“Selamat datang dan selamat menjalani kegiatan belajar di sekolah ini.” Pidato kepala sekolah berakhir setelah mengatakan hal itu. Bosan ...

Our Time Always Leave Behind (part 2)

“Selamat datang dan selamat menjalani kegiatan belajar di sekolah ini.” Pidato kepala sekolah berakhir setelah mengatakan hal itu.
Bosan sekali rasanya harus mendengarkan ocehan panjang lebar yang tidak penting di hari pertama aku masuk sekolah. Untunglah, aku membawa ipod-ku. Ketika murid-murid yang lain terpaksa harus mendengarkan ocehan kepala sekolah, aku bisa sedikit mengistirahatkan telingaku dengan mendengarkan musik. Ketika pidatonya selesai, aku melepaskan headset-nya dan segera mengikuti teman-teman satu barisanku menuju ke kelas.
Aku masuk kelas 1-2. Teman-teman sekelasku adalah anak-anak yang sepertinya berasal dari sekolah yang sama. Kulihat mereka sudah saling kenal satu sama lain. Aku duduk di barisan tengah, bangku ketiga dari depan. Sekolah ini adalah sekolah swasta yang cukup bagus. Seragamnya cukup bergaya dan kami memiliki kartu tanda pengenal masing-masing yang harus kami bawa setiap hari untuk menandai kehadiran kami. Kartu ini mulai bisa digunakan besok. Sebagai ganti guru-guru memanggil nama kami untuk mengecek kehadiran kami sebelum kelas dimulai, kami harus menggesekkan kartu tersebut di mesin yang ada di samping meja guru pengawas atau guru yang bertugas piket.
Kami belum mulai belajar. Guru pertama yang masuk adalah guru kimia yang hanya memperkenalkan diri dan memberikan selembar silabus. Dia guru yang sistematis, terlihat dari cara bicaranya. Dari guru berikutnya, aku mengetahui bahwa kelas kami berisi murid-murid baru yang diterima dengan nilai tertinggi. Aku cukup senang mengetahui hal itu.
Bel berbunyi tiga kali, menandakan waktu istirahat pertama. Aku segera pergi. Aku ingin segera bertemu Kak Toshi. Aku tiba di Jepang satu minggu yang lalu. Dua hari kemudian, aku menelepon Satsuki dan menanyakan di mana sekolah Kak Toshi sekarang. Aku meminta Satsuki merahasiakan kadatanganku. Ini kejutan, kataku. Sekarang, aku sudah berada di sekolah Kak Toshi. Sekarang, aku ingin bertemu.
Sayang sekali, sekolah ini cukup luas. Aku juga tidak mengetahui kelas Kak Toshi. Jadi, pencarianku siang itu cukup sulit. Ada 9 kelas untuk murid tingkat 3. Kak Toshi tidak ada di kelas 3-1 dan 3-2. Di kelas 3-3, Kak Toshi juga tidak ada. Tapi, aku pikir, tidak ada salahnya bertanya kepada senior yang lain. Mungkin saja Kak Toshi hanya sedang pergi ke toilet atau semacamnya. Jadi, kuputuskan bertanya pada 3 orang siswi senior yang sedang mengobrol di depan pintu kelas.
“Permisi, senpai. Apa Kak Toshi di kelas ini?”
“Toshi?” salah seorang senpai yang berambut merah mengangkat alisnya dan bertanya.
“Kau junior ya? Kelas 1?”
“Iya.”
“Di sekolah ini mungkin ada puluhan orang bernama Toshi. Jadi, mana aku tahu Toshi yang kau cari ada di kelas ini atau tidak. Bodoh!”
Setelah berkata begitu, mereka masuk ke dalam kelas. Aku sedikit kesal mendengarnya. Tapi, aku tidak ingin mencari masalah pada hari pertamaku bersekolah lagi di Jepang. Aku baru saja akan pergi ketika seorang siswa senior menyapaku.
“Hei, kau murid kelas 1 ya? Sedang apa berkeliaran di lorong kelas 3?”
“Aku sedang mencari Kak Toshi.”
“Toshi?” temannya bertanya sambil memandang senior itu.
“Hei, daripada kau mencari Toshi yang tidak kukenal itu, lebih baik kau main saja bersama kami. Ayo, kita pergi ke atap.” dia menarik tanganku. Aku segera melepaskan tanganku darinya.
“Maaf, aku harus mencari Kak Toshi. Permisi.” Setelah mengatakan itu, aku pergi. Tapi, orang itu masih bersikeras. Dia memegang tanganku dan mendorongku ke tembok. Lorong cukup ramai saat itu. jadi, kupikir, dia tidak akan berbuat macam-macam di sini.
“Berani sekali kau menolakku, dasar anak baru! Kau pikir dirimu cantik karena aku menginginkanmu?”
“Hei, Sanada. Sudahlah. Dia hanya anak baru.” Temannya berusaha menenangkan. Sanada, jika benar itu namanya, keliohatannya sangat marah padaku.
“Maaf, tapi aku sedang mencari orang. Aku tidak ada waktu untuk bermain atau semacamnya.” Kukatakan lagi dengan tegas.
“Kau…!”
“Haru?” terdengar suara dari belakang si Sanada. Suara itu memanggil namaku, nama kecilku.
“Kau Haru ‘kan?” Suara itu memanggilku lagi. Si Sanada menyingkir dan berbalik ke arah suara itu berasal. Aku bisa melihat seseorang yang memanggilku berdiri di sana.
“Ternyata benar. Kau masuk sekolah ini? Sedang apa di sini?”
“Morishita-san! Senang sekali bisa bertemu denganmu di sini.”
“Kau mengerjai anak baru lagi, Sanada?”
“Bukan urusanmu! Pergilah!”
“Dia temanku. Sebaiknya kau tidak menyakitinya atau tangan ini akan melayang di wajahmu.”
“Cih! Tukang ikut campur! Ayo, Ken.”
Dia dan temannya pergi, si Sanada itu. Aku berlari menghampiri Morishita-san dan memeluknya. Aku juga sudah lama tidak bertemu dengannya. Dia teman sekelas Kak Toshi.
“Kudengar dari Toshi, kau pergi ke Jerman.”
“Iya, benar.Minggu lalu, aku kembali lagi ke Jepang karena urusanku di Jerman sudah selesai. Oh iya, apakah kelas Kak Toshi di sini?”
“Ah, kau mencari Toshi. Dia di kelas 3-7. Di sini kelasku.”
“Oh, begitu. Terima kasih, Morishita-san!”
“Cukup panggil aku Tetsu. Oh iya, kalau kau butuh sesuatu, seperti buku pelajaran atau semacamnya, kau bisa mencariku di sini.”
“Iya, terima kasih. Sampai jumpa.”
Aku segera pergi ke kelas 3-7. Di sana ada beberapa kelompok murid yang sedang berkumpul. Dalam salah satu kelompok itu, aku bisa melihat punggung Kak Toshi. Aku tahu itu. Dia sedang duduk di meja dan tertawa keras. Rambutnya sedikit panjang, paling tidak jauh lebih panjang dibandingkan ketika terakhir kali aku melihatnya. Dia tinggi dan tidak berubah.
Aku hampir melompat saat itu, namun segera kuurungkan karena aku sedang berada di lorong sekolah. Aku tidak mau murid-murid yang lain melihatku dan mengira agak tidak waras. Jadi, aku memanggil Kak Toshi untuk memastikan.
“Kak Toshi!”
Kak Toshi menengok. Dia terkejut melihatku berdiri di depan pintu kelasnya. Dia lalu berdiri dan menghampiriku. Kami berdiri berhadapan. Kak Toshi hanya menatapku, tidak mengatakan sepatah kata pun. Aku memeluknya.
“Aku senang bertemu Kak Toshi lagi!” aku berseru.
“Haru? Kau sudah kembali?”
“Iya. Kak Toshi kaget?” aku melepaskan pelukanku.
“Iya. Haru..” dia memelukku lagi. “Ayo!” dia menarik tanganku dan aku mengikutinya.
Kami ke atap sekolah. Di sana ada beberapa murid lain yang sedang mengobrol dan makan. Kak Toshi menarikku sampai ke pagar pembatas lalu duduk dan bersender di pembatas itu. Aku masih berdiri. Dia menatapku.
“Kenapa masih bersiri? Duduklah. Aku ingin membicarakan banyak hal denganmu.”
“Ah, iya.”
Aku duduk di sampingnya. Jarak kami sangat dekat. Aku bisa merasakan jantungku hampir melompat keluar dari tempatnya. Akhirnya aku bertemu Kak Toshi. Aku memekik pelan dalam hati. Rasanya seperti semua kebahagiaan seumur hidupku menumpuk saat itu. Tapi, itu terlalu berlebihan.
“Kau tidak berubah, ya.”
“Kak Toshi juga. Tetap saja lebih tinggi dariku.”
“Kau saja yang terlalu kecil.”
“Tidak! Aku tambah tinggi, kok. Sekarang tinggi badanku adalah 162 cm. Aku lumayan tinggi di kelasku.”
“Tapi kau masih lebih pendek dariku. Tinggiku sekarang 184 cm.” dia tertawa. “Aku ingat, dulu kau pernah bilang suatu saat nanti kau akan menjadi lebih tinggi dariku. Waktu itu aku bilang tidak mungkin ‘kan? Ternyata memang tidak mungkin, ‘kan?” dia tertawa lagi. Kali ini jauh lebih keras dari sebelumnya.
Kak Toshi berubah. Sekarang, dia dapat tertawa lepas. Dulu, dia hanya tertawa di depanku. Sekarang, baru saja kulihat dia tertawa keras bersama teman-temannya. Wajahnya juga terlihat lebih ceria, padahal aku tidak ada. Sekilas tadi aku merasa hatiku berlubang. Sakit sekali. Aku bertanya dalam hati, padahal, selama ini aku tidak ada. Tapi, mengapa Kak Toshi bisa kelihatan begitu bahagia?
“Kau di kelas berapa?“
“Aku masuk kelas 1-2.”
“Wah! Itu ‘kan kelas untuk anak baru dengan nilai tinggi. Hebat!”
“Ah, tidak juga. Aku pasti ada di urutan terakhir di antara teman-teman yang lain. Aku ‘kan tidak terlalu pandai dalam matematika dan kimia.”
“Kau masih suka merendah begitu. Oh iya, kau ikut klub apa?”
“Klub? Mmm.. sebenarnya aku ingin ikut klub teater. Di sekolahku yang dulu, aku ikut klub teater.”
“Tapi, di sini ‘kan…”
“Tidak ada klub teater. Iya, aku baru tahu. Jadi, sekarang aku bingung. Kak Toshi ikut klub apa?”
“Aku ikut klub sepak bola. Klub sepak bola Suzumiya ini cukup dikenal di Tokyo lho.”
“Oh.. Aaaa!”
“Kenapa berteriak begitu?”
“Aku ikut klub sepak bola saja. Supaya aku bisa terus bersama Kak Toshi.”
“He? Memangnya kau bisa bermain sepak bola?”
“Tidak. Aku akan menjadi manajer.”
“Tapi, kami sudah punya manajer.”
“Memangnya tidak boleh ada dua manajer?”
“Tidak juga, sih. Kalau begitu, aku akan tanyakan pada ketua. Sepulang sekolah nanti, kau bisa ikut ke lapangan dan bicara pada ketua.”
“Toshi! Aku mencarimu ke mana-mana! Eh, ini siapa?”
“Ah, kenalkan. Ini Haruhi, sepupuku. Dia murid kelas 1. Mmm.. Haru, ini…”
“Hai, Haru. Aku Hikari, pacar Toshi. Senang berkenalan denganmu.” Dia tersenyum sambil mengulurkan tangannya padaku.
“Pacar Kak Toshi? Itu berarti.. orang yang disukai Kak Toshi?” aku bertanya, hanya berbisik, lebih kepada diriku sendiri.
“Apa?”
Tidak ada yang mendengarnya. Hanya aku yang menggumam sendiri.
“Ah, iya. Aku lupa. Aku harus kembali ke kelas.”
“Oh iya, nanti sore aku akan menjemputmu di kelas. Kita ke lapangan bersama. Tunggu aku, ya.”
Aku mengangguk lalu segera pergi. Aku melewati lorong dengan langkah kecil. Aku menunduk. Aku bahkan tidak ingin melihat orang-orang di sekelilingku. Aku langsung berlari menuju kelas dan kembali ke tempat dudukku. Kukeluarkan ipod-ku dan segera kupasang headset-nya di telingaku. Lagu yang kuputar adalah A Silent Letter dari L’Arc~en~Ciel. Kepalaku kubenamkan di tangan. Kurasakan panas menjalari pipiku. Ternyata, air mataku jatuh. Sepertinya hatiku memang berlubang. Air mata ini jatuh pasti karena hatiku sakit, sangat sakit. Lagu itu sama sekali bukan lagu yang tepat untuk situasi sekarang. Hatiku semakin sakit.
***
bersambung...



You may also like

Tidak ada komentar: