Epistemologi Immanuel Kant Filsafat Pencerahan pada Zaman Pencerahan oleh Irna Gayatri D. Ardiansyah, 0906641453 Dalam perkembangan fils...

Tugas Mata Kuliah Pengantar Filsafat dan Pemikiran Modern: Epistemologi Immanuel Kant


Epistemologi Immanuel Kant
Filsafat Pencerahan pada Zaman Pencerahan
oleh Irna Gayatri D. Ardiansyah, 0906641453



Dalam perkembangan filsafat, Aufklärung telah membuat banyak perubahan di Barat dan memunculkan banyak pemikiran-pemikiran baru. Kant merupakan salah satu filsuf yang hidup pada masa itu dan turut serta menyumbangkan pemikirannya yang dianggap sebagai penyempurnaan zaman pencerahan. Menurut Kant dalam Sari Sejarah Fisafat Barat 2, Aufklärung atau zaman pencerahan adalah zaman manusia keluar dari keadaan tidak akil balik, yang disebabkan karena kesalahan manusia sendiri (1991: 47). Filsafat Kant juga muncul pada masa ini.
Sebelumnya, pemikiran yang berkembang di Barat adalah pemikiran dogmatis gereja katolik atau dogmatisme. Dalam hal ini, filsafat Kant telah membawa pencerahan bagi logika manusia. Filsafat Kant adalah pemikiran baru yang berlawanan dengan dogmatisme. Menurut Kant, manusia harus dapat mempertanggungjawabkan segala sesuatu dengan kritis. Inilah awal mula Filsafat Kant yang disebut kritisisme.
Menurut Joko Siswanto[1]—sebagaimana dikutip oleh Maftukhin dan Alim Roswantoro—pemikiran Kant dapat dipetakan menjadi empat periode, yaitu:

Pertama, ketika ia masih berada di bawah bayang-bayang Leibniz-Wolf sampai tahun 1760. Periode pertama biasa disebut dengan periode rasionalistik. Kedua, berlangsung antara tahun 1760 sampai tahun 1770, yang ditandai dengan semangat skeptisisme, yang dikenal dengan periode empiristik, karena dominasi pemikiran empirisme Hume. Karya yang muncul adalah Dream of Spirit Seer. Ketiga, dimulai dari tahun 1770, yang dikenal dengan periode kritis. Karya yang muncul di antaranya adalah Kritik der reinen Vernutft (the Critique of Pure Reason) pada tahun 1781, yang kemudian direvisi pada tahun 1787; Prolegomena to Any Future Metaphysics (1785); Metaphysiical Foundation of Rational Science (1786); Critique of Practical Reason (1788); dan Critique of Judgment (1790). Keempat, berlangsung antara tahun 1790 sampai akhir hayatnya, 1804. Pada periode ini, perhatian Kant lebih pada persoalan-persoalan agama dan sosial. Karya yang terpenting adalah Religion Within the Boundaries of Pure Reason (1793); Religion Within Limits of Pure Reason (1794); dan sekumpulan essai yang berjudul Eternal Peace (1795)”[2].

Leibniz-Wolff dan Hume bisa dikatakan sebagai wakil dari dua aliran pemikiran dalam konstelasi filsafat yang kuat melanda Eropa pada masa Pencerahan. Kedua filsuf tersebut telah memberikan pengaruh besar terhadap epistemologi Kant. Bahkan, menurut Kant, buku-buku Hume-lah yang telah menyadarkannya dari kesalahan dogmatisme.
Secara etimologi, epistemologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata yaitu epistem yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti ilmu. Jadi epistemologi berarti ilmu yang mengkaji segala sesuatu tentang pengetahuan. Pengetahuan adalah apa yang dikenal atau hasil pekerjaan tahu[3]. Immanuel Kant dilahirkan di Koningsberg, Jerman. Epistemologi Kant pun pertama kali muncul di Jerman sebagai bentuk kritik Kant terhadap dogmatisme yang telah berkembang berabad-abad dsebelumnya.
Epistemologi Kant adalah filsafat yang mencoba memisahkan antara rasionelisme dan empirisme. Di dalamnya, terdapat kritisisme dan sintesisme. Pada dasarnya, Kant ingin mengubah permukaan filsafat secara radikal dengan melakukan sentralisasi pada diri manusia sebagai subjek berpikir. Implikasinya, Kant tidak mengawali dengan investigasi atas benda-benda sebagai objek, melainkan investigasi terhadap struktur-struktur subjek yang memungkinkan mengetahui benda-benda sebagai objek. Dalam hal ini, tanpa kita sadari, sebenarnya, pengetahuan lahir karena manusia dengan akalnya secara aktif dan mengonstruksi gejala-gejala yang dapat ditangkap. Upaya-upaya filosofis Kant ini dikenal dengan kritisisme atau filsafat kritis[4]. Filsafat Kant bermaksud membeda-bedakan antara pengenalan yang murni dan yang tidak murni, yang tiada kepastiannya. Filsafatnya dimaksud sebagai penyadaran atas kemampuan-kemampuan rasio secara obyektif dan menentukan batas-batas kemampuannya, untuk memberi tempat kepada iman kepercayaan (1991: 64).
Kant memiliki pendapat lain yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari epistemologi. Menurut Kant, syarat dasar bagi segala ilmu pengetahuan adalah (a) bersifat umum dan bersifat perlu mutlak dan (b) memberi pengetahuan yang baru (1991: 66). Dalam hal ini, Kant memberikan pengertian bahwa baik empirisme maupun rasionalisme sebenarnya tidak memenuhi syarat-syarat yang situntut oleh ilmu pengetahuan. Kemudian, Kant juga mempertanyakan bagaimana sebuah keputusan yang sintesis, namun tidak bergantung pada pengalaman.
Untuk menjawab hal ini, Kant membuat tiga kategori putusansebagai kritik atas rasio murni, yang disebutkan sebagai berikut dalam makalah Mohamad Yahya.
Pertama, putusan analitis a priori (a priori analytical judgment), di mana predikat tidak menambah sesuatu yang baru pada subjek, karena sudah termuat di dalamnya, misalnya setiap benda menempati ruang; Kedua, putusan sintesis aposteriori (aposteriori sintetical judgment), di mana predikat dihubungkan dengan subjek berdasarkan pengalaman inderawi. Misalnya pernyataan “meja itu bagus”, putusan predikat “bagus” dihubungkan dengan subjek “meja” didasarkan atas pengalaman inderawi yang tentunya sebelumnya pernah melihat meja yang lain (baca: proses perbandingan); Ketiga, putusan sintesis a priori (a priori sintetical a priori), misalnya segala kejadian mempunyai sebabnya. Putusan model demikian berlaku umum dan mutlak (a priori) dan bersifat sintetis aposteriori, karena dalam pengertian “kejadian” belum dengan sendirinya tersirat pengertian “sebab”. Maka dalam putusan ini, baik akal maupun pengalaman inderawi dibutuhkan serentak. Menurut Kant, sebagaimana dilansir Muslih, jenis putusan ketiga inilah syarat dasar bagi apa yang disebut pengetahuan (ilmiah) dipenuhi, yakni bersifat umum dan mutlak serta memberi pengetahuan baru.”
Kant berusaha untuk menyajikan pengetahuan yang dapat dipenuhi, yaitu bersifat umum, mutlak, dan memberi pengertian baru (sintesis). Jadi dapat disimpulkan bahwa proses keilmuan terjadi melalui sintesis dari unsur-unsur yang ada sebelum pengalaman (a priori) dengan unsur-unsur yang ada setelah pengalaman.
Metode kritik yang mendudukkan dua kawasan bermasalah antara rasionalisme dan empirisme dalam mencari pengetahuan. Dari itu sintesis antara keduanya adalah solusi yang dikembangkan oleh Kant.  Dalam ini, Kant menjelaskan bahwa ciri pengetahuan adalah bersifat umum, mutlak dan memberi pengertian baru. Asumsi dasar keilmuan Kant, yaitu kritisisme adalah proses kelimuan dalam mencari kebenaran. Dalam asumsi tersebut, Kant mencoba menyelesaikan pertentangan antara rasionalisme dengan empirisme. Metode berfikir kant disebut kritisisme atau metode kritis. Pada awalnya kant mengikuti akal atau rasio (rasionalisme) sebagai tolak ukur dalam mencari kebenaran dalam proses keilmuan. Menurut Hadiwijono, dalam filsafatnya, Kant bermaksud memugar sifat obyektifitas dunia dan ilmu pengetahuan. Agar supaya maksud itu terlaksana orang harus menghindarkan diri dari sifat sepihak rasionalisme dan dari sifat sepihak empirisme (1991: 65).
Kant telah membuat suatu pemikiran yang sangta hebat. Dengan epistemologinya, Kant telah mengantarkan masyarakat modern Barat ke dalam tahap pengetahuan yang berdasarkan pengetahuan. Dengan kata lain, pengetahuan yang dapat dibuktikan, bersifat umum dan bersifat perlu mutlak, dan memberi pengetahuan yang baru. Epistemologi yang dimunculkan dari pemikiran Kant adalah epistemologi yang berdasarkan pada penelitian subjek, bukan objek. Jadi, menurut Kant, subjeklah yang membuat ojek itu ada dan menjadi berbeda dengan objek yang lain. Karena subjek berpikir demikian, maka objek pun dianggap ada oleh pemikiran subjek tersebut. Inilah yang ditekankan oleh Kant. Kant merasa bahwa perlu sekali melakukan pengenalan terhadap pengenalan itu sendiri sehingga dihasilkanlah a priori.
A priori yang diungkapkan oleh Kant adalah tahap awal dalam pengenalan manusia. Kant ingin manusia sebagai subjek benar-benar memahami bahwa ilmu pengetahuan yang berdasarkan atas rasio murni adalah ilmu pengetahuan yang sebenarnya.
Pada dasarnya, pemikiran Kant telah menjadi dasar bagi pemikiran-pemikiran modern Eropa. Hal ini disebabkan oleh kritik Kant terhadap pemikiran-pemikiran yang telah ada sebelumnya. Kant telah membuat pemikiran yang hebat dan masih terterima sampai saat ini.
Filsafat Kant mengandung kritik terhadap semua filsafat-filsafat yang telah ada sebelumnya. Kant mencoba membuka pemikiran baru yang lebih berdasarkan pada pengetahuan. Oleh karena itu, epistemologi Kant adalah dasar pemikiran baru bagi pemikiran filsafat berikutnya karena di dalamnya Kant banyak menentang epistemologi yang sudah ada sebelumnya, seperti yang diungkapkan oleh Hume dan Leibniz.


Sumber Pustaka
Hadiwijono, Dr. Haru. 1991. Sari Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: Kanisisus.


Sumber Internet

Aidhil Fitriansyah dan M. Ali Sabana. “Epistemologi Immanuel Kant”. 5 April 2011.

Mohamad Yahya. “Sintesisme Rasionalisme-Empirisme: Mengenal Konstruksi

Epistemologi Immanuel Kant”

http://www.mohammadmuslih.com/index.php/2010/05/28/epistemologi

immanuel-kant/



[1] Dikutip dari makalah Yahya Zakariya dalam http://mohamadyahya.wordpress.com/2011/03/22/sintesisme-rasionalisme-empirisme-mengenal-konstruksi-epistemologi-immanuel-kant/
[2] Dikutip dari Maftukhin, op. Cit. 67-68.; dan Alim Roswantoro, “Logika Transendental Kant dan Implikasinya Bagi Kemungkinan Pengetahuan Islam” dalam Al-Jami’ah: Journal of Islamic Studies, Vol. 38, No. 2, Tahun 2000, hlm. 395 dan ulasan Joko Siswanto pada Joko Siswanto, Sistem Metafisika Barat: Dari Aristoteles Sampai Derrida (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 57 melalui http://www.mohammadmuslih.com/index.php/2010/05/28/epistemologi-immanuel-kant/
[3] Dikutip dari satriabulan.blogspot.com/2008_12_01_archive.html melalui http://www.mohammadmuslih.com/index.php/2010/05/28/epistemologi-immanuel-kant/

[4] Dikutip dari Makalah Mohamad Yahya, “Sintesisme Rasionalisme-Empirisme: Mengenal Konstruksi Epistemologi Immanuel Kant” melalui http://www.mohammadmuslih.com/index.php/2010/05/28/epistemologi-immanuel-kant/



You may also like

1 komentar: