Today, our paper named heart is become white and pure again. Let us begin tomorrow with better personality, better habits, better heart. Wri...

Today, our paper named heart is become white and pure again. Let us begin tomorrow with better personality, better habits, better heart. Write down our heart with great and lovely colors.

HAPPY IED DAY, EVERYONE~

Peace is always better that everything. To build our better world, we must repair our self first.


Jakarta, 17 Juli 2015

Photo credit by Background HD

Kadang, membuka kembali buku harian bisa membuatmu senang, tapi sekaligus juga membuatmu sedih. Berbagai kenangan mencuat kembali ke permuka...

Kadang, membuka kembali buku harian bisa membuatmu senang, tapi sekaligus juga membuatmu sedih. Berbagai kenangan mencuat kembali ke permukaan, kenangan yang menunggu untuk dibaca. Apalagi jika yang kau baca adalah kenangan orang lain, yang 5 tahun lalu sama sekali asing bagimu. Yang 10 tahun lalu tidak pernah masuk menyusup ke dalam kehidupanmu. Yang kini menjadi satu-satunya orang yang kau ingat sebelum kau tidur dan setelah kau bangun tidur.

Membaca buku harian seperti melihat film dokumenter yang diputar sepotong-sepotong. Kau bisa memilih film mana yang ingin ditonton dan bisa memilih film mana yang sebaiknya dilewatkan. Ternyata, ada benarnya juga membiarkan kenangan tetap menjadi kenangan. Mengetahui kebenaran memang tidak selamanya menyenangkan. Saat kau lihat kenangan saat ia bahagia karena suatu hal yang mungkin tidak pernah terlintas dalam benakmu akan bisa kau lakukan, saat itu mungkin kau akan menyesal. Seandainya kau bertemu dengannya lebih awal. Seandainya kau mengenalnya duluan. Seandainya kau bisa berubah pikiran untuk membuatnya bahagia.

Yang perlu kau pikirkan hanyalah cara mencari kebahagianmu dan tentu saja kebahagiaan satu-satunya orang yang selalu kau perjuangkan, meski sesekali kau kesal dan sedih karenanya. Mungkin kau dulu seorang yang Platonis, yang menganggap bahwa mencintai saja sudah cukup. Bahwa balasan darinya tidaklah penting. Tapi, ketika kau sudah merasakan cinta yang berlimpah, kau kini merasa perlu membalasnya.

Mungkin benar, kebahagiaannya menjadi begitu penting karena kau mencintainya. Tapi, bagaimana jika dia terlanjur tidak percaya? Bagaimana jika ia meragukanmu? Sementara kau sudah menetapkan hatimu, bahwa satu-satunya hal yang ingin kau lakukan kini adalah hidup bersamanya, membangun keluarga seperti kebanyakan orang lainnya. Dan keluarga berarti kau, dia, dan anakmu nanti. Bagaimana jika keputusanmu salah? Sementara kau sudah melepas janjimu demi dia?


Jakarta, 13 Juli 2015.

Kehidupan itu gaib sebagaimana kematian Ketika yang satu merayakan hari kelahirannya Yang satu pergi menemui penciptanya Kura-kura yang b...

Kehidupan itu gaib sebagaimana kematian
Ketika yang satu merayakan hari kelahirannya
Yang satu pergi menemui penciptanya

Kura-kura yang baru kau beli di pasar
Keesokan harinya kau temukan dekat tempat sampah
Agaknya ia sudah dimakan tikus

Lalu kau menemukan anak kucing yang tertabrak motor, namun masih hidup
Ia sekarat, tapi kau merawatnya
Sampai ia hidup kembali
Ia berlari dan bermain bersama kawannya

Kemudian, ada seorang teman
Kau belum lama melihat fotonya terpajang di media sosial
Ia baru saja makan di suatu restoran
Tapi, kau tidak tahu bahwa itu adalah kabar terakhir darinya
Sampai kau mendengar bahwa ia telah pulang
Ke tempatnya sedia kala
Tuhan memanggilnya

Kehidupan itu gaib
Kau tidak tahu bagaimana caramu mendapatkannya
Tapi kau juga tidak tahu kapan akan kehilangannya
Kau tidak tahu, hanya menunggu

Tapi, bagi semua yang pernah hadir dalam kehidupan
Kenangan akan membuat kalian abadi
Karena kematian bukanlah akhir
Dan doa tidak akan putus

Rindu...
Mungkin itulah yang akan kurasakan
Dan kau rasakan
Tapi rindu pula
Yang akan membuat pertemuan kembali
Menjadi berkesan

Jakarta, 1 Juni 2015
Senin dini hari
Untuk Benny yang baru saja pergi

Credit photo: aranarruti (on Background HD)

Saya perempuan berusia 23 tahun. Pagi tadi, saya membaca sebuah tulisan di blog orang lain yang tidak saya kenal tentang betapa menggangguny...

Saya perempuan berusia 23 tahun. Pagi tadi, saya membaca sebuah tulisan di blog orang lain yang tidak saya kenal tentang betapa mengganggunya pertanyaan-pertanyaan mengenai pernikahan dan anak. Di Indonesia, pertanyaan-pertanyaan mengenai kehidupan pribadi seseorang rasanya menjadi penting bagi orang-orang di sekitar kita. Urutannya mungkin demikian:

1. Mau ambil jurusan apa setelah lulus nanti?
Kalau dijawab, kedokteran, teknik, atau hukum, pasti ditanggapi: Wah, bagus itu.
Kalau dijawab, Sastra Indonesia, misalnya, pasti ditanya: Kenapa ambil jurusan Sastra Indonesia? Mau jadi guru, ya?

Lalu kamu merasa, "Suka-suka sayalah mau ambil jurusan apa juga. Toh, saya yang menjalani, gak minta uang dari situ juga untuk kuliah pan."

2. Oh, sekarang udah lulus kuliah. Udah kerja belum?
Kalau dijawab sudah, pasti ditanya lagi: Kerja di mana sekarang?
Kalau dijawab di majalah, misalnya, jadi wartawan, pasti ditanya lagi, misalnya begini: kenapa gak lamar jadi PNS aja.  Gajinya besar sekarang, tunjangannya banyak.

Lalu kamu merasa, "Kalau gw maunya jadi wartawan, terus kenapa? Gaji gede tapi kerja gabut gak ada tantangannya, buat apa? Kalau gw mau jadi PNS juga pasti gw udah lamar, gak usah loe bilangin. Tapi, gw maunya jadi wartawan karena gw suka kehidupan yang dinamis, gak monoton dan membosankan kaya hidup loe."

3. 3 tahun kemudian, kamu jadi kepala redaksi yang gajinha lumayan, lalu itu dianggap sebagai kadar kesuksesanmu oleh orang-orang di sekitarmu.

"Udah ada gandengannya belum sekarang?"
Atau
"Kapan nikah, nih?"

4. Kalau kamu sudah menikah, pertanyaannya akan seperti ini:

"Udah isi belum? Kalau kelamaan, nanti jadi susah punya anak, lho."

Lalu kamu akan merasa, "Gw juga maunya cepet kali. Tapi emang yang kaya gitu bisa ditentuin waktunya?"

5. Lalu kamu akhirnya punya anak. Pertanyaan lain muncul.

"Gak mau kasih adik, nih, buat si A?"

Dan kamu akan merasa: mau punya anak berapa pun, gak ada urusannya sama loe. Kalau dikasih lagi, ya Alhamdulillah. Kalau gak, yaa, berarti memang sudah jalannya begitu. Loe gak ada urusan sama takdir Tuhan di sini.

6. Lalu kamu punya anak kembar 4, jadi sekaligus kamu langsung punya anak 5. Kamu gak menyangka, tapi gak bisa berbuat apa-apa juga karena itu pemberian Tuhan.

Lalu muncul pernyataan: "Pakai KB ini, deh, Mba. Biar gak nambah lagi. Nanti kalau kebanyakan anak, susah juga ngurusnya, 'kan."

Lalu kamu merasa, "siapa yang kmrn sibuk nanyain kapan ngasih adik buat si A? Kyny loe, deh. Sekarang loe sok2an ngasih nasihat soal KB. Loe pikir gw gak pake KB? Loe pikir gw ngerencanain punya anak kembar 4? Loe pikir gw gak pusing tetiba punya anak 5?


Ya, apa pun yang kalian lakukan, kapan pun itu, pasti ada orang-orang di sekitarmu yang berkomentar, bertanya ingin tahu seakan-akan itu urusan mereka, seakan saran dari mereka benar-benar kita butuhkan meski kita tidak memintanya. Berada di lingkungan seperti itu, untuk orang nyinyir seperti saya, rasanya memuakkan.

Menjadi seperti orang kebanyakan rasanya bukan saya banget. Sejak kecil, ketika teman-teman sekelas saya ingin menjadi dokter, guru, polisi, tentara, atau pilot, saya dengan percaya diri menulis ingin menjadi penulis atau editor. Entah bagaimana saya benar-benar menjalaninya sekarang. Bukan berarti menjadi dokter atau guru atau pilot atau atau polisi tidak menyenangkan, tapi saya sama sekali tidak tertarik.

Bagi saya, setiap orang memiliki perannya masing-masing. Seperti saat sekarang ini, saat menjadi pengusaha sedang menjadi tren. Menjadi pengusaha itu baik, tapi ada orang-orang yang terlahir bukan untuk menjadi pengusaha. Jika ada yang mengatakan kamu orang yang tidak berani mengambil risiko hanya karena kamu tidak mau memulai bisnismu sendiri, maka biarkanlah karena kami adalah kamu. Kamu tidak harus menjadi seperti orang lain untuk mencapai kebahagiaanmu.

Bagi saya sendiri, ketika saya menjadi editor di sebuah majalah otomotif, saya senang karena akhirnya saya mengerjakan pekerjaan yang saya impikan. Tapi, berada di sistem yang memuakkan membuat saya tidak ingin melanjutkan pekerjaan itu di sana. Lalu, berakhirlah saya sekarang menjadi pekerja lepas yang menulis dan mengedit. Tapi, meski kadang saya kehabisan uang karena saya tidak memiliki pekerjaan tetap, entah mengapa saya tetap merasa bahagia karena saya bebas mengerjakan apa pun yang saya suka.

Bahagia itu bukan soal berapa banyak uang yang kamu hasilkan, atau apakah kamu menikah dengan orang tampan atau kaya, atau kamu memiliki banyak anak. Tapi, bahagia adalah sesuatu yang lebih esensial. Bahagia bagi saya adalah ketika saya bisa melakukan hal-hal yang saya sukai dengan bebas. Mungkin suatu saat saya akan menjadi pekerja kantoran lagi, tapi sekarang saya hanya belum menemukan tempat yang tepat.

Ada orang yang hanya bekerja dengan gaji Rp4.000.000 per bulan dan bersuami dengan orang yang gajinya juga tidak sampai Rp5.000.000, tapi bahagia karena bisa menjalani hidupnya dengan orang yang dicintainya. Ada seorang kakek yang menjadi dalang dengan uang tak seberapa, tapi bahagia karena bisa mengerjakan pekerjaan yang disukainya sambil turut melestarikan kebudayaan daerahnya. Ada seorang bidan yang bekerja membantu orang-orang di pedalaman Flores melahirkan, di atas gunung sekali pun yang tidak ada listrik, karena ia senang membantu orang-orang yang membutuhkannya. Ia bahagia karena merasa dibutuhkan dan bisa membantu menyelamatkan nyawa para calon ibu dan anaknya di sana, di tempat yang jauh dari hirup pikuk kehidupan kota, bahkan jika ia hanya dibayar dengan beras atau tak dibayar sekalipun.

Kebahagiaan dapat berarti apa pun. Kau hanya perlu menemukannya sendiri. Dan jangan pernah membandingkan kebahagiaanmu dengan kebahagiaan milik orang lain karena dengan begitu segala hal yang kau miliki tidak akan pernah cukup. Bersyukurlah, maka kebahagiaan yang sebenarnya akan kau dapatkan. Just live your life all the way you love. Peduli setan dengan komentar orang-orang di sekitarmu dan katakanlah:

You don't even stand on my shoes. So, leave me alone and take care of your own life.