Tampilkan postingan dengan label horror. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label horror. Tampilkan semua postingan

Burung Biru Hujan sore itu telah mengurungku di rumah. Terjebak aku di tengah kebosanan dan kehampaan diri sendiri. Bingung, aku pergi k...

Cerbung: Burung Biru

Burung Biru


Hujan sore itu telah mengurungku di rumah. Terjebak aku di tengah kebosanan dan kehampaan diri sendiri. Bingung, aku pergi ke perpustakaan pribadiku—sebenarnya itu adalah kamar kosong yang tidak terpakai dan sebelum dijadikan gudang, aku mengusulkan untuk menaruh lemari dan rak buku di sana, tempat menyimpan buku-bukuku—dan mencari buku yang cocok dibaca saat ini.

Aku melihat banyak judul. Salah satu di antaranya berjudul Matahari dan Bulan Berkawan. Itu adalah buku bergambar yang diberikan ibu saat aku sudah mulai bisa membaca. Aku masih ingat ceritanya dengan sangat jelas dan entah kenapa saat itu aku tergugah untuk membacanya kembali. Aku mulai membuka lembar sampulnya yang bergambar matahari dan bulan. Isinya sama, tepat seperti yang kuingat selama ini. Memang benar, aku masih ingat semuanya sampai ke detail-detail kecilnya.

Aku menutup buku itu dan meletakkannya kembali ke tempat semula. Aku kembali melihat sekeliling, mencoba mencari buku apa lagi yang sebaiknya kubaca. Namun, aku tidak menemukan buku lain yang menarik. Akhirnya aku melangkah keluar dan menutup pintu perpustakaanku. Aku masih sendirian di rumah. Ibu sepertinya masih betah mengobrol sambil arisan di tempat Tante Dewi. Ibu memang sudah mengajakku tadi, namun aku menolak. Aku menolak untuk terlibat ke dalam perkumpulan dan obrolan ibu-ibu yang sudah berumur. Pasti akan jauh lebih membosankan daripada sendirian di rumah. Oh iya! Aku hampir lupa memberitahu.

Ayahku sedang berlibur ke Monaco bersama bos—Pak Nasrudin—dan beberapa temannya sekantor. Sebenarnya, liburan ini diberikan oleh Pak Nasrudin karena anaknya akan menikah di sana dan ayahku—yang kebetulan merupakan pegawai kepercaaan Pak Nasrudin—diundang untuk menghadirinya juga. Beruntung sekali dia. Sebenarnya, Pak Nasrudin menyuruh ayahku untuk membawa serta ibu dan aku, namun ayah menolak. Ayah bilang, dia tidak ingin keluarganya merepotkan. Apanya yang merepotkan? Akibatnya, sekarang aku jadi terjebak di rumah dan didera kebosanan.

Di luar semua hal yang sedang terjadi dan sudah terlewat itu, memang kepergian ayah ke Monaco itulah yang peling kusesali. Oleh karena itu, sebagai ganti karena aku tidak diajak ke Monaco, aku minta dibelikan oleh-oleh tas, gelang, dan kalung dari Monaco. Bukankah Monaco memang terkenal akan perhiasannya? Aku tidak mau rugi dan melewatkan kesempatan ini. Saat ayah menelepon tadi pagi, aku kembali mengingatkannya untuk membelikan pesananku.

Aku berjalan menuju dapur dan mencoba menjelajah isi lemari es. Ada sekotak es krim dan sekotak kue brownies kukus di sana. Tanpa pikir panjang, aku segera menghabiskannya. Perutku kenyang, sangat kenyang. Campuran es krim vanila yang dioleskan di atas brownies kukus coklat memang sungguh nikmat dan mengenyangkan. Sekarang, aku malah merasa ingin muntah.

Aku pergi ke sofa di ruang baca untuk berbaring sebentar. Kurebahkan punggungku di sana dan kutepuk-tepuk perutku yang membuncit setelah menghabiskan es krim dan brownies. Ruang baca di rumahku sebenarnya tidak memiliki ruangan sendiri. Ruangan itu masih bergabung dengan ruang keluarga yang letaknya sudah agak ke tengah rumah. Ruang baca sengaja dibuat tanpa pintu namun letaknya sedikit ditinggikan sehingga memiliki kesan terpisah dari ruang keluarga.

Aku memandang sekeliling. Saat itu, mataku terpaku pada sebuah pajangan kaca di tengah ruangan yang di dalamnya terdapat seekor burung biru yang diawetkan. Ayah bilang, dulunya burung itu merupakan peliharaan ayah. Namun, saat ayah mulai sibuk bekerja, ayah jadi lupa pada burung itu dan lalai merawatnya. Akibatnya, dia mati. Ayah yang sangat menyayangi burung itu tidak mau kehilangannya terjadi secepat itu. oleh karena itu, dia mengawetknnya dan mengurungnya di dalam kotak kaca yang indah.

Memang, pajangan itu sangat indah. Di bagian dasar kotak terdapat tempelan rerumputan hijau dan bunga plastik yang kaya warna. Lalu, tempat bertengger burung itu adalah sebatang kayu—mungkin lebih tepat dikatakan sepotong ranting—coklat tua yang bercabang tiga di bagian bawah dan dua di dekat puncaknya. Sang burung bertengger di cabang yang mendekati puncak. Di potongan ranting itu menempel daun-daun yang tidak biasa kulihat di sini. Bentuknya seperti daun papaya, namun tidak selebar itu. Warnanya pun bukan hijau, melainkan jingga. Sebagian lainnya berwarna kuning keemasan. Inilah yang menambah keindahan burung biru dalam pajangan.

Pandanganku seakan terseret ke dalam kotak itu, tepat ke arah pemandangan burung biru yang hendak mengembangkan sayapnya. Aku baru sadar, warna mata burung itu kuning cerah, hampir seperti emas, dan pupil matanya elips, seperti mata kucing. Apakah mata burung memang seperti itu? ah! Aku ini bukan penggemar dan pemerhati burung. Mana aku tahu bagaimana mata burung-burung pada umumnya. Lagipula, entah sejak kapan aku jadi terbawa suasana dan terus memerhatikan pajangan itu.

Aku bangkit dan meninggalkan ruang baca. Sebelum keluar, muncul dorongan dalam diriku untuk menengok dan melihat kembali pajangan burung itu. Burung itu menatap ke arahku. Tatapanya tajam karena pupilnya yang seperti pupil kucing. Sedetik kemudian aku bergidik. Aku menyadari keanehan yang terjadi. Mana mungkin burung itu menatapku! Saat aku duduk tadi, dia memang menatapku karena aku memang tepat berada di depannya! Tetapi sekarang aku jelas-jelas membelakanginya! Seharusnya, yang kulihat adalah punggung burung itu—jika burung memang mempunyai bagian belakang yang bisa disebut punggung—bukan berhadapan dan saling menatap begini!

Aku berlari. Berlari secepat-cepatnya ke luar rumah. aku meraih pintu depan rumahku dan bertubrukan dengan orang yang kedatangannya sebenarnya tidak kunantikan, namun kusyukuri. Ibu! Ibu datang di saat yang tepat. Aku segera memeluknya dan ibu terlihat bingung menerima perlakuanku.

“Ada apa ini? Ibu kan hanya pergi arisan saja,” tanya ibu setelah aku melepaskan pelukakanku.

Aku ingin segera menjawabnya dan menceritakan kejadian aneh yang baru saja kualami tadi. Kukatakan, 

“Burung itu aneh, bu. Tadi burung itu menatapku saat aku duduk di ruang baca, lalu saat aku menengok lagi, burung itu menatapku lagi, padahal harusnya burung itu membelakangiku, bu. Burung itu bergerak, padahal burung itu hanya burung yang diawetkan dan sudah mati. Aku tidak tahu kenapa burung itu bisa bergerak, bu, tapi aku benar-benar takut. Burung itu menatapku dan tatapannya tajam menusuk, bu. Aku takut sekali. Syukurlah ibu datang.” Aku mengatakannya dengan sangat cepat sehingga aku tidak yakin ibu mendengar seluruhnya atau tidak.

Ekspresi ibuku benar-benar menakutkan saat itu. Dia menatapku dengan mata terbuka hampir keluar. Dia memegangi pipiku kemudian bertanya dengan wajah serius, “Ada apa dengan suaramu, Nike?”

Suaraku? Ada apa dengan suaraku? Kenapa ibu menanyakan hal itu? memangnya ada yang salah dengan suaraku? Aku sungguh-sungguh tidak mengerti.

“Nike, jawab ibu!” ibu berseru sambil mengguncang-guncangkan tubuhku. Aku masih tidak mengerti kenapa ibu bersikap begitu.

“Memangnya ada apa dengan suaraku, bu? Tidak ada yang salah, kan? Suaraku masih sama seperti biasa.” jawabku jujur. Ekspresi ibuku masih sama. Barulah saat itu kusadari bahwa suaraku tidak keluar. Aku hanya menggerakkan mulut saja, tanpa ada suara yang keluar. Sekarang, ekspresi wajahku sama dengan ibuku. Aku terkejut luar biasa. Kenapa suaraku bisa hilang? Tidak mungkin! Apa karena terlalu banyak makan es krim dan coklat? Ah! Itu tidak ada pengaruhnya. Tidak mungkin suara bisa hilang secepat itu. setidaknya, pasti suaraku akan serak dulu.

“Kita ke dokter ya, Nike. Sekarang. Kita ke tempat Om Rudi,” Ibuku memegang pundakku erat-erat sambil mengatannya. Aku mengangguk.

“Bi Sumi kemana ya? Harusnya jam segini ‘kan dia menyiram kebun mawar ibu,” tanya ibu pada dirinya sendiri.

Benar juga! Tidak mungkin aku sendirian di rumah. Seharusnya ada Bi Sumi. Sebelum ibu pergi, dia masih ada. Bahkan, saat menerima telepon dari ayah tadi pagi juga masih ada. Setelah aku pergi ke kamar, aku memang tidak mendengarnya lagi. Saat makan siang juga dia tidak memanggilku. Tapi, saat itu makanan sudah tersedia di meja makan jadi aku tidak banyak tanya. Pertanyaan besar baru muncul sekarang, kemana Bi Sumi?

Ibu menyuruhku masuk ke mobil lebih dahulu sementara dia mencari Bi Sumi di dalam. Sudah lewat sepuluh menit, namun ibu masih belum keluar. Aku menunggu dengan tidak sabar dan akhirnya aku memutuskan untuk menyusul ibu. Aku mendengar suara ibu dari dapur dan segera menyusulnya ke sana. Ibu masih meneriaki nama Bi Sumi namun tetap tidak ada jawaban. Ini aneh, sangat aneh. Akhirnya ibu menyerah dan membiarkan rumah terkunci selama kami pergi ke tempat praktik Om Rudi.

Aku segera diperiksa begitu sampai di sana. “Semuanya normal, tidak ada yang salah dengan pita suaraku. Bisa dibilang, ini peristiwa yang sangat aneh. Saat ini, Nike sudah menjadi seorang tunawicara. Dia bisu dan itu sebebnya kenapa suaranya tidak keluar,” begitu penjelasan Om Rudi.

Ibu masih tidak percaya dan menanyakan keadaanku sekali lagi pada Om Rudi. Tetapi, jawaban Om Rudi sama. Dia jelas-jelas bingung melihat keadaanku. Suaraku tiba-tiba hilang. Aku pun tidak mengerti kenapa. Semua ini memang aneh. Aku dan ibu pulang dengan tanda tanya besar dalam hati. Aku seorang tunawicara sekarang.

***


Sudah satu bulan sejak suaraku tiba-tiba menghilang begitu saja. Sejak saat itu juga, Bi Sumi tidak pernah ditemukan dan tidak tahu menghilang kemana. Ibu sudah melapor ke kepolisian daerah dan meminta bantuan untuk mencarinya, namun hasilnya tidak ada. Bi Sumi lenyap begitu saja, sama seperti suaraku yang lenyap dan hilang tak berbekas secara tiba-tiba. Ibu sudah memberitahukan ini pada keluarga Bi Sumi di kampung dan meminta maaf atas kejadian ini. Untungnya, keluarga Bi Sumi sudah mengikhlaskan sehingga ibu tidak terlalu merasa bersalah. Keluarga Bi Sumi juga tidak menyalahkan keluarga kami atas hilangnya Bi Sumi.

Teman-teman sekolahku sama bingungnya denganku begitu tahu aku bisu. Ibu sudah menjelaskan pada kepala sekolah soal hilangnya suaraku dan kepala sekolah juga menjelaskan dengan baik pada wali kelasku, begitu pun wali kelasku yang menjelaskan dengan baik pada teman-teman sekelasku.

Aku menjalani kehidupan dua bulan berikutnya dengan biasa saja. Ayah yang pulang minggu berikutnya setelah peristiwa hilangnya suaraku sangat terkejut. Hal itu kuanggap wajar karena aku pun terkejut. Aku tidak pernah menghubungkan keanehan pada burung biru itu dengan hilangnya suaraku dan menceritakannya pada orang tuaku serta semua orang yang kukenal. Karena saat ini aku bisu, cara yang bisa kulakukan untuk menyampaikan isi hati dan pikiranku adalah menulis. Ke mana pun aku pergi, aku selalu membawa buku catatan yang mudah disobek dan tentu saja pulpen atau spidol.

Ibu mengusulkan padaku untuk mengikuti kursus bahasa isyarat, tetapi kurasa itu tidak perlu. Aku tidak tuli, suaraku hanya menghilang begitu saja. Aku masih meyakini bahwa suaraku pasti hanya menghilang sesaat. Aku tidak ingin berpikiran buruk tentang musibah yang menimpaku. Aku hanya ingin berpikiran positif bahwa suaraku pasti akan kembali. Aku akan berbicara sebentar lagi.

Hari minggu, tepat dua bulan 17 hari sejak suaraku hilang. Ibu pergi arisan ke rumah Tante Umi dan kali ini 
pun aku menolak untuk ikut. Ayah tentu saja pergi ke kantor untuk lembur. Ibu sudah menyewa pembantu lain untuk menggantikan Bi Sumi, namanya Mba Ita. Usia Mba Ita hanya dua tahun lebih tua dariku. Dia orang yang lumayan bersahabat dan sangat lucu. Pandai membuat lelucon konyol yang kreatif. Aku menyukainya sejak pertama kali dia datang. Hasil kerjanya juga rapi dan bersih, tidak kalah dengan hasil kerja Bi Sumi.

Minggu siang itu, aku menonton televisi ditemani Mba Ita. Mba Ita dengan senang hati mau membuatkan pasta dicampur kornet dan parutan keju yang sangat lezat. Aku memakannya dengan lahap sambil menonton film yang sedang diputar di DVD Player-ku.

“Pastanya enak, non?” tanya Mba Ita.

“Iya, mba. Enak banget. Enggak kalah sama pizza mie yang kemarin mba buat.” jawabku tulus.

“Syukur deh, non. Saya takut non enggak doyan pasta.” Mba Ita menghela napas lega.

“Ah, kalau masakan Mba Ita mah aku pasti suka.”

“Ya udah, non. Saya mau ke kamar dulu ya. Mau nyetrika sebentar.”

“Oh, iya mba. Makasih ya, mba, pastanya.”

Aku kembali sendirian siang itu. Film yang kutonton adalah film horror Jepang tentang hantu wanita bermulut sobek. Aku memang menyukai film-film seperti ini sejak dulu, bahkan ibu pernah mengatakan padaku bahwa waktu kecil aku bisa melihat hantu. Namun, aku sendiri tidak pernah ingat bagaimana wujud hantu itu sebenarnya, selain hantu-hantu yang pernah kulihat di acara-acara televisi dan film-film.

Aku haus dan berjalan ke dapur untuk membuat sirop rasa cocopandan dengan campuran irisan buah apel. Setelah itu, aku kembali ke ruang tengah untuk melanjutkan acara menontonku. Namun, ternyata televisinya sudah dimatikan, begitu pun filmnya. Kupikir, mungkin aku tanpa sengaja menekan tombol timer tadi. Aku berjalan untuk menyalakan televisi lagi, tetapi tiba-tiba aku sudah berdiri di ruang baca, berhadapan dengan burung biru itu.

Oh, Tuhan, aku pasti bemimpi! Keanehan apa lagi ini! Burung biru itu saat ini ada di depanku dan bukannya di dalam kotak kaca namun di atasnya. Burung aneh itu bertengger di atas kotak kaca sambil menatap ke arahku. Matanya berkedip, mata yang seperti mata kucing. Kuning cerah dan tajam. Dia berkedip lagi, dua kali. Kali ini, aku yang tak bisa berkedip. Aku bahkan merasa mataku tertarik ke sana, aku merasa burung itu mencoba menarik mataku keluar dari kelopaknya. Aku ingin berteriak, namun tidak bisa. Aku bisu. Aku mencoba menutup mataku dengan kedua tanganku namun aku merasakan sesuatu menjalar di sana. Aku takut, luar biasa takut. Lalu aku merasakan ada yang menarik tubuhku ke belakang dan sedetik kemudian aku merasa seperti terhempas dari gedung pencakar langit.

“Non Nike! Non Nike kenapa?” wajah Mba Ita yang ketakutan terlihat samar-samar.

“....”

“Non tadi teriak kencang sekali, seperti dikejar setan! Non teriak, non! Non bisa bicara lagi kan?”

“…..”

“Saya yakin tadi non teriak!”

“Ah..” aku mencoba bicara.

“Iya non. Non bisa bicara lagi!”

“Aku…” aku bisa merasakan pita suaraku bergetar.

“Alhamdulillah! Allah masih sayang sama non!” Mba Ita berseru gembira.

“Aku mau nelpon ibu. Mba Ita temenin saya, ya?”

"Iya non. Ayo, jalannya pelan-pelan aja.”

Napasku masih tersengal-sengal karena mimpi tadi. Aku segera menelepon ibu dan ayah dan keduanya langsung pulang berselang tiga puluh menit sampai satu jam kemudian. Mereka luar biasa senang melihat aku bisa bicara lagi. Mereka bahkan nyaris tidak percaya bahwa yang menelepon tadi adalah aku. Tanpa ragu lagi, aku segera menceritakan kejadian aneh sebelum suaraku hilang serta mimpi aneh yang kualami tadi. Mereka semua terkejut mendengarnya, termasuk Mba Ita yang saat itu ikut mendengarkan. Tapi yang paling terkejut diantara mereka bertiga adalah ayah. Ayah masih menolak untuk percaya bahwa penyebab hilangnya suaraku adalah pajangan burung biru itu.

“Tidak mungkin. Itu tidak masuk akal.” ayah bersikeras.

“Tapi itu yang terjadi, Ayah. Nike yang mengalaminya. Nike tidak mungkin bohong soal ini.” ibu juga tidak mau kalah.

“Aku tidak bilang Nike telah berbohong, tapi kejadian ini memang tidak masuk akal. Aku bertahun-tahun membaca di ruang baca dan tak pernah mengalami kejadian seerti itu. Mungkin itu hanya prasangka.”

“Bagaimana kalau sekarang kita melihat pajangan itu di ruang baca.” Aku mengusulkan.

Kami berjalan bersama menuju ruang baca. Dari jauh sudah terlihat burung biru itu. Lagi-lagi kuakui, pajangan itu memang sangat indah. Ayah yang berjalan di depan segera menghampiri pajangan itu dan memelototinya dari dekat. Adri setiap sudut.

“Lihat, tidak ada yang salah. Matanya juga seperti mata burung lainnya dan memenag sejak dulu matanya seperti itu. dengar, Nike, ayah senang suaramu sudah kembali dan ayah percaya itu karena kondisi kejiwaanmu sudah membaik. Kau mungkin shock saat melihat keanehan pada pajangan ini dulu.”

“Astaga! Sekarang ayah menganggap Nike sakit jiwa!” ibu memekik.

“Bukan begitu, Lis.”

“Ayah, sekarang sebaiknya ayah menjawab pertanyaanku. Burung ini dulunya hidup kan? Ayah membelinya di mana? Siapa yang mengawetkannya?” inilah pertanyaan yang sejak lama ingin kutanyakan.

“Ah, itu.. Ya pasti lah ayah beli di Irian. Itu kan Burung Cendrawasih.” Aku baru tahu bahwa rupa Burung Cendrawasih adalah seperti itu.

“Iya, waktu itu belinya bareng kan? Sama Pak Sadikin atau siapa itu nama penjualnya.”

“Iya, benar. Penjualnya Pak Sadikin. Memang kenapa sih, Ke?”

“Siapa yang mengawetkan?”

“Waktu itu, ayah minta tolong teman ayah, namanya Pak Idrus. Mungkin dia yang bawa ke tempat pengawetan burung.”

“Pak Idrus itu.. Apakah ayah pernah punya masalah dengan Pak Idrus. Maksudku, ayah pernah bertengkar serius dengan Pak Idrus? Keluarga Pak Idrus ada yang sudah meninggal kan?”

“Kenapa tanya soal itu?” ayah bertanya dengan pandangan skeptis. Sepertinya dia sedikit curiga padaku.

“Karena, jika dugaanku benar, burung ini adalah medium arwah. Aku pernah membaca sebuah buku soal itu.”

“Omong kosong! Kau terlalu terobsesi dengan dunia gaib dan hal-hal mistik!” nada suara ayah meninggi saat mengucapkan kalimat itu.

“Ayah, dengarkan dulu penjelasan Nike.” Ibu menenangkan ayah. Mba Ita mengangguk setuju.

“Iya non. Di kampung mba juga pernah ada kok ibu yang kehilangan anaknya, terus ibunya itu pergi ke orang pinter untuk minta tolong supaya anaknya bisa hidup lagi. Akhirnya, arwah anaknya dipanggil terus dimasukin ke dalam boneka bayi.”

“Ah, saya tidak percaya omong kosong seperti itu.” ayah masih bersikeras.

“Itu benar terjadi, Ita?” tanya ibu yang sambil mengepalkan tangan di depan dadanya.


“Iya, nya. Di kampung Ita mah banyak yang kaya gitu. Malah, si mbah yang didatengin ibu itu terkenal banget di kampung, nya.”

“Nah, ayah. Coba sekarang ayah bicara jujur.” kataku.

“Ayah, jangan-jangan soal itu ya?” ibu memekik tertahan.

“Ya, memang.” ayah menghela napas panjang. “Ayah pernah menyakiti hati Pak Idrus. Dulu, ayah dan Pak Idrus masih PKL di perusahaan Pak Nasrudin. Waktu itu, Pak Idrus jatuh cinta sama salah satu teman PKL kami, namanya Sari. Mereka sudah seperti Romeo dan Juliet, dua sejoli yang saling jatuh cinta. Tapi, suatu hari, terjadi kebakaran di kantor Pak Nasrudin. Waktu itu kantornya belum sebesar sekarang. Masih menyewa ruko lima tingkat di daerah Priok. Kebakaran itu terjadi di lantai empat, sedangkan Sari dan ayah ada di lantai lima, sedang mengambil satu box kertas.”

“Lalu, kami terjebak di lantai lima. Hanya kami berdua yang masih ada di dalam ruko sedangkan Pak Idrus dan yang lainnya sudah menyelamatkan diri dan berkumpul di jalanan. Kami mencoba mencari jalan keluar bersama, namun api sudah terlanjur membakar habis seluruh ruko. Atap mulai runtuh dan kami terpisah saat itu. Ayah sudah tidak bisa melihat apa-apa lagi di sana. Lalu, ayah melihat api tiba-tiba menyingkir memberikan jalan pada ayah. Saat itu, ayah percaya bahwa Allah masih bersama ayah. Ayah segera menuruni tangga, berusaha keluar dari ruko.”

“Ayah selamat dengan hanya menderita luka bakar 30% di pergelangan kaki kiri. Begitu apa berhasil dipadamkan, yang ditemukan hanya mayat seorang gadis yang hangus terbakar di lantai lima. Itu Sari.”
“Ah, mengerikan sekali.” kataku setelah ayah mengakhiri ceritanya. Saat itu kulihat ibu menunduk dan Mba Ita menutup mulutnya dengan wajah terkejut luar biasa.

“Ya, memang mengerikan. Ayah tidak bisa menyelamatkan Sari. Pak Idrus sangat marah saat itu dan berulang kali mengatakan bahwa kematian Sari adalah salah ayah. Mungkin dia memang benar, itu esalahan ayah. Harusnya ayah bisa membawanya turun dan keluar bersama ayah.”

“Ah, begitu. Jadi, sekarang semuanya jelas. Pak Idrus pasti telah memasukkan arwah istrinya ke dalam burung ini. Mba Ita, apakah arwah yang dimasukkan ke dalam suatu benda mati bisa membalas dendam?”

“Ah, saya mah enggak tahu, non. Mending dibawa ke orang pinter di kampung saya, non. Kalau dia pasti ngerti.”
Usulan Mba Ita diterima oleh ayah dan ibu. Kami—termasuk Mba Ita tentunya—akhirnya pergi mengunjungi orang pinter yang dimaksud. Kampung Mba Ita ada di puncak Gunung Salak. Di sana benar-benar seperti kampung, dengan sedikit rumah yang masing-masing letaknya berjauhan, berjarak ratusan meter dan dikelilingi hutan bambu. Wajar saja jika hal-hal mistik masih bertahan di tempat ini.

Kami segera mengunjungi mbah dukun itu, namanya Mbah Sunanto. Dia orang Jawa yang lama menetap di kampung Mba Ita. Pajangan burung itu segera kami tunjukkan begitu bertemu dengan si mbah. Sebenarnya, ayah tidak ingin mengunjungi mbah dukun itu karena itu berarti kami tidak mempercayai kekuasaan Allah, tetapi ibu dan aku berusaha meyakinkan bahwa kita hanya sedikit bertanya. Tidak akan terlalu percaya pada orang itu.

Penampilan Mbah Sunanto tidak seperti dukun yang selama ini tampil di sinetron-sinetron atau di tayangan televisi lainnya. Dia memakai kemeja putih dan celana panjang coklat biasa, tanpa kalung-kalung menggantung dan cincin-cincin berhiaskan batu giok di tangannya. Rambutnya tidak panjang dan kusut dan tidak ada janggut di sana. Tidak ada sesajen atau bau-bau kemenyan di rumahnya. Benar-benar di luar perkiraanku.



Bersambung...

Nah, jadi begini ceritanya. Mmm.. sebaiknya saya mulai dengan pertanyaan, "Pulau Sika itu ada di mana yaa??" Jawabannya, Pulau Sik...

Mitos Seputar Pulau Sika

Nah, jadi begini ceritanya. Mmm.. sebaiknya saya mulai dengan pertanyaan, "Pulau Sika itu ada di mana yaa??" Jawabannya, Pulau Sika ada di seberang Pantai Mali, Alor, Nusa Tenggara Timur (mmm.. mungkin sebelah timur Pantai Mali, ya --a). Pulau Sika adalah Pulau Kecil yang tidak berpenghuni. Maksudnya pulau tidak berpenghuni tentu bukan pulau yang benar-benar kosong. Pulau ini tidak dihuni oleh manusia dan hampir tidak pernah ada manusia yang menginjakkan kakinya di sana. Ya, hanya hewan-hewan liar yang hidup di pulau ini. Jadi, jika pertama kali menginjakkan kaki di sana, yang terdengar hanya suara binatang-binatang hutan dan tak akan terasa hawa keberadaaan manusia.
mmm.. informasi seputar Pulau Sika mungkin cukup sampai di situ saja ya.. Sekarang kita masuk ke fokus utama. Mitos seperti apakah yang meliputi Pulau Sika??
Ya, jadi, suami kakak sepupuku mengatakan ini padaku saat aku bertamasya ke Pantai Mali. Saat itu adalah hari terakhir aku berada di Alor. Kak Misran, nama suami kakak sepupuku, mengatakan bahwa pulau yang ada di sana adalah Pulau Sika (sambil menunjuk ke arah Pulau Sika).


Kurang lebih di sanalah letak Pulau Sika.

Lalu, aku bilang, "ina boleh ke sana gak??". Terus, dia jawab, "gak boleh. ina kan orang baru, jadi gak boleh ke sana." Nah, yang terjadi kemudian adalah rangkaian dialog. A adalah aku, dan B adalah Kak Misran.
A: lho?? kenapa
B: iya, soalnya di sana gak boleh didatengin orang baru.
A: iya, kenapa??
B: di sana itu tempat keramat. itu pulau klo ina dateng ke sana sepiii.. gak ada suaranya..
A: heee?? kenapa??
B: itu pulau gak ada orangnya.. isinya cuma binatang-binatang aja..
A: terus, kenapa jadi gak boleh ke sana?? pan seru dong klo bisa kemah di sana..
B: karena gak ada orangnya, pulau itu jadi gak ada hawa manusianya.. waktu itu pernah ada haji yang dateng ke situ terus dia digigit nyamuk dan nyamuknya dipukul. eh pas balik, dia langsung muntah-muntah dan demam.
A: Hee??
B: jadi di sana itu semut aja gak boleh diinjek.. nyamuk juga gak boleh ditepok.. klo ke sana pokoknya lewat aja terus baca-baca.. klo gak pulang-pulang nanti ditempel lho~
A: ditempel setan maksudnya??
B: ya iya, penghuni pulau itu.. dulu juga kakak mis pernah nganterin orang mau foto pemandangan di situ dan fotonya gak ada yang jadi.. semuanya item.. trus pulang-pulang orangnya sakit sampe meninggal..
A: heee?? kok bisa??
B: ya gitu.. pulaunya kan memang keramat.. angker gitu..
A: oooh~

nah.. kata oooh~ itu telah mengakhiri dialog singkat kami mengenai mitos Pulau Sika. Mitos itu adalah kepercayaan yang beredar dalam masyarakat daerah sekitar situ. Aku sii saat itu karena berada di sana jadinya mau gak mau percaya aja. Takut kenapa-kenapa.. hehheee..

*nb: itu dialog di atas sudah diedit.. dialog sebenarnya, Kak Misran bicara bahasa Indonesia campur bahasa Alor. :)