Usaha si Bodoh Ini bukan kisah cinta. Saat kau membacanya, mungkin ini akan terlihat seperti kisah murahan seorang gadis yang—entah b...

Cerpen: Usaha Si Bodoh

Usaha si Bodoh

Ini bukan kisah cinta. Saat kau membacanya, mungkin ini akan terlihat seperti kisah murahan seorang gadis yang—entah bagaimana—bisa jatuh cinta dengan seorang laki-laki yang bahkan tidak pernah menyapanya sama sekali. Ini kisah yang bodoh, menurutku. Gadis ini sungguh terlalu lugu—hingga mungkin pantas disebut menyedihkan—karena dia sendiri, dengan cara yang sungguh bodoh, hanya memandang orang yang disukainya itu secara diam-diam dari tempat duduknya. Dia hanya melihatnya lewat di depannya, makan, mengobrol, dan melihat hal-hal tak penting lainnya. Sungguh konyol. Dia benar-benar hanya melihatnya tanpa berani menyapa atau menanyakan namanya. Sesekali, dia melemparkan senyum simpulnya yang sebenarnya tidak terlihat menawan.
Gadis bodoh itu bernama Kirana Larasati. Dia temanku satu jurusan di Sastra Jepang. Dia bukan gadis yang cantik, namun dia juga bukan seorang gadis yang terlalu buruk rupa sampai tidak pernah ada yang mau berpacaran dengannya. Memang, sampai detik ini, saat usianya sudah 18 tahun lebih 3 bulan 25 hari, dia belum pernah berpacaran. Dia sama sekali belum pernah menyukai lawan jenisnya. Inilah yang pertama baginya. Dia akhirnya menyukai seorang laki-laki dari jurusan Ilmu Perpustakaan.
Sebenarnya, orang yang disukainya bukanlah orang yang populer di kampus. Aku bahkan baru mengetahui keberadaan orang itu saat Kirana menceritakannya padaku. Laki-laki itu cukup tampan, namun entah mengapa kurang menarik perhatian. Sepertinya, dia tidak memiliki aura seorang bintang. Padahal, jika dibandingkan dengan artis korea yang sedang begitu digilai anak muda, termasuk mahasiswa, laki-laki itu lebih tampan. Hanya kurang sedikit polesan pada wajah, rambut, dan gaya berpakaiannya. Yah, itu hanya menurutku. Mungkin kalian punya pendapat yang sedikit berbeda.
Sudah dua bulan berlalu sejak Kirana mulai memperhatikan laki-laki itu. Sudah kukatakan sebelumnya bahwa dia gadis yang bodoh. Selama dua bulan itu, dia sama sekali tidak berusaha mencari tahu nama orang itu. Hanya memperhatikannya saja dari jauh dengan wajah berseri dan mata berbinar-binar seperti tokoh perempuan dalam manga. Kadang, dia mendesah dan mengatakan “Kawaii~”, kemudian tersenyum lebar seperti ibu gila yang melihat boneka anak-anakan. Tidak pernah ada keinginan dalam dirinya untuk mengetahui nama orang yang disukainya itu.
Akhirnya, terpaksa aku yang megambil tindakan mencari tahu namanya. Aku bertanya pada beberapa temanku yang kuliah di jurusan yang sama dengan orang itu dan beberapa temanku dari jurusan lain yang mungkin mengenalnya. Usahaku ini berhasil. Namanya berhasil kudapatkan dan, menurutku, namanya cukup aneh untuk ukuran nama orang Indonesia standar.
Aram Sagara Pallawa. Nama macam apa itu? Aku tertawa saat pertama kali mendengarnya langsung diucapkan oleh temanku, Hendi, dari jurusan Ilmu Perpustakaan angkatan 2007. Mereka teman satu angkatan sehingga aku bisa mendapatkan semua informasi yang mungkin kuperlukan darinya.
Aku memberitahukan semua informasi yang kudapatkan pada Kiran. Dia terlihat sangat senang begitu tahu namanya. Aku juga sebenarnya senang karena hasil kerjaku ternyata memuaskan. Tetapi, setelah tahu nama cowok itu, Kiran tidak menunjukkan sikap yang memuaskan. Maksudku, sebenarnya aku ingin dia semakin semangat untuk lebih mengenalnya, paling tidak mengobrol dengannya. Namun, ia sama sekali tidak menunjukkan keinginan untuk lebih dekat, bhkan saat dia sudah tahu nama dan beberapa indormasi lainnya sekalipun. Aku bingung.
Lama kelamaan, aku mengerti bahwa sebenarnya Kirana hanya suka melihat wajahnya yang tampan. Kurasa, ini seperti kisah cinta fans dan artis idolanya. Menurutku, dia seperti menggemari cowok idolanya itu secara berlebihan, namun tidak ingin menjadi lebih dekat karena mungkin sensasi yang dirasakan akan berbeda. Tidak terlalu menyenangkan seperti sensasi yang ia rasakan sebelumnya.
Aku cukup mengerti akan hal itu dan aku tidak memintanya melakukan hal lain lebih jauh. Biarkan saja dia menyukai orang itu dengan caranya, walaupun cara itu sama sekali tidak bisa kuterima. Caranya menyukai orang itu memang aneh dan ini baru pertama kali kulihat.
Ya, biarlah ini menjadi pengalamanku. Cinta itu tidak harus berbalas dan dari dua belah pihak, laki-laki dan perempuan. Cinta juga bisa dirasakan satu arah dan aku rasa itu baik-baik saja selama salah seorang pihak merasa bahagia akan hal itu dan tidak ada yang disakiti atau merasa dirugikan. Semudah itulah cinta yang dirasakan oleh Kirana, temanku yang bodoh itu.


You may also like

Tidak ada komentar: