Tadi saya seharian menjalani wawancara di sebuah perusahaan grup media milik salah seorang Calon Presiden RI mendatang. Saya mengikuti wawa...

Renungan Hari Ini #2

Tadi saya seharian menjalani wawancara di sebuah perusahaan grup media milik salah seorang Calon Presiden RI mendatang. Saya mengikuti wawancara di bagian online media. Ketika selesai, sekira pukul 6 sore, saya langsung menuju Depok bersama seorang teman saya. Tentu saja, kami naik kereta tujuan Bogor yang sudah tentu isinya penuh sesak itu. Nah, setelah sampai Depok, kami pergi ke Margo City untuk membeli hadiah ulang tahun ayah temanku itu. Setelah selesai, sekira jam 9, kami pulang. Sebenarnya, saya sedang tidak enak badan. Jadi, yang ada di kepala saya hanya rumah dan tempat tidur. Saya ingin segera beristirahat di kasur yang nyaman.
Saya menaiki kereta lagi. Kebetulan, saya juga sudah membeli Kartu Commet yang membuat saya tidak perlu mengantri di loket. Saya menunggu kereta selama sekira 15 menit. Saya sudah lelah luar biasa. Kemudian, kereta tujuan Stasiun Manggarai tiba. Penumpang kereta itu sedikit. Banyak tempat yang kosong. Saya bahkan bisa memilih tempat duduk yang nyaman. Saya memilih tempat duduk di ujung sehingga saya bisa bersandar ke samping. Saya langsung memejamkan mata, berusaha untuk beristirahat sebentar.
Tidak lama kemudian, kereta itu sampai di Stasiun UI. Cukup banyak penumpang yang naik. Mereka ramai berbincang-bincang. Karena saya berada di gerbong khusus wanita, orang-orang yang saya singgung di sini adalah wanita.
Mereka berbincang-bincang dan tertawa cukup keras, tapi saya tidak peduli. Saya hanya ingin mencoba beristirahat sebentar.
Kereta mulai kosong di Stasiun Pasar Minggu. Dalam satu deret bangku, hanya ada dua orang yang duduk. Bangku kereta memang cukup panjang untuk ditiduri, tapi saya tidak pernah berpikir untuk tidur di atasnya. Orang-orang ini berbeda dengan saya. Salah seorang dari mereka melakukannya: tidur di bangku kereta.
Dia tidur dengan tas sebagai alasnya dan sebelah kakinya diangkat dan dibiarkan terlentang di atas bangku. Tentu saja dia tidak melepas sepatunya. Sebenarnya, orang ini tidak tidur. Dia memegang Blackberry-nya dan sibuk mengirim pesan sambil tetap berbaring di bangku kereta.
Orang satunya menyusul. Melihat temannya asyik berbaring di sana, ia menghampiri temannya itu kemudian bersandar di bagian pojok kursi dan menaikkan kakinya ke atas bangku. Dia juga tidak melepas sepatunya.
Apa yang salah dari semua ini?
Fasilitas umum sebaiknya digunakan sesuai fungsinya. Telepon umum digunakan untuk menelepon, bukan untuk dijadikan toilet umum kemudian dikencingi. Bangku kereta juga serupa. Bangku, sebagaimana fungsinya, adalah tempat duduk. Mungkin di rumah Anda menggunakan bangku juga sebagai tempat tidur, saya pun begitu. Sebenarnya, bukan masalah besar juga jika Anda tidur di kereta, membaringkan badan dan menaikkan kaki ke atas bangku. Yang jadi masalah adalah ketika Anda melakukan itu dengan tetap memakai sepatu. Mengapa hal ini menjadi masalah? Karena Anda telah mengotori tempat duduk orang lain. Anda mengotori fasilitas umum.
Mungkin memang tidak ada larangan untuk tidur dan menaikkan kaki ke atas bangku. Tapi, toh kelihatannya sebagian besar orang Indonesia punya jiwa pemberontak. Sudah ada larangan untuk duduk di lantai kereta, tetap saja masih ada yang duduk di lantai kereta. Kursi prioritas diduduki oleh mereka yang muda dan segar bugar. Jika nanti ada larangan untuk tidak membaringkan diri di bangku, mungkin itu hanya akan dilihat , lalu dibuang. Tidak disimpan baik-baik dalam otak.
Mulailah bersikap disiplin dari diri sendiri, paling tidak, ketika Anda berada di tempat umum dan memakai fasilitas umum.

Jakarta, 5 September 2013
posted from Bloggeroid


You may also like

Tidak ada komentar: