Suara itu selalu terdengar samar di telinga Haru. Ah, tidak. Sebenarnya, Haru tidak mendengar apa-apa ketika dia sedang sendiri, atau ketik...

Our Time Always Leave Behind (part 1)

Suara itu selalu terdengar samar di telinga Haru. Ah, tidak. Sebenarnya, Haru tidak mendengar apa-apa ketika dia sedang sendiri, atau ketika dia sedang menatap langit dari jendela kamarnya yang tinggi. Dia tidak mendengar suara itu. Suara itu hanya telah terekam di otaknya dengan sangat baik. Haru hampir selalu bisa mengingat suara itu, kapan pun dan di mana pun dia menginginkannya. Suara berbisik yang sangat lembut.

***

“Kau sakit apa?” tanya Toshi.
“Tidak tahu. Ibu bilang jantungku sakit.”
“Coba kuperiksa.” kata Toshi sambil menempelkan telinganya ke dada Haruhi.
“Apa jantungku benar sakit, Kak Toshi?”
“Ah! Sepertinya jantungmu sakit karena kemarin kau tidak memakai payungmu saat hujan.”
“Apa jantungku akan sembuh?”
“Tentu. Nezumi-san bilang kau akan sembuh. Pasti.”
“Ibu juga selalu bilang begitu padaku.” Setelah mengatakan itu, Haru diam. “Kak Toshi, aku ingin bermain lagi dengan Kak Toshi.”
“Kalau kau mau meminum obat dan menuruti kata-kata dokter, kau pasti akan sembuh. Setelah sembuh, kita bisa bermain bersama lagi. Nanti kita akan mencari kumbang saat musim panas tiba. Setuju?”
“Wah! Iya! Aku mau! Setuju!”
“Kalau begitu, cepatlah sembuh.”
***

“Kak Toshi! Ayo kita ke taman!”
“He? Untuk apa?”
“Aku ingin bermain! Besok ‘kan aku sudah tidak ada di sini, jadi tidak akan bisa bermain di taman itu lagi. Ayo, Kak Toshi, temani aku!”
Haru menarik tanganku.
“Baiklah. Tapi, aku bilang ibu dulu.”
Aku pergi menemui ibu dan segera kembali pada Haru.
“Ibu bilang kita harus pulang sebelum jam 7.”
“Ok!”
Haru tersenyum. Dia kelihatan senang sekali hari ini. Aku selalu suka senyum Haru yang manis. Sepanjang jalan, Haru tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya melihat sekelilingnya sambil tersenyum dan sesekali hal itu dilakukan sambil menatap langit.
“Aku suka sekali semua yang ada di sini.”
“Kenapa?”
“Tidak tahu. Aku punya banyak hal menyenangkan di sini.”
“Kau ‘kan baru satu tahun tinggal di sini.”
“Iya, tapi aku senang. Senang sekali. Ah! Aku mau main ayunan! Kak Toshi juga ikut main, ya! Dorongkan aku!”
Aku mengangguk. Haru berlari menuju ayunan yang biasa kami mainkan sepulang sekolah. Haru dan aku sekolah di tempat yang sama. Aku kelas 5, sedangkan Haru baru kelas 3. Orang tua Haru adalah orang-orang yang paling sibuk di dunia, menurutku. Haru selalu merasa kesepian karena orang tuanya hampir tidak pernah ada di rumah. Haru hanya tinggal oleh pelayan-pelayan dan pengasuh yang disewa orang tuanya.
Dua tahun yang lalu, aku berkunjung ke rumah Haru bersama adik dan orang tuaku. Di sana, kami bermain sampai puas. Haru kelihatannya sangat menikmati semua permainan yang kami mainkan hari itu. Setahun kemudian, orang tua Haru datang ke rumahku dan mengatakan ingin menitipkan Haru di rumahku. Haru akan sekolah di sekolahku. Orang tuaku tidak keberatan dan merasa sangat senang bisa membantu. Haru akhirnya tinggal di rumahku. Ibu bilang, Haru tidak merasa kesepian saat bersama kami, aku dan adikku. Haru anak yang baik.
“Kak Toshi…”
“Apa?”
“Sebenarnya, aku tidak ingin pergi.”
“Mmm?”
“Tapi ibu bilang jantungku akan sembuh kalau aku pergi bertemu dokter di sana.”
“Iya.”
“Aku dengar semuanya, ketika dokter dan ibu berbicara di kamarku. Mungkin, ibu mengira aku sudah tidur. Tapi, aku sebenarnya hanya memejamkan mataku sebentar. Saat itu, ibu bilang akan melakukan apa saja supaya jantungku tidak sakit lagi. Lalu, ibu menangis.”
“Nezumi-san pasti sedih karena kau sakit.”
“Karena itu, aku ingin sembuh. Aku tidak ingin ibu menangis lagi.”
Aku berhenti mendorong ayunannya. Haru menengok menatapku.
“Ah, sudah hampir gelap. Tadi bibi Miho bilang harus pulang sebelum jam 7 ‘kan? Kalau begitu, kita pulang saja.”
“Tapi kau bilang tadi ingin bermain.”
“Aku sudah puas bermain. Aku capek, ingin segera tidur. Ibu bilang, besok kami akan berangkat pagi-pagi sekali. Jadi, aku tidak boleh tidur terlalu malam.”
“Ah, begitu.”
Haru menderita kelainan jantung. Tidak seperti anak-anak seusianya, Haru tidak bisa berlari-lari mengejar kupu-kupu atau melompat seperti kelinci. Ini juga baru diketahui beberapa bulan yang lalu. Haru sakit dan dia mengira hanya jantungnya yang sakit, bukan dirinya. Untuk mengobati penyakitnya itu, orang tua Haru akan membawa Haru ke Jerman besok.
Kami berjalan menyusuri jalan yang tadi sudah kami lewati. Aku menggandeng Haru seperti biasa. Tapi, saat melihat matahari mulai terbenam, Haru melepaskan genggamanku.
“Kak Toshi! Lihat! Bagus sekali! Warnanya merah dan bentuknya bulat seperti telur! Aku jadi lapar.”
Aku tertawa. Haru berjalan sambil melompat lalu berhenti. Dia mengangkat kedua tangannya sambil menarik napas panjang lalu membuangnya sampai mengeluarkan bunyi “fuah!”.
“Kak Toshi.. Aku sangat menyukai Kak Toshi. Bermain bersama Kak Toshi tidak pernah membuatku bosan. Aku senang Kak Toshi mau berteman denganku.”
Aku diam. Hanya bisa menatap punggungnya selama beberapa detik pertama. Detik berikutnya, Haru berbalik dan tersenyum lebar padaku.
“Aku suka Kak Toshi.”
Dia mengatakannya lagi sambil tersenyum. Jantungku berdebar tidak keruan. Aku menghampiri Haru. Dia jauh lebih pendek dariku. Mungkin tingginya hanya sampai perutku. Aku memegang kedua tangannya lalu berlutut di depannya. Saat itu, matahari yang tersisa sangat tipis, namun langit masih merah gelap. Aku masih bisa melihat wajah Haru yang menatapku dengan wajah bingung. Aku bisa melihat pipinya yang merah. Aku bisa melihat bibirnya yang sedikit terbuka. Lalu, aku menciumnya, begitu saja. Saat menciumnya, aku harus sedikit mengangkat kepalaku. Haru tidak mengatakan apa-apa saat itu. Aku juga. Kami hanya saling menatap.
“Aku juga sangat menyukai Haru. Karena itu, cepatlah sembuh dan kembali lagi ke sini.”
Aku mengatakannya. Aku tidak tahu mengapa aku mengatakan hal itu, tapi aku tetap mengatakannya. Lalu, Haru tersenyum.
“Mmm! Aku pasti sembuh. Kak Toshi mau menungguku ‘kan? Nanti, aku ingin sekolah di tempat yang sama dengan Kak Toshi. Jadi, aku bisa bermain dengan Kak Toshi lagi.”
“Aku tunggu, ya.”
***
bersambung...



You may also like

Tidak ada komentar: