Sudah lama gak nulis. Sekarang, akhirnya saya sudah jadi editor di sebuah majalah otomotif dan komputer. Telat banget, ya, ceritanya ...

Untitled

Sudah lama gak nulis. Sekarang, akhirnya saya sudah jadi editor di sebuah majalah otomotif dan komputer. Telat banget, ya, ceritanya pas hampir 6 bulan ada di situ. Gapapa. Intinya bukan itu soalnya.
Jadi, suatu hari, saya iseng lihat-lihat jobstreet. Ada banyak lowongan yang tersedia, seperti biasa. Tapi, tentu saya langsung cari lowongan yang sebidang dengan saya. Saya cari lowongan editor dan ada satu yang menarik mata saya.

Ada lowongan Editorial Language Editor dari Kompas, kelihatannya untuk e-paper Kompas, sih. Syaratnya sudah memiliki pengalaman kerja minimal 1 tahun, dari Sastra Indonesia, IPK minimal 3,00, serta menguasai bahasa Indonesia dan EYD. Melihat syarat tersebut, saya langsung senang karena hampir semuanya saya miliki, kecuali pengalaman satu tahun. Saya baru punya pengalaman 6 bulan.

Saya langsung mengisi data diri dan ketika sampai di kolom upload CV dan transkrip nilai, saya berhenti. Bukannya karena saya ragu kepada diri sendiri. Saya hanya merasa keputusan itu terlalu terburu-buru. Saya langsung berpikir, bagaimana jika saat ada panggilan wawancara, saya sedang deadline sehingga tidak bisa datang. Bagaimana jika saya diterima? Saya gak mungkin mendadak berhenti dari tempat kerja saya sekarang. Lagipula, jika saya diterima pun, saya masih sama seperti saya yang sekarang. Pekerja yang belum memiliki pengalaman. Jika ternyata tidak diterima, saya telah menyia-nyiakan jam kerja saya yang hilang untuk wawancara. Berarti, saya tidak menjalankan pekerjaan saya dengan baik.

Jadi, yang terbaik adalah, jalani pekerjaan yang sekarang dengan baik dan jangan lupa bersyukur. Suatu saat nanti, pasti akan ada yang lebih baik muncul di saat yang tepat, ketika persiapan diri juga sudah matang.


You may also like

Tidak ada komentar: