Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Hari ini adalah November. Seperti biasa, setiap November, aku selalu mampir setidaknya satu kali ke makamnya. Sudah 3 tahun ini terus kula...

November

Hari ini adalah November. Seperti biasa, setiap November, aku selalu mampir setidaknya satu kali ke makamnya. Sudah 3 tahun ini terus kulakukan untuk menghormatinya. Setidaknya, aku ingin dia merasa dirinya dihormati, walaupun setelah dia mati.
Hari ini adalah November. Kemudian, seperti November-November sebelumnya, hari ini pun mendung kelabu. Kabar baiknya, selalu tidak ada air yang jatuh hari ini. Kabar buruknya, tanah terlalu kering untuk dipijaki.
November selalu menjadikan langitku kelabu. Membuatku merindukan matahari yang hangat. Tapi, karena November, aku bisa mengenalmu. Karena November juga, aku bisa mengetahui ada kehangatan lain yang bisa diciptakan selain oleh matahari.
Aku suka November dan aku juga suka kamu.
Sayang sekali, kali ini, kau tidak bisa datang ke tempatnya. Sebenarnya, bagiku itu bukan masalah besar. Toh, selama ini kau telah banyak berkorban untuknya. Kau bahkan yang telah membuatku mau melihat ke arahnya lagi.
November ini, hanya aku yang datang mengunjunginya. Makamnya masih terawat. Aku menyampaikan rasa terima kasihku yang sangat dalam pada penjaga makamnya. Dia lelaki tua yang sangat baik. Katanya, istrinya juga dimakamkan di pemakaman itu. Jadi, dia bilang, menjaga makam adalah tanggung jawabnya. Dia sangat mencintai istrinya.
November ini juga tidak seperti biasanya. November ini, aku sangat merindukanmu. Mungkin karena hujan yang selalu membawa angin dingin bersamanya selalu membuatkan merindukan hangat yang biasa menjalari tubuhku. Hangatmu. Aku merindukan hangatmu. Biasanya, aku menghabiskan malam dengan menatap lilin yang kunyalakan di meja makan. Lucu sekali. Setiap melihat cahayanya, aku selalu melihatmu. Pasti itu hanya imajinasiku, ya. Tapi, aku hanya bisa melihatmu di dalam cahaya. Karena itu, aku takut gelap. Di dalam gelap, kau tidak ada. Aku tidak bisa melihatmu.
November ini, kaktus pemberianmu berbunga. Warnanya kuning. Manis sekali. Aku selalu meletakkannya di jendela kamarku supaya ia mendapatkan hangat matahari yang cukup. Kalau kau, pasti tidak perlu repot mencari matahari, bukan? Karena matahari pasti menemukanmu.
Aku juga selalu menemukanmu dalam cahayanya. Tapi, November ini telah menelannya sehingga aku terlarut dalam rindu.
Kapan kau kembali? Aku akan menunggumu di bawah matahari terbit yang hangat.



November, 2012



posted from Bloggeroid

Aku tak pernah terlalu ingat kapan tepatnya aku mulai mengenalnya. Aku baru saja bertengkar dengannya minggu lalu saat aku tak sengaja m...

Setoples Manik-manik



Aku tak pernah terlalu ingat kapan tepatnya aku mulai mengenalnya. Aku baru saja bertengkar dengannya minggu lalu saat aku tak sengaja menjatuhkan toples miliknya yang berisi manik-manik indah. Aku bahkan tak bisa mengingat warna manik-manik itu. Aku terus memikirkan hal itu sepanjang perjalanan pulang.
Hari itu hujan, sungguh hari senin yang membosankan. Ayah menyuruh Kasim, supir kami, untuk menjemputku dan mengantarku pulang dengan selamat. Ayah selalu begitu sejak dahulu, sangat protektif terhadapku walaupun dia sendiri bahkan hampir tidak pernah ada di rumah. Aku merasakan sesuatu bergetar di dalam tasku saat kami terjebak kemacetan di Matraman.
Aku merogoh-rogoh isi tasku untuk mencari hand phone-ku yang bergetar itu. Tulisan di layarnya menunjukkan bahwa sudah ada dua pesan dan beberapa kali panggilan telepon dari temanku, Emily. Aku membaca pesan darinya dalam hati, agak bosan juga aku karena dia kembali membicarakan Joe, cowok sok keren yang dan menyebalkan yang dia sukai. Dia mengatakan bahwa Joe mengajaknya pergi nonton sore ini dan aku mau tak mau turut senang karenanya. Aku membalas pesannya dengan singkat, menanggapinya dengan satu kata, ‘selamat’.
Setelah membalas pesan dari Emily aku kembali menjejalkan hand phone-ku ke dalam tas. Kami hanya beranjak beberapa puluh sentimeter dari tempat kami berhenti tadi. Jalanan macet total. Dalam hati aku penasaran kenapa jalanan bisa semacet ini. Aku melirik jam tanganku dan kulihat sudah pukul tiga sore.
Bosan rasanya menunggu kemacetan berakhir sehingga aku memutuskan untuk menyalakan musik. Aku menyetel Bella’s Lullaby karena kurasa lagu itulah yang paling tepat untuk menghilangkan jenuh. Komposisi musiknya menenangkanku, membuatku rileks kembali dan tertidur. Saat mataku terpejam aku bisa melihat khayalanku tentang Edward Cullen, tokoh dalam novel Twilight yang sangat luar biasa tampan. Aku sudah membaca bukunya berkali-kali dan mencoba menonton filmnya walaupun pada akhirnya agak membuatku kecewa. Aku melihat Edward Cullen bermain piano, memainkan nada-nada dari Bella’s Lullaby, sangat tampan dan menggoda. Aku bisa merasakan wajahku tersenyum samar saat melihatnya dan berharap semoga Kasim tidak melihatku tersenyum tidak jelas seperti itu.
Kemudian hand phone-ku bergetar lagi dan membuatku yang masih setengah tertidur kaget. Kali ini karena telepon dari Joe. Aku mengangkatnya dengan enggan, agak kesal karena dia sudah merusak imajinasiku tentang Edward Cullen tadi.
“Halo Joe, ada apa?” tanyaku dengan nada datar.
“Ehm.. Hai Will. Aku ingin menanyakan apakah kau mau pergi nonton bersamaku besok?” tanyanya tegas.
“Kukira kau sedang nonton dengan Emily.” kataku masih datar seperti sebelumnya.
“Memang, kami baru saja mau nonton. Aku sedang menunggu Emily mengganti pakaian. Lalu bagaimana jawabanmu?”
“Aku tidak bisa.” jawabku pasti. “Banyak sekali tugas minggu ini jadi aku tidak mungkin pergi nonton.”
“Bagaimana kalau Sabtu? Atau mungkin Minggu? Kau pasti tidak punya acara khusus akhir pekan ini kan?” kata-katanya meluncur begitu cepat namun aku yakin itu bukan pertanyaan. Dia tahu aku tidak pernah punya acara di akhir pekan dan dia memanfaatkan itu sekarang untuk pergi bersamaku. Terdengar rasa percaya diri dalam suaranya. Dia pasti yakin aku tidak akan menolaknya kali ini.
Joe menunggu di seberang sambungan telepon. Aku berusaha untuk memikirkan alasan yang masuk akal dngan cepat dan saat itu terlintas sebuah pikiran yang konyol dan bodoh namun kurasa cukup ampuh untuk menghindarinya kali ini.
“Sebenarnya akhir pekan ini aku sibuk. Sepupuku yang tinggal di Pondok Indah akan menikah dan aku harus membantunya. Aku tidak mungkin melewatkan momen bahagia yang akan dijalaninya karena aku sangat menyayanginya. Aku ingin berada di sampingnya saat dia menjalani peristiwa sakral tersebut.” kataku dengan nada meyakinkan. Kasim sempat menengok padaku kemudian melongo sebentar saat aku mengucapkan kebohongan itu. Dalam hati aku cekikikan karena tahu sepertinya ini akan berhasil dan dugaanku tepat. Joe percaya padaku sepenuhnya.
“Oh, begitu ya. Mmm.. jadi sepupumu akan menikah? Selamat ya.” ucapan selamatnya itu terdengar seakan-akan aku yang akan menikah. “Kalau tidak salah namanya Riby kan? Sampaikan salamku padanya ya. Katakan aku turut senang atas pernikahannya.”
“Iya, terima kasih. Akan kusampaikan nanti.”
“Kalau begitu sampai ketemu besok.”
“Iya. Semoga acara nonton kalian akan menyenangkan.” kataku kemudian segera memutuskan hubungan telepon. Aku menghela napas panjang. Kami masih terjebak kemacetan dan hanya beranjak beberapa meter saja dari tempat sebelumnya.
Aku kembali dilanda kebosanan. Moodku berubah  Aku teringat pada kejadian siang tadi. Kejadian menyebalkan yang sebenarnya sama sekali tidak ingin kuingat lagi. Semakin keras aku berusaha untuk melupakan kejadian itu, semakin jelas ingatanku mengulangnya di pikiranku. Kesal sekali rasanya. Saat itu hand phone-ku kembali berdering dan segera saja kuangkat tanpa sempat melihat nama peneleponnya.
“Will.” kata suara laki-laki di seberang sambungan teleponku.
“Mmm? Siapa ya?” tanyaku penasaran.
“Ini aku, Yuri.”
“Oh, ada apa?”
“Aku ingin minta maaf atas kejadian tadi siang. Aku tidak bermaksud membentakmu.”
“Oh, itu. Sudahlah, aku juga sudah melupakannya kok.” kataku setengah hati.
“Tidak bisa, aku merasa sangat bersalah.” katanya dengan nada bersalah.
“Ya sudah, kalau begitu kau sudah kumaafkan.” jawabku enggan. “Sekarang kau sudah puas kan?”
“Apa kau tulus memaafkanku?” tanyanya.
“Jujur saja, tidak. Aku masih sakit hati.”
“Apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu mau memaafkanku?” tanyanya menawarkan.
“Tidak ada.” jawabku singkat.
“Kumohon, Will. Aku tidak akan bisa tidur malam ini jika kau belum menerima permohonan maafku.” katanya memohon.
“Sudahlah! Aku sedang tidak ingin mengobrol di telepon. Kita lanjutkan besok saja. Bye.” Tukasku kemudian segera memetikan hand phone-ku karena kuyakin dia akan segera meneleponku sebentar lagi.
Aku tidak menyalakan telepon sampai pukul delapan malam. Begitu kuhidupkan kembali hand phone-ku, sudah banyak pesan masuk yang menunggu untuk dibaca. Tiga diantaranya adalah dari Will dan sisanya dari teman-teman sekelasku yang menanyakan PR dan jadwal pelajaran. Aku segera membalas semuanya kecuali pesan dari Will. Aku masih sakit hati. Bayangkan saja, dia membentakku di kantin, di depan orang banyak, hanya karena aku sekali lagi tanpa sengaja menjatuhkan toples manik-maniknya. Tentu saja aku kesal karena saat itu perhatian seantero penghuni kantin tertuju padaku.
Memangnya apa arti manik-manik itu sampai dia begitu marah hanya karena aku menjatuhkannya? Aku sempat berpikir jangan-jangan manik-manik itu terbuat dari berlian. Tapi jika memang itu terbuat dari berlian, kenapa tidak disimpan di tempat yang aman saja? Di rumah misalnya. Kenapa dia justru terus-terusan membawanya sepanjang hari. Aku sungguh tidak mengerti.
Dia memang murid pindahan dari JIS yang baru saja pindah dua bulan lalu dan kami mulai pacaran dua minggu lalu. Mungkin aku memang belum mengenal dirinya sepenuhnya, tapi itu karena dia memang tidak mau menceritakan sesuatu tentang dirinya selain dia pindah dari JIS karena bosan dengan aktivitas disana. Yuri sendiri adalah anak yang tampan karena ibunya orang Jepang dan ayahnya orang Jerman. Tapi teman-temanku, terutama Emily, sering mengatakan bahwa dia anak yang aneh. Bahkan sempat ada gosip yang beredar bahwa sebenarnya dia sedang kabur dari rumah.
Jujur saja aku sama sekali tidak peduli dengan perkataan orang. Yang kupedulikan adalah perkataannya. Hanya saja Yuri bukanlah tipe orang yang banyak omong. Selama ini dia hanya bicara jika kutanya. Kalaupun dia bicara itu hanya saat dia memang sedang butuh bantuan dan itu adalah sesuatu yang langka. Bahkan saat kencan pun dia tetap diam dan hanya bicara seperlunya. Karena itu, sebenarnya aku agak kaget saat menerima telepon darinya tadi. Aku sampai tidak bisa mengenali suaranya karena dia memang jarang bicara.
Sebenarnya aku merasa sangat senang karena dia sudah bernisiatif untuk meminta maaf padaku. Bahkan dia mengatakan bahwa dia tidak akan bisa tidur jika aku tidak memaafkannya. Jika mengingat hal itu aku jadi merasa bahagia. Kupikir, biar saja dia tidak bisa tidur karena dengan begitu dia akan mengingatku terus. Biar tahu rasa dia!
Seusai belajar aku segera mencuci muka dan menyikat gigi, kemudian mengganti pakaianku dengan piyama warna pink kesukaanku lalu pergi tidur. Sebelum tidur aku sempat memikirkan Yuri. Apa benar dia akan tidak bisa tidur? Biarlah. Kemudian aku tersenyum puas.
Keesokan paginya saat tiba di sekolah, kulihat Yuri turun dari motornya. Tapi aku segera pergi karena tidak ingin dia melihatku sedang memerhatikannya. Dia tiba di kelas tidak lama setelah itu, dengan wajah yang pucat dan rambut yang kusut karena tidak disisir. Saat itu aku berpikir, mungkin dia memang tidak bisa tidur. Karena itu aku menghampirinya unutk menanyakan keadaannya.
“Kau tampak berantakan hari ini. Ada apa?” tanyaku bersimpati.
“Aku tidak bisa tidur sama sekali. Aku terus memikirkanmu.” jawabnya dengan suara lemah.
“Kau sungguh-sungguh?”
“Tentu saja. Kaku kira aku akan bisa tidur nyenyak jika tahu kau masih marah padaku?”
“Aku tidak tahu.”
“Kau hanya tidak mau tahu.” tukasnya.
“Jadi sekarang kau marah padaku?”
“Sama sekali tidak.”
“Maafkan aku.” kataku tulus.
“Kenapa sekarang justru kau yang minta maaf?” tanyanya penuh kemenangan.
“Karena aku telah membuatmu susah.” jawabku jujur.
“Kau bahkan belum memaafkanku.”
“Aku sudah memaafkanmu kok.”
“Tapi kenapa semalam kau tidak membalas pesanku? Kau pasti membacanya kan?”
“Tentu saja. Aku hanya segan membalasnya. Semalam aku memang masih marah, tapi setelah kubayangkan bagaimana menderitanya kau karena tidak bisa tidur semalam, aku jadi merasa sangat bersalah. Maafkan aku, ya.”
“Dengan begini kita impas. Aku senang kau mau memaafkanku.” kata Yuri dengan senyum puas yang merekah lebar di bibirnya.
“Tapi aku tetap ingin tahu kenapa setoples manik-manik itu sangat berharga bagimu.” paksaku.
“Rahasia. Nnti kau juga akan tahu dengan sendirinya. Tunggu saja.” katanya sambil tersenyum.
“Kau memang senang membuat orang penasaran, ya.”
“Memang.” katanya kemudian menguap dengan lebar. “Aku merasa sangat ngantuk. Sekarang aku bisa tidur dengan nyenyak. Oyasumi nasai!!”
Dia tidur setelah mengucapkan ‘selamat tidur’ padaku dan tidak bangun sampai jam pulang tiba. Padahal sudah empat guru yang mencoba membangunkannya tapi dia tetap tidak bangun sampai dia merasa puas tertidur. Aku senang karena bisa memaafkannya. Ternyata memang tidak enak rasanya jika membenci ataupun merasa kesal pada seseorang. Itulah yang kualami kemarin.


Jakarta, 4 Februari 2009

"Semuanya tidak selalu sama bagi setiap orang." "Apa yang tidak sama?" "Kesan mencintai dan dicintai seseorang....

Dia (Tidak Sama)

"Semuanya tidak selalu sama bagi setiap orang."
"Apa yang tidak sama?"
"Kesan mencintai dan dicintai seseorang."
Aku tengah menatap ke luar jendela saat percakapan itu tiba-tiba terlintas dalam benakku. Ya, memang tidak akan pernah sama. Itulah yang dia katakan padaku saat kami tanpa sengaja bertemu di sebuah toko buku di daerah Matraman. Pertemuan itu juga bukanlah pertemuan yang istimewa. Tetapi, itulah pertemuan pertama kami sejak dua tahun kami tidak bertemu karena dia pindah sekolah ke Jepang.
"Dasar bodoh!" aku menggerutu siang itu saat percakapan itu kembali terulang di benakku.
"Siapa yang bodoh?" tanya Odi, adikku yang berusia 16 tahun.
"Ah, tidak. Kamu terlalu ingin tahu urusanku."
"Kau sedang tidak mengata-ngataiku kan?" Odi mendelik tajam ke arahku.
"Tentu saja tidak. Apa untungnya bagiku mengata-ngataimu? Hanya membuang-buang energiku!"
"Habis, kau ini kan cewek labil!" Odi pergi naik tangga menuju kamarnya.
"Hei! Kau bilang apa tadi?" aku terlambat melempar bantal ke arahnya karena dia sudah berada jauh di bagian paling atas tangga. Akhirnya, aku harus mengambil bantal yang kulempar itu.
Aku kembali menatap ke luar jendela, melihat hujan, melihat tetesan air yang mengalir di jendela, membuat dunia luar jadi terlihat buram.
"Tidak akan pernah sama cara seseorang mencintai dan dicintai." aku menggumam, kembali mengulang kalimat ketika itu.
Ah, lalu kenapa? Apakah dengan mengetahui bahwa cara mencintai dan dicintai setiap orang tidak sama, semua pengalaman menyakitkan itu akan hilang begitu saja? Dia mungkin bisa bicara begitu saat itu, tetapi aku tidak pernah mengerti maksudnya. Aku bahkan tidak pernah mengerti dirinya. Dia hanya teman lama yang bertemu kembali denganku di saat yang tepat. Aku mencintainya di saat yang tepat. Dia pun begitu.
***

"Aku memang bodoh! Bagaimana mungkin aku bisa mencintai laki-laki sepertimu! Laki-laki tanpa perasaan!" aku sungguh-sungguh berteriak, berusaha untuk mengeluarkan semua kekesalanku.
"Sudah?" dia hanya menatapku tanpa emosi.
"Apa kau tidak punya kalimat lain? Paling tidak, tanggapilah semua kata-kataku! Aku muak! Sungguh, aku sangat muak!"
"Kau muak karena apa? Karena aku? Atau karena telah mencintaiku?"
"Aku muak karena mencintai laki-laki sepertimu!" aku berteriak sambil membelakanginya. Aku sama sekali tidak berani menatap wajahnya. Air mataku mengalir begitu saja dan aku tidak bisa menyembunyikannya.
"Aku senang. Terima kasih" dia tersenyum. Setelah mengatakan itu, dia memelukku.
"Aku mencintaimu.." aku mengatakannya sambil terisak dan terdekap dalam pelukannya.
"Aku tahu. Sudah lama aku tahu." dia masih tetap memelukku.
"Kau tahu? Bagaimana bisa? Aku tidak pernah..." aku melepaskan pelukannya.
"Kau pernah menginap di rumahku saat perpisahan SMP dan kau bodoh karena mengigau soal itu." dia tersenyum simpul.
"Apa? Aku pernah.. Lalu kenapa kau diam saja?" aku melengos, sengaja melihat ke arah lain.
"Aku sengaja menunggumu mengakuinya."
"Bodoh!"
"Si bodoh mencintai si bodoh." dia tersenyum lagi, memegang tanganku, lalu menciumku.
Warna biru langit yang cerah sore itu serta angin yang lembut meniup rambutku seakan membawaku terbang bersama kehampaan udara.
***

Setelah berpacaran selama dua minggu, Hiroki pindah sekolah. Aku luar biasa terkejut saat mengetahuinya dari wali kelasku. Aku bahkan tidak tahu bahwa dia akan pindah sekolah. Aku juga tidak tahu bahwa dia telah merencanakan kepindahannya ke Jepang sejak lama. Aku sama sekali tidak tahu. Sebagai tambahan, aku baru benar-benar mencoba mengenalnya dalam dua minggu. Itu sama sekali tidka cukup.
Aku memberontak, tidak ingin menerima kenyataan itu. Aku tidak pergi ke kantin saat jam istirahat. Aku pergi ke halaman belakang sekolah, mencoba meneleponnya. Nomornya tidak aktif. Aku mencoba lagi dan hasilnya tetap sama. Nomornya sudah tidak dapat dihubungi. Saat itu, langsung terlintas di benakku untuk menelepon ke rumahnya. Yang menjawab adalah Mbo Marni. Jawaban yang diberikan Mbo Marni telah menambah kenyataan pahit yang kuterima hari itu. Hiroki pindah ke Jepang untuk menyelesaikan sekolahnya sampai menjadi sarjana di sana. Sekarang, yang tinggal di rumah hanya sepupu Hiroki, Ruisa.
Aku menutup telepon. Napasku sesak. Tenggorokanku sakit, tercekat. Aku menangis. Awalnya aku hanya terisak, tetapi kemudian aku menangis bersedu-sedu dan semua kesedihan tak tertahankan itu tumpah di siang itu.
Bodoh! Apa yang dipikirkannya? Dia tidak pernah membicarakan hal ini denganku. Dia juga tidak pernah memberitahuku. Dia bahkan tidak mengucapkan perpisahan. Apa yang ada dalam otaknya? Aku sama sekali tidak mengerti. Aku tidak pernah mengerti. Dia ternyata memang terlalu jauh dari jangkauanku.
***

"Mengapa kau pergi begitu saja tanpa memberitahuku?"
"Aku tidak pergi." dia menjawab sambil mengaduk-aduk Lemon Tea-nya.
"Kepalamu terbentur ya? Tidak pergi? Kau pindah ke Jepang dan baru kembali hari ini! Apa itu yang kau sebut tidak pergi?" aku setengah berteriak sata itu. Aku tetap ingat bahwa aku berada di Starbucks.
"Biar kutebak, apa kau pernah tidak memikirkanku saat aku di Jepang?" dia menatapku lekat-lekat.
Aku diam. Kubiarkan kepalaku menatap ke luar jendela saat dia mengatakan itu. Dia lalu memegang tanganku dan aku tidak bisa melepaskan diri darinya. Sungguh.
"Aku tidak benar-benar pergi darimu."
"Jangan bodoh! Kau tidak mengatakan apa-apa padaku soal kepindahanmu! Bagaimana mungkin aku tidak bertanya-tanya dan mengkhawatirkan dirimu? Kau tahu, aku takut! Aku selalu dihantui oleh pikiran 'kau pergi begitu saja tanpa kabar karena kau tidak benar-benar mencintaiku.' Wajar saja, kita baru berpacaran selama dua minggu! Kita bahkan belum pernah nonton film bersama, makan bersama, pergi ke tempat wisata bersama, ..." aku menarik napasku sebentar. "Aku belum memiliki cukup waktu bersamamu." aku menunduk. Tidak berani menatap matanya yang selalu terlihat mengantuk.
Dia melepaskan genggaman tangannya kemudian bersender dan menatap ke luar jendela. Persis seperti yang kulakukan tadi. Tetapi, wajahnya terlihat sedih. Matanya jadi lebih sayu dari biasanya dan tatapannya kosong seakan dirinya sedang berada di tempat lain saat itu, tidak bersamaku.
"Semuanya tidak selalu sama bagi setiap orang." katanya sambil tetap menatap ke luar jendela.
"Apa yang tidak sama?" aku menjawab sambil mengaduk-aduk kopiku.
"Kesan mencintai dan dicintai seseorang."
"Apa maksudmu?"
"Aku mencintaimu dengan caraku. Kau merasa dirimu dicintai dengan caramu. Jadi, sampai kapan pun kau tidak akan pernah merasa dicintai olehku."
"Aku tidak mengerti." ujarku jujur.
"Aku tidak akan meneruskannya. Kurasa kita sudah terlalu lama berada di sini. Sebaiknya kita pergi ke tempat lain. Biar aku yang mengantarmu."
"Kita akan pergi ke mana?"
"..." dia hanya menatapku, lalu menarik tanganku. Kami pergi. Dia menyetir mobilnya dengan kecepatan 120 km/ jam dan aku hampir saja mati saking takutnya. Dia lalu berhenti di depan sekolah kami. Dia berhenti di SMP tempat kami pertama kali bertemu. Tempat kami memulai semuanya.
"Apa yang ingin kau lakukan?"
"Kalau kau keberatan, aku akan mengantarmu pulang."
"Tidak. Aku mau bersamamu."
"Kalau begitu, ikutlah denganku."
Kami menerobos masuk dengan memanjat pagar belakang sekolah. Saat itu hari Sabtu. Sekolah sedang libur dan hanya ada kegiatan ekstrakulikuler untuk para murid. Aku dan Hiroki bisa masuk dengan mudah dan Hiroki langsung menarikku, membawaku menaiki tangga sekolah sampai kami tiba di atap sekolah. Dia membawaku ke pinggir atap dan kami mamatung di sana. Aku tidak mengerti apa yang sedang kami lakukan saat itu. Tiba-tiba, Hiroki berteriak dan teriakannya itu membuat jantungku berdebar sangat kencang. Aku nyaris kehilangan pijakanku jika dia tidak langsung memelukku.
"Hiroki..."
"Aku mencintaimu."
"Ini pertama kalinya kau mengatakan itu. Aku senang."
"Aku belum mendengar jawabanmu."
"Aku bersedia karena selamanya aku hanya mencintaimu."
"Bisa-bisanya kau omong besar di saat seperti ini." dia tersenyum simpul seperti biasa, tersenyum dengan caranya, lalu tertawa.
"Sudahlah. Jangan dilanjutkan. Lepaskan pelukanmu."
"Tidak. Biarkan sja seperti ini. Aku mau memelukmu sampai kau tertidur."
"Kalau begitu, aku tidak akan tertidur. Karena aku ingin mengingat semua kenangan saat bersamamu."
"Kalau begitu, aku akan memelukmu terus."
"Tidak masalah. Aku juga akan memelukmu sampai kau lelah."
"Dasar bodoh." dia memelukku semakin erat.
"Si bodoh memeluk si bodoh." dia menatapku lalu menciumku.
***

Hujan sudah berhenti. Aku tidak menyadari bahwa ternyata ibu sudah kembali dari butiknya. Tetapi, yang aneh darinya sore itu adalah dia membawa banyak sekali buket bunga. Aku penasaran soal siapa pengirimnya. Jadi, hal itu langsung kutanyakan pada ibu.
"Kenapa ada banyak sekali bunga, bu?"
"Ah.. Arinka! Ini semuanya untuk kamu!" ibu berseru senang seperti orang baru menerima undian berhadiah satu milyar.
"Untukku? Dari siapa?" aku bingung.
"Lihat saja sendiri pengirimnya. Kan namanya ada di kartu." ibu menjawab sambil tersenyum senang. Aku membaca kartu yang ditunjukkan ibu.
Aku mengirimkan semua jenis bunga untukmu. Maaf, aku belum bisa menemuimu. Aku belum siap untuk itu. Kuharap kau mau menunggu.
Hiroki

Ah! Sial! Hiroki! Dia selalu datang di saat yang tepat. Aku tidak tahu apakah dia benar-benar akan memenuhi janjinya sore itu. Aku tidak peduli. Yang jelas, aku mencintainya dan dia pun begitu. Aku sudah tidak mempermasalahkan jarak kami lagi. Setiap orang memiliki cara mencintai dan dicintai masing-masing. Itulah yang kuketahui darinya.

Usaha si Bodoh Ini bukan kisah cinta. Saat kau membacanya, mungkin ini akan terlihat seperti kisah murahan seorang gadis yang—entah b...

Cerpen: Usaha Si Bodoh

Usaha si Bodoh

Ini bukan kisah cinta. Saat kau membacanya, mungkin ini akan terlihat seperti kisah murahan seorang gadis yang—entah bagaimana—bisa jatuh cinta dengan seorang laki-laki yang bahkan tidak pernah menyapanya sama sekali. Ini kisah yang bodoh, menurutku. Gadis ini sungguh terlalu lugu—hingga mungkin pantas disebut menyedihkan—karena dia sendiri, dengan cara yang sungguh bodoh, hanya memandang orang yang disukainya itu secara diam-diam dari tempat duduknya. Dia hanya melihatnya lewat di depannya, makan, mengobrol, dan melihat hal-hal tak penting lainnya. Sungguh konyol. Dia benar-benar hanya melihatnya tanpa berani menyapa atau menanyakan namanya. Sesekali, dia melemparkan senyum simpulnya yang sebenarnya tidak terlihat menawan.
Gadis bodoh itu bernama Kirana Larasati. Dia temanku satu jurusan di Sastra Jepang. Dia bukan gadis yang cantik, namun dia juga bukan seorang gadis yang terlalu buruk rupa sampai tidak pernah ada yang mau berpacaran dengannya. Memang, sampai detik ini, saat usianya sudah 18 tahun lebih 3 bulan 25 hari, dia belum pernah berpacaran. Dia sama sekali belum pernah menyukai lawan jenisnya. Inilah yang pertama baginya. Dia akhirnya menyukai seorang laki-laki dari jurusan Ilmu Perpustakaan.
Sebenarnya, orang yang disukainya bukanlah orang yang populer di kampus. Aku bahkan baru mengetahui keberadaan orang itu saat Kirana menceritakannya padaku. Laki-laki itu cukup tampan, namun entah mengapa kurang menarik perhatian. Sepertinya, dia tidak memiliki aura seorang bintang. Padahal, jika dibandingkan dengan artis korea yang sedang begitu digilai anak muda, termasuk mahasiswa, laki-laki itu lebih tampan. Hanya kurang sedikit polesan pada wajah, rambut, dan gaya berpakaiannya. Yah, itu hanya menurutku. Mungkin kalian punya pendapat yang sedikit berbeda.
Sudah dua bulan berlalu sejak Kirana mulai memperhatikan laki-laki itu. Sudah kukatakan sebelumnya bahwa dia gadis yang bodoh. Selama dua bulan itu, dia sama sekali tidak berusaha mencari tahu nama orang itu. Hanya memperhatikannya saja dari jauh dengan wajah berseri dan mata berbinar-binar seperti tokoh perempuan dalam manga. Kadang, dia mendesah dan mengatakan “Kawaii~”, kemudian tersenyum lebar seperti ibu gila yang melihat boneka anak-anakan. Tidak pernah ada keinginan dalam dirinya untuk mengetahui nama orang yang disukainya itu.
Akhirnya, terpaksa aku yang megambil tindakan mencari tahu namanya. Aku bertanya pada beberapa temanku yang kuliah di jurusan yang sama dengan orang itu dan beberapa temanku dari jurusan lain yang mungkin mengenalnya. Usahaku ini berhasil. Namanya berhasil kudapatkan dan, menurutku, namanya cukup aneh untuk ukuran nama orang Indonesia standar.
Aram Sagara Pallawa. Nama macam apa itu? Aku tertawa saat pertama kali mendengarnya langsung diucapkan oleh temanku, Hendi, dari jurusan Ilmu Perpustakaan angkatan 2007. Mereka teman satu angkatan sehingga aku bisa mendapatkan semua informasi yang mungkin kuperlukan darinya.
Aku memberitahukan semua informasi yang kudapatkan pada Kiran. Dia terlihat sangat senang begitu tahu namanya. Aku juga sebenarnya senang karena hasil kerjaku ternyata memuaskan. Tetapi, setelah tahu nama cowok itu, Kiran tidak menunjukkan sikap yang memuaskan. Maksudku, sebenarnya aku ingin dia semakin semangat untuk lebih mengenalnya, paling tidak mengobrol dengannya. Namun, ia sama sekali tidak menunjukkan keinginan untuk lebih dekat, bhkan saat dia sudah tahu nama dan beberapa indormasi lainnya sekalipun. Aku bingung.
Lama kelamaan, aku mengerti bahwa sebenarnya Kirana hanya suka melihat wajahnya yang tampan. Kurasa, ini seperti kisah cinta fans dan artis idolanya. Menurutku, dia seperti menggemari cowok idolanya itu secara berlebihan, namun tidak ingin menjadi lebih dekat karena mungkin sensasi yang dirasakan akan berbeda. Tidak terlalu menyenangkan seperti sensasi yang ia rasakan sebelumnya.
Aku cukup mengerti akan hal itu dan aku tidak memintanya melakukan hal lain lebih jauh. Biarkan saja dia menyukai orang itu dengan caranya, walaupun cara itu sama sekali tidak bisa kuterima. Caranya menyukai orang itu memang aneh dan ini baru pertama kali kulihat.
Ya, biarlah ini menjadi pengalamanku. Cinta itu tidak harus berbalas dan dari dua belah pihak, laki-laki dan perempuan. Cinta juga bisa dirasakan satu arah dan aku rasa itu baik-baik saja selama salah seorang pihak merasa bahagia akan hal itu dan tidak ada yang disakiti atau merasa dirugikan. Semudah itulah cinta yang dirasakan oleh Kirana, temanku yang bodoh itu.

KETIDAKMAMPUANKU Hening. Senyap. Sepi. Sepertinya hanya itulah kata yang paling tepat melukiskan suasana di kelas saat itu. Aku hanya ber...

Cerpen: Ketidakmampuanku

KETIDAKMAMPUANKU



Hening. Senyap. Sepi. Sepertinya hanya itulah kata yang paling tepat melukiskan suasana di kelas saat itu. Aku hanya berdua dengannya, duduk bersender di dinding belakang kelas. Dia duduk di sampingku, membaca sebuah buku berbahasa Inggris yang sama sekali tidak kumengerti artinya. Sesekali aku mengerling padanya memastikan apakah dia sudah selesai membaca bukunya. Tidak ada satu pun dari kami yang bicara. Cahaya keemasan merangkap masuk melalui jendela yang gordennya tidak terpasang. Kami tetap tidak bicara. Dia bahkan tidak menatapku sama sekali. Matanya tetap tertuju pada bukunya itu.

Telepon genggamku berdering memecah kesunyian yang merintis sampai ke tulangku. Aku segera meraihnya. Ada nama Misa dan gambar amplop yang bergerak-gerak di layar handphone-ku. Dia menoleh sesaat lalu kembali membaca bukunya. Aku juga tidak terlalu peduli akan isi pesan singkatnya itu. Karena tidak ingin mengganggu konsentrasinya, aku segera menonaktifkan handphone-ku.

Tiba-tiba dia menutup bukunya. Dia melepas kacamatanya lalu memejamkan mata. Kami masih mengunci mulut masing-masing. Kaku. Tapi tidak pernah membuatku bosan. Itulah dia. Selalu ada perasaan bahagia saat bersamanya, walaupun sebenarnya tidak banyak yang kami lakukan saat bersama. Selalu sama seperti hari ini. Kami menunggu sampai ruang kuliah kosong kemudian dia membaca buku-bukunya yang selalu berbahasa Inggris. Dan aku hanya duduk di sampingnya. Sesekali memandangnya, mengamati wajah seriusnya. Mungkin aku lebih banyak melamun saat bersamanya dan tidak pernah bicara.

Aku menyukai suasana seperti ini. Mungkin aku seperti orang bodoh yang tidak tahu harus berbuat apa, tapi aku lebih senang seperti ini. Tidak melakukan apa-apa. Asalkan aku bisa terus bersamanya, lebih lama, dan lebih lama lagi. Rasanya 6 jam sehari sama sekali tidak cukup bagiku. Aku ingin lebih. Mungkin hasrat ini memang aneh, tapi ini normal bagiku.

Aku bisa mendengar suara napasnya yang berat tapi terdengar sangat lembut di telingaku. Dia tertidur, kurasa. Kepalanya terkulai ke arahku kemudian terjatuh lemah ke pundakku. Aku tidak menolaknya sama sekali. Semua kubiarkan berjalan apa adanya, tanpa protes, tanpa keluhan apapun, tanpa menyesal sedikit pun.

Masih hening. Lambat. Baik waktu maupun desah napas kami. Semuanya terasa melambat, seakan ingin membiarkan kami menikmati detik demi detik yang langka ini.

“Sampai kapan kau ingin terus di sini?” tiba-tiba dia bertanya, nyaris membuat jantungku melompat keluar.

“A-apa?” tanyaku gugup. Belum sempat menyiapkan hatiku untuk mendengar suaranya yang lembut dan merdu itu. Jantungku masih melompat-lompat di tempatnya.

“Kau tidak mungkin terus berada di kelas kan?” tanyanya lagi, tanpa memperjelas pertanyaan pertamanya. Bingung, aku malah balik bertanya padanya.

“Maksudmu?” dia mengangkat kepalanya kemudian berdiri.

“Ayo pulang.” dia melangkah pergi.

Aku kesulitan mengikuti langkahnya yang lebar. Namun, dia selalu berhenti sebentar untuk menyamakan langkah kami. Kami berjalan beriringan, walaupun rasanya aku tidak pantas berjalan di sampingnya.
Kami selalu menjadi pusat perhatian dalam saat-saat seperti ini. Sebenarnya, hanya dialah yang selalu menjadi pusat perhatian orang-orang. Kulitnya yang putih seperti pualam, wajahnya yang seakan-akan dipahat di atas berlian dengan sangat sempurna berpendar seperti bulan purnama, suaranya yang lembut dan merdu, sangat natural seperti suara pagi hari yang sejuk. Matanya hitam kelam, memancarkan kepastian yang tidak akan goyah.

Dia sangat sempurna, memang sangat sempurna. Aku tak bisa menahan diriku untuk tidak mengagumi kesempurnaannya itu. Aku bahkan merasa bersalah melihat tatapan orang-orang—apalagi teman-temanku di kampus—yang seakan-akan menuduhku telah merebut kesempatan mereka untuk menikmati kesempurnaan itu.

Tapi aku mencintainya. Mengagumi kesempurnaannya adalah anugerah yang tidak henti-hentinya kusyukuri. Dan kunjungan ke Perpustakaan Nasional di siang yang menyengat itu merupakan kunjungan yang pasti akan selalu melekat di ingatanku. Tak akan kulupakan walaupun aku terserang alzheimer sekalipun. Mungkin.
Pikiranku melayang ke saat-saat itu. Dia tiba-tiba berdiri di sampingku, memanggil namaku dengan suara yang lembut namun pasti. Aku menengok karena kaget dan tanpa basa-basi lagi dia langsung menyatakan kecintaannya akan diriku.

Aku terbelalak menatapnya tak percaya, seakan-akan dia baru saja menemukan keajaiban dunia ke-8. Tapi dia terus menatapku. Tatapannya dalam dan tegas, tak pernah membiarkanku memalingkan wajah. Tanpa ragu-ragu, dia mengulang kalimatnya lagi.

”Hei, kau tidak dengar, ya? Kubilang, aku mencintaimu”, begitu katanya. Nada suaranya memang sedikit merendahkanku. Membodo-bodohi aku. Tapi aku tidak bisa menolaknya, bahkan sampai sekarang pun tetap tidak bisa. Aku bergantung padanya. Aku juga mencintainya.

Malam itu, kami pergi ke suatu tempat yang ingin ditunjukkan olehnya. Rumah ayahnya yang terletak di daerah Cisarua, Bogor. Rumah itu hanya ditempati jika ada acara keluarga seperti arisan, pesta syukuran, dan pesta-pesta lainnya. Jika tidak ada acara-acara itu, rumah itu kosong, hanya diurus oleh seorang pembantu dan seorang tukang kebun, sepasang suami istri.

Istana. Rumah ayahnya memang seluas istana. Megah dan mewah. Seluruh lantainya beralaskan marmer merah muda yang sedap dipandang mata. Lampu kristal menggantung di tiap ruang dalam berbagai ukuran. Memantulkan warna-warna pelangi yang bercahaya dan menyilaukan.

Setelah meminta kunci dari Mbok Ijem—begitu dia memanggilnya tadi—dia mengunci seluruh pintu rumah yang dapat menghubungkan kami dengan dunia luar. Aku bertanya dalam hati untuk apa dia melakukan itu, tapi tidak kuutarakan padanya. Aku diam saja. Kali ini pun aku tidak bisa menolaknya. Sama sekali tidak ingin.

Dia mengajakku ke sebuah kamar di lantai atas. Pintunya dikunci rapat. Kemudian, dia mendorongku ke atas spring bed yang ada di dalam kamar luas itu. Aku menghempas pasrah. Dia menindihku. Aku bisa melihat bintik-bintik merah di wajahnya yang merona. Matanya yang biasanya kelam, entah kenapa kini terlihat bercahaya. Dia mengatup bibirku perlahan dengan bibirnya. Lembut namun sangat lekat. Aku mengerang.
“Daniel…” hanya itu yang dapat kukatakan.

Sesekali dia melepaskan bibirnya dan mengambil napas sebentar kemudian melanjutkan kembali ciumannya, lalu melepaskannya lagi, menarik napas, lalu melanjutkannya lagi. Begitu terus sampai berkali-kali selama sepuluh menit. Tangannya menggerayangi tubuhku, membelai dengan lembut. Aku terbuai dalam kenikmatan yang tiada tara. Akankah ini jadi malam pertamaku?

Tidak. Aku tidak boleh begini. Terbuai dalam sentuhan dan rabaannya. Pakaianku sudah terlepas semuanya dan dia menerjangku dengan kasar. Lagi-lagi, dia tak membiarkanku menolaknya. Dan aku memang tidak ingin menolaknya. Aku diam saja, mengikuti semua yang diinginkannya.

Dan malam itu, dinding, lemari, lampu, kursi, dan semua benda-benda mati bisu yang ada di kamar itulah yang menjadi saksi kami. Kami terjaga sepanjang malam. Bahkan, sampai pagi pun aku tetap tak mampu menolaknya.



Jakarta, 10 Maret 2010