http://www.youtube.com/watch?v=Ynhe6CwoVek&feature=youtube_gdata_player posted from Bloggeroid

Aku tak pernah terlalu ingat kapan tepatnya aku mulai mengenalnya. Aku baru saja bertengkar dengannya minggu lalu saat aku tak sengaja m...



Aku tak pernah terlalu ingat kapan tepatnya aku mulai mengenalnya. Aku baru saja bertengkar dengannya minggu lalu saat aku tak sengaja menjatuhkan toples miliknya yang berisi manik-manik indah. Aku bahkan tak bisa mengingat warna manik-manik itu. Aku terus memikirkan hal itu sepanjang perjalanan pulang.
Hari itu hujan, sungguh hari senin yang membosankan. Ayah menyuruh Kasim, supir kami, untuk menjemputku dan mengantarku pulang dengan selamat. Ayah selalu begitu sejak dahulu, sangat protektif terhadapku walaupun dia sendiri bahkan hampir tidak pernah ada di rumah. Aku merasakan sesuatu bergetar di dalam tasku saat kami terjebak kemacetan di Matraman.
Aku merogoh-rogoh isi tasku untuk mencari hand phone-ku yang bergetar itu. Tulisan di layarnya menunjukkan bahwa sudah ada dua pesan dan beberapa kali panggilan telepon dari temanku, Emily. Aku membaca pesan darinya dalam hati, agak bosan juga aku karena dia kembali membicarakan Joe, cowok sok keren yang dan menyebalkan yang dia sukai. Dia mengatakan bahwa Joe mengajaknya pergi nonton sore ini dan aku mau tak mau turut senang karenanya. Aku membalas pesannya dengan singkat, menanggapinya dengan satu kata, ‘selamat’.
Setelah membalas pesan dari Emily aku kembali menjejalkan hand phone-ku ke dalam tas. Kami hanya beranjak beberapa puluh sentimeter dari tempat kami berhenti tadi. Jalanan macet total. Dalam hati aku penasaran kenapa jalanan bisa semacet ini. Aku melirik jam tanganku dan kulihat sudah pukul tiga sore.
Bosan rasanya menunggu kemacetan berakhir sehingga aku memutuskan untuk menyalakan musik. Aku menyetel Bella’s Lullaby karena kurasa lagu itulah yang paling tepat untuk menghilangkan jenuh. Komposisi musiknya menenangkanku, membuatku rileks kembali dan tertidur. Saat mataku terpejam aku bisa melihat khayalanku tentang Edward Cullen, tokoh dalam novel Twilight yang sangat luar biasa tampan. Aku sudah membaca bukunya berkali-kali dan mencoba menonton filmnya walaupun pada akhirnya agak membuatku kecewa. Aku melihat Edward Cullen bermain piano, memainkan nada-nada dari Bella’s Lullaby, sangat tampan dan menggoda. Aku bisa merasakan wajahku tersenyum samar saat melihatnya dan berharap semoga Kasim tidak melihatku tersenyum tidak jelas seperti itu.
Kemudian hand phone-ku bergetar lagi dan membuatku yang masih setengah tertidur kaget. Kali ini karena telepon dari Joe. Aku mengangkatnya dengan enggan, agak kesal karena dia sudah merusak imajinasiku tentang Edward Cullen tadi.
“Halo Joe, ada apa?” tanyaku dengan nada datar.
“Ehm.. Hai Will. Aku ingin menanyakan apakah kau mau pergi nonton bersamaku besok?” tanyanya tegas.
“Kukira kau sedang nonton dengan Emily.” kataku masih datar seperti sebelumnya.
“Memang, kami baru saja mau nonton. Aku sedang menunggu Emily mengganti pakaian. Lalu bagaimana jawabanmu?”
“Aku tidak bisa.” jawabku pasti. “Banyak sekali tugas minggu ini jadi aku tidak mungkin pergi nonton.”
“Bagaimana kalau Sabtu? Atau mungkin Minggu? Kau pasti tidak punya acara khusus akhir pekan ini kan?” kata-katanya meluncur begitu cepat namun aku yakin itu bukan pertanyaan. Dia tahu aku tidak pernah punya acara di akhir pekan dan dia memanfaatkan itu sekarang untuk pergi bersamaku. Terdengar rasa percaya diri dalam suaranya. Dia pasti yakin aku tidak akan menolaknya kali ini.
Joe menunggu di seberang sambungan telepon. Aku berusaha untuk memikirkan alasan yang masuk akal dngan cepat dan saat itu terlintas sebuah pikiran yang konyol dan bodoh namun kurasa cukup ampuh untuk menghindarinya kali ini.
“Sebenarnya akhir pekan ini aku sibuk. Sepupuku yang tinggal di Pondok Indah akan menikah dan aku harus membantunya. Aku tidak mungkin melewatkan momen bahagia yang akan dijalaninya karena aku sangat menyayanginya. Aku ingin berada di sampingnya saat dia menjalani peristiwa sakral tersebut.” kataku dengan nada meyakinkan. Kasim sempat menengok padaku kemudian melongo sebentar saat aku mengucapkan kebohongan itu. Dalam hati aku cekikikan karena tahu sepertinya ini akan berhasil dan dugaanku tepat. Joe percaya padaku sepenuhnya.
“Oh, begitu ya. Mmm.. jadi sepupumu akan menikah? Selamat ya.” ucapan selamatnya itu terdengar seakan-akan aku yang akan menikah. “Kalau tidak salah namanya Riby kan? Sampaikan salamku padanya ya. Katakan aku turut senang atas pernikahannya.”
“Iya, terima kasih. Akan kusampaikan nanti.”
“Kalau begitu sampai ketemu besok.”
“Iya. Semoga acara nonton kalian akan menyenangkan.” kataku kemudian segera memutuskan hubungan telepon. Aku menghela napas panjang. Kami masih terjebak kemacetan dan hanya beranjak beberapa meter saja dari tempat sebelumnya.
Aku kembali dilanda kebosanan. Moodku berubah  Aku teringat pada kejadian siang tadi. Kejadian menyebalkan yang sebenarnya sama sekali tidak ingin kuingat lagi. Semakin keras aku berusaha untuk melupakan kejadian itu, semakin jelas ingatanku mengulangnya di pikiranku. Kesal sekali rasanya. Saat itu hand phone-ku kembali berdering dan segera saja kuangkat tanpa sempat melihat nama peneleponnya.
“Will.” kata suara laki-laki di seberang sambungan teleponku.
“Mmm? Siapa ya?” tanyaku penasaran.
“Ini aku, Yuri.”
“Oh, ada apa?”
“Aku ingin minta maaf atas kejadian tadi siang. Aku tidak bermaksud membentakmu.”
“Oh, itu. Sudahlah, aku juga sudah melupakannya kok.” kataku setengah hati.
“Tidak bisa, aku merasa sangat bersalah.” katanya dengan nada bersalah.
“Ya sudah, kalau begitu kau sudah kumaafkan.” jawabku enggan. “Sekarang kau sudah puas kan?”
“Apa kau tulus memaafkanku?” tanyanya.
“Jujur saja, tidak. Aku masih sakit hati.”
“Apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu mau memaafkanku?” tanyanya menawarkan.
“Tidak ada.” jawabku singkat.
“Kumohon, Will. Aku tidak akan bisa tidur malam ini jika kau belum menerima permohonan maafku.” katanya memohon.
“Sudahlah! Aku sedang tidak ingin mengobrol di telepon. Kita lanjutkan besok saja. Bye.” Tukasku kemudian segera memetikan hand phone-ku karena kuyakin dia akan segera meneleponku sebentar lagi.
Aku tidak menyalakan telepon sampai pukul delapan malam. Begitu kuhidupkan kembali hand phone-ku, sudah banyak pesan masuk yang menunggu untuk dibaca. Tiga diantaranya adalah dari Will dan sisanya dari teman-teman sekelasku yang menanyakan PR dan jadwal pelajaran. Aku segera membalas semuanya kecuali pesan dari Will. Aku masih sakit hati. Bayangkan saja, dia membentakku di kantin, di depan orang banyak, hanya karena aku sekali lagi tanpa sengaja menjatuhkan toples manik-maniknya. Tentu saja aku kesal karena saat itu perhatian seantero penghuni kantin tertuju padaku.
Memangnya apa arti manik-manik itu sampai dia begitu marah hanya karena aku menjatuhkannya? Aku sempat berpikir jangan-jangan manik-manik itu terbuat dari berlian. Tapi jika memang itu terbuat dari berlian, kenapa tidak disimpan di tempat yang aman saja? Di rumah misalnya. Kenapa dia justru terus-terusan membawanya sepanjang hari. Aku sungguh tidak mengerti.
Dia memang murid pindahan dari JIS yang baru saja pindah dua bulan lalu dan kami mulai pacaran dua minggu lalu. Mungkin aku memang belum mengenal dirinya sepenuhnya, tapi itu karena dia memang tidak mau menceritakan sesuatu tentang dirinya selain dia pindah dari JIS karena bosan dengan aktivitas disana. Yuri sendiri adalah anak yang tampan karena ibunya orang Jepang dan ayahnya orang Jerman. Tapi teman-temanku, terutama Emily, sering mengatakan bahwa dia anak yang aneh. Bahkan sempat ada gosip yang beredar bahwa sebenarnya dia sedang kabur dari rumah.
Jujur saja aku sama sekali tidak peduli dengan perkataan orang. Yang kupedulikan adalah perkataannya. Hanya saja Yuri bukanlah tipe orang yang banyak omong. Selama ini dia hanya bicara jika kutanya. Kalaupun dia bicara itu hanya saat dia memang sedang butuh bantuan dan itu adalah sesuatu yang langka. Bahkan saat kencan pun dia tetap diam dan hanya bicara seperlunya. Karena itu, sebenarnya aku agak kaget saat menerima telepon darinya tadi. Aku sampai tidak bisa mengenali suaranya karena dia memang jarang bicara.
Sebenarnya aku merasa sangat senang karena dia sudah bernisiatif untuk meminta maaf padaku. Bahkan dia mengatakan bahwa dia tidak akan bisa tidur jika aku tidak memaafkannya. Jika mengingat hal itu aku jadi merasa bahagia. Kupikir, biar saja dia tidak bisa tidur karena dengan begitu dia akan mengingatku terus. Biar tahu rasa dia!
Seusai belajar aku segera mencuci muka dan menyikat gigi, kemudian mengganti pakaianku dengan piyama warna pink kesukaanku lalu pergi tidur. Sebelum tidur aku sempat memikirkan Yuri. Apa benar dia akan tidak bisa tidur? Biarlah. Kemudian aku tersenyum puas.
Keesokan paginya saat tiba di sekolah, kulihat Yuri turun dari motornya. Tapi aku segera pergi karena tidak ingin dia melihatku sedang memerhatikannya. Dia tiba di kelas tidak lama setelah itu, dengan wajah yang pucat dan rambut yang kusut karena tidak disisir. Saat itu aku berpikir, mungkin dia memang tidak bisa tidur. Karena itu aku menghampirinya unutk menanyakan keadaannya.
“Kau tampak berantakan hari ini. Ada apa?” tanyaku bersimpati.
“Aku tidak bisa tidur sama sekali. Aku terus memikirkanmu.” jawabnya dengan suara lemah.
“Kau sungguh-sungguh?”
“Tentu saja. Kaku kira aku akan bisa tidur nyenyak jika tahu kau masih marah padaku?”
“Aku tidak tahu.”
“Kau hanya tidak mau tahu.” tukasnya.
“Jadi sekarang kau marah padaku?”
“Sama sekali tidak.”
“Maafkan aku.” kataku tulus.
“Kenapa sekarang justru kau yang minta maaf?” tanyanya penuh kemenangan.
“Karena aku telah membuatmu susah.” jawabku jujur.
“Kau bahkan belum memaafkanku.”
“Aku sudah memaafkanmu kok.”
“Tapi kenapa semalam kau tidak membalas pesanku? Kau pasti membacanya kan?”
“Tentu saja. Aku hanya segan membalasnya. Semalam aku memang masih marah, tapi setelah kubayangkan bagaimana menderitanya kau karena tidak bisa tidur semalam, aku jadi merasa sangat bersalah. Maafkan aku, ya.”
“Dengan begini kita impas. Aku senang kau mau memaafkanku.” kata Yuri dengan senyum puas yang merekah lebar di bibirnya.
“Tapi aku tetap ingin tahu kenapa setoples manik-manik itu sangat berharga bagimu.” paksaku.
“Rahasia. Nnti kau juga akan tahu dengan sendirinya. Tunggu saja.” katanya sambil tersenyum.
“Kau memang senang membuat orang penasaran, ya.”
“Memang.” katanya kemudian menguap dengan lebar. “Aku merasa sangat ngantuk. Sekarang aku bisa tidur dengan nyenyak. Oyasumi nasai!!
Dia tidur setelah mengucapkan ‘selamat tidur’ padaku dan tidak bangun sampai jam pulang tiba. Padahal sudah empat guru yang mencoba membangunkannya tapi dia tetap tidak bangun sampai dia merasa puas tertidur. Aku senang karena bisa memaafkannya. Ternyata memang tidak enak rasanya jika membenci ataupun merasa kesal pada seseorang. Itulah yang kualami kemarin.


Jakarta, 4 Februari 2009