karena dalam setiap daun yang gugur ada harapan bagi daun baru untuk tumbuh Jakarta, 8 September 2013

karena dalam setiap daun yang gugur ada harapan bagi daun baru untuk tumbuh


Jakarta, 8 September 2013

Tadi saya seharian menjalani wawancara di sebuah perusahaan grup media milik salah seorang Calon Presiden RI mendatang. Saya mengikuti wawa...

Tadi saya seharian menjalani wawancara di sebuah perusahaan grup media milik salah seorang Calon Presiden RI mendatang. Saya mengikuti wawancara di bagian online media. Ketika selesai, sekira pukul 6 sore, saya langsung menuju Depok bersama seorang teman saya. Tentu saja, kami naik kereta tujuan Bogor yang sudah tentu isinya penuh sesak itu. Nah, setelah sampai Depok, kami pergi ke Margo City untuk membeli hadiah ulang tahun ayah temanku itu. Setelah selesai, sekira jam 9, kami pulang. Sebenarnya, saya sedang tidak enak badan. Jadi, yang ada di kepala saya hanya rumah dan tempat tidur. Saya ingin segera beristirahat di kasur yang nyaman.
Saya menaiki kereta lagi. Kebetulan, saya juga sudah membeli Kartu Commet yang membuat saya tidak perlu mengantri di loket. Saya menunggu kereta selama sekira 15 menit. Saya sudah lelah luar biasa. Kemudian, kereta tujuan Stasiun Manggarai tiba. Penumpang kereta itu sedikit. Banyak tempat yang kosong. Saya bahkan bisa memilih tempat duduk yang nyaman. Saya memilih tempat duduk di ujung sehingga saya bisa bersandar ke samping. Saya langsung memejamkan mata, berusaha untuk beristirahat sebentar.
Tidak lama kemudian, kereta itu sampai di Stasiun UI. Cukup banyak penumpang yang naik. Mereka ramai berbincang-bincang. Karena saya berada di gerbong khusus wanita, orang-orang yang saya singgung di sini adalah wanita.
Mereka berbincang-bincang dan tertawa cukup keras, tapi saya tidak peduli. Saya hanya ingin mencoba beristirahat sebentar.
Kereta mulai kosong di Stasiun Pasar Minggu. Dalam satu deret bangku, hanya ada dua orang yang duduk. Bangku kereta memang cukup panjang untuk ditiduri, tapi saya tidak pernah berpikir untuk tidur di atasnya. Orang-orang ini berbeda dengan saya. Salah seorang dari mereka melakukannya: tidur di bangku kereta.
Dia tidur dengan tas sebagai alasnya dan sebelah kakinya diangkat dan dibiarkan terlentang di atas bangku. Tentu saja dia tidak melepas sepatunya. Sebenarnya, orang ini tidak tidur. Dia memegang Blackberry-nya dan sibuk mengirim pesan sambil tetap berbaring di bangku kereta.
Orang satunya menyusul. Melihat temannya asyik berbaring di sana, ia menghampiri temannya itu kemudian bersandar di bagian pojok kursi dan menaikkan kakinya ke atas bangku. Dia juga tidak melepas sepatunya.
Apa yang salah dari semua ini?
Fasilitas umum sebaiknya digunakan sesuai fungsinya. Telepon umum digunakan untuk menelepon, bukan untuk dijadikan toilet umum kemudian dikencingi. Bangku kereta juga serupa. Bangku, sebagaimana fungsinya, adalah tempat duduk. Mungkin di rumah Anda menggunakan bangku juga sebagai tempat tidur, saya pun begitu. Sebenarnya, bukan masalah besar juga jika Anda tidur di kereta, membaringkan badan dan menaikkan kaki ke atas bangku. Yang jadi masalah adalah ketika Anda melakukan itu dengan tetap memakai sepatu. Mengapa hal ini menjadi masalah? Karena Anda telah mengotori tempat duduk orang lain. Anda mengotori fasilitas umum.
Mungkin memang tidak ada larangan untuk tidur dan menaikkan kaki ke atas bangku. Tapi, toh kelihatannya sebagian besar orang Indonesia punya jiwa pemberontak. Sudah ada larangan untuk duduk di lantai kereta, tetap saja masih ada yang duduk di lantai kereta. Kursi prioritas diduduki oleh mereka yang muda dan segar bugar. Jika nanti ada larangan untuk tidak membaringkan diri di bangku, mungkin itu hanya akan dilihat , lalu dibuang. Tidak disimpan baik-baik dalam otak.
Mulailah bersikap disiplin dari diri sendiri, paling tidak, ketika Anda berada di tempat umum dan memakai fasilitas umum.

Jakarta, 5 September 2013
posted from Bloggeroid

Hari ini, saya pergi ke Senayan. Alat transportasi paling efektif yg bisa saya pakai adalah bus Transjakarta. Saya naik dari PGC. Sebelum n...

Hari ini, saya pergi ke Senayan. Alat transportasi paling efektif yg bisa saya pakai adalah bus Transjakarta. Saya naik dari PGC. Sebelum naik, saya sempatkan diri saya membeli koran Kompas yang harganya hanya Rp2.000,00 karena dijual di halte Transjakarta.
Bus datang setelah saya membeli koran. Calon penumpang bus yang kelihatannya sudah lama menunggu langsung menyerbu masuk. Semua berebut memilih tempat duduk. Saya datang belakangan. Saya lihat tempat duduk yang masih kosong ada di bagian belakang bus. Karena saya berada di bagian depan, saya memutuskan untuk tetap berdiri di tempat saya dan membiarkan kursi kosong itu tetap kosong.
Saya juga melihat bahwa kursi prioritas telah ditempati oleh perempuan-perempuan yang bukan Manula, tidak sedang hamil, dan tidak cacat. Mungkin mereka sedang sakit, saya tidak tahu. Tapi, mereka kelihatan segar bugar. Yang satu sedang asyik dengan komputer tabletnya, yang satu sedang sibuk mengeluarkan headset dari tasnya kemudian segera memasang headset itu ke telinganya dan asyik sendiri, yang lainnya duduk biasa saja. Tidak mengobrol, tidak asyik dengan gadget, hanya duduk.
Bus yang saya tumpangi itu masih cukup lengang, dengan beberapa kursi kosong. Begitu sampai halte BNN, rombongan calon penumpang lainnya menyerbu naik. Kali ini, banyak orang tua. Saya masih tetap di tempat saya, di tempat kosong yang seharusnya menjadi tempat kursi roda, jika ada penumpang yang menggunakan kursi roda. Bus menjadi penuh sekarang. Di samping saya ada seorang perempuan paruh baya yang membawa dua kantong plastik besar, entah apa isinya, dan kelihatannya kesulitan memegangi dan mengatur tempat kantung besarnya itu. Petugas berseragam abu-abu yang ada di dalam bus segera berteriak setelah bus penuh: "Tolong tempat duduknya dikasih buat orang tua. Tolong, Mba."
Adakah yang berdiri? Ya, beberapa. Setelah diberi tahu. Perempuan paruh baya yang berdiri di samping saya masih belum mendapatkan tempat duduknya. Kemudian, saya melihat petugas itu menghampiri perempuan muda yang duduk di seberang saya. Kelihatannya dia meminta perempuan itu untuk memberikan tempat duduknya kepada perempuan paruh baya di samping saya. Masalah selesai. Tapi, bukan ini masalahnya.
Apa yang kurang dari Indonesia, negara yang ramah penduduknya, gemah ripah loh jinawi?
Jawabannya mudah. Kepedulian dan kedisiplinan.
Disiplin pada diri sendiri untuk tidak duduk di kursi prioritas, untuk tidak menyelak antrean, untuk tidak mengendarai mobil di bus way, untuk tidak mengambil tempat pejalan kaki sebagai jalan sepeda motor, untuk tidak mengendarai kendaraan bermotor berlawanan dengan arah yang seharusnya, dan masih banyak lagi.
Peduli untuk memberikan tempat duduk di kendaraan umum kepada yang kelihatannya lebih lemah, peduli untuk membiarkan pejalan kaki berjalan dengan tenang, peduli untuk menggeser pantatmu ke bagian belakang angkot dari tempat dudukmu ketika ada penumpang lain naik, peduli kepada lingkungan dengan tidak membuang sampah seenakmu, dan masih banyak lagi.
Seharusnya, pelajaran inilah yang diajarkan dari PAUD sampai Sekolah Dasar. Kepedulian dan kedisiplinan.
Semoga kita semua mau merenungkan hal ini. Semoga kita semua menjadi lebih baik: lebih disiplin dan lebih peduli.


Jakarta, 3 September 2013
posted from Bloggeroid

Setelah lulus, rasanya saya jadi kangen kampus. Kuliah  itu terlalu menyenangkan. Kerjamu hanya ikut kuliah, kegiatan kampus, mengerjakan t...

Setelah lulus, rasanya saya jadi kangen kampus. Kuliah  itu terlalu menyenangkan. Kerjamu hanya ikut kuliah, kegiatan kampus, mengerjakan tugas, ujian ini dan itu, lalu menyusun skripsi atau jurnal, wisuda, setelah itu selesai. Tapi, apa iya selesai? Setelah kuliah, ada tahap berikutnya yang menunggu. Kata orang, ini tahap yang berat. Inilah kehidupan yang sebenarnya.
Ketika di kampus, kalau kamu salah di ujian ini atau itu, kamu bisa mengulang lagi di ujian berikutnya. Kalau gagal di ujian atau tidak lulus, kamu bisa mengulang mata kuliah itu di tahun berikutnya. Di dunia kerja bagaimana? Kata orang, di dunia kerja, ketika kamu salah sedikit, bisa berakibat buruk bagi pekerjaan seluruh unit. Apalagi jika pekerjaanmu berhubungan dengan keuangan atau administrasi. Jika pekerjaanmu adalah penulis berita, berita yang kamu tulis juga harus benar, bukan? Kalau kamu asal mengerjakannya, kamu telah melalaikan tanggung jawabmu kepada jutaan pembaca beritamu itu. Di kampus, kamu bisa saja menulis tugas dengan menyalin-tempel berbagai informasi dari google. Tanggung jawabmu hanya kepada dirimu sendiri, dan orang tua. Tapi, di dunia kerja, kelihatannya tidak sesederhana itu.
Saya hanya seseorang yang baru saja lulus kuliah dan sedang mencari pekerjaan. Jadi, sebaiknya, anggap tulisan ini sebagai opini semata. Saya, kok, merasa memang dunia yang menanti saya setelah lulus akan jauh lebih berat dari dunia perkuliahan yang pernah saya jalan selama 4 tahun itu.
Jadi, ya, sementara ini, saya jadi perempuan panggilan dulu. Perempuan yang menunggu panggilan-panggilan wawancara dari berbagai media. Sementara saya sedang bebas begini, waktu menulis saya akan semakin panjang. Jadi, saya juga telah membuat akun di Kompasiana dengan nama Irna Gayatri. Di sana, saya mungkin akan lebih banyak menulis seputar Jakarta, humaniora dan fiksi. Jadi, boleh sekali kalau mau mampir. :))

Jakarta, 3 September 2013
pada 9:57 pagi

posted from Bloggeroid


posted from Bloggeroid

http://bit.ly/VJ2nVj Kamu bisa meraih kesempatan untuk jalan2 gratis ke Jepang selama 3 hari dari KokoroNoTomo.. Tinggal buka link di atas...

http://bit.ly/VJ2nVj

Kamu bisa meraih kesempatan untuk jalan2 gratis ke Jepang selama 3 hari dari KokoroNoTomo.. Tinggal buka link di atas, daftar dan like page KokoroNoTomo d Facebook melalui link tersebut. Kalau kamu sudah .endapatkan 20 orang yang mendaftar melalui link yang kamu berikan, kamu akan mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kuisnya. Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah berbagi dan berbagi. Selamat mencoba~ ;))

posted from Bloggeroid

Hari ini adalah November. Seperti biasa, setiap November, aku selalu mampir setidaknya satu kali ke makamnya. Sudah 3 tahun ini terus kula...

Hari ini adalah November. Seperti biasa, setiap November, aku selalu mampir setidaknya satu kali ke makamnya. Sudah 3 tahun ini terus kulakukan untuk menghormatinya. Setidaknya, aku ingin dia merasa dirinya dihormati, walaupun setelah dia mati.
Hari ini adalah November. Kemudian, seperti November-November sebelumnya, hari ini pun mendung kelabu. Kabar baiknya, selalu tidak ada air yang jatuh hari ini. Kabar buruknya, tanah terlalu kering untuk dipijaki.
November selalu menjadikan langitku kelabu. Membuatku merindukan matahari yang hangat. Tapi, karena November, aku bisa mengenalmu. Karena November juga, aku bisa mengetahui ada kehangatan lain yang bisa diciptakan selain oleh matahari.
Aku suka November dan aku juga suka kamu.
Sayang sekali, kali ini, kau tidak bisa datang ke tempatnya. Sebenarnya, bagiku itu bukan masalah besar. Toh, selama ini kau telah banyak berkorban untuknya. Kau bahkan yang telah membuatku mau melihat ke arahnya lagi.
November ini, hanya aku yang datang mengunjunginya. Makamnya masih terawat. Aku menyampaikan rasa terima kasihku yang sangat dalam pada penjaga makamnya. Dia lelaki tua yang sangat baik. Katanya, istrinya juga dimakamkan di pemakaman itu. Jadi, dia bilang, menjaga makam adalah tanggung jawabnya. Dia sangat mencintai istrinya.
November ini juga tidak seperti biasanya. November ini, aku sangat merindukanmu. Mungkin karena hujan yang selalu membawa angin dingin bersamanya selalu membuatkan merindukan hangat yang biasa menjalari tubuhku. Hangatmu. Aku merindukan hangatmu. Biasanya, aku menghabiskan malam dengan menatap lilin yang kunyalakan di meja makan. Lucu sekali. Setiap melihat cahayanya, aku selalu melihatmu. Pasti itu hanya imajinasiku, ya. Tapi, aku hanya bisa melihatmu di dalam cahaya. Karena itu, aku takut gelap. Di dalam gelap, kau tidak ada. Aku tidak bisa melihatmu.
November ini, kaktus pemberianmu berbunga. Warnanya kuning. Manis sekali. Aku selalu meletakkannya di jendela kamarku supaya ia mendapatkan hangat matahari yang cukup. Kalau kau, pasti tidak perlu repot mencari matahari, bukan? Karena matahari pasti menemukanmu.
Aku juga selalu menemukanmu dalam cahayanya. Tapi, November ini telah menelannya sehingga aku terlarut dalam rindu.
Kapan kau kembali? Aku akan menunggumu di bawah matahari terbit yang hangat.



November, 2012



posted from Bloggeroid

posted from Bloggeroid


posted from Bloggeroid