Saat masih menjadi mahasiswa baru (maba) rasanya sudah lama berlalu. Ketika aku membuka kembali folder IKSI yang ada di dalam laptop...









Saat masih menjadi mahasiswa baru (maba) rasanya sudah lama berlalu. Ketika aku membuka kembali folder IKSI yang ada di dalam laptopku, aku melihat foto-foto di atas. Kenangan-kenangan pada masa itu jadi bangkit kembali dalam otakku. Ah, menyenangkan sekali saat itu. Tugas kuliah belum menghantui kami karena kuliah kami masih sangat santai. Yang ada di pikiran kami hanya bersenang-senang menikmati proses perkenalan kami. Keluarga baru yang aku temukan saat itu adalah mereka. Semua yang membuatku betah kuliah di universitas itu adalah keluarga baruku itu. Kalau diingat lagi, rasanya, kami telah melakukan banyak sekali hal-hal menyenangkan bersama, mulai dari berfoto bersama di pinggir danau, menjalani rangkaian acara PSA-MABIM, HHK, berkeliling UI dengan sepeda kuning, sampai makan bersama di kansas setiap kali kami selesai kuliah dan "nongkrong" di sana..
Senang sekali mengingat semua itu.. :)))

Posisi dan Kehidupan Anak dalam Tontonan Anak Indonesia oleh Irna Gayatri D. Ardiansyah, 0906641453 Selasa, 24 Mei 2011 Dunia anak adalah...

Posisi dan Kehidupan Anak dalam Tontonan Anak Indonesia
oleh Irna Gayatri D. Ardiansyah, 0906641453
Selasa, 24 Mei 2011



Dunia anak adalah dunia yang penuh dengan imajinasi dan kegiatan bermain dan belajar. Dunia anak sering digambarkan dalam cerita atau serial televisi. Cerita anak sebenarnya bukan hanya berupa cerita yang berbentuk prosa, melainkan kehidupan anak secara keseluruhan. Akan tetapi, dalam buku Children & Books, disebutkan bahwa “children’s literature consists of books that are not only read and enjoyed, but also that have been written for children and that meet high literary and artictic standards” (1996: 6). Pendapat ini adalah sebuah pandangan mengenai sastra anak dan dalam hal ini, pandangan mengenai cerita anak sudah pasti lebih luas, bukan hanya mengenai buku dan sastra.[1]
Cerita anak meliputi anak sebagai subjek dan kehidupan anak anak sebagai objek. Dalam kelas Pengkajian Cerita Anak, Ibu Riris K. Toha Sarumpaet menyebutkan bahwa cerita anak juga meliputi tontonan anak dan televisi. Televisi saat ini sudah tidak lagi menjadi barang mewah karena hampir dalam setiap rumah terdapat paling tidak satu televisi. Tayangan dalam televisi Indonesia dapat dengan bebas dilihat oleh semua orang. Ada lembaga sensor yang memang menyatakan sebuah tayangan layak ditonton atau tidak dan beberapa tayangan telah diberi informasi mengenai siapa penonton mereka, seperti BO (Bimbingan Orang Tua), SU (Semua Umur), dan 17+ untuk tayangan dewasa. Akan tetapi, tidak semua rang memerhatikan hal ini karena banyak juga anak-anak yang masih menonton, misalnya Opera van Java, tanpa bimbingan orang tua. Penelitian kelompok yang sudah pernah dilakukan juga menyebutkan bahwa ada orang tua yang hanya menemani anak menonton, tanpa memberikan bimbingan terhadap anak mereka. Ada juga orang tua yang tidak mendampingi anak mereka dalam menonton televisi karena sibuk bekerja. Dalam kasus lain, anak justru menonton suatu tayangan tertentu karena orang tua mereka yang menonton tayangan itu terlebih dahulu sehingga anak hanya mengikuti orang tua mereka.
Rene Wellek dan Austin Warren menyebutkan dalam Teori Kesusastraan[2] mengenai sastra dan masyarakat sebagai berikut.
“Lagi pula sastra “menyajikan kehidupan”, dan “kehidupan” sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial, walaupun karya sastra juga “meniru” alam dan dunia subjektif manusia… Sastra mempunyai fungsi sosial atau “manfaat” yang tidak sepenuhnya bersifat pribadi. Jadi, permasalahan studi sastra menyiratkan atau merupakan masalah sosial: masalah tradisi, konvensi, norma, jenis sastra (genre), simbol, dan mitos.” (1989: 109)
Pernyataan bahwa sastra menyajikan kehidupan terkait juga dengan tontonan. Tontonan, khususnya tayangan realistis, juga pada dasarnya ingin menyajikan kehidupan apa adanya dan memang sudah seharusnya seperti itu. Akan tetapi, yang terjadi dalam tontonan anak di Indonesia saat ini adalah variasi yang menyimpang dari pernyataan “menyajikan kehidupan”.
Tokoh anak dalam beberapa serial televisi Indonesia tidak lagi bersikap seperti anak-anak “normal”. Mereka tidak bersikap seperti anak-anak pada umumnya karena dialog yang harus mereka ucapkan adalah dialog yang seharusnya diucapkan oleh orang dewasa. Dalam Islam KTP, misalnya, tokoh anak yang pandai bicara seperti Tebe hanyalah tokoh anak yang dijadikan tempelan supaya tayangan tersebut disebut sebagai tayangan keluarga yang cocok untuk anak. Akan tetapi, tingkah laku Tebe dalam sinetron tersebut sebenarnya bukanlah tingkah laku anak-anak yang sebenarnya. Ucapan-ucapan yang dilontarkan Tebe juga adalah ucapan orang dewasa yang diberikan oleh si penulis skenario. Dalam hal ini, penulis skenario seharusnya lebih memerhatikan kelogisan perkataan si tokoh, apalagi jika tokoh tersebut adalah anak-anak. Anak-anak seharusnya menonton diri mereka, bukannya menonton anak-anak yang berlagak menjadi orang dewasa karena skenario.
Saat ini, beberapa tayangan di televisi yang menampilkan tokoh anak sama sekali tidak menggambarkan posisi dan kehidupan anak yang sebenarnya. Dalam Baim Jaim, Baim sering melontarkan kata-kata dengan tatapan kosong dan ekspresi seadanya dan kata-kata tersebut terlalu rumit untuk diucapkan oleh anak-anak. Tebe dalam Islam KTP juga sering menasehati orang tuanya dan orang dewasa lainnya dalam serial itu untuk menunjukkan betapa ironisnya hidup. Akan tetapi, ini bukanlah fenomena yang sebenarnya terjadi di kehidupan nyata: anak kecil menasehati orang tuanya dengan ayat-ayat Alquran.
Tontonan anak di televisi saat ini hampir tidak ada bedanya dengan tontonan orang dewasa. Beberapa sinetron Indonesia, seperti Islam KTP, yang sebenarnya bukanlah tayangan anak juga telah menjadi tontonan anak pada umumnya. Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh beberapa kelompok di kelas Pengkajian Cerita Anak telah menunjukkan bahwa banyak anak yang menonton tayangan yang sebenarnya bukanlah tayangan anak. Tayangan tersebut bisa disebut sebagai tayangan yang bukan untuk anak karena konten, jalan cerita, dan konflik yang ada sama sekali tidak tepat dilihat oleh anak. Beberapa tayangan bukan untuk anak yang ditonton anak adalah Islam KTP dan Opera van Java.
Pihak Trans 7 dalam seminar “Anak dan Televisi” di Auditorium Gedung 1 FIB UI, Kamis, 28 April 2011, menyatakan bahwa Opera van Java bukanlah tontonan untuk anak. Akan tetapi, ini tidak mengubah kenyataan bahwa Opera van Java banyak ditonton anak-anak. Penelitian kelompok sebelumnya telah membuktikan bahwa lima anak mengetahui kata-kata kasar seperti “bego” dan “dasar banci” dari tayangan Opera van Java. Dalam hal ini, pihak Trans 7 tidak dapat lepas tangan saja dengan hanya memberikan komentar bahwa Opera van Java sebenarnya bukanlah tayangan untuk anak.
Sekali lagi, orang tua dan anak tidak akan dapat dipisahkan dalam banyak hal, termasuk dalam pengawasan terhadap tontonan anak. Peran orang tua sangat penting dalam memilih dan mengawasi tontonan anak dan orang tua juga berhak memberikan batasan bagi anak dalam menonton. Anak hanya tahu dunianya berisi permainan dan bukanlah masalah keluarga yang kompleks. Riris K. Toha Sarumpaet menyebutkan dalam kelas Pengkajian Cerita Anak bahwa anak tidak seharusnya disuguhkan tontonan yang berisi penderitaan dan konflik-konflik orang dewasa.
Tayangan yang ditonton anak-anak, sedikit banyak pasti berpengaruh terhadap anak tersebut. Seperti yang telah saya sebutkan di atas, penelitian kelompok terhadap lima anak berusia 10 tahun menyebutkan bahwa mereka meniru kata-kata “bego” dan  “dasar banci” dari Opera van Java. Hal ini membuktikan bahwa tayangan tersebut memberikan pengaruh karena, sesuai dengan pendapat Rene Wellek dan Austin Warren, sastra mempunyai fungsi sosial atau “manfaat” yang tidak sepenuhnya bersifat pribadi.
Sastra memang memberikan manfaat terhadap kehidupan sosial. Tayangan pun dalam hal ini memberikan pengaruhnya terhadap pola tingkah laku anak-anak yang menontonnya. Sayang sekali, tayangan anak di televisi Indonesia saat ini tidak banyak yang menyajikan pendidikan anak. Dalam hal ini, Trans 7 memberikan tayangan khusus untuk anak yang bertema edukasi, seperti Si Bolang, Laptop Si Unyil, Jalan Sesama, Koki Cilik,dan Dunia Air. Tayangan-tayangan tersebut memang memberikan pendidikan anak dengan cara yang menarik. Dalam Si Bolang, misalnya, nilai-nilai yang diajarkan adalah persahabatan Bolang dan teman-temannya, kerja sama, kerajinan, dan keterampilan atau kreativitas membuat suatu barang.
Si Bolang, tayangan ini menggambarkan kehidupan anak Indonesia di daerah-daerah seluruh Indonesia. Pada awalnya, Si Bolang sangat menarik minat anak-anak karena Si Bolang adalah tayangan pertama yang menyajikan pendidikan dan petualangan anak Indonesia dalam satu tempat. Si Bolang merupakan contoh baik untuk tayangan anak Indonesia dan ditayangkan di waktu siang atau waktu bermain anak. Akan tetapi, penelitian yang dilakukan oleh kelompok Mareta menyebutkan bahwa anak yang mereka tanyai soal tayangan yang menarik menjawab bahwa mereka tidak menonton Si Bolang karena tayangan itu untuk anak kecil. Mereka menganggap diri mereka telah dewasa sehingga mereka justru menonton sinetron-sinetron seperti Putri yang Ditukar di RCTI dan Arti Sahabat di Indosiar.
Si Bolang, seperti yang sudah saya sebutkan di atas, menggambarkan kehidupan anak Indonesia yang penuh permainan dan petualangan. Anak-anak dalam Si Bolang tidak berperan sebagai orang lain sehingga tayangan tersebut memang terkesan begitu nyata apalagi bahasa yang digunakan juga bahasa daerah masing-masing. Akan tetapi, sekarang, Si Bolang tidak lagi terlihat menyajikan tayangan realis mengenai kehidupan anak Indonesia karena pola cerita yang disajikan selalu sama. Pola tersebut adalah anak-anak berkumpul dan bertemu, bermain dan membuat alat sendiri, berenang di sungai atau di laut, makan kerang atau ikan atau makanan lainnya khas daerah mereka yang dimasak sendiri, membantu orang yang lebih dewasa, dan berpisah. Pola-pola tersebut membuat saya menarik kesimpulan bahwa tayangan Si Bolang juga tidak sepenuhnya menggambarkan kehidupan anak karena pola-pola tersebut dibuat agar tayangan menjadi menarik dan, tentu saja, ini adalah tujuan yang komersial.
Tayangan yang bukan khusus anak yang ditonton oleh anak banyak sekali berupa sinetron remaja dan dewasa. Putri yang Ditukar dan Arti Sahabat adalah salah satu contohnya. Remaja dalam sinetron Arti Sahabat sama sekali bukan remaja Indonesia. Maksud saya di sini adalah tidak ada remaja Indonesia yang “seperti itu”. Remaja-remaja dalam Arti Sahabat hanya mengurusi cinta dan karier. Jadi, sepanjang cerita, yang ditampilkan hanya adegan percintaan antara tokoh satu dengan tokoh yang lain. Ibu Riris K. Toha Sarumpaet menyebutkan dalam kelas Pengkajian Cerita Anak bahwa cerita seperti ini adalah “Cinderella complex” yang membuat anak Indonesia menjadi mengkhayal terlalu tinggi bahwa akan ada laki-laki tampan dan kaya raya yang mencintai mereka. Ini tentu bukan contoh yang baik karena akan membangun angan-angan yang terlalu tinggi dan sebenarnya tidak akan terjadi kepada semua orang. Dengan kata lain, sinetron Arti Sahabat juga tidak memberikan contoh kehidupan remaja—sebenarnya masih termasuk anak—yang sebenarnya. Selain itu, jalan ceritanya juga sering tidak logis. Dalam sebuah episode pernah diceritakan bahwa salah seorang anggota band sekolah yang merupakan teman dekat si tokoh utama laki-laki diajak rekaman dengan Lady Gaga di Amerika. Dalam kenyataan, Lady Gaga bahkan tidak pernah datang dan mengadakan konser di Indonesia. Entah mengapa Lady Gaga sampai dimasukkan ke dalam cerita itu, apalagi diceritakan bahwa salah satu tokoh sinetron tersebut akan rekaman album bersamanya. Ini tentu hanya mimpi yang berlebihan yang sama sekali tidak masuk akal.
Dalam Islam KTP, tokoh anak hanya menjadi tempelan belaka. Tebe dan salah seorang anak yang pandai mengaji sebenarnya sama sekali tidak berkaitan dengan cerita. Bahkan, tokoh anak yang pandai mengaji tersebut kadang muncul dalam salah satu adegan hanya untuk mengaji dengan suara yang merdu dan menerjemahkan arti ayat tersebut dan sama sekali tidak berhubungan dengan alur cerita yang sedang berjalan. Tebe bahkan tidak berkelakuan seperti anak-anak pada umumnya dalam sinetron tersebut. Tebe juga digambarkan sebagai anak yang sering mengerjai Bang Madid dengan meminta uang imbalan setelah memberitahukan suatu informasi kepada Bang Madid. Ini membuat tetangga saya—salah satu sampel dalam penelitian kelompok—meniru hal tersebut. Jadi, memang benar bahwa anak dalam suatu cerita sebaiknya benar-benar menggambarkan anak apa adanya karena perilaku anak yang ada di dalam cerita pasti ditiru oleh anak-anak lainnya.
Sayang sekali, anak dalam Islam KTP tidak diposisikan sebagai anak karena dialog mereka adalah dialog orang dewasa yang dipaksakan diucapkan oleh mereka untuk menunjang cerita. Sekarang, dalam Islam KTP, terdapat tambahan tokoh anak, yaitu kakak tiri Tebe. Kakak tiri Tebe ini dibuat sebagai tokoh antagonis untuk membuat cerita semakin seru dan sebagai tokoh tandingan Tebe. Kakak tiri Tebe sama sekali tidak menggambarkan anak perempuan pada umumnya karena dia terlalu licik untuk ukuran anak seumurannya. Sekali lagi, anak ditempatkan pada posisi yang tidak logis dalam cerita.
Dari semua uraian di atas, posisi dan kehidupan anak dalam tontonan anak Indonesia sama sekali tidak diperhatikan dan hanya sekadar tempelan cerita. Ketidaklogisan dialog anak yang seharusnya merupakan dialog orang dewasa juga tidak diperhatikan sehingga anak dalam sinetron dan tayangan anak sama sekali tidak bersikap seperti anak-anak di dunia nyata. Anak juga bersikap seperti orang dewasa atau lebih tua dari umurnya dalam sinetron Islam KTP dan Arti Sahabat. Kehidupan anak juga tidak benar-benar digambarkan karena semuanya juga sudah diatur dalam skenario sehingga anak tidak benar-benar mendapatkan contoh yang baik dalam semua tontonan mereka.


Daftar Pustaka
Sutherland, Zena. 1996. Children and Books. New York: Longman.
Budianta, Melani. 1989. Theory of Literature. terj. dr. Wellek, Rene dan Austin
Warren. Jakarta: Penerbit PT Gramedia.


[1] Paragraf tersebut pernah dimuat dalam tugas UTS Pengkajian Cerita Anak yang berjudul Tokoh Upin dan Ipin sebagai Gambaran Kehidupan Anak dalam dalam Serial ‘Upin dan Ipin dan Kawan-kawan’.
[2] Di-Indonesiakan oleh Melani Budianta. Buku aslinya berjudul Theory of Literature dan terbit tahun 1977.




*Makalah akhir untuk mata kuliah Pengkajian Cerita Anak

Perempuan Pengarang dalam Sastra Indonesia Modern: Pemikiran Oka Rusmini sebagai Pengarang dengan Karya-karya Bertokoh Utama Perempuan oleh...

Perempuan Pengarang dalam Sastra Indonesia Modern:
Pemikiran Oka Rusmini sebagai Pengarang dengan Karya-karya Bertokoh Utama Perempuan
oleh Irna Gayatri D. Ardiansyah, 0906641453
Senin, 6 Juni 2011



I. Pendahuluan
            Kesusastraan Indonesia rasanya mulai dikenal sejak Jassin banyak menuliskan kritik dan esainya dalam majalah Sastra. Jassin sekaligus menyumbangkan pikirannya dengan menuliskan periodisasi sastra Indonesia. Usaha Jassin ini telah membuat dirinya dianggap sebagai Paus sastra seakan telah memberikan kehidupan dan tempat yang layak bagi para sastrawan. Bisa dikatakan bahwa banyak sastrawan masih dikenal sampai saat ini karena Jassin yang membahas mereka dalam kritik dan esainya.
            Akan tetapi, tanpa Jassin, kesusastraan Indonesia terus berjalan. Setelah Jassin berhenti menuliskan periodisasinya, masih banyak karya-karya sastra yang bermunculan dari sastrawan-sastrawan yang baru dan muda. Penyebutan sastra Indonesia modern dalam makalah ini bukanlah sebuah penyambungan periodisasi sastra Jassin. Jassin sudah mulai menyebutkan istilah kesusastraan Indonesia modern pada 1954. Istilah yang diajukan Jassin adalah “Kesusastraan Indonesia Modern 1954”. Istilah ini disebutkan dalam pidato Simposium pada Dies Natalies Fakultas Sastra Universitas Indonesia tanggal 5 Desember. Jassin menyebutkan bahwa penyebutan tahun 1954 bukan berarti hanyakesusastraan tahun 1954 saja yang dibahas. Menurut Jassin, tahun 1954 adalah titik pangkal untuk meninjau ke amasa silam, ke sekarang, dan ke masa depan (1967).
Dalam pandangan saya, sastra Indonesia modern dalam hal ini adalah sastra Indonesia yang muncul setelah tahun 1950-an. Hal ini bukan berarti karya-karya yang muncul pada tahun-tahun sebelumnya tidak dianggap sebagai sastra Indonesia modern. Akan tetapi, Jassin sepertinya hanya melihat periodisasinya berdasarkan kriteria apakah karya sastra yang dihasilkan oleh sastrawan tersebut adalah sastra kanon atau bukan. Setelah 1950-an atau—dengan kata lain—pada 1960-an, banyak muncul karya sastra yang sama sekali berbeda dengan karya-karya angkatan Balai Pustaka, Pujangga Baru, atau angkatan setelahnya. Penyebutan sastra Indonesia modern yang saya maksud adalah sastra Indonesia setelah angkatan Jassin atau setelah periodisasi Jassin berhenti.
Korrie Layun Rampan berusaha untuk membuat periodisasinya sendiri dalam buku Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (2000). Hal ini menurut saya merupakan bentuk usaha yang hampir sama dengan yang dilakukan Jassin. Akan tetapi, dalam bukunya, Korrie memasukkan semua sastrawan yang muncul pada tahun 2000-an yang membuat gebrakan dalam dunia sastra. Salah satunya yang termasuk dalam angkatan tersebut adalah Oka Rusmini.
            Oka Rusmini merupakan perempuan pengarang yang telah menghasilkan banyak karya dan beberapa di antaranya telah diakui sastrawan Indonesia dan dunia sebagai karya yang mendobrak zaman, seperti Tarian Bumi. Rusmini merupakan perempuan pengarang pertama yang melakukan pemeberontakan terhadap sistem kalangan di Bali yang menurutnya sangat merugikan perempuan. Oka Rusmini merupakan perempuan Bali dengan pemikiran modern yang ingin membebaskan perempuan dari lingkaran adat yang mengikat. Dalam karya-karyanya, Rusmini banyak memasukkan bentuk-bentuk pemikirannya yang sangat menjunjung tinggi kesetaraan gender.
Sastra sering dilihat sebagai suatu bentuk filsafat, atau sebagai pemikiran yang terbungkus dalam bentuk khusus (1989:134). Karya-karya Rusmini, sedikit banyak, memiliki pemikiran-pemikiran Rusmini sebagai perempuan yang tidak ingin dipandang lebih rendah daripada laki-laki. Berdasarkan pernyataan di atas, saya akan menganalisis kecenderungan pemikiran-pemikiran yang muncul dalam karya-karya Rusmini, mulai dari cerita pendek, novel, sampai puisi. Sebelum masuk ke dalam analisis, saya juga akan membuat pendataan terhadap karya-karya yang telah dihasilkan Rusmini.


II. Oka Rusmini dan Sumbangannya kepada Kesusastraan Indonesia
            Oka Rusmini lahir di Jakarta, 11 Juli 1967. Rusmini merupakan lulusan Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar, Bali dan, setelah lulus dari Universitas Udayana, Rusmini bekerja di Harian Bali Post. Rusmini banyak menulis cerita pendek, novel, puisi, dan cerita anak. Karya-karyanya banyak dimuat di majalah Femina, Horison, dan Kalam. Selain itu, karya-karyanya juga dimuat di beberapa surat kabar nasional, seperti Kompas dan Media Indonesia. Harian Bali Post juga banyak memuat karya-karya Rusmini.
            Salah satu cerita pendek (cerpen) Rusmini adalah “Putu Menolong Tuhan”. Cerpen ini dinobatkan sebagai cerpen terbaik dalam sayembara majalah Femina (1994). Selain itu, beberapa puisinya juga ada yang dimuat dalam antologi Doa Bali Tercinta (1983), Rindu Anak Mendulang Kasih (1987), Bocah-bocah S’Brono, dan Gurat-gurat (2000:531). Kumpulan puisi Rusmini yang telah terbit adalah Monolog Pohon (1997) dan Patiwangi (2003). Rusmini juga telah menerbitkan beberapa novel dan kumpulan cerpennya, seperti Tarian Bumi (2000), Sagra (2001), Kenanga (2003). Cerpennya yanglain adalah “Sepotong Kaki” yang dimuat dalam Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (2000).



III. Oka Rusmini dalam Kesusastraan Indonesia
            Oka Rusmini banyak menulis tentang perempuan. Sebagai perempuan penulis, Oka Rusmini mencoba menyuarakan emansipasi wanita dalam karya-karyanya. Pemberontakan kepada stratifikasi dalam adat Bali sangat rentan menjadi tema dalam karya-karyanya. Sebagai ibu, Rusmini ingin menunjukkan bahwa wanita tidak selalu berada di bawah pria (banyak pendapat yang menyebutkan bahwa perempuan lebih rendah daripada pria dan Rusmini menolak hal ini dalam karya-karyanya).
Tokoh wanita dalam karya-karya Rusmini selalu digambarkan sebagai perempuan Bali yang cantik, kaya, dan bermartabat, tetapi kadang tokoh tersebut tidak mendapatkan cinta sejati. Pola ini ditemukan dalam semua karya-karya prosa Rusmini, baik novel maupun cerpen. Cinta sejati tokoh wanita dalam karya Rusmini biasanya berasal dari kalangan Sudra. Ini menunjukkan betapa Rusmini sangat ingin dirinya tidak dilingkupi perbedaan kalangan. Karya-karya Rusmini seringkali dianggap kontroversial karena mengangkat sejumlah persoalan adat-istiadat dan tradisi Bali yang kolot dan merugikan perempuan, terutama di lingkungan griya, rumah kaum Brahmana.
Mengapa Rusmini banyak menuliskan karya dengan tokoh utama perempuan? Selain karena Rusmini adalah seorang perempuan, Rusmini juga merasa perempuan Indonesia terlalu banyak diliputi kekelaman dan kekerasan hidup. Hal ini juga dirasakan dirinya selama hidupnya. Dia tumbuh dari keluarga yang terpisah atau broken home. Orang tuanya bercerai ketika dia masih kecil dan dia dibesarkan oleh ayahnya di Jakarta yang menikah lagi dengan perempuan lain. Pendidikan yang diterimanya dari ayahnya adalah pendidikan yang keras karena ayahnya adalah seorang tentara. Oka merasakan ketidakadilan di sekelilingnya.
Oka mendapati dirinya dilahirkan dalam kehidupan griya atau keluarga Brahmana. Hal ini membuatnya dituntut untuk menjadi panutan masyarakat yang tertib dan beradab dan dapat menyiapkan segala perlengkapan upacara adat Bali. Dia melihat ketidakadilan dan kesewenang-wenangan kepada perempuan justru muncul dalam kehidupannya di Bali, di kalangan Brahmana.
Oka Rusmini sering disebut sebagai pengarang yang banyak memasukkan unsur-unsur feminis dalam karya-karyanya. Istilah “feminis” pertama kali digunakan di dalam literatur barat baru pada tahun 1880, yang secara tegas menuntut kesetaraan hukum dan politik dengan laki-laki. Istilah ini masih terus diperdebatkan, namun secara umum biasa dipakai untuk menggambarkan ketimpangan jender, subordinasi, dan penindasan terhadap perempuan (Bryson:1992)[1]. Dalam karya-karyanya, Rusmini banyak mengangkat tema kekerasan seksual terhadap wanita. Seringkali dalam karyanya wanita digambarkan sebagai tokoh yang kehilangan jati dirinya dan hanya memiliki tubuh untuk dinikmati oleh para pria. Hal inilah yang melatarbelakangi pendapat orang-orang yang menyebutkan bahwa karya-karya Oka Rusmini kental dengan feminisme.
Akan tetapi, membicarakan feminisme dalam era postmodern seperti sekarang ini bukanlah hal yang mudah. Makna feminisme telah meluas dan bagi beberapa kalangan justru menghasilkan ideologi baru, seperti feminisme radikal, yang malah terkesan tidak menghormati kaum pria. Dalam hal ini, istilah “feminis” yang menempel pada Oka Rusmini tidaklah bermakna sejauh itu. Kembali kepada makna istilah “feminis” secara umum, yaitu istilah yang dapat menggambarkan penindasan terhadap perempuan, di sanalah Oka Rusmini menempatkan dirinya dalam istilah tersebut.
Karya-karya Rusmini, antara satu dan yang lain, memiliki banyak kesamaan. Hal ini tentu saja karena pemikiran-pemikiran yang dituangkan Rusmini dalam karyanya adalah permasalahan perempuan seputar “feminisme”. Dalam Sagra dan Tarian Bumi, terlihat pola yang telah saya sebutkan di atas, yaitu terdapat percintaan antara perempuan dari kalangan Brahmana dengan laki-laki dari kalangan Sudra. Penggambaran yang dilakukan oleh Rusmini terhadap laki-laki dari kalangan Brahmana dalam karya-karyanya adalah laki-laki yang senang main judi, mabuk-mabukan, dan meniduri banyak perempuan.
Sebagai contoh, dalam “Sagra”, kehidupan Ida Bagus Astara berakhir dengan kematiannya di sebuah hotel besar dalam pelukan pelacur dan Ida Bagus Baskara yang hanya bisa berfoya-foya diceritakan tenggelam di Kali Badung akibat meminum minuman keras. Penggambaran lainnya terhadap laki-laki dari kalangan Brahmana ada dalam cerpen “Pemahat Abad” dan “Cenana”. Ayah dari Ida Bagus Made Kopag juga digambarkan berperilaku buruk dengan sering mabuk-mabukan dan meniduri banyak perempuan. Sebagai akibatnya, Ida Bagus Made Kopag buta karena menjadi penebus dosa ayahnya. Dalam “Cenana”, penggambaran Rusmini terhadap laki-laki dari kalangan Brahmana juga kurang lebih sama, yaitu berperilaku buruk serta suka mabuk-mabukan dan meniduri banyak wanita.
Perempuan dalam karya-karya Rusmini juga digambarkan sebagai perempuan yang sudah tidak mengenali tubuhnya lagi karena tubuhnya telah dimiliki oleh orang lain. Kehidupan tokoh-tokoh perempuan dalam karya-karyanya selalu suram dan tidak memiliki penguasaan terhadap tubuhnya. Dalam “Sepotong Kaki”, sang perempuan di akhir cerita memotong kakinya sendiri karena sudah tidak mengenali lagi kakinya yang seksi. Ciri seperti inilah yang muncul dalam setiap karya Oka Rusmini. Dengan kata lain, Rusmini ingin menunjukkan sisi buruk laki-laki, khususnya kalangan Brahmana, yang dianggap sebagai orang yang paling dihormati di Bali.
Rusmini menunjukkan pemikirannya yang menjunjung kesetaraan gender dengan menunjukkan sisi buruk laki-laki Brahmana. Rusmini yang merasakan ketidakadilan terhadap perempuan selama berada dalam kalangan Brahmana memberontak dengan cara ini. Dia merasa perempuan tidak dihargai di sana dan dari sanalah dia menyumbangkan pemikirannya yang kritis terhadap adat Bali yang dianggapnya telah banyak merugikan perempuan. Pemikirannya tersebut juga dilatarbelakangi oleh kehidupan keluarganya—ayah dan ibunya—yang tidak akur dan akhirnya bercerai. Rusmini merasa ayahnya telah memperlakukan ibunya dengan tidak adil dan hal ini juga yang mendasari pemikiran-pemikiran “feminis” Rusmini dalam karya-karyanya.

  

IV. Penutup
            Oka Rusmini adalah perempuan pengarang yang banyak menulis karya yang menjunjung tinggi kesetaraan gender dan mengutuk penindasan terhadap perempuan. Rusmini yang dilahirkan dalam kalangan Brahmana merasakan adanya ketidakadilan terhadap perempuan di sana dan hal ini menjadi dasar pemikiran-pemikiran dalam setiap karyanya. Pola yang muncul dalam setiap karyanya, yaitu laki-laki dari kalangan Brahmana selalu berperilaku buruk dan banyak meniduri wanita, telah menjadi cirri-ciri karya Rusmini. Pola inilah yang semakin memperkuat kesan “feminis” dalam diri Rusmini dan karyanya. Pemikiran-pemikiran yang disampaikan Rusmini dalam karya-karyanya bukanlah sekadar hiasan, melainkan merupakan bentuk protes Rusmini terhadap kehidupan yang menurutnya tidak adil bagi perempuan. Tokoh perempuan dalam karya-karyanya digambarkan menderita kekelaman hidup dan penindasan dari kaum pria dan sebagian besar tidak berakhir dengan kebahagiaan—tokoh perempuan tidak mendapatkan cinta sejatinya. Hal ini dilakukan Rusmini untuk menunjukkan bahwa ketidakadilan dan penindasan terhadap perempuan sampai saat ini masih ada dan perempuan di dunia nyata seharusnya menjadi lebih kuat daripada tokoh perempuan dalam karya-karyanya.





Daftar Pustaka
Arivia, Gadis. 2006. Feminisme: Sebuah Kata Hati. Jakarta: Kompas.
Budianta, Melani. 1989. Theory of Literature. terj. dr. Wellek, Rene dan Austin Warren. Jakarta: Penerbit PT Gramedia.
Jassin, H.B. 1967. Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei. Jakarta: Gunung Agung.
Layun Rampan, Korrie. 2000. Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia. Jakarta: Grasindo
Retnaningsih, Dra. Aning. 1983. Roman dalam Masa Pertumbuhan Kesusastraan Indonesia Modern. Jakarta: Erlangga.


Sumber Internet
Dodiek Adyttya Dwiwanto. 4 Juni 2011. http://groups.yahoo.com/group/pasarbuku/message/14738.



[1] Dikutip dari “Pendobrakan yang Tiada Hentinya” dalam Feminisme: Sebuah Kata Hati (2006).




*Makalah akhir untuk mata kuliah Perkembangan Sastra Indonesia

Hari ini, aku baru saja menonton Crazy Little Thing Called Love. Ini film yang menarik. Aku benar-benar tidak menyangka film ini mengangkat ...

Hari ini, aku baru saja menonton Crazy Little Thing Called Love. Ini film yang menarik. Aku benar-benar tidak menyangka film ini mengangkat kisah yang sama seperti yang kualami.
“Aku menyukai seseorang, tetapi aku tidak dapat mengatakannya kepada orang tersebut. Pada akhirnya, perasaan itu hanya terus kupendam dan aku hanya bisa berharap orang itu mengetahuinya suatu saat nanti. Entah kapan.”

Apakah ini kisah yang umum? Aku tidak tahu jika memang ternyata banyak orang yang mengalami. Aku juga mengalaminya selama 1 tahun ini. Sekarang, aku sudah bisa menghapusnya dari ingatanku dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak menyukainya lagi. Tetapi, aku sama sekali tidak membencinya. Aku hanya berusaha untuk melakukan tindakan yang realistis dan masuk akal. Walaupun begitu, saat aku mengingatnya, perutku terasa panas dan rasanya ada lubang di hatiku yang semakin menganga. Aku tidak tahu ini hanya sebuah kebodohan atau hal gila seperti yang disebutkan dalam film itu. tapi, ternyata cinta memang telah membuatku menjadi bodoh tanpa kusadari. Begitu aku sadar, aku sudah berada di tengah-tengah hamparan bunga matahari yang cerah dan terlempar ke jurang paling dalam. Berlebihan, memang. Tetapi, ini yang kurasakan. Ini cinta? Bukan? Kalau bukan, lalu apa? Hal gila yang disebut cinta? Ya, mungkin inilah hal gila yang disebut cinta.









"Semuanya tidak selalu sama bagi setiap orang." "Apa yang tidak sama?" "Kesan mencintai dan dicintai seseorang....

"Semuanya tidak selalu sama bagi setiap orang."
"Apa yang tidak sama?"
"Kesan mencintai dan dicintai seseorang."
Aku tengah menatap ke luar jendela saat percakapan itu tiba-tiba terlintas dalam benakku. Ya, memang tidak akan pernah sama. Itulah yang dia katakan padaku saat kami tanpa sengaja bertemu di sebuah toko buku di daerah Matraman. Pertemuan itu juga bukanlah pertemuan yang istimewa. Tetapi, itulah pertemuan pertama kami sejak dua tahun kami tidak bertemu karena dia pindah sekolah ke Jepang.
"Dasar bodoh!" aku menggerutu siang itu saat percakapan itu kembali terulang di benakku.
"Siapa yang bodoh?" tanya Odi, adikku yang berusia 16 tahun.
"Ah, tidak. Kamu terlalu ingin tahu urusanku."
"Kau sedang tidak mengata-ngataiku kan?" Odi mendelik tajam ke arahku.
"Tentu saja tidak. Apa untungnya bagiku mengata-ngataimu? Hanya membuang-buang energiku!"
"Habis, kau ini kan cewek labil!" Odi pergi naik tangga menuju kamarnya.
"Hei! Kau bilang apa tadi?" aku terlambat melempar bantal ke arahnya karena dia sudah berada jauh di bagian paling atas tangga. Akhirnya, aku harus mengambil bantal yang kulempar itu.
Aku kembali menatap ke luar jendela, melihat hujan, melihat tetesan air yang mengalir di jendela, membuat dunia luar jadi terlihat buram.
"Tidak akan pernah sama cara seseorang mencintai dan dicintai." aku menggumam, kembali mengulang kalimat ketika itu.
Ah, lalu kenapa? Apakah dengan mengetahui bahwa cara mencintai dan dicintai setiap orang tidak sama, semua pengalaman menyakitkan itu akan hilang begitu saja? Dia mungkin bisa bicara begitu saat itu, tetapi aku tidak pernah mengerti maksudnya. Aku bahkan tidak pernah mengerti dirinya. Dia hanya teman lama yang bertemu kembali denganku di saat yang tepat. Aku mencintainya di saat yang tepat. Dia pun begitu.
***

"Aku memang bodoh! Bagaimana mungkin aku bisa mencintai laki-laki sepertimu! Laki-laki tanpa perasaan!" aku sungguh-sungguh berteriak, berusaha untuk mengeluarkan semua kekesalanku.
"Sudah?" dia hanya menatapku tanpa emosi.
"Apa kau tidak punya kalimat lain? Paling tidak, tanggapilah semua kata-kataku! Aku muak! Sungguh, aku sangat muak!"
"Kau muak karena apa? Karena aku? Atau karena telah mencintaiku?"
"Aku muak karena mencintai laki-laki sepertimu!" aku berteriak sambil membelakanginya. Aku sama sekali tidak berani menatap wajahnya. Air mataku mengalir begitu saja dan aku tidak bisa menyembunyikannya.
"Aku senang. Terima kasih" dia tersenyum. Setelah mengatakan itu, dia memelukku.
"Aku mencintaimu.." aku mengatakannya sambil terisak dan terdekap dalam pelukannya.
"Aku tahu. Sudah lama aku tahu." dia masih tetap memelukku.
"Kau tahu? Bagaimana bisa? Aku tidak pernah..." aku melepaskan pelukannya.
"Kau pernah menginap di rumahku saat perpisahan SMP dan kau bodoh karena mengigau soal itu." dia tersenyum simpul.
"Apa? Aku pernah.. Lalu kenapa kau diam saja?" aku melengos, sengaja melihat ke arah lain.
"Aku sengaja menunggumu mengakuinya."
"Bodoh!"
"Si bodoh mencintai si bodoh." dia tersenyum lagi, memegang tanganku, lalu menciumku.
Warna biru langit yang cerah sore itu serta angin yang lembut meniup rambutku seakan membawaku terbang bersama kehampaan udara.
***

Setelah berpacaran selama dua minggu, Hiroki pindah sekolah. Aku luar biasa terkejut saat mengetahuinya dari wali kelasku. Aku bahkan tidak tahu bahwa dia akan pindah sekolah. Aku juga tidak tahu bahwa dia telah merencanakan kepindahannya ke Jepang sejak lama. Aku sama sekali tidak tahu. Sebagai tambahan, aku baru benar-benar mencoba mengenalnya dalam dua minggu. Itu sama sekali tidka cukup.
Aku memberontak, tidak ingin menerima kenyataan itu. Aku tidak pergi ke kantin saat jam istirahat. Aku pergi ke halaman belakang sekolah, mencoba meneleponnya. Nomornya tidak aktif. Aku mencoba lagi dan hasilnya tetap sama. Nomornya sudah tidak dapat dihubungi. Saat itu, langsung terlintas di benakku untuk menelepon ke rumahnya. Yang menjawab adalah Mbo Marni. Jawaban yang diberikan Mbo Marni telah menambah kenyataan pahit yang kuterima hari itu. Hiroki pindah ke Jepang untuk menyelesaikan sekolahnya sampai menjadi sarjana di sana. Sekarang, yang tinggal di rumah hanya sepupu Hiroki, Ruisa.
Aku menutup telepon. Napasku sesak. Tenggorokanku sakit, tercekat. Aku menangis. Awalnya aku hanya terisak, tetapi kemudian aku menangis bersedu-sedu dan semua kesedihan tak tertahankan itu tumpah di siang itu.
Bodoh! Apa yang dipikirkannya? Dia tidak pernah membicarakan hal ini denganku. Dia juga tidak pernah memberitahuku. Dia bahkan tidak mengucapkan perpisahan. Apa yang ada dalam otaknya? Aku sama sekali tidak mengerti. Aku tidak pernah mengerti. Dia ternyata memang terlalu jauh dari jangkauanku.
***

"Mengapa kau pergi begitu saja tanpa memberitahuku?"
"Aku tidak pergi." dia menjawab sambil mengaduk-aduk Lemon Tea-nya.
"Kepalamu terbentur ya? Tidak pergi? Kau pindah ke Jepang dan baru kembali hari ini! Apa itu yang kau sebut tidak pergi?" aku setengah berteriak sata itu. Aku tetap ingat bahwa aku berada di Starbucks.
"Biar kutebak, apa kau pernah tidak memikirkanku saat aku di Jepang?" dia menatapku lekat-lekat.
Aku diam. Kubiarkan kepalaku menatap ke luar jendela saat dia mengatakan itu. Dia lalu memegang tanganku dan aku tidak bisa melepaskan diri darinya. Sungguh.
"Aku tidak benar-benar pergi darimu."
"Jangan bodoh! Kau tidak mengatakan apa-apa padaku soal kepindahanmu! Bagaimana mungkin aku tidak bertanya-tanya dan mengkhawatirkan dirimu? Kau tahu, aku takut! Aku selalu dihantui oleh pikiran 'kau pergi begitu saja tanpa kabar karena kau tidak benar-benar mencintaiku.' Wajar saja, kita baru berpacaran selama dua minggu! Kita bahkan belum pernah nonton film bersama, makan bersama, pergi ke tempat wisata bersama, ..." aku menarik napasku sebentar. "Aku belum memiliki cukup waktu bersamamu." aku menunduk. Tidak berani menatap matanya yang selalu terlihat mengantuk.
Dia melepaskan genggaman tangannya kemudian bersender dan menatap ke luar jendela. Persis seperti yang kulakukan tadi. Tetapi, wajahnya terlihat sedih. Matanya jadi lebih sayu dari biasanya dan tatapannya kosong seakan dirinya sedang berada di tempat lain saat itu, tidak bersamaku.
"Semuanya tidak selalu sama bagi setiap orang." katanya sambil tetap menatap ke luar jendela.
"Apa yang tidak sama?" aku menjawab sambil mengaduk-aduk kopiku.
"Kesan mencintai dan dicintai seseorang."
"Apa maksudmu?"
"Aku mencintaimu dengan caraku. Kau merasa dirimu dicintai dengan caramu. Jadi, sampai kapan pun kau tidak akan pernah merasa dicintai olehku."
"Aku tidak mengerti." ujarku jujur.
"Aku tidak akan meneruskannya. Kurasa kita sudah terlalu lama berada di sini. Sebaiknya kita pergi ke tempat lain. Biar aku yang mengantarmu."
"Kita akan pergi ke mana?"
"..." dia hanya menatapku, lalu menarik tanganku. Kami pergi. Dia menyetir mobilnya dengan kecepatan 120 km/ jam dan aku hampir saja mati saking takutnya. Dia lalu berhenti di depan sekolah kami. Dia berhenti di SMP tempat kami pertama kali bertemu. Tempat kami memulai semuanya.
"Apa yang ingin kau lakukan?"
"Kalau kau keberatan, aku akan mengantarmu pulang."
"Tidak. Aku mau bersamamu."
"Kalau begitu, ikutlah denganku."
Kami menerobos masuk dengan memanjat pagar belakang sekolah. Saat itu hari Sabtu. Sekolah sedang libur dan hanya ada kegiatan ekstrakulikuler untuk para murid. Aku dan Hiroki bisa masuk dengan mudah dan Hiroki langsung menarikku, membawaku menaiki tangga sekolah sampai kami tiba di atap sekolah. Dia membawaku ke pinggir atap dan kami mamatung di sana. Aku tidak mengerti apa yang sedang kami lakukan saat itu. Tiba-tiba, Hiroki berteriak dan teriakannya itu membuat jantungku berdebar sangat kencang. Aku nyaris kehilangan pijakanku jika dia tidak langsung memelukku.
"Hiroki..."
"Aku mencintaimu."
"Ini pertama kalinya kau mengatakan itu. Aku senang."
"Aku belum mendengar jawabanmu."
"Aku bersedia karena selamanya aku hanya mencintaimu."
"Bisa-bisanya kau omong besar di saat seperti ini." dia tersenyum simpul seperti biasa, tersenyum dengan caranya, lalu tertawa.
"Sudahlah. Jangan dilanjutkan. Lepaskan pelukanmu."
"Tidak. Biarkan sja seperti ini. Aku mau memelukmu sampai kau tertidur."
"Kalau begitu, aku tidak akan tertidur. Karena aku ingin mengingat semua kenangan saat bersamamu."
"Kalau begitu, aku akan memelukmu terus."
"Tidak masalah. Aku juga akan memelukmu sampai kau lelah."
"Dasar bodoh." dia memelukku semakin erat.
"Si bodoh memeluk si bodoh." dia menatapku lalu menciumku.
***

Hujan sudah berhenti. Aku tidak menyadari bahwa ternyata ibu sudah kembali dari butiknya. Tetapi, yang aneh darinya sore itu adalah dia membawa banyak sekali buket bunga. Aku penasaran soal siapa pengirimnya. Jadi, hal itu langsung kutanyakan pada ibu.
"Kenapa ada banyak sekali bunga, bu?"
"Ah.. Arinka! Ini semuanya untuk kamu!" ibu berseru senang seperti orang baru menerima undian berhadiah satu milyar.
"Untukku? Dari siapa?" aku bingung.
"Lihat saja sendiri pengirimnya. Kan namanya ada di kartu." ibu menjawab sambil tersenyum senang. Aku membaca kartu yang ditunjukkan ibu.
Aku mengirimkan semua jenis bunga untukmu. Maaf, aku belum bisa menemuimu. Aku belum siap untuk itu. Kuharap kau mau menunggu.
Hiroki

Ah! Sial! Hiroki! Dia selalu datang di saat yang tepat. Aku tidak tahu apakah dia benar-benar akan memenuhi janjinya sore itu. Aku tidak peduli. Yang jelas, aku mencintainya dan dia pun begitu. Aku sudah tidak mempermasalahkan jarak kami lagi. Setiap orang memiliki cara mencintai dan dicintai masing-masing. Itulah yang kuketahui darinya.