Perempuan Pengarang dalam Sastra Indonesia Modern: Pemikiran Oka Rusmini sebagai Pengarang dengan Karya-karya Bertokoh Utama Perempuan oleh...

Pemikiran Oka Rusmini sebagai Pengarang dengan Karya-karya Bertokoh Utama Perempuan

Perempuan Pengarang dalam Sastra Indonesia Modern:
Pemikiran Oka Rusmini sebagai Pengarang dengan Karya-karya Bertokoh Utama Perempuan
oleh Irna Gayatri D. Ardiansyah, 0906641453
Senin, 6 Juni 2011



I. Pendahuluan
            Kesusastraan Indonesia rasanya mulai dikenal sejak Jassin banyak menuliskan kritik dan esainya dalam majalah Sastra. Jassin sekaligus menyumbangkan pikirannya dengan menuliskan periodisasi sastra Indonesia. Usaha Jassin ini telah membuat dirinya dianggap sebagai Paus sastra seakan telah memberikan kehidupan dan tempat yang layak bagi para sastrawan. Bisa dikatakan bahwa banyak sastrawan masih dikenal sampai saat ini karena Jassin yang membahas mereka dalam kritik dan esainya.
            Akan tetapi, tanpa Jassin, kesusastraan Indonesia terus berjalan. Setelah Jassin berhenti menuliskan periodisasinya, masih banyak karya-karya sastra yang bermunculan dari sastrawan-sastrawan yang baru dan muda. Penyebutan sastra Indonesia modern dalam makalah ini bukanlah sebuah penyambungan periodisasi sastra Jassin. Jassin sudah mulai menyebutkan istilah kesusastraan Indonesia modern pada 1954. Istilah yang diajukan Jassin adalah “Kesusastraan Indonesia Modern 1954”. Istilah ini disebutkan dalam pidato Simposium pada Dies Natalies Fakultas Sastra Universitas Indonesia tanggal 5 Desember. Jassin menyebutkan bahwa penyebutan tahun 1954 bukan berarti hanyakesusastraan tahun 1954 saja yang dibahas. Menurut Jassin, tahun 1954 adalah titik pangkal untuk meninjau ke amasa silam, ke sekarang, dan ke masa depan (1967).
Dalam pandangan saya, sastra Indonesia modern dalam hal ini adalah sastra Indonesia yang muncul setelah tahun 1950-an. Hal ini bukan berarti karya-karya yang muncul pada tahun-tahun sebelumnya tidak dianggap sebagai sastra Indonesia modern. Akan tetapi, Jassin sepertinya hanya melihat periodisasinya berdasarkan kriteria apakah karya sastra yang dihasilkan oleh sastrawan tersebut adalah sastra kanon atau bukan. Setelah 1950-an atau—dengan kata lain—pada 1960-an, banyak muncul karya sastra yang sama sekali berbeda dengan karya-karya angkatan Balai Pustaka, Pujangga Baru, atau angkatan setelahnya. Penyebutan sastra Indonesia modern yang saya maksud adalah sastra Indonesia setelah angkatan Jassin atau setelah periodisasi Jassin berhenti.
Korrie Layun Rampan berusaha untuk membuat periodisasinya sendiri dalam buku Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (2000). Hal ini menurut saya merupakan bentuk usaha yang hampir sama dengan yang dilakukan Jassin. Akan tetapi, dalam bukunya, Korrie memasukkan semua sastrawan yang muncul pada tahun 2000-an yang membuat gebrakan dalam dunia sastra. Salah satunya yang termasuk dalam angkatan tersebut adalah Oka Rusmini.
            Oka Rusmini merupakan perempuan pengarang yang telah menghasilkan banyak karya dan beberapa di antaranya telah diakui sastrawan Indonesia dan dunia sebagai karya yang mendobrak zaman, seperti Tarian Bumi. Rusmini merupakan perempuan pengarang pertama yang melakukan pemeberontakan terhadap sistem kalangan di Bali yang menurutnya sangat merugikan perempuan. Oka Rusmini merupakan perempuan Bali dengan pemikiran modern yang ingin membebaskan perempuan dari lingkaran adat yang mengikat. Dalam karya-karyanya, Rusmini banyak memasukkan bentuk-bentuk pemikirannya yang sangat menjunjung tinggi kesetaraan gender.
Sastra sering dilihat sebagai suatu bentuk filsafat, atau sebagai pemikiran yang terbungkus dalam bentuk khusus (1989:134). Karya-karya Rusmini, sedikit banyak, memiliki pemikiran-pemikiran Rusmini sebagai perempuan yang tidak ingin dipandang lebih rendah daripada laki-laki. Berdasarkan pernyataan di atas, saya akan menganalisis kecenderungan pemikiran-pemikiran yang muncul dalam karya-karya Rusmini, mulai dari cerita pendek, novel, sampai puisi. Sebelum masuk ke dalam analisis, saya juga akan membuat pendataan terhadap karya-karya yang telah dihasilkan Rusmini.


II. Oka Rusmini dan Sumbangannya kepada Kesusastraan Indonesia
            Oka Rusmini lahir di Jakarta, 11 Juli 1967. Rusmini merupakan lulusan Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar, Bali dan, setelah lulus dari Universitas Udayana, Rusmini bekerja di Harian Bali Post. Rusmini banyak menulis cerita pendek, novel, puisi, dan cerita anak. Karya-karyanya banyak dimuat di majalah Femina, Horison, dan Kalam. Selain itu, karya-karyanya juga dimuat di beberapa surat kabar nasional, seperti Kompas dan Media Indonesia. Harian Bali Post juga banyak memuat karya-karya Rusmini.
            Salah satu cerita pendek (cerpen) Rusmini adalah “Putu Menolong Tuhan”. Cerpen ini dinobatkan sebagai cerpen terbaik dalam sayembara majalah Femina (1994). Selain itu, beberapa puisinya juga ada yang dimuat dalam antologi Doa Bali Tercinta (1983), Rindu Anak Mendulang Kasih (1987), Bocah-bocah S’Brono, dan Gurat-gurat (2000:531). Kumpulan puisi Rusmini yang telah terbit adalah Monolog Pohon (1997) dan Patiwangi (2003). Rusmini juga telah menerbitkan beberapa novel dan kumpulan cerpennya, seperti Tarian Bumi (2000), Sagra (2001), Kenanga (2003). Cerpennya yanglain adalah “Sepotong Kaki” yang dimuat dalam Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (2000).



III. Oka Rusmini dalam Kesusastraan Indonesia
            Oka Rusmini banyak menulis tentang perempuan. Sebagai perempuan penulis, Oka Rusmini mencoba menyuarakan emansipasi wanita dalam karya-karyanya. Pemberontakan kepada stratifikasi dalam adat Bali sangat rentan menjadi tema dalam karya-karyanya. Sebagai ibu, Rusmini ingin menunjukkan bahwa wanita tidak selalu berada di bawah pria (banyak pendapat yang menyebutkan bahwa perempuan lebih rendah daripada pria dan Rusmini menolak hal ini dalam karya-karyanya).
Tokoh wanita dalam karya-karya Rusmini selalu digambarkan sebagai perempuan Bali yang cantik, kaya, dan bermartabat, tetapi kadang tokoh tersebut tidak mendapatkan cinta sejati. Pola ini ditemukan dalam semua karya-karya prosa Rusmini, baik novel maupun cerpen. Cinta sejati tokoh wanita dalam karya Rusmini biasanya berasal dari kalangan Sudra. Ini menunjukkan betapa Rusmini sangat ingin dirinya tidak dilingkupi perbedaan kalangan. Karya-karya Rusmini seringkali dianggap kontroversial karena mengangkat sejumlah persoalan adat-istiadat dan tradisi Bali yang kolot dan merugikan perempuan, terutama di lingkungan griya, rumah kaum Brahmana.
Mengapa Rusmini banyak menuliskan karya dengan tokoh utama perempuan? Selain karena Rusmini adalah seorang perempuan, Rusmini juga merasa perempuan Indonesia terlalu banyak diliputi kekelaman dan kekerasan hidup. Hal ini juga dirasakan dirinya selama hidupnya. Dia tumbuh dari keluarga yang terpisah atau broken home. Orang tuanya bercerai ketika dia masih kecil dan dia dibesarkan oleh ayahnya di Jakarta yang menikah lagi dengan perempuan lain. Pendidikan yang diterimanya dari ayahnya adalah pendidikan yang keras karena ayahnya adalah seorang tentara. Oka merasakan ketidakadilan di sekelilingnya.
Oka mendapati dirinya dilahirkan dalam kehidupan griya atau keluarga Brahmana. Hal ini membuatnya dituntut untuk menjadi panutan masyarakat yang tertib dan beradab dan dapat menyiapkan segala perlengkapan upacara adat Bali. Dia melihat ketidakadilan dan kesewenang-wenangan kepada perempuan justru muncul dalam kehidupannya di Bali, di kalangan Brahmana.
Oka Rusmini sering disebut sebagai pengarang yang banyak memasukkan unsur-unsur feminis dalam karya-karyanya. Istilah “feminis” pertama kali digunakan di dalam literatur barat baru pada tahun 1880, yang secara tegas menuntut kesetaraan hukum dan politik dengan laki-laki. Istilah ini masih terus diperdebatkan, namun secara umum biasa dipakai untuk menggambarkan ketimpangan jender, subordinasi, dan penindasan terhadap perempuan (Bryson:1992)[1]. Dalam karya-karyanya, Rusmini banyak mengangkat tema kekerasan seksual terhadap wanita. Seringkali dalam karyanya wanita digambarkan sebagai tokoh yang kehilangan jati dirinya dan hanya memiliki tubuh untuk dinikmati oleh para pria. Hal inilah yang melatarbelakangi pendapat orang-orang yang menyebutkan bahwa karya-karya Oka Rusmini kental dengan feminisme.
Akan tetapi, membicarakan feminisme dalam era postmodern seperti sekarang ini bukanlah hal yang mudah. Makna feminisme telah meluas dan bagi beberapa kalangan justru menghasilkan ideologi baru, seperti feminisme radikal, yang malah terkesan tidak menghormati kaum pria. Dalam hal ini, istilah “feminis” yang menempel pada Oka Rusmini tidaklah bermakna sejauh itu. Kembali kepada makna istilah “feminis” secara umum, yaitu istilah yang dapat menggambarkan penindasan terhadap perempuan, di sanalah Oka Rusmini menempatkan dirinya dalam istilah tersebut.
Karya-karya Rusmini, antara satu dan yang lain, memiliki banyak kesamaan. Hal ini tentu saja karena pemikiran-pemikiran yang dituangkan Rusmini dalam karyanya adalah permasalahan perempuan seputar “feminisme”. Dalam Sagra dan Tarian Bumi, terlihat pola yang telah saya sebutkan di atas, yaitu terdapat percintaan antara perempuan dari kalangan Brahmana dengan laki-laki dari kalangan Sudra. Penggambaran yang dilakukan oleh Rusmini terhadap laki-laki dari kalangan Brahmana dalam karya-karyanya adalah laki-laki yang senang main judi, mabuk-mabukan, dan meniduri banyak perempuan.
Sebagai contoh, dalam “Sagra”, kehidupan Ida Bagus Astara berakhir dengan kematiannya di sebuah hotel besar dalam pelukan pelacur dan Ida Bagus Baskara yang hanya bisa berfoya-foya diceritakan tenggelam di Kali Badung akibat meminum minuman keras. Penggambaran lainnya terhadap laki-laki dari kalangan Brahmana ada dalam cerpen “Pemahat Abad” dan “Cenana”. Ayah dari Ida Bagus Made Kopag juga digambarkan berperilaku buruk dengan sering mabuk-mabukan dan meniduri banyak perempuan. Sebagai akibatnya, Ida Bagus Made Kopag buta karena menjadi penebus dosa ayahnya. Dalam “Cenana”, penggambaran Rusmini terhadap laki-laki dari kalangan Brahmana juga kurang lebih sama, yaitu berperilaku buruk serta suka mabuk-mabukan dan meniduri banyak wanita.
Perempuan dalam karya-karya Rusmini juga digambarkan sebagai perempuan yang sudah tidak mengenali tubuhnya lagi karena tubuhnya telah dimiliki oleh orang lain. Kehidupan tokoh-tokoh perempuan dalam karya-karyanya selalu suram dan tidak memiliki penguasaan terhadap tubuhnya. Dalam “Sepotong Kaki”, sang perempuan di akhir cerita memotong kakinya sendiri karena sudah tidak mengenali lagi kakinya yang seksi. Ciri seperti inilah yang muncul dalam setiap karya Oka Rusmini. Dengan kata lain, Rusmini ingin menunjukkan sisi buruk laki-laki, khususnya kalangan Brahmana, yang dianggap sebagai orang yang paling dihormati di Bali.
Rusmini menunjukkan pemikirannya yang menjunjung kesetaraan gender dengan menunjukkan sisi buruk laki-laki Brahmana. Rusmini yang merasakan ketidakadilan terhadap perempuan selama berada dalam kalangan Brahmana memberontak dengan cara ini. Dia merasa perempuan tidak dihargai di sana dan dari sanalah dia menyumbangkan pemikirannya yang kritis terhadap adat Bali yang dianggapnya telah banyak merugikan perempuan. Pemikirannya tersebut juga dilatarbelakangi oleh kehidupan keluarganya—ayah dan ibunya—yang tidak akur dan akhirnya bercerai. Rusmini merasa ayahnya telah memperlakukan ibunya dengan tidak adil dan hal ini juga yang mendasari pemikiran-pemikiran “feminis” Rusmini dalam karya-karyanya.

  

IV. Penutup
            Oka Rusmini adalah perempuan pengarang yang banyak menulis karya yang menjunjung tinggi kesetaraan gender dan mengutuk penindasan terhadap perempuan. Rusmini yang dilahirkan dalam kalangan Brahmana merasakan adanya ketidakadilan terhadap perempuan di sana dan hal ini menjadi dasar pemikiran-pemikiran dalam setiap karyanya. Pola yang muncul dalam setiap karyanya, yaitu laki-laki dari kalangan Brahmana selalu berperilaku buruk dan banyak meniduri wanita, telah menjadi cirri-ciri karya Rusmini. Pola inilah yang semakin memperkuat kesan “feminis” dalam diri Rusmini dan karyanya. Pemikiran-pemikiran yang disampaikan Rusmini dalam karya-karyanya bukanlah sekadar hiasan, melainkan merupakan bentuk protes Rusmini terhadap kehidupan yang menurutnya tidak adil bagi perempuan. Tokoh perempuan dalam karya-karyanya digambarkan menderita kekelaman hidup dan penindasan dari kaum pria dan sebagian besar tidak berakhir dengan kebahagiaan—tokoh perempuan tidak mendapatkan cinta sejatinya. Hal ini dilakukan Rusmini untuk menunjukkan bahwa ketidakadilan dan penindasan terhadap perempuan sampai saat ini masih ada dan perempuan di dunia nyata seharusnya menjadi lebih kuat daripada tokoh perempuan dalam karya-karyanya.





Daftar Pustaka
Arivia, Gadis. 2006. Feminisme: Sebuah Kata Hati. Jakarta: Kompas.
Budianta, Melani. 1989. Theory of Literature. terj. dr. Wellek, Rene dan Austin Warren. Jakarta: Penerbit PT Gramedia.
Jassin, H.B. 1967. Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei. Jakarta: Gunung Agung.
Layun Rampan, Korrie. 2000. Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia. Jakarta: Grasindo
Retnaningsih, Dra. Aning. 1983. Roman dalam Masa Pertumbuhan Kesusastraan Indonesia Modern. Jakarta: Erlangga.


Sumber Internet
Dodiek Adyttya Dwiwanto. 4 Juni 2011. http://groups.yahoo.com/group/pasarbuku/message/14738.



[1] Dikutip dari “Pendobrakan yang Tiada Hentinya” dalam Feminisme: Sebuah Kata Hati (2006).




*Makalah akhir untuk mata kuliah Perkembangan Sastra Indonesia


You may also like

Tidak ada komentar: