang paling tepat untuk menghilangkan jenuh. Komposisi musiknya menenangkanku, membuatku rileks kembali dan tertidur. Saat mataku terpejam aku bisa melihat khayalanku tentang Edward Cullen, tokoh dalam novel Twilight yang sangat luar biasa tampan. Aku sudah membaca bukunya berkali-kali dan mencoba menonton filmnya walaupun pada akhirnya agak membuatku kecewa. Aku melihat Edward Cullen bermain piano, memainkan nada-nada dari Bella’s Lullaby, sangat tampan dan menggoda. Aku bisa merasakan wajahku tersenyum samar saat melihatnya dan berharap semoga Kasim tidak melihatku tersenyum tidak jelas seperti itu.
Kemudian hand phone-ku bergetar lagi dan membuatku yang masih setengah tertidur kaget. Kali ini karena telepon dari Joe. Aku mengangkatnya dengan enggan, agak kesal karena dia sudah merusak imajinasiku tentang Edward Cullen tadi.
“Halo Joe, ada apa?” tanyaku dengan nada datar.
“Ehm.. Hai Will. Aku ingin menanyakan apakah kau mau pergi nonton bersamaku besok?” tanyanya tegas.
“Kukira kau sedang nonton dengan Emily.” kataku masih datar seperti sebelumnya.
“Memang, kami baru saja mau nonton. Aku sedang menunggu Emily mengganti pakaian. Lalu bagaimana jawabanmu?”
“Aku tidak bisa.” jawabku pasti. “Banyak sekali tugas minggu ini jadi aku tidak mungkin pergi nonton.”
“Bagaimana kalau Sabtu? Atau mungkin Minggu? Kau pasti tidak punya acara khusus akhir pekan ini kan?” kata-katanya meluncur begitu cepat namun aku yakin itu bukan pertanyaan. Dia tahu aku tidak pernah punya acara di akhir pekan dan dia memanfaatkan itu sekarang untuk pergi bersamaku. Terdengar rasa percaya diri dalam suaranya. Dia pasti yakin aku tidak akan menolaknya kali ini.
Joe menunggu di seberang sambungan telepon. Aku berusaha untuk memikirkan alasan yang masuk akal dngan cepat dan saat itu terlintas sebuah pikiran yang konyol dan bodoh namun kurasa cukup ampuh untuk menghindarinya kali ini.
“Sebenarnya akhir pekan ini aku sibuk. Sepupuku yang tinggal di Pondok Indah akan menikah dan aku harus membantunya. Aku tidak mungkin melewatkan momen bahagia yang akan dijalaninya karena aku sangat menyayanginya. Aku ingin berada di sampingnya saat dia menjalani peristiwa sakral tersebut.” kataku dengan nada meyakinkan. Kasim sempat menengok padaku kemudian melongo sebentar saat aku mengucapkan kebohongan itu. Dalam hati aku cekikikan karena tahu sepertinya ini akan berhasil dan dugaanku tepat. Joe percaya padaku sepenuhnya.
“Oh, begitu ya. Mmm.. jadi sepupumu akan menikah? Selamat ya.” ucapan selamatnya itu terdengar seakan-akan aku yang akan menikah. “Kalau tidak salah namanya Riby kan? Sampaikan salamku padanya ya. Katakan aku turut senang atas pernikahannya.”
“Iya, terima kasih. Akan kusampaikan nanti.”
“Kalau begitu sampai ketemu besok.”
“Iya. Semoga acara nonton kalian akan menyenangkan.” kataku kemudian segera memutuskan hubungan telepon. Aku menghela napas panjang. Kami masih terjebak kemacetan dan hanya beranjak beberapa meter saja dari tempat sebelumnya.
Aku kembali dilanda kebosanan. Moodku berubah  Aku teringat pada kejadian siang tadi. Kejadian menyebalkan yang sebenarnya sama sekali tidak ingin kuingat lagi. Semakin keras aku berusaha untuk melupakan kejadian itu, semakin jelas ingatanku mengulangnya di pikiranku. Kesal sekali rasanya. Saat itu hand phone-ku kembali berdering dan segera saja kuangkat tanpa sempat melihat nama peneleponnya.
“Will.” kata suara laki-laki di seberang sambungan teleponku.
“Mmm? Siapa ya?” tanyaku penasaran.
“Ini aku, Yuri.”
“Oh, ada apa?”
“Aku ingin minta maaf atas kejadian tadi siang. Aku tidak bermaksud membentakmu.”
“Oh, itu. Sudahlah, aku juga sudah melupakannya kok.” kataku setengah hati.
“Tidak bisa, aku merasa sangat bersalah.” katanya dengan nada bersalah.
“Ya sudah, kalau begitu kau sudah kumaafkan.” jawabku enggan. “Sekarang kau sudah puas kan?”
“Apa kau tulus memaafkanku?” tanyanya.
“Jujur saja, tidak. Aku masih sakit hati.”
“Apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu mau memaafkanku?” tanyanya menawarkan.
“Tidak ada.” jawabku singkat.
“Kumohon, Will. Aku tidak akan bisa tidur malam ini jika kau belum menerima permohonan maafku.” katanya memohon.
“Sudahlah! Aku sedang tidak ingin mengobrol di telepon. Kita lanjutkan besok saja. Bye.” Tukasku kemudian segera memetikan hand phone-ku karena kuyakin dia akan segera meneleponku sebentar lagi.
Aku tidak menyalakan telepon sampai pukul delapan malam. Begitu kuhidupkan kembali hand phone-ku, sudah banyak pesan masuk yang menunggu untuk dibaca. Tiga diantaranya adalah dari Will dan sisanya dari teman-teman sekelasku yang menanyakan PR dan jadwal pelajaran. Aku segera membalas semuanya kecuali pesan dari Will. Aku masih sakit hati. Bayangkan saja, dia membentakku di kantin, di depan orang banyak, hanya karena aku sekali lagi tanpa sengaja menjatuhkan toples manik-maniknya. Tentu saja aku kesal karena saat itu perhatian seantero penghuni kantin tertuju padaku.
Memangnya apa arti manik-manik itu sampai dia begitu marah hanya karena aku menjatuhkannya? Aku sempat berpikir jangan-jangan manik-manik itu terbuat dari berlian. Tapi jika memang itu terbuat dari berlian, kenapa tidak disimpan di tempat yang aman saja? Di rumah misalnya. Kenapa dia justru terus-terusan membawanya sepanjang hari. Aku sungguh tidak mengerti.
Dia memang murid pindahan dari JIS yang baru saja pindah dua bulan lalu dan kami mulai pacaran dua minggu lalu. Mungkin aku memang belum mengenal dirinya sepenuhnya, tapi itu karena dia memang tidak mau menceritakan sesuatu tentang dirinya selain dia pindah dari JIS karena bosan dengan aktivitas disana. Yuri sendiri adalah anak yang tampan karena ibunya orang Jepang dan ayahnya orang Jerman. Tapi teman-temanku, terutama Emily, sering mengatakan bahwa dia anak yang aneh. Bahkan sempat ada gosip yang beredar bahwa sebenarnya dia sedang kabur dari rumah.
Jujur saja aku sama sekali tidak peduli dengan perkataan orang. Yang kupedulikan adalah perkataannya. Hanya saja Yuri bukanlah tipe orang yang banyak omong. Selama ini dia hanya bicara jika kutanya. Kalaupun dia bicara itu hanya saat dia memang sedang butuh bantuan dan itu adalah sesuatu yang langka. Bahkan saat kencan pun dia tetap diam dan hanya bicara seperlunya. Karena itu, sebenarnya aku agak kaget saat menerima telepon darinya tadi. Aku sampai tidak bisa mengenali suaranya karena dia memang jarang bicara.
Sebenarnya aku merasa sangat senang karena dia sudah bernisiatif untuk meminta maaf padaku. Bahkan dia mengatakan bahwa dia tidak akan bisa tidur jika aku tidak memaafkannya. Jika mengingat hal itu aku jadi merasa bahagia. Kupikir, biar saja dia tidak bisa tidur karena dengan begitu dia akan mengingatku terus. Biar tahu rasa dia!
Seusai belajar aku segera mencuci muka dan menyikat gigi, kemudian mengganti pakaianku dengan piyama warna pink kesukaanku lalu pergi tidur. Sebelum tidur aku sempat memikirkan Yuri. Apa benar dia akan tidak bisa tidur? Biarlah. Kemudian aku tersenyum puas.
Keesokan paginya saat tiba di sekolah, kulihat Yuri turun dari motornya. Tapi aku segera pergi karena tidak ingin dia melihatku sedang memerhatikannya. Dia tiba di kelas tidak lama setelah itu, dengan wajah yang pucat dan rambut yang kusut karena tidak disisir. Saat itu aku berpikir, mungkin dia memang tidak bisa tidur. Karena itu aku menghampirinya unutk menanyakan keadaannya.
“Kau tampak berantakan hari ini. Ada apa?” tanyaku bersimpati.
“Aku tidak bisa tidur sama sekali. Aku terus memikirkanmu.” jawabnya dengan suara lemah.
“Kau sungguh-sungguh?”
“Tentu saja. Kaku kira aku akan bisa tidur nyenyak jika tahu kau masih marah padaku?”
“Aku tidak tahu.”
“Kau hanya tidak mau tahu.” tukasnya.
“Jadi sekarang kau marah padaku?”
“Sama sekali tidak.”
“Maafkan aku.” kataku tulus.
“Kenapa sekarang justru kau yang minta maaf?” tanyanya penuh kemenangan.
“Karena aku telah membuatmu susah.” jawabku jujur.
“Kau bahkan belum memaafkanku.”
“Aku sudah memaafkanmu kok.”
“Tapi kenapa semalam kau tidak membalas pesanku? Kau pasti membacanya kan?”
“Tentu saja. Aku hanya segan membalasnya. Semalam aku memang masih marah, tapi setelah kubayangkan bagaimana menderitanya kau karena tidak bisa tidur semalam, aku jadi merasa sangat bersalah. Maafkan aku, ya.”
“Dengan begini kita impas. Aku senang kau mau memaafkanku.” kata Yuri dengan senyum puas yang merekah lebar di bibirnya.
“Tapi aku tetap ingin tahu kenapa setoples manik-manik itu sangat berharga bagimu.” paksaku.
“Rahasia. Nnti kau juga akan tahu dengan sendirinya. Tunggu saja.” katanya sambil tersenyum.
“Kau memang senang membuat orang penasaran, ya.”
“Memang.” katanya kemudian menguap dengan lebar. “Aku merasa sangat ngantuk. Sekarang aku bisa tidur dengan nyenyak. Oyasumi nasai!!”
Dia tidur setelah mengucapkan ‘selamat tidur’ padaku dan tidak bangun sampai jam pulang tiba. Padahal sudah empat guru yang mencoba membangunkannya tapi dia tetap tidak bangun sampai dia merasa puas tertidur. Aku senang karena bisa memaafkannya. Ternyata memang tidak enak rasanya jika membenci ataupun merasa kesal pada seseorang. Itulah yang kualami kemarin.


Jakarta, 4 Februari 2009

Ada yang tahu siapa dua orang di atas? Atau ada yang belum tahu? Singkat saja, ya. Ya! Dua orang di atas adalah Do As Infinity (DAI)...

Interpretasiku terhadap Lagu 生まれゆくものたちえ oleh Do As Infinity




Ada yang tahu siapa dua orang di atas? Atau ada yang belum tahu?
Singkat saja, ya. Ya! Dua orang di atas adalah Do As Infinity (DAI). Pasti kita sudah sering mendengar nama grup duo yang lagu-lagunya selalu luar biasa dan keren menurut saya. Kebanyakan orang Indonesia pasti mengetahui duo ini dari anime Inuyasha yang tayang di Indosiar sekitar 10 tahun yang lalu (ya, mungkin). DAI mengisi ending song anime tersebut. 深い森、dan 真実の詩 adalah salah dua dari lagu DAI yang menjadi soundtrack anime tersebut. Kalau kalian juga menonton Inuyasha The Movie, kalian juga pasti tahu DAI juga mengisi ending song-nya, salah satunya adalah 楽園. DAI sudah banyak mengeluarkan album dan sudah banyak lagu-lagu mereka yang sangat keren itu beredar. Dari sekian banyak lagu-lagu DAI yang ada, saya cenderung mengagumi satu lagu ini. Saya pertama kali mendengar lagu ini sambil melihat PV-nya di YouTube. Kesan pertama saya ketika melihat PV dan mendengar lagunya adalah: KEREN BANGEEET!

Lagu yang sangat saya kagumi ini adalah 生まれゆくものたちえ (baca: Umareyuku Monotachi e).

Setelah mendengarkan lagu ini berkali-kali, akhirnya saya penasaran dengan makna liriknya. Itu membuat saya memutuskan untuk mencarinya di google. Tahukah kalian, begitu saya melihat makna lagu ini dalam bahasa Inggris, saya meneteskan air mata. Ternyata lagu ini tentang kehidupan yang dimulai dari dilahirkannya seorang anak ke dunia. Untuk seorang anak yang dilahirkan itu, walaupun dia dilahirkan di tengah-tengah kesedihan, yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang telah lebih dulu hadir di dunia adalah berdoa untuknya.

Bayangkan, DAI membuat lagu seperti ini lho! Bukan lagu-lagu cinta pada umumnya yang hanya menceritakan percintaan laki-laki dan perempuan, patah hati mereka, kesedihan mereka karena kehilangan pasangan, dan lain-lain. Bukan itu. Melainkan cinta yang lebih abstrak. Cinta yang sebenarnya yang memang sulit untuk diungkapkan. Cinta yang lebih universal. DAI menunjukkan bahwa cinta orang tua kepada seorang anak itu sangat tulus, lembut, dan sulit. Lagu ini menunjukkan bahwa ada beban yang berat saat kehidupan baru lahir, yaitu orang yang sudah lebih dahulu hidup itu harus menuntunnya menuju takdir yang masih gelap. Walaupun takdir yang akan binasa itu sebenarnya indah, mereka orang-orang itu hanya bisa mengantarkan mereka menuju langit biru yang luas, yang penuh dengan harapan.

Aaaah! Rasanya ingin menangis lagi!
Ya, itu hanya interpretasi saya terhadap lagu ini. Mungkin ada juga yang mendengarkan lagu ini sekilas dan tidak tertarik untuk mengetahui artinya. Hanya mendengarkan untuk dinikmati saja. Tentu saja, di sini, saya hanya ingin berbagi. Dalam benak saya, terpikirkan sebuah pengandaian: jika saja band Indonesia atau penyanyi Indonesia sekarang bisa menciptakan lagu yang begitu luar biasa seperti lagu ini, pasti musisi Indonesia dapat lebih dihargai dan digemari di banyak negara di dunia. Saya percaya bahwa lagu yang berkualitas tidak dapat lepas dari lirik dan melodi yang membangunnya. Lagu 生まれゆくものたちえ ini adalah contoh yang baik dari lagu dengan melodi dan lirik yang sangat indah. Tentu, melodi dan lirik yang indah itu juga didukung oleh suara vokalisnya yang indah dan sangat cocok dengan melodinya. :)

Sebagai bukti bahwa lagu ini memang memiliki lirik yang indah, saya lampirkan juga lirik lagunya di bawah ini. Apakah kalian sependapat? Atau memiliki pendapat lain? Yah, tidak masalah. Toh ini juga hanya pendapat saya. Selamat malam~ :)))






UMAREYUKU MONOTACHI E (生まれゆくものたちえ)

Nakinagara umarete hito wa minna
Jyuujika o seotteru
Nan no tame ikiteku saigo made
Wakarazu ni motomeru tabi

Sora ni manten no hoshi kagayakeru mirai
Hakanaki yume ima wa imada sono mune ni daki

Kanashimi o kurikaesu
Korekara hajimaru kimi no jinsei
Umareyuku mono-tachi e
Bokura ni dekiru koto wa inoru dake sa

Rinne no ki no shita de hito wa minna
Tensei o shi tsudzukete
Odayakana umi kara tamashii ga
Haiagaru mugen no tabi

Daremo machigaenagara aishiainagara
Ayunde kita nagai rekishi no katasumi de

Kanashimi o kurikaesu
Koko kara hajimaru kimi no jinsei
Umareyuku mono-tachi e
Tobira wa hirakareru to inoru dake sa

Ah  ai de umarete kita inochi
Ah  itsukushimu kokoro no hitomi
Ah  idenshi no naka no kamigami-tachi
Kotae o michibike

Horobiyuku unmei mo
Utsukushiki toki no nagare no naka de
Umareyuku mono-tachi e
Kuon no tsubasa tsukete sora aoge yo

(Umareteyuku...)
(Namida nagasu...)
(Umareteyuku...)

Ah...


translation:

We were all born crying
And all bear a cross
On a journey of searching, not knowing what we're living for,
Right up to the very end.

The sky is full of stars; a shining future
Still holding a faint dream in our hearts...

Amid all those sad times,
Your life is beginning:
To you who are being born,
All we do is pray for something we can do.

Under the tree of transmigration,
We are reborn again and again;
Our souls crawl out of the peaceful sea,
On an endless journey.

In a corner of this long history that so many people have walked,
Making mistakes and loving along the way...

Amid all these sad times,
Your life is beginning:
To you who are being born,
All we do is pray that we can open a door.

Ah, our lives that began with love.
Ah, the adoring eyes of our hearts.
Ah, let the gods of our genes
Guide us to an answer.

Amid this passing time
When even our fate of perishing is beautiful,
To you who are being born,
Take on eternal wings and look up to the sky!

(We are born...)
(We cry...)
(We are born...)

Ah...

Ya! Teriakan itu keluar begitu saja ketika aku melihat kalender di desktop laptopku.. Sekarang sudah 12 Januari 2012! Aku bahkan hampir tida...

Hei! Ini Januari lho!

Ya! Teriakan itu keluar begitu saja ketika aku melihat kalender di desktop laptopku.. Sekarang sudah 12 Januari 2012! Aku bahkan hampir tidak ingat tahun baru kemarin aku rayakan dengan apa. Begitu kucoba mengingatnya, ternyata jelas saja aku lupa, karena tahun baru kemarin aku mengerjakan UAS Sastra Wayang-ku seharian.. Sebelumnya, data UAS itu sempat hilang karena laptopku tiba-tiba mati dan aku juga sempat merasa hampir mati karena tugas yang belum tersimpan itu sudah hampir selesai.. Bahkan saat itu aku sudah menulis daftar pustaka dengan lengkap..
Ketika kuingat-ingat lagi.. aku memang baru bebas tanggal 11 kemarin.. UAS selesai, setelah aku sudah melewati masa-masa 'hidup segan mati tak mau', LPJ juga selesai.. Apa yang menungguku di bulan Januari ini??

tentu saja, LIBURAN!

Pada awalnya, aku sudah membuat rencana untuk backpacking ke Malang bersama 2 orang temanku. Tetapi, apa boleh buat, setelah kupikirkan lagi dengan berbagai macam pertimbangan, rasanya memang lebih baik tidak ke sana sekarang. Alasan utamanya tentu faktor ekonomi.. hahhaaa.. (tertawa ironis)

Nah, satu rencana dibatalkan. Tapi, masih ada rencana lain ternyata. IKSI09 yang telah melewati banyak sekali rintangan dan cobaan semester ini *semester ini lho yang benar2 penuh dengan cobaan* ingin menghabiskan waktu bersama, setidaknya tiga hari, di Puncak. Hanya berkumpul saja dengan teman2 seangkatan yang sudah seperti keluarga (kami memang keluarga) dan menghabiskan waktu bersama di sana. Kedengarannya menyenangkan. Aku tentu tidak akan melewatkan kesempatan yang satu ini. Apalagi, semster ini aku hanya bertemu teman2 di kelas, saat sedang kuliah atau menjadi panitia acara bersama..

Yah.. Semester ini memang berat.. Begitu berat sampai aku lupa bahwa sepupuku berulang tahun Desember lalu.. Terlalu berat sampai aku tidak bisa mengikuti UAS salah satu mata kuliah karena sakit.. Terlalu berat sampai aku tidak bisa melihat adik-adikku tampil di Auditorium Gedung IX saat Petang Kreatif 2011 Desember lalu.. Rasanya memang terlalu berat.. Berulang kali aku mengeluh dan menyesali diriku sendiri yang sering tidak mood mengerjakan kuliah dan mengerjakan tugas karena banyak memikirkan hal lain di luar kuliah.. Tapi, itu tentu tidak menyelesaikan masalah.. Sepertinya, demam yang menyerangku Desember lalu merupakan teguran dari Allah SWT karena aku memang terlalu sibuk di luar rumah sampai aku lupa rasanya tidur di kamarku dan makan bersama di rumahku.. Allah menyuruhku istirahat di rumah, melupakan sejenak semua kegiatan di luar, dengan cara yang tepat. Setelah sembuh, rasanya memang pikiranku jadi jauh lebih jernih.

Sekarang, semester 5 yang mengerikan itu telah berakhir. Aku tidak berharap banyak pada nilaiku karena sudah tentu akan banyak nilai B dan C yang akan muncul.. Tapi, aku masih berharap bisa melihat A- di daftar nilaiku semester ini.. Sekarang, belum ada nilai yang keluar. Aku tidak terlalu antusias menunggu nilai-nilaiku dan aku juga tidak terlalu niat untuk mantengin SIAK siang dan malam manunggu nilai keluar. Tidak peduli nilaiku semester ini akan seperti apa. Yang penting bagiku sekarang adalah semester depan aku harus lebih fokus pada kuliahku. Hilangkan sifat moody yang berlebihan dan merugikan itu. Satu hal yang perlu ditanamkan dari sekarang adalah: NIAT KULIAH! KULIAH ITU HARUS NIAT DARI HATI! Ya, begitulah.. Semester depan, aku harus niat kuliah..

Selain tidak sabar menunggu liburan dengan IKSI09, aku juga sudah tidak sabar menunggu Latihan Alam Pagupon tanggal 3--5 Februari 2012.. Tahun lalu, aku sudah tidak ikut; tahun ini harus ikut! :))

OK! Sampai jumpa di tulisan berikutnya~ :DD




































"Time goes on, dude!" :)



12 Januari 2012
이르나

Baru saja tadi aku mengobrol dengan temanku dari Jepang. Aku iseng bertanya, "apa kabar Jepang?" Dia menjawab, "lagi musim di...

Salju (dan hanya salju)

Baru saja tadi aku mengobrol dengan temanku dari Jepang. Aku iseng bertanya, "apa kabar Jepang?" Dia menjawab, "lagi musim dingin di sini" (semacam itulah dia bilang). Lalu, tetiba aku membayangkan musim dingin di Jepang. Hwaa~ Kalau melihat di dorama atau anime-anime, pasti ada salju dan pasti banyak yang memakai baju musim dingin. Ketika ingat, oh iya, sekarang sudah bulan Desember. Pasti asyik sekali karena setiap Desember ada salju. Mengenai mimpi masa kanak-kanakku, aku selalu ingin memakai baju musim dingin yang tebal, dengan syal, dan mengenakan sepatu bot. Oh iya, dengan topi musim dingin juga. Tahu 'kan topi yang bagaimana? Itu lho, topi yang juga dipakai para tokoh di film Home Alone. :)
Membayangkan bagaimana orang Jepang menghabiskan bulan Desember mereka membuat imajinasiku semakin liar (lho??). Bukan kok, maksudku, aku jadi berimajinasi mengenai kisah-kisah cinta yang dapat dimulai saat Desember. Misalnya, seorang laki-laki yang menyatakan perasaannya di tengah salju yang turun. So cute~~~ >.<




Atau saat sedang di sekolah, seseorang menatap ke luar jendela dan melihat salju yang baru saja turun dan berharap di tempat lain orang yang disukainya melihat salju yang sama. :)




Atau di tengah salju yang turun, ada juga hantu salju yang berjalan-jalan di belakang rumahmu...... :PP




Tapi, kurasa, sama rasanya seperti hujan, berada di tengah butiran salju yang turun seorang diri membuat kita dapat melupakan masalah sejenak dan menghabiskan waktu, bersenang-senang dengan diri sendiri. :))







4 Desember 2011,

이르나

Akhirnya, Desember datang lagi. Bulan pertama saya membuat blog ini. Sudah hampir satu tahun ternyata, namun sepertinya blog ini tetap seper...

Desember tiba (lagi)

Akhirnya, Desember datang lagi. Bulan pertama saya membuat blog ini. Sudah hampir satu tahun ternyata, namun sepertinya blog ini tetap seperti dulu. Hanya jumlah tulisannya saja yang bertambah. Natal juga hampir tiba lagi. Rasanya ingin sekali mempersembahkan warna merah dan hijau untuk bulan Desember ini. Ada satu gambar yang sangat kusukai dari Kanon Wakeshima dan rasanya gambar itu cocok untuk menggambarkan bulan ini (menurutku lho). Enjoy this Desember, dude! :))




Menjadi mahasiswa semester 5 ternyata tidak terlalu menyenangkan. Akhir-akhir ini, ingin sekali rasanya menjadi mahasiswa baru saja. Tugas-...

My Bad is My Mood

Menjadi mahasiswa semester 5 ternyata tidak terlalu menyenangkan. Akhir-akhir ini, ingin sekali rasanya menjadi mahasiswa baru saja. Tugas-tugas mereka masih sangat mudah dan belum banyak menumpuk segunung. Semester ini sangat membosankan. Tidak ada tugas yang menarik. Mata kuliah yang kuambil juga tidak ada yang istimewa. Semuanya biasa saja. Membosankan. Akibatnya, dalam mengerjakan tugas, aku juga tidak pernah serius. Semua tugas yang ada selalu kutunda sampai menjelang hari dikumpulkan. Akibatnya lagi, semua tugas itu jadi menjijikan bagiku. Isinya sampah. Yang kutulis hanya sampah bualan omong kosongku. Kesal sekali rasanya tidak bisa serius seperti dulu. Mungkin, ini karena biasanya aku menghabiskan waktu setelah kuliah dengan mencari buku-buku referensi di Perpustakaan FIB UI yang sekarang sudah tidak ada dan buku-bukunya dipindahkan ke Perpustakaan Pusat UI. Tapi mungkin itu hanya salah satunya. Sebelum memulai semester ini rasanya aku bahkan telah menjadi terlalu lelah karena urusan menyambut mahasiswa baru, membuat acara inisiasi, dan lain-lain. Aku jarang pulang ke rumah, uangku habis untuk beberapa acara, bahkan aku tidak bisa membeli buku di awal semester ini karena aku hampir kehabisan seluruh uang bulananku. Semester ini gila. Segalanya gila. Hidupku juga jadi terkesan memilukan. Biasanya, ketika aku ada masalah di rumah, aku akan menghabiskan waktu lebih lama di kampus sehingga aku tidak harus terlalu sering bertemu dan mengobrol dengan anggota keluargaku. Tapi, sekarang, bahkan kampus sudah tidak terasa menyenangkan lagi. Pernah dulu aku berpikir untuk tidak lulus 4 tahun karena aku ingin lebih lama di kampus. Aku ingin mengambil beberapa mata kuliah yang belum sempat kuambil di 8 semester sebelumnya, misalnya. Tapi, sekarang, aku tidak lagi merasa seperti itu. Aku merasa bosan dengan kehidupanku sekarang. Pernah suatu hari aku tidak bisa ke kampus karena kehabisan ongkos dan aku tidak enak meminta ongkos kepada orang rumah. Lalu, aku menghabiskan waktu di rumah dengan membaca beberapa kumpulan cerpen. Hari itu mendung pada siangnya dan hujan pada sorenya. Ketika hujan, muncullah ide untuk membuat sebuah cerita dan jadilah 2 cerpen dalam waktu 1 jam. Itu saat yang menyenangkan karena saat itu tidak ada orang di rumah. Aku sendirian di kamarku yang gelap karena lampunya belum dinyalakan sambil menatap laptopku dengan tang terus mengetik dan mengetik sampai jadilah dua cerita pendek yang tidak seperti cerita pendekku yang biasa. Saat ini, di luar sedang gelap dan sudah hujan. Tapi, aku tidak bisa menulis lagi seperti saat itu karena situasi saat ini tidak mendukung. Nenekku sedang menonton sinetron dengan volume yang sangat keras, adikku sedang bermain Play Station, dan lampu di kamarku sudah dinyalakan. Entahlah, aku bahkan saat ini merasa tidak bergairah untuk mengerjakan makalah dan beberapa tugasku yang lain. Tahun depan, mungkin aku sudah mulai memikirkan skripsiku.  Aku khawatir mood-ku semester akan terus berlanjut sampai skripsi nanti. Gila saja, jika itu terjadi, aku takut akan lulus maksimal.




Jakarta, 4 Desember 2011
이르나

Sudah lama saya tidak menulis di sini. Sudah lama juga saya meninggalkan laptop saya untuk online karena saya sudah terlalu lelah untuk sela...

Semacam Kata Pengantar

Sudah lama saya tidak menulis di sini. Sudah lama juga saya meninggalkan laptop saya untuk online karena saya sudah terlalu lelah untuk selalu berada di depan laptopku tersayang ini. Tetapi, kali ini, saya benar-benar ingin menuliskan sesuatu. Entahlah. Sebenarnya, sampai saya menulis ini juga saya belum tahu apa yang akan saya tulis. Selama saya meninggalkan laptop saya untuk online, telah terlalu banyak peristiwa yang saya alami. Mulai dari penerimaan mahasiswa baru dari jalur SNMPTN dan SIMAK, rapat sana rapat sini rapat ini rapat itu, ketemu si ini ketemu si itu, buka puasa di sini buka puasa di situ, beli ini beli itu.. Yaah.. Memang terlalu banyak yang telah saya alami. Kalau saya menuliskan semuanya di sini, pasti akan banyak sekali yang saya tuliskan. Sebenarnya, saya juga malas menuliskan semuanya. Tapi, mungkin saya akan sedikit berkenan menceritakan beberapa kejadian di antaranya. Tetapi, saat ini saya tidak punya waktu untuk menuliskannya. Lagi pula, saya sedang menonton sebuah film yang sangat seru sehingga pikiran saya terbagi. Kalau kalian tidak keberatan, tunggu saja ya! Tentu saya tidak memaksa. :)

"Semuanya tidak selalu sama bagi setiap orang." "Apa yang tidak sama?" "Kesan mencintai dan dicintai seseorang....

Dia (Tidak Sama)

"Semuanya tidak selalu sama bagi setiap orang."
"Apa yang tidak sama?"
"Kesan mencintai dan dicintai seseorang."
Aku tengah menatap ke luar jendela saat percakapan itu tiba-tiba terlintas dalam benakku. Ya, memang tidak akan pernah sama. Itulah yang dia katakan padaku saat kami tanpa sengaja bertemu di sebuah toko buku di daerah Matraman. Pertemuan itu juga bukanlah pertemuan yang istimewa. Tetapi, itulah pertemuan pertama kami sejak dua tahun kami tidak bertemu karena dia pindah sekolah ke Jepang.
"Dasar bodoh!" aku menggerutu siang itu saat percakapan itu kembali terulang di benakku.
"Siapa yang bodoh?" tanya Odi, adikku yang berusia 16 tahun.
"Ah, tidak. Kamu terlalu ingin tahu urusanku."
"Kau sedang tidak mengata-ngataiku kan?" Odi mendelik tajam ke arahku.
"Tentu saja tidak. Apa untungnya bagiku mengata-ngataimu? Hanya membuang-buang energiku!"
"Habis, kau ini kan cewek labil!" Odi pergi naik tangga menuju kamarnya.
"Hei! Kau bilang apa tadi?" aku terlambat melempar bantal ke arahnya karena dia sudah berada jauh di bagian paling atas tangga. Akhirnya, aku harus mengambil bantal yang kulempar itu.
Aku kembali menatap ke luar jendela, melihat hujan, melihat tetesan air yang mengalir di jendela, membuat dunia luar jadi terlihat buram.
"Tidak akan pernah sama cara seseorang mencintai dan dicintai." aku menggumam, kembali mengulang kalimat ketika itu.
Ah, lalu kenapa? Apakah dengan mengetahui bahwa cara mencintai dan dicintai setiap orang tidak sama, semua pengalaman menyakitkan itu akan hilang begitu saja? Dia mungkin bisa bicara begitu saat itu, tetapi aku tidak pernah mengerti maksudnya. Aku bahkan tidak pernah mengerti dirinya. Dia hanya teman lama yang bertemu kembali denganku di saat yang tepat. Aku mencintainya di saat yang tepat. Dia pun begitu.
***

"Aku memang bodoh! Bagaimana mungkin aku bisa mencintai laki-laki sepertimu! Laki-laki tanpa perasaan!" aku sungguh-sungguh berteriak, berusaha untuk mengeluarkan semua kekesalanku.
"Sudah?" dia hanya menatapku tanpa emosi.
"Apa kau tidak punya kalimat lain? Paling tidak, tanggapilah semua kata-kataku! Aku muak! Sungguh, aku sangat muak!"
"Kau muak karena apa? Karena aku? Atau karena telah mencintaiku?"
"Aku muak karena mencintai laki-laki sepertimu!" aku berteriak sambil membelakanginya. Aku sama sekali tidak berani menatap wajahnya. Air mataku mengalir begitu saja dan aku tidak bisa menyembunyikannya.
"Aku senang. Terima kasih" dia tersenyum. Setelah mengatakan itu, dia memelukku.
"Aku mencintaimu.." aku mengatakannya sambil terisak dan terdekap dalam pelukannya.
"Aku tahu. Sudah lama aku tahu." dia masih tetap memelukku.
"Kau tahu? Bagaimana bisa? Aku tidak pernah..." aku melepaskan pelukannya.
"Kau pernah menginap di rumahku saat perpisahan SMP dan kau bodoh karena mengigau soal itu." dia tersenyum simpul.
"Apa? Aku pernah.. Lalu kenapa kau diam saja?" aku melengos, sengaja melihat ke arah lain.
"Aku sengaja menunggumu mengakuinya."
"Bodoh!"
"Si bodoh mencintai si bodoh." dia tersenyum lagi, memegang tanganku, lalu menciumku.
Warna biru langit yang cerah sore itu serta angin yang lembut meniup rambutku seakan membawaku terbang bersama kehampaan udara.
***

Setelah berpacaran selama dua minggu, Hiroki pindah sekolah. Aku luar biasa terkejut saat mengetahuinya dari wali kelasku. Aku bahkan tidak tahu bahwa dia akan pindah sekolah. Aku juga tidak tahu bahwa dia telah merencanakan kepindahannya ke Jepang sejak lama. Aku sama sekali tidak tahu. Sebagai tambahan, aku baru benar-benar mencoba mengenalnya dalam dua minggu. Itu sama sekali tidka cukup.
Aku memberontak, tidak ingin menerima kenyataan itu. Aku tidak pergi ke kantin saat jam istirahat. Aku pergi ke halaman belakang sekolah, mencoba meneleponnya. Nomornya tidak aktif. Aku mencoba lagi dan hasilnya tetap sama. Nomornya sudah tidak dapat dihubungi. Saat itu, langsung terlintas di benakku untuk menelepon ke rumahnya. Yang menjawab adalah Mbo Marni. Jawaban yang diberikan Mbo Marni telah menambah kenyataan pahit yang kuterima hari itu. Hiroki pindah ke Jepang untuk menyelesaikan sekolahnya sampai menjadi sarjana di sana. Sekarang, yang tinggal di rumah hanya sepupu Hiroki, Ruisa.
Aku menutup telepon. Napasku sesak. Tenggorokanku sakit, tercekat. Aku menangis. Awalnya aku hanya terisak, tetapi kemudian aku menangis bersedu-sedu dan semua kesedihan tak tertahankan itu tumpah di siang itu.
Bodoh! Apa yang dipikirkannya? Dia tidak pernah membicarakan hal ini denganku. Dia juga tidak pernah memberitahuku. Dia bahkan tidak mengucapkan perpisahan. Apa yang ada dalam otaknya? Aku sama sekali tidak mengerti. Aku tidak pernah mengerti. Dia ternyata memang terlalu jauh dari jangkauanku.
***

"Mengapa kau pergi begitu saja tanpa memberitahuku?"
"Aku tidak pergi." dia menjawab sambil mengaduk-aduk Lemon Tea-nya.
"Kepalamu terbentur ya? Tidak pergi? Kau pindah ke Jepang dan baru kembali hari ini! Apa itu yang kau sebut tidak pergi?" aku setengah berteriak sata itu. Aku tetap ingat bahwa aku berada di Starbucks.
"Biar kutebak, apa kau pernah tidak memikirkanku saat aku di Jepang?" dia menatapku lekat-lekat.
Aku diam. Kubiarkan kepalaku menatap ke luar jendela saat dia mengatakan itu. Dia lalu memegang tanganku dan aku tidak bisa melepaskan diri darinya. Sungguh.
"Aku tidak benar-benar pergi darimu."
"Jangan bodoh! Kau tidak mengatakan apa-apa padaku soal kepindahanmu! Bagaimana mungkin aku tidak bertanya-tanya dan mengkhawatirkan dirimu? Kau tahu, aku takut! Aku selalu dihantui oleh pikiran 'kau pergi begitu saja tanpa kabar karena kau tidak benar-benar mencintaiku.' Wajar saja, kita baru berpacaran selama dua minggu! Kita bahkan belum pernah nonton film bersama, makan bersama, pergi ke tempat wisata bersama, ..." aku menarik napasku sebentar. "Aku belum memiliki cukup waktu bersamamu." aku menunduk. Tidak berani menatap matanya yang selalu terlihat mengantuk.
Dia melepaskan genggaman tangannya kemudian bersender dan menatap ke luar jendela. Persis seperti yang kulakukan tadi. Tetapi, wajahnya terlihat sedih. Matanya jadi lebih sayu dari biasanya dan tatapannya kosong seakan dirinya sedang berada di tempat lain saat itu, tidak bersamaku.
"Semuanya tidak selalu sama bagi setiap orang." katanya sambil tetap menatap ke luar jendela.
"Apa yang tidak sama?" aku menjawab sambil mengaduk-aduk kopiku.
"Kesan mencintai dan dicintai seseorang."
"Apa maksudmu?"
"Aku mencintaimu dengan caraku. Kau merasa dirimu dicintai dengan caramu. Jadi, sampai kapan pun kau tidak akan pernah merasa dicintai olehku."
"Aku tidak mengerti." ujarku jujur.
"Aku tidak akan meneruskannya. Kurasa kita sudah terlalu lama berada di sini. Sebaiknya kita pergi ke tempat lain. Biar aku yang mengantarmu."
"Kita akan pergi ke mana?"
"..." dia hanya menatapku, lalu menarik tanganku. Kami pergi. Dia menyetir mobilnya dengan kecepatan 120 km/ jam dan aku hampir saja mati saking takutnya. Dia lalu berhenti di depan sekolah kami. Dia berhenti di SMP tempat kami pertama kali bertemu. Tempat kami memulai semuanya.
"Apa yang ingin kau lakukan?"
"Kalau kau keberatan, aku akan mengantarmu pulang."
"Tidak. Aku mau bersamamu."
"Kalau begitu, ikutlah denganku."
Kami menerobos masuk dengan memanjat pagar belakang sekolah. Saat itu hari Sabtu. Sekolah sedang libur dan hanya ada kegiatan ekstrakulikuler untuk para murid. Aku dan Hiroki bisa masuk dengan mudah dan Hiroki langsung menarikku, membawaku menaiki tangga sekolah sampai kami tiba di atap sekolah. Dia membawaku ke pinggir atap dan kami mamatung di sana. Aku tidak mengerti apa yang sedang kami lakukan saat itu. Tiba-tiba, Hiroki berteriak dan teriakannya itu membuat jantungku berdebar sangat kencang. Aku nyaris kehilangan pijakanku jika dia tidak langsung memelukku.
"Hiroki..."
"Aku mencintaimu."
"Ini pertama kalinya kau mengatakan itu. Aku senang."
"Aku belum mendengar jawabanmu."
"Aku bersedia karena selamanya aku hanya mencintaimu."
"Bisa-bisanya kau omong besar di saat seperti ini." dia tersenyum simpul seperti biasa, tersenyum dengan caranya, lalu tertawa.
"Sudahlah. Jangan dilanjutkan. Lepaskan pelukanmu."
"Tidak. Biarkan sja seperti ini. Aku mau memelukmu sampai kau tertidur."
"Kalau begitu, aku tidak akan tertidur. Karena aku ingin mengingat semua kenangan saat bersamamu."
"Kalau begitu, aku akan memelukmu terus."
"Tidak masalah. Aku juga akan memelukmu sampai kau lelah."
"Dasar bodoh." dia memelukku semakin erat.
"Si bodoh memeluk si bodoh." dia menatapku lalu menciumku.
***

Hujan sudah berhenti. Aku tidak menyadari bahwa ternyata ibu sudah kembali dari butiknya. Tetapi, yang aneh darinya sore itu adalah dia membawa banyak sekali buket bunga. Aku penasaran soal siapa pengirimnya. Jadi, hal itu langsung kutanyakan pada ibu.
"Kenapa ada banyak sekali bunga, bu?"
"Ah.. Arinka! Ini semuanya untuk kamu!" ibu berseru senang seperti orang baru menerima undian berhadiah satu milyar.
"Untukku? Dari siapa?" aku bingung.
"Lihat saja sendiri pengirimnya. Kan namanya ada di kartu." ibu menjawab sambil tersenyum senang. Aku membaca kartu yang ditunjukkan ibu.
Aku mengirimkan semua jenis bunga untukmu. Maaf, aku belum bisa menemuimu. Aku belum siap untuk itu. Kuharap kau mau menunggu.
Hiroki

Ah! Sial! Hiroki! Dia selalu datang di saat yang tepat. Aku tidak tahu apakah dia benar-benar akan memenuhi janjinya sore itu. Aku tidak peduli. Yang jelas, aku mencintainya dan dia pun begitu. Aku sudah tidak mempermasalahkan jarak kami lagi. Setiap orang memiliki cara mencintai dan dicintai masing-masing. Itulah yang kuketahui darinya.

Menyanyikan lagu Genderang UI adalah hal yang pasti dilakukan maba (mahasiswa baru) UI sebagai salah satu rangkaian acara pengenalan maba ...

Kenangan akan Masa Menjadi Mahasiswa Baru



Menyanyikan lagu Genderang UI adalah hal yang pasti dilakukan maba (mahasiswa baru) UI sebagai salah satu rangkaian acara pengenalan maba terhadap kegiatan kampus UI. Kami menyanyi untuk senior yang diwisuda hari itu. Saat itu juga merupakan pertama kalinya kami memakai jaket almamater kami alias Jakun (jaket kuning). Jadi, pasti wajar jika saat itu banyak maba yang berfoto-foto ria sambil mengenakan jakun mereka. Sudah begitu, saat itu, status Facebook maba UI adalah laporan mengenai acara wisuda tersebut. Misalnya, "FK maju, yang cumlaude 110 orang!" Begitulah.. hehhee..
Yah, emmang kami agak norak sih saat itu. Tapi, toh itu cuma terjadi sekali seumur hidup. Jadi, buat apa lagi jaim! Cuma saat itu aku bisa menikmati diriku memakai jakun dan menyanyi dengan bangga. :DD

nb: Ini bukan video untuk menyaingi serial Cinta Cenat-cenut . Ini hanya hasil keisengan setelah melihat foto-foto di kelas Pengkajian Puis...

Cinta Lollipop


nb: Ini bukan video untuk menyaingi serial Cinta Cenat-cenut.
Ini hanya hasil keisengan setelah melihat foto-foto di kelas Pengkajian Puisi Indonesia yang kami ambil secara tidak sengaja.
Yaa begitulah..
Terima kasih telah bersedia menyaksikan keisengan kami yang aneh ini.. :P

Inilah kira-kira yang terjadi saat dosen terlambat datang.. Ada yang berdiskusi dan membaca buku... Ada yang melamun dan men...

Saat Dosen Terlambat Datang

Inilah kira-kira yang terjadi saat dosen terlambat datang..









Ada yang berdiskusi dan membaca buku...




Ada yang melamun dan mendelik tajam...




Ada yang mengutak-atik isi handphone-nya...






dan ada juga yang mendengarkan temannya yang sedang bercerita...



Inikah yang kamu juga alami saat dosen terlambat atau tidak datang?? :P



*photos was taken by Atha and Anya*

Waktu itu hari Rabu. Aku lupa tanggal berapa. Aku mendapatkan sms dari temanku bahwa jam 12 siang akan ada Festival Makanan Korea di Lobi Au...

Makanan Gratis Selalu Ada di FIB! :P

Waktu itu hari Rabu. Aku lupa tanggal berapa. Aku mendapatkan sms dari temanku bahwa jam 12 siang akan ada Festival Makanan Korea di Lobi Auditorium Gedung 9. Awalnya, aku tidak terlalu menganggap serius sms itu. Tapi, saat sampai di kampus dan kulihat kampus sepi karena masih libur, aku jadi bersemangat untuk datang ke festival makanan itu. Aplagi, saat itu aku sedang lapar. :PP Jadi, datanglah aku ke festival makanan korea gratis itu! Enaaaaaak serta mengenyangkan! Aku tidak perlu membeli makanan lagi karena aku tidak lapaaar~ Senangnyaaaa~ :DDDD