Tugas Mata Kuliah Pengkajian Cerita Anak Perbandingan Sastra Anak dengan Sastra Dewasa Irna Gayatri D. Ardiansyah Selasa, 22 Februari 201...

Tugas Mata Kuliah Pengkajian Cerita Anak: Perbandingan Sastra Anak Misteri Pondok Terbakar dengan Sastra Dewasa Misteri Kereta Api Biru


Tugas Mata Kuliah Pengkajian Cerita Anak
Perbandingan Sastra Anak dengan Sastra Dewasa
Irna Gayatri D. Ardiansyah
Selasa, 22 Februari 2011


Dalam membandingkan sastra anak dengan sastra dewasa, hal yang pertama kali harus diketahui adalah pengertian sastra anak. Sastra anak ialah sastra yang dibaca anak-anak dengan dibimbing oleh orang tua yang ceritanya adalah seputar kehidupan anak dan penulisannya dilakukan oleh orang dewasa. Namun, dalam perkembangannya, saat ini ternyata sudah ada anak yang juga ikut menulis dalam dunia sastra anak. Hal inilah yang menjadi pembeda awal antara sastra anak dengan sastra dewasa, yaitu bahwa sastra anak dibaca oleh anak-anak dan sastra dewasa dibaca oleh orang dewasa.
Tetapi, lebih dari itu, ada banyak hal yang berbeda antara sastra anak dan sastra dewasa. Saya mengambil dua novel sebagai perbandingan, yaitu Pasukan Mau Tahu: Misteri Pondok Terbakar karya Enid Blyton sebagai contoh sastra anak dan Misteri Kereta Api Biru karya Agatha Christie sebagai contoh sastra dewasa. Kedua novel ini adalah novel detektif. Judulnya pun memiliki satu kata yang sama, yaitu misteri. Walaupun begitu, dari sampulnya sudah jelas terlihat perbedaan antara Pasukan Mau Tahu: Misteri Pondok Terbakar dan Misteri Kereta Api Biru. Sampul  novel Pasukan Mau Tahu: Misteri Pondok Terbakar berwarna merah—warna yang menarik bagi anak-anak—dan memiliki judul yang jenis hururfnya menarik dan besar. Gambar dalam sampulnya pun menarik karena sudah menyampaikan informasi awal yang penting, yaitu seperti apa pondok terbakar itu?
Misteri Kereta Api Biru sampulnya berwarna hitam dan putih. Ini bukanlah warna yang menarik anak-anak. Dari warna sampulnya saya dapat melihat bahwa novel ini adalah novel dewasa yang berisi Selain itu, huruf judulnya pun tidak sebesar huruf  Pasukan Mau Tahu: Misteri Pondok Terbakar. Ulasan di bagian belakang pun tidak menggambarkan isi novel secara langsung. Ini berbeda dengan ulasan Pasukan Mau Tahu: Misteri Pondok Terbakar yang diawali dengan kalimat pertama: Sebuah pondok terbakar secara misterius. Kalimat tersebut sudah menggambarkan cerita dalam novel itu. Judulnya novel karya Enid Blyton tersebut sudah menggambarkan isi cerita sehingga dapat dengan mudah dimengerti anak-anak, sedangkan judul novel Agatha, Misteri Kereta Api Biru, bukanlah judul yang dapat membuat kita memahami dan mengetahui seperti apa misteri yang ada dalam novel tersebut.
Selanjutnya, dari segi isi, novel Pasukan Mau Tahu: Misteri Pondok Terbakar memiliki jenis huruf yang menarik dan besar. Di dalamnya pun terdapat beberapa gambar yang menunjang cerita yang sedang berjalan, seperti di halaman 33 dan 117. Dalam Misteri Kereta Api Biru, sama sekali tidak ada gambar untuk menunjang pembaca memahami cerita. Jenis huruf yang digunakan hampir sama seperti jenis huruf yang digunakan dalam makalah ilmiah. Selain itu, ukuran hurufnya juga lebih kecil sehingga lebih banyak tulisan yang bisa termuat dalam satu halaman.
Dari segi tokoh utama, novel Pasukan Mau Tahu: Misteri Pondok Terbakar telah memberitahu pembaca dari judulnya bahwa tokoh utama dalam cerita itu adalah Pasukan Mau Tahu yang terdiri dari lima orang anak. Ini lebih mudah dipahami anak-anak dan tidak membingungkan mereka. Dalam Misteri Kereta Api Biru, tokoh utama sangat sulit ditentukan. Walaupun dalam novel itu tokoh detektif yang dihidupkan adalah Hercule Poirot, tidak sepenuhnya Poirot terlibat dalam cerita. Banyak bagian-bagian yang juga menceritakan kehidupan tokoh lainnya yang juga terlibat dalam kasus tersebut. Hal tersebut membuat novel ini menjadi sulit dipahami,. Orang dewasa pun harus berpikir keras untuk memahami cerita ini.
Dari segi pencerita, keduanya sama-sama menggunakan pencerita diaan. Namun, dalam Misteri Kereta Api Biru, walaupun sama-sama menggunakan pencerita diaan seperti Pasukan Mau Tahu: Misteri Pondok Terbakar, tokoh yang diceritakan sering kali berganti. Dalam bab pertama, tokoh yang difokuskan oleh pencerita adalah seorang gadis Rusia yang menjual berlian bernama Olga Demiroff dan seorang laki-laki Rusia bernama Boris Ivanovitch. Lalu, di bab dua, tokoh yang diceritakan berganti menjadi laki-laki yang dilihat oleh Olga dari kamarnya, bernama M. Marquis dan seorang penjual barang-barang antik bernama D. Papopolous. Di sisi lain, seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya bahwa tokoh utama dalam cerita sudah jelas, yaitu Pasukan Mau Tahu, pencerita Pasukan Mau Tahu: Misteri Pondok Terbakar hanya menceritakan Pasukan Mau Tahu—dan orang-orang yang terlibat dalam kasus, namun tidak banyak—secara rinci. Tentu saja, dengan begitu, di dalamnya juga hanya terdapat satu sudut pandang, yaitu sudut pandang Pasukan Mau Tahu. Dalam Misteri Kereta Api Biru, sudut pandang sering berubah karena tokoh yang difokuskan pencerita juga sering berubah. Bahkan, Poirot, sang detektif, baru muncul setelah bab 11, yaitu setelah pembunuhan terjadi.
Pasukan Mau Tahu: Misteri Pondok Terbakar tidak memiliki banyak narasi. Cakapan antar tokohlah yang membawa pembaca masuk dalam cerita sehingga ini membuat anak-anak lebih mudah memahami cerita. Percakapan antar tokoh itu pun bukanlah percakapan yang panjang dan berbelit-belit. Sebaliknya, dalam Misteri Kereta Api Biru, terdapat banyak narasi dan deskripsi yang mungkin membosankan bagi anak-anak. Percakapan yang ada pun adalah percakapan yang panjang dan tidak langsung membawa pembaca ke dalam inti cerita. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, bahwa bahkan pembaca dewasa akan sulit memahami cerita dan inti cerita Misteri Kereta Api Biru karena memiliki alur dan jalan cerita yang rumit. Banyak konflik di sana yang sulit untuk dipahami. Sebaliknya, Pasukan Mau Tahu: Misteri Pondok Terbakar memiliki alur yang mudah diikuti dan konflik yang enteng. Sebagai contoh, bab pertama menceritakan tentang rumah (pondok) Pak Hick yang terbakar. Lalu, di bab kedua, dari judul bab langsung diketahui alur dan jalan cerita berikutnya, yaitu ‘“Pasukan Mau Tahu” dibentuk’. Bab ketiga pun begitu. Judul babnya adalah “Rapat Pertama” dan dari kalimat pertama pembaca langsung diantar menuju suasana dan tempat rapat pertama tersebut, “Tepat pukul dua siang, kelima anak itu berkumpul dalam kebun rumah Pip yang luas,” (hlm. 24).
Dari semua perbandingan yang telah saya uraikan, perbedaan antara sastra anak dan sastra dewasa sangatlah banyak. Perbedaan tersebut terlihat mulai dari sampul, isi buku yang mencakup jenis huruf, ukuran huruf dan gambar, sampai alur, pencerita, dan sudut pandang. Menurut saya, masih tidak cukup jika hanya membahas perbedaan tersebut dalam dua lembar kertas. Oleh karena itu, yang saya tampilkan di sini adalah perbedaan-perbedaan umum dengan sedikit contoh yang dapat memberikan sedikit bayangan mengenai perbedaan tersebut.

Daftar Pustaka

Blyton, Enid. 2000. Misteri Pondok Terbakar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Budianta, Melani, dkk. 2008. Membaca Sastra. Magelang: Indonesia Tera.
Christie, Agatha. 2008. Misteri Kereta Api Biru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Sarumpaet, Riris K. Toha. 2010. Pedoman Penelitian Sastra Anak. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.



You may also like

Tidak ada komentar: