“Selamat datang dan selamat menjalani kegiatan belajar di sekolah ini.” Pidato kepala sekolah berakhir setelah mengatakan hal itu. Bosan ...

“Selamat datang dan selamat menjalani kegiatan belajar di sekolah ini.” Pidato kepala sekolah berakhir setelah mengatakan hal itu.
Bosan sekali rasanya harus mendengarkan ocehan panjang lebar yang tidak penting di hari pertama aku masuk sekolah. Untunglah, aku membawa ipod-ku. Ketika murid-murid yang lain terpaksa harus mendengarkan ocehan kepala sekolah, aku bisa sedikit mengistirahatkan telingaku dengan mendengarkan musik. Ketika pidatonya selesai, aku melepaskan headset-nya dan segera mengikuti teman-teman satu barisanku menuju ke kelas.
Aku masuk kelas 1-2. Teman-teman sekelasku adalah anak-anak yang sepertinya berasal dari sekolah yang sama. Kulihat mereka sudah saling kenal satu sama lain. Aku duduk di barisan tengah, bangku ketiga dari depan. Sekolah ini adalah sekolah swasta yang cukup bagus. Seragamnya cukup bergaya dan kami memiliki kartu tanda pengenal masing-masing yang harus kami bawa setiap hari untuk menandai kehadiran kami. Kartu ini mulai bisa digunakan besok. Sebagai ganti guru-guru memanggil nama kami untuk mengecek kehadiran kami sebelum kelas dimulai, kami harus menggesekkan kartu tersebut di mesin yang ada di samping meja guru pengawas atau guru yang bertugas piket.
Kami belum mulai belajar. Guru pertama yang masuk adalah guru kimia yang hanya memperkenalkan diri dan memberikan selembar silabus. Dia guru yang sistematis, terlihat dari cara bicaranya. Dari guru berikutnya, aku mengetahui bahwa kelas kami berisi murid-murid baru yang diterima dengan nilai tertinggi. Aku cukup senang mengetahui hal itu.
Bel berbunyi tiga kali, menandakan waktu istirahat pertama. Aku segera pergi. Aku ingin segera bertemu Kak Toshi. Aku tiba di Jepang satu minggu yang lalu. Dua hari kemudian, aku menelepon Satsuki dan menanyakan di mana sekolah Kak Toshi sekarang. Aku meminta Satsuki merahasiakan kadatanganku. Ini kejutan, kataku. Sekarang, aku sudah berada di sekolah Kak Toshi. Sekarang, aku ingin bertemu.
Sayang sekali, sekolah ini cukup luas. Aku juga tidak mengetahui kelas Kak Toshi. Jadi, pencarianku siang itu cukup sulit. Ada 9 kelas untuk murid tingkat 3. Kak Toshi tidak ada di kelas 3-1 dan 3-2. Di kelas 3-3, Kak Toshi juga tidak ada. Tapi, aku pikir, tidak ada salahnya bertanya kepada senior yang lain. Mungkin saja Kak Toshi hanya sedang pergi ke toilet atau semacamnya. Jadi, kuputuskan bertanya pada 3 orang siswi senior yang sedang mengobrol di depan pintu kelas.
“Permisi, senpai. Apa Kak Toshi di kelas ini?”
“Toshi?” salah seorang senpai yang berambut merah mengangkat alisnya dan bertanya.
“Kau junior ya? Kelas 1?”
“Iya.”
“Di sekolah ini mungkin ada puluhan orang bernama Toshi. Jadi, mana aku tahu Toshi yang kau cari ada di kelas ini atau tidak. Bodoh!”
Setelah berkata begitu, mereka masuk ke dalam kelas. Aku sedikit kesal mendengarnya. Tapi, aku tidak ingin mencari masalah pada hari pertamaku bersekolah lagi di Jepang. Aku baru saja akan pergi ketika seorang siswa senior menyapaku.
“Hei, kau murid kelas 1 ya? Sedang apa berkeliaran di lorong kelas 3?”
“Aku sedang mencari Kak Toshi.”
“Toshi?” temannya bertanya sambil memandang senior itu.
“Hei, daripada kau mencari Toshi yang tidak kukenal itu, lebih baik kau main saja bersama kami. Ayo, kita pergi ke atap.” dia menarik tanganku. Aku segera melepaskan tanganku darinya.
“Maaf, aku harus mencari Kak Toshi. Permisi.” Setelah mengatakan itu, aku pergi. Tapi, orang itu masih bersikeras. Dia memegang tanganku dan mendorongku ke tembok. Lorong cukup ramai saat itu. jadi, kupikir, dia tidak akan berbuat macam-macam di sini.
“Berani sekali kau menolakku, dasar anak baru! Kau pikir dirimu cantik karena aku menginginkanmu?”
“Hei, Sanada. Sudahlah. Dia hanya anak baru.” Temannya berusaha menenangkan. Sanada, jika benar itu namanya, keliohatannya sangat marah padaku.
“Maaf, tapi aku sedang mencari orang. Aku tidak ada waktu untuk bermain atau semacamnya.” Kukatakan lagi dengan tegas.
“Kau…!”
“Haru?” terdengar suara dari belakang si Sanada. Suara itu memanggil namaku, nama kecilku.
“Kau Haru ‘kan?” Suara itu memanggilku lagi. Si Sanada menyingkir dan berbalik ke arah suara itu berasal. Aku bisa melihat seseorang yang memanggilku berdiri di sana.
“Ternyata benar. Kau masuk sekolah ini? Sedang apa di sini?”
“Morishita-san! Senang sekali bisa bertemu denganmu di sini.”
“Kau mengerjai anak baru lagi, Sanada?”
“Bukan urusanmu! Pergilah!”
“Dia temanku. Sebaiknya kau tidak menyakitinya atau tangan ini akan melayang di wajahmu.”
“Cih! Tukang ikut campur! Ayo, Ken.”
Dia dan temannya pergi, si Sanada itu. Aku berlari menghampiri Morishita-san dan memeluknya. Aku juga sudah lama tidak bertemu dengannya. Dia teman sekelas Kak Toshi.
“Kudengar dari Toshi, kau pergi ke Jerman.”
“Iya, benar.Minggu lalu, aku kembali lagi ke Jepang karena urusanku di Jerman sudah selesai. Oh iya, apakah kelas Kak Toshi di sini?”
“Ah, kau mencari Toshi. Dia di kelas 3-7. Di sini kelasku.”
“Oh, begitu. Terima kasih, Morishita-san!”
“Cukup panggil aku Tetsu. Oh iya, kalau kau butuh sesuatu, seperti buku pelajaran atau semacamnya, kau bisa mencariku di sini.”
“Iya, terima kasih. Sampai jumpa.”
Aku segera pergi ke kelas 3-7. Di sana ada beberapa kelompok murid yang sedang berkumpul. Dalam salah satu kelompok itu, aku bisa melihat punggung Kak Toshi. Aku tahu itu. Dia sedang duduk di meja dan tertawa keras. Rambutnya sedikit panjang, paling tidak jauh lebih panjang dibandingkan ketika terakhir kali aku melihatnya. Dia tinggi dan tidak berubah.
Aku hampir melompat saat itu, namun segera kuurungkan karena aku sedang berada di lorong sekolah. Aku tidak mau murid-murid yang lain melihatku dan mengira agak tidak waras. Jadi, aku memanggil Kak Toshi untuk memastikan.
“Kak Toshi!”
Kak Toshi menengok. Dia terkejut melihatku berdiri di depan pintu kelasnya. Dia lalu berdiri dan menghampiriku. Kami berdiri berhadapan. Kak Toshi hanya menatapku, tidak mengatakan sepatah kata pun. Aku memeluknya.
“Aku senang bertemu Kak Toshi lagi!” aku berseru.
“Haru? Kau sudah kembali?”
“Iya. Kak Toshi kaget?” aku melepaskan pelukanku.
“Iya. Haru..” dia memelukku lagi. “Ayo!” dia menarik tanganku dan aku mengikutinya.
Kami ke atap sekolah. Di sana ada beberapa murid lain yang sedang mengobrol dan makan. Kak Toshi menarikku sampai ke pagar pembatas lalu duduk dan bersender di pembatas itu. Aku masih berdiri. Dia menatapku.
“Kenapa masih bersiri? Duduklah. Aku ingin membicarakan banyak hal denganmu.”
“Ah, iya.”
Aku duduk di sampingnya. Jarak kami sangat dekat. Aku bisa merasakan jantungku hampir melompat keluar dari tempatnya. Akhirnya aku bertemu Kak Toshi. Aku memekik pelan dalam hati. Rasanya seperti semua kebahagiaan seumur hidupku menumpuk saat itu. Tapi, itu terlalu berlebihan.
“Kau tidak berubah, ya.”
“Kak Toshi juga. Tetap saja lebih tinggi dariku.”
“Kau saja yang terlalu kecil.”
“Tidak! Aku tambah tinggi, kok. Sekarang tinggi badanku adalah 162 cm. Aku lumayan tinggi di kelasku.”
“Tapi kau masih lebih pendek dariku. Tinggiku sekarang 184 cm.” dia tertawa. “Aku ingat, dulu kau pernah bilang suatu saat nanti kau akan menjadi lebih tinggi dariku. Waktu itu aku bilang tidak mungkin ‘kan? Ternyata memang tidak mungkin, ‘kan?” dia tertawa lagi. Kali ini jauh lebih keras dari sebelumnya.
Kak Toshi berubah. Sekarang, dia dapat tertawa lepas. Dulu, dia hanya tertawa di depanku. Sekarang, baru saja kulihat dia tertawa keras bersama teman-temannya. Wajahnya juga terlihat lebih ceria, padahal aku tidak ada. Sekilas tadi aku merasa hatiku berlubang. Sakit sekali. Aku bertanya dalam hati, padahal, selama ini aku tidak ada. Tapi, mengapa Kak Toshi bisa kelihatan begitu bahagia?
“Kau di kelas berapa?“
“Aku masuk kelas 1-2.”
“Wah! Itu ‘kan kelas untuk anak baru dengan nilai tinggi. Hebat!”
“Ah, tidak juga. Aku pasti ada di urutan terakhir di antara teman-teman yang lain. Aku ‘kan tidak terlalu pandai dalam matematika dan kimia.”
“Kau masih suka merendah begitu. Oh iya, kau ikut klub apa?”
“Klub? Mmm.. sebenarnya aku ingin ikut klub teater. Di sekolahku yang dulu, aku ikut klub teater.”
“Tapi, di sini ‘kan…”
“Tidak ada klub teater. Iya, aku baru tahu. Jadi, sekarang aku bingung. Kak Toshi ikut klub apa?”
“Aku ikut klub sepak bola. Klub sepak bola Suzumiya ini cukup dikenal di Tokyo lho.”
“Oh.. Aaaa!”
“Kenapa berteriak begitu?”
“Aku ikut klub sepak bola saja. Supaya aku bisa terus bersama Kak Toshi.”
“He? Memangnya kau bisa bermain sepak bola?”
“Tidak. Aku akan menjadi manajer.”
“Tapi, kami sudah punya manajer.”
“Memangnya tidak boleh ada dua manajer?”
“Tidak juga, sih. Kalau begitu, aku akan tanyakan pada ketua. Sepulang sekolah nanti, kau bisa ikut ke lapangan dan bicara pada ketua.”
“Toshi! Aku mencarimu ke mana-mana! Eh, ini siapa?”
“Ah, kenalkan. Ini Haruhi, sepupuku. Dia murid kelas 1. Mmm.. Haru, ini…”
“Hai, Haru. Aku Hikari, pacar Toshi. Senang berkenalan denganmu.” Dia tersenyum sambil mengulurkan tangannya padaku.
“Pacar Kak Toshi? Itu berarti.. orang yang disukai Kak Toshi?” aku bertanya, hanya berbisik, lebih kepada diriku sendiri.
“Apa?”
Tidak ada yang mendengarnya. Hanya aku yang menggumam sendiri.
“Ah, iya. Aku lupa. Aku harus kembali ke kelas.”
“Oh iya, nanti sore aku akan menjemputmu di kelas. Kita ke lapangan bersama. Tunggu aku, ya.”
Aku mengangguk lalu segera pergi. Aku melewati lorong dengan langkah kecil. Aku menunduk. Aku bahkan tidak ingin melihat orang-orang di sekelilingku. Aku langsung berlari menuju kelas dan kembali ke tempat dudukku. Kukeluarkan ipod-ku dan segera kupasang headset-nya di telingaku. Lagu yang kuputar adalah A Silent Letter dari L’Arc~en~Ciel. Kepalaku kubenamkan di tangan. Kurasakan panas menjalari pipiku. Ternyata, air mataku jatuh. Sepertinya hatiku memang berlubang. Air mata ini jatuh pasti karena hatiku sakit, sangat sakit. Lagu itu sama sekali bukan lagu yang tepat untuk situasi sekarang. Hatiku semakin sakit.
***
bersambung...

Suara itu selalu terdengar samar di telinga Haru. Ah, tidak. Sebenarnya, Haru tidak mendengar apa-apa ketika dia sedang sendiri, atau ketik...

Suara itu selalu terdengar samar di telinga Haru. Ah, tidak. Sebenarnya, Haru tidak mendengar apa-apa ketika dia sedang sendiri, atau ketika dia sedang menatap langit dari jendela kamarnya yang tinggi. Dia tidak mendengar suara itu. Suara itu hanya telah terekam di otaknya dengan sangat baik. Haru hampir selalu bisa mengingat suara itu, kapan pun dan di mana pun dia menginginkannya. Suara berbisik yang sangat lembut.

***

“Kau sakit apa?” tanya Toshi.
“Tidak tahu. Ibu bilang jantungku sakit.”
“Coba kuperiksa.” kata Toshi sambil menempelkan telinganya ke dada Haruhi.
“Apa jantungku benar sakit, Kak Toshi?”
“Ah! Sepertinya jantungmu sakit karena kemarin kau tidak memakai payungmu saat hujan.”
“Apa jantungku akan sembuh?”
“Tentu. Nezumi-san bilang kau akan sembuh. Pasti.”
“Ibu juga selalu bilang begitu padaku.” Setelah mengatakan itu, Haru diam. “Kak Toshi, aku ingin bermain lagi dengan Kak Toshi.”
“Kalau kau mau meminum obat dan menuruti kata-kata dokter, kau pasti akan sembuh. Setelah sembuh, kita bisa bermain bersama lagi. Nanti kita akan mencari kumbang saat musim panas tiba. Setuju?”
“Wah! Iya! Aku mau! Setuju!”
“Kalau begitu, cepatlah sembuh.”
***

“Kak Toshi! Ayo kita ke taman!”
“He? Untuk apa?”
“Aku ingin bermain! Besok ‘kan aku sudah tidak ada di sini, jadi tidak akan bisa bermain di taman itu lagi. Ayo, Kak Toshi, temani aku!”
Haru menarik tanganku.
“Baiklah. Tapi, aku bilang ibu dulu.”
Aku pergi menemui ibu dan segera kembali pada Haru.
“Ibu bilang kita harus pulang sebelum jam 7.”
“Ok!”
Haru tersenyum. Dia kelihatan senang sekali hari ini. Aku selalu suka senyum Haru yang manis. Sepanjang jalan, Haru tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya melihat sekelilingnya sambil tersenyum dan sesekali hal itu dilakukan sambil menatap langit.
“Aku suka sekali semua yang ada di sini.”
“Kenapa?”
“Tidak tahu. Aku punya banyak hal menyenangkan di sini.”
“Kau ‘kan baru satu tahun tinggal di sini.”
“Iya, tapi aku senang. Senang sekali. Ah! Aku mau main ayunan! Kak Toshi juga ikut main, ya! Dorongkan aku!”
Aku mengangguk. Haru berlari menuju ayunan yang biasa kami mainkan sepulang sekolah. Haru dan aku sekolah di tempat yang sama. Aku kelas 5, sedangkan Haru baru kelas 3. Orang tua Haru adalah orang-orang yang paling sibuk di dunia, menurutku. Haru selalu merasa kesepian karena orang tuanya hampir tidak pernah ada di rumah. Haru hanya tinggal oleh pelayan-pelayan dan pengasuh yang disewa orang tuanya.
Dua tahun yang lalu, aku berkunjung ke rumah Haru bersama adik dan orang tuaku. Di sana, kami bermain sampai puas. Haru kelihatannya sangat menikmati semua permainan yang kami mainkan hari itu. Setahun kemudian, orang tua Haru datang ke rumahku dan mengatakan ingin menitipkan Haru di rumahku. Haru akan sekolah di sekolahku. Orang tuaku tidak keberatan dan merasa sangat senang bisa membantu. Haru akhirnya tinggal di rumahku. Ibu bilang, Haru tidak merasa kesepian saat bersama kami, aku dan adikku. Haru anak yang baik.
“Kak Toshi…”
“Apa?”
“Sebenarnya, aku tidak ingin pergi.”
“Mmm?”
“Tapi ibu bilang jantungku akan sembuh kalau aku pergi bertemu dokter di sana.”
“Iya.”
“Aku dengar semuanya, ketika dokter dan ibu berbicara di kamarku. Mungkin, ibu mengira aku sudah tidur. Tapi, aku sebenarnya hanya memejamkan mataku sebentar. Saat itu, ibu bilang akan melakukan apa saja supaya jantungku tidak sakit lagi. Lalu, ibu menangis.”
“Nezumi-san pasti sedih karena kau sakit.”
“Karena itu, aku ingin sembuh. Aku tidak ingin ibu menangis lagi.”
Aku berhenti mendorong ayunannya. Haru menengok menatapku.
“Ah, sudah hampir gelap. Tadi bibi Miho bilang harus pulang sebelum jam 7 ‘kan? Kalau begitu, kita pulang saja.”
“Tapi kau bilang tadi ingin bermain.”
“Aku sudah puas bermain. Aku capek, ingin segera tidur. Ibu bilang, besok kami akan berangkat pagi-pagi sekali. Jadi, aku tidak boleh tidur terlalu malam.”
“Ah, begitu.”
Haru menderita kelainan jantung. Tidak seperti anak-anak seusianya, Haru tidak bisa berlari-lari mengejar kupu-kupu atau melompat seperti kelinci. Ini juga baru diketahui beberapa bulan yang lalu. Haru sakit dan dia mengira hanya jantungnya yang sakit, bukan dirinya. Untuk mengobati penyakitnya itu, orang tua Haru akan membawa Haru ke Jerman besok.
Kami berjalan menyusuri jalan yang tadi sudah kami lewati. Aku menggandeng Haru seperti biasa. Tapi, saat melihat matahari mulai terbenam, Haru melepaskan genggamanku.
“Kak Toshi! Lihat! Bagus sekali! Warnanya merah dan bentuknya bulat seperti telur! Aku jadi lapar.”
Aku tertawa. Haru berjalan sambil melompat lalu berhenti. Dia mengangkat kedua tangannya sambil menarik napas panjang lalu membuangnya sampai mengeluarkan bunyi “fuah!”.
“Kak Toshi.. Aku sangat menyukai Kak Toshi. Bermain bersama Kak Toshi tidak pernah membuatku bosan. Aku senang Kak Toshi mau berteman denganku.”
Aku diam. Hanya bisa menatap punggungnya selama beberapa detik pertama. Detik berikutnya, Haru berbalik dan tersenyum lebar padaku.
“Aku suka Kak Toshi.”
Dia mengatakannya lagi sambil tersenyum. Jantungku berdebar tidak keruan. Aku menghampiri Haru. Dia jauh lebih pendek dariku. Mungkin tingginya hanya sampai perutku. Aku memegang kedua tangannya lalu berlutut di depannya. Saat itu, matahari yang tersisa sangat tipis, namun langit masih merah gelap. Aku masih bisa melihat wajah Haru yang menatapku dengan wajah bingung. Aku bisa melihat pipinya yang merah. Aku bisa melihat bibirnya yang sedikit terbuka. Lalu, aku menciumnya, begitu saja. Saat menciumnya, aku harus sedikit mengangkat kepalaku. Haru tidak mengatakan apa-apa saat itu. Aku juga. Kami hanya saling menatap.
“Aku juga sangat menyukai Haru. Karena itu, cepatlah sembuh dan kembali lagi ke sini.”
Aku mengatakannya. Aku tidak tahu mengapa aku mengatakan hal itu, tapi aku tetap mengatakannya. Lalu, Haru tersenyum.
“Mmm! Aku pasti sembuh. Kak Toshi mau menungguku ‘kan? Nanti, aku ingin sekolah di tempat yang sama dengan Kak Toshi. Jadi, aku bisa bermain dengan Kak Toshi lagi.”
“Aku tunggu, ya.”
***
bersambung...

Ada yang tahu siapa dua orang di atas? Atau ada yang belum tahu? Singkat saja, ya. Ya! Dua orang di atas adalah Do As Infinity (DAI)...




Ada yang tahu siapa dua orang di atas? Atau ada yang belum tahu?
Singkat saja, ya. Ya! Dua orang di atas adalah Do As Infinity (DAI). Pasti kita sudah sering mendengar nama grup duo yang lagu-lagunya selalu luar biasa dan keren menurut saya. Kebanyakan orang Indonesia pasti mengetahui duo ini dari anime Inuyasha yang tayang di Indosiar sekitar 10 tahun yang lalu (ya, mungkin). DAI mengisi ending song anime tersebut. 深い森、dan 真実の詩 adalah salah dua dari lagu DAI yang menjadi soundtrack anime tersebut. Kalau kalian juga menonton Inuyasha The Movie, kalian juga pasti tahu DAI juga mengisi ending song-nya, salah satunya adalah 楽園. DAI sudah banyak mengeluarkan album dan sudah banyak lagu-lagu mereka yang sangat keren itu beredar. Dari sekian banyak lagu-lagu DAI yang ada, saya cenderung mengagumi satu lagu ini. Saya pertama kali mendengar lagu ini sambil melihat PV-nya di YouTube. Kesan pertama saya ketika melihat PV dan mendengar lagunya adalah: KEREN BANGEEET!

Lagu yang sangat saya kagumi ini adalah 生まれゆくものたちえ (baca: Umareyuku Monotachi e).

Setelah mendengarkan lagu ini berkali-kali, akhirnya saya penasaran dengan makna liriknya. Itu membuat saya memutuskan untuk mencarinya di google. Tahukah kalian, begitu saya melihat makna lagu ini dalam bahasa Inggris, saya meneteskan air mata. Ternyata lagu ini tentang kehidupan yang dimulai dari dilahirkannya seorang anak ke dunia. Untuk seorang anak yang dilahirkan itu, walaupun dia dilahirkan di tengah-tengah kesedihan, yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang telah lebih dulu hadir di dunia adalah berdoa untuknya.

Bayangkan, DAI membuat lagu seperti ini lho! Bukan lagu-lagu cinta pada umumnya yang hanya menceritakan percintaan laki-laki dan perempuan, patah hati mereka, kesedihan mereka karena kehilangan pasangan, dan lain-lain. Bukan itu. Melainkan cinta yang lebih abstrak. Cinta yang sebenarnya yang memang sulit untuk diungkapkan. Cinta yang lebih universal. DAI menunjukkan bahwa cinta orang tua kepada seorang anak itu sangat tulus, lembut, dan sulit. Lagu ini menunjukkan bahwa ada beban yang berat saat kehidupan baru lahir, yaitu orang yang sudah lebih dahulu hidup itu harus menuntunnya menuju takdir yang masih gelap. Walaupun takdir yang akan binasa itu sebenarnya indah, mereka orang-orang itu hanya bisa mengantarkan mereka menuju langit biru yang luas, yang penuh dengan harapan.

Aaaah! Rasanya ingin menangis lagi!
Ya, itu hanya interpretasi saya terhadap lagu ini. Mungkin ada juga yang mendengarkan lagu ini sekilas dan tidak tertarik untuk mengetahui artinya. Hanya mendengarkan untuk dinikmati saja. Tentu saja, di sini, saya hanya ingin berbagi. Dalam benak saya, terpikirkan sebuah pengandaian: jika saja band Indonesia atau penyanyi Indonesia sekarang bisa menciptakan lagu yang begitu luar biasa seperti lagu ini, pasti musisi Indonesia dapat lebih dihargai dan digemari di banyak negara di dunia. Saya percaya bahwa lagu yang berkualitas tidak dapat lepas dari lirik dan melodi yang membangunnya. Lagu 生まれゆくものたちえ ini adalah contoh yang baik dari lagu dengan melodi dan lirik yang sangat indah. Tentu, melodi dan lirik yang indah itu juga didukung oleh suara vokalisnya yang indah dan sangat cocok dengan melodinya. :)

Sebagai bukti bahwa lagu ini memang memiliki lirik yang indah, saya lampirkan juga lirik lagunya di bawah ini. Apakah kalian sependapat? Atau memiliki pendapat lain? Yah, tidak masalah. Toh ini juga hanya pendapat saya. Selamat malam~ :)))






UMAREYUKU MONOTACHI E (生まれゆくものたちえ)

Nakinagara umarete hito wa minna
Jyuujika o seotteru
Nan no tame ikiteku saigo made
Wakarazu ni motomeru tabi

Sora ni manten no hoshi kagayakeru mirai
Hakanaki yume ima wa imada sono mune ni daki

Kanashimi o kurikaesu
Korekara hajimaru kimi no jinsei
Umareyuku mono-tachi e
Bokura ni dekiru koto wa inoru dake sa

Rinne no ki no shita de hito wa minna
Tensei o shi tsudzukete
Odayakana umi kara tamashii ga
Haiagaru mugen no tabi

Daremo machigaenagara aishiainagara
Ayunde kita nagai rekishi no katasumi de

Kanashimi o kurikaesu
Koko kara hajimaru kimi no jinsei
Umareyuku mono-tachi e
Tobira wa hirakareru to inoru dake sa

Ah  ai de umarete kita inochi
Ah  itsukushimu kokoro no hitomi
Ah  idenshi no naka no kamigami-tachi
Kotae o michibike

Horobiyuku unmei mo
Utsukushiki toki no nagare no naka de
Umareyuku mono-tachi e
Kuon no tsubasa tsukete sora aoge yo

(Umareteyuku...)
(Namida nagasu...)
(Umareteyuku...)

Ah...


translation:

We were all born crying
And all bear a cross
On a journey of searching, not knowing what we're living for,
Right up to the very end.

The sky is full of stars; a shining future
Still holding a faint dream in our hearts...

Amid all those sad times,
Your life is beginning:
To you who are being born,
All we do is pray for something we can do.

Under the tree of transmigration,
We are reborn again and again;
Our souls crawl out of the peaceful sea,
On an endless journey.

In a corner of this long history that so many people have walked,
Making mistakes and loving along the way...

Amid all these sad times,
Your life is beginning:
To you who are being born,
All we do is pray that we can open a door.

Ah, our lives that began with love.
Ah, the adoring eyes of our hearts.
Ah, let the gods of our genes
Guide us to an answer.

Amid this passing time
When even our fate of perishing is beautiful,
To you who are being born,
Take on eternal wings and look up to the sky!

(We are born...)
(We cry...)
(We are born...)

Ah...

Ya! Teriakan itu keluar begitu saja ketika aku melihat kalender di desktop laptopku.. Sekarang sudah 12 Januari 2012! Aku bahkan hampir tida...

Ya! Teriakan itu keluar begitu saja ketika aku melihat kalender di desktop laptopku.. Sekarang sudah 12 Januari 2012! Aku bahkan hampir tidak ingat tahun baru kemarin aku rayakan dengan apa. Begitu kucoba mengingatnya, ternyata jelas saja aku lupa, karena tahun baru kemarin aku mengerjakan UAS Sastra Wayang-ku seharian.. Sebelumnya, data UAS itu sempat hilang karena laptopku tiba-tiba mati dan aku juga sempat merasa hampir mati karena tugas yang belum tersimpan itu sudah hampir selesai.. Bahkan saat itu aku sudah menulis daftar pustaka dengan lengkap..
Ketika kuingat-ingat lagi.. aku memang baru bebas tanggal 11 kemarin.. UAS selesai, setelah aku sudah melewati masa-masa 'hidup segan mati tak mau', LPJ juga selesai.. Apa yang menungguku di bulan Januari ini??

tentu saja, LIBURAN!

Pada awalnya, aku sudah membuat rencana untuk backpacking ke Malang bersama 2 orang temanku. Tetapi, apa boleh buat, setelah kupikirkan lagi dengan berbagai macam pertimbangan, rasanya memang lebih baik tidak ke sana sekarang. Alasan utamanya tentu faktor ekonomi.. hahhaaa.. (tertawa ironis)

Nah, satu rencana dibatalkan. Tapi, masih ada rencana lain ternyata. IKSI09 yang telah melewati banyak sekali rintangan dan cobaan semester ini *semester ini lho yang benar2 penuh dengan cobaan* ingin menghabiskan waktu bersama, setidaknya tiga hari, di Puncak. Hanya berkumpul saja dengan teman2 seangkatan yang sudah seperti keluarga (kami memang keluarga) dan menghabiskan waktu bersama di sana. Kedengarannya menyenangkan. Aku tentu tidak akan melewatkan kesempatan yang satu ini. Apalagi, semster ini aku hanya bertemu teman2 di kelas, saat sedang kuliah atau menjadi panitia acara bersama..

Yah.. Semester ini memang berat.. Begitu berat sampai aku lupa bahwa sepupuku berulang tahun Desember lalu.. Terlalu berat sampai aku tidak bisa mengikuti UAS salah satu mata kuliah karena sakit.. Terlalu berat sampai aku tidak bisa melihat adik-adikku tampil di Auditorium Gedung IX saat Petang Kreatif 2011 Desember lalu.. Rasanya memang terlalu berat.. Berulang kali aku mengeluh dan menyesali diriku sendiri yang sering tidak mood mengerjakan kuliah dan mengerjakan tugas karena banyak memikirkan hal lain di luar kuliah.. Tapi, itu tentu tidak menyelesaikan masalah.. Sepertinya, demam yang menyerangku Desember lalu merupakan teguran dari Allah SWT karena aku memang terlalu sibuk di luar rumah sampai aku lupa rasanya tidur di kamarku dan makan bersama di rumahku.. Allah menyuruhku istirahat di rumah, melupakan sejenak semua kegiatan di luar, dengan cara yang tepat. Setelah sembuh, rasanya memang pikiranku jadi jauh lebih jernih.

Sekarang, semester 5 yang mengerikan itu telah berakhir. Aku tidak berharap banyak pada nilaiku karena sudah tentu akan banyak nilai B dan C yang akan muncul.. Tapi, aku masih berharap bisa melihat A- di daftar nilaiku semester ini.. Sekarang, belum ada nilai yang keluar. Aku tidak terlalu antusias menunggu nilai-nilaiku dan aku juga tidak terlalu niat untuk mantengin SIAK siang dan malam manunggu nilai keluar. Tidak peduli nilaiku semester ini akan seperti apa. Yang penting bagiku sekarang adalah semester depan aku harus lebih fokus pada kuliahku. Hilangkan sifat moody yang berlebihan dan merugikan itu. Satu hal yang perlu ditanamkan dari sekarang adalah: NIAT KULIAH! KULIAH ITU HARUS NIAT DARI HATI! Ya, begitulah.. Semester depan, aku harus niat kuliah..

Selain tidak sabar menunggu liburan dengan IKSI09, aku juga sudah tidak sabar menunggu Latihan Alam Pagupon tanggal 3--5 Februari 2012.. Tahun lalu, aku sudah tidak ikut; tahun ini harus ikut! :))

OK! Sampai jumpa di tulisan berikutnya~ :DD




































"Time goes on, dude!" :)



12 Januari 2012
이르나

Tugas Mata Kuliah Sastra Lisan Irna Gayatri D. Ardiansyah Kebudayaan di Indonesia merupakan hal yang tidak dapat lepas dari tradis...


Tugas Mata Kuliah Sastra Lisan
Irna Gayatri D. Ardiansyah


Kebudayaan di Indonesia merupakan hal yang tidak dapat lepas dari tradisi. Tradisi itu sendiri bukanlah hal yang sudah selesai dan berhenti, melainkan merupakan suatu hal yang masih ada dan terus berkembang. Tradisi ini berkembang mengikuti arus perubahan sosial, namun perubahan yang terjadi tidaklah melenceng jauh dari akarnya. Tradisi tetap menjadi seni tradisi bagi masyarakat setempat yang mengalaminya.
Tradisi lisan telah berkembang di Indonesia sebelum masyarakat Indonesia mengenal aksara. Tradisi lisan pada awalnya subur dan berkembang di seluruh nusantara dan menjadi salah satu kekayaan budaya masyrakat Indonesia. Setelah aksara masuk ke nusantara, tradisi lisan tidak hilang, tetapi berkembang beriringan dengan tradisi tulisan.
Tradisi lisan menurut B.H. Hoed adalah berbagai pengetahuan dan adat kebiasaan yang secara turun-temurun disampaikan secara lisan yang mencakup tidak hanya cerita rakyat, mitos, dan legenda, tetapi juga dilengkapi dengan sejarah, hukum adat, dan pengobatan. Hal-hal yang terkandung dalam suatu tradisi lisan adalah hal-hal yang terlahir dan mentradisi dalam suatu masyarakat yang merupakan warisan nenek moyang. Pada dasarnya, suatu tradisi dapat disebut sebagai tradisi lisan jika tradisi tersebut dikatakan (oleh penutur) dan didengar (oleh penonton).
Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam tradisi lisan adalah sastra, antropologi, dan sejarah. Tradisi lisan tentu tidak akan lepas dari sastra. Tradisi lisan juga erat kaitannya dengan antropologi karena berhubungan dengan masyarakat dan kebudayaan di suatu daerah. Tradisi lisan juga tidak dapat lepas dari sejarah karena tradisi merupakan hal yang diwariskan secara turun temurun. Itu berarti tradisi lisan tentu berhubungan dengan masa lalu atau sejarah suatu daerah.
Sastra lisan merupakan salah satu bagian dari tradisi lisan. Sastra lisan disebarkan dari satu orang ke orang lain secara lisan kemudian prosesnya dilihat, didengar, kemudian dilisankan kembali. Jadi, yang dilihat dalam tradisi lisan adalah proses dan hasil melisankan.
Orang-orang sering salah paham mengira teknik lisan sebagai sastra lisan. Teknik lisan dilakukan saat musikalisasi puisi atau pembacaan puisi. Teknik lisan tidak memengaruhi proses penciptaan—dalam hal ini, misalnya, musikalisasi puisi—saat ditampilkan. Saat ditampilkan, proses penciptaan sudah selesai sehingga penonton atau pendengar tidak dapat memengaruhi proses penciptaan. Teknik lisan adalah salah satu contoh sastra yang dilisankan, seperti orang yang mendongeng dan orang yang berpantun.
Selain tradisi lisan dan sastra lisan, satu lagi bidang yang berhubungan dengan kelisanan adalah folklor. Dalam KBBI Edisi Keempat, folklor adalah ‘adat-istiadat tradisional dan cerita rakyat yg diwariskan secara turun-temurun, tetapi tidak dibukukan. Pengertian kedua adalah ‘ilmu adat-istiadat tradisional dan cerita rakyat yg tidak dibukukan. Menurut Dundles, folklor adalah kebudayaan yang diturunkan secara turun temurun oleh sekelompok masyarakat atau dalam suatu komunitas yang kolektif. Ini berkaitan dengan pengertian folk yang berarti komunitas yang kolektif dan  lore yang berarti tradisi yang diturunkan secara turun temurun.
Ciri-ciri folklor adalah anonim, berkembang dari versi yang berbeda-beda, dan mewakili suatu kelompok masyarakat tertentu. Fungsi folklor adalah sebagai hiburan, media penyampaian nilai-nilai sosial, dan representasi masyarakat atau proyeksi dari keinginan masyarakat. Selain itu, fungsi folklore lainnya adalah menyebarkan ajaran atau pranata kebudayaan dan alat penguasa untuk memaksakan aturan-aturan masuk dan diterima ke dalam masyarakat.
Untuk membedakan tradisi lisan, sastra lisan, dan folklor secara jelas, sebaiknya kita melihat contohnya. Karena sastra lisan adalah bagian dari tradisi lisan, semua yang kita sebut sastra lisan pasti juga merupakan tradisi lisan. Didong adalah sastra lisan karena disebarkan dari satu orang ke orang lain secara lisan dan proses pembuatan atau proses kreatifnya didengar dan dilihat oleh penontonnya. Jadi, Didong juga merupakan tradisi lisan.
Perlu ditekankan kembali bahwa tidak semua yang termasuk ke dalam tradisi lisan merupakan sastra lisan. Di dalam tradisi lisan juga terdapat dongeng, mitos, dan lain-lain yang tidak dapat dikategorikan ke dalam sastra lisan karena proses kreatifnya tidak disaksikan langsung oleh penonton. Dalam hal ini, yang masih menjadi pertanyaan saya adalah apakah folklor juga termasuk ke dalam tradisi lisan? Pertanyaan tersebut muncul karena dalam pengertian folklor menurut Dundles tidak disebutkan mengenai tradisi yang dilisankan. Dengan kata lain, saya menangkap bahwa di dalam folklor tidak hanya terdapat tradisi dalam bentuk lisan tetapi juga tradisi dalam bentuk tulisan.
Di dalam folklor terdapat tarian, permainan, dan lain-lain yang seluruhnya bersifat tradisional. Saya akan mengambil contoh wayang. Wayang berkembang sangat pesat di Jawa. Walaupun cerita yang diangkat berasal dari India—Ramayana dan Mahabharata—isi ceritanya disesuaikan dengan masyarakat Jawa sehingga muncullah tokoh Punakawan. Saya memasukkan wayang ke dalam salah satu contoh folklor karena wayang mewakili suatu kelompok masyarakat tertentu, dalam hal ini masyarakat Jawa. Akan tetapi, sebenarnya wayang mewakili kelompok masyarakat yang lebih kecil lagi karena wayang di daerah Surakarta dengan wayang di daerah Sunda memiliki perbedaan. Tokoh Cepot hanya terdapat di dalam wayang daerah Sunda.
Di samping itu, fungsi wayang adalah sebagai hiburan dan media penyampaian nilai-nilai sosial. Tokoh Punakawan yang hanya terdapat di wayang Jawa juga merupakan salah satu fungsi folklor sebagai proyeksi dari keinginan masyarakat karena tokoh Punakawan sangat khas dengan masyarakat Jawa. Tokoh Semar yang digambarkan sebagai rakyat jelata sekaligus dewa dari segala dewa merupakan gambaran dari keinginan masyarakat Jawa yang mayoritas merupakan kalangan menengah ke bawah. Secara tidak langsung, masyarakat Jawa ingin menunjukkan bahwa rakyat jelata dapat mengalahkan penguasa mana pun.
Inilah sedikit pengertian dan contoh yang dapat menjadi pembeda dalam tradisi lisan, sastra lisan dan folklor. Untuk dapat membedakan ketiganya lebih jauh, tentu dibutuhkan lebih banyak contoh dan sumber tertulis. Secara singkat, hal yang membedakan sastra lisan dari tradisi lisan adalah bahwa sastra lisan dilisankan dan proses kreatif dan pelisanannya dilihat oleh penontonnya, sedangkan folklor mencakup tidak hanya lisan, tetapi juga tulisan. Di dalam tradisi lisan terdapat sastra lisan. Mengenai apakah folklor juga termasuk di dalam tradisi lisan masih perlu dilakukan pencarian sumber lebih lanjut.


Daftar Pustaka
MPSS, Pudentia, peny. Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia. 1998.
Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. 2008. Kamus Besar
Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.