Aku membuka laptopku. Awalnya, aku ragu hendak melakukan apa dengan laptop yang sudah tidak kusentuh selama empat hari ini. Akhirnya, kubiar...

IKSI 2009

Aku membuka laptopku. Awalnya, aku ragu hendak melakukan apa dengan laptop yang sudah tidak kusentuh selama empat hari ini. Akhirnya, kubiarkan jari-jariku menjelajahinya sendiri. Aku membuka sebuah folder yang berisi foto-fotoku dan teman-temanku saat kami masih menjadi mahasiswa baru jurusan Sastra Indonesia. Ada banyak sekali foto kami yang diambil dari kamera Alfi, temanku di Sastra Indonesia. Saat aku melihat foto kami memakai pakaian serba putih di hari terakhir PSA MABIM 2009, tiba-tiba hatiku mencelos. Aku mengingat kembali apa saja yang kami alami saat itu dan aku membandingkannya dengan apa yang telah terjadi sampai sekarang.

Kami sudah bersama selama satu tahun enam bulan. Itu bukanlah waktu yang singkat bagi kami untuk saling mengenal dan menjadi lebih dekat. Banyak sekali hal menyenangkan dan menyedihkan yang kami alami selama satu tahun enam bulan itu. pada awalnya, kami tidak saling kenal. Lalu, diadakanlah HHK (Hari-hari Kekerabatan) yang membuat kami, IKSI 2009, saling mengenal. Setelah HHK, kami mengadakan HBB yang membuat kekerabatan kami juga semakin erat. Kami mulai bisa bekerja sama dari situ. Setelah itu, dalam satu tahun itu, kami sama-sama melewati Falasido 2009 dan ITP 2010 yang membuat kami menjadi mahasiswa aktif dalam acara jurusan. Beberapa dari kami juga ada yang mengikuti seleksi BEM dan beberapa UKM serta BO atau BSO lain.
Namun, yang membuat kami menjadi sangat dekat adalah PK. Mahasiswa semester 1 FIB harus mengikuti Petang Kreatif yang setiap tahun diadakan. Kami mengikuti proses latihan tersebut dari awal. Mulai dari latihan pernapasan, pengeluaran suara, pengendalian emosi, smapai pemantapan peran kami lewati bersama. Walaupun ada beberapa dari kami yang tidak bisa mengikuti latihan PK ini, kami tetap bisa bersenang-senang bersama. Banyak masalah yang timbul saat itu, namun kami tetap menjalani proses itu bersama dan kami kekerabatan kami juga tidak luntur. Kami menyadari bahwa tidak mudah menyatukan satu angkatan yang saat itu berjumlah 46 orang itu. akhirnya, sekitar 30 orang dari kami mengikuti PK 2009, mewakili Program Studi Indonesia.
Kami tidak menang saat itu. Memang, ada sedikit kesedihan yang mencekat. namun, itu semua terobati karena kami bisa melihat penonton tertawa terbahak-bahak setiap detik melihat kami. Kami senang sekali karena kami telah berhasil menghibur penonton yang sata itu sangat memadati Auditorium gedung 9 FIB UI. Kami juga sangat bangga saat melihat seluruh penonton berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah saat pertunjukan kami berakhir. Kami memenangkan hati penonton saat itu. Momentum itu tidak dapat kami lupakan. Bahkan, pagi itu, saat pemenang PK 2009 sudah diumumkan, kami masih tetap menjadi perbincangan dari FIB sampai Kukel. Kebanyakan dari komentar yang kami dengar menanyakan mengapa kami tidak memenangkan PK 2009. Pertanyaan itu memang muncul dalam benak kami pagi itu. mengapa kami tidak menang?
Ternyata, teater yang harus ditampilkan dalam PK 2009 adalah teater yang serius, bukan teater komedi seperti yang kami tampilkan. Itu memang terdengar menyakitkan bagi kami, namun kami tetap senang mendapatkan hasilnya. Ya, karena Sastra Indonesia mempunyai cirri khas yang harus dipertahankan sebagai identitas kami, yaitu teater komedi yang dapat membuat penonton tertawa terpingkal-pingkal. Jika dipikir-pikir, sebenarnya aku kasihan pada penonton saat itu karena perut mereka pasti sakit dengan tertawa setiap detik. XDDD
Itu adalah kejadian satu tahun yang lalu, Sabtu, 12 Desember 2009. Tahun ini, kami sebagai mahasiswa semester 3 harus mengikuti PSPB dan Karnaval yang juga merupakan rangkaian acara dari Festiva Budaya, sama seperti PK. Dalam PSPB (Pekan Seni Pekan Budaya) kali ini, Jumat, 10 Desember 2010, kami juga menampilkan teater musikal yang menggabungkan unsur seni tari, seni musik, dan seni teater. Ternyata, hal yang sudah mendarah daging memang sulit dihilangkan. Kami menampilkan teater komedi lagi dan kami juga sukses membuat penonton tertawa. Kami telah melakukan yang terbak yang bisa kami persembahkan. Saat karnaval sore harinya pun, kami juga telah meneriakkan yel-yel kami dengan total dan kamisangat bersemangat melakukannya dari awal sampai akhir. Jika ingin melakukan hal gila, lakukanlah dengan total. Hal itulah yang selalu kami tanamkan.
Sabtu, 11 Desember 2010, PK kembali diadakan. Kali ini, adik-adik kami angkatan 2010 yang mendapat giliran untuk tampil. Kami menonton mereka dan tertawa bersama saat melihat penampilan mereka. Sudah setahun berlalu sejak kami juga ada di sana memberikan penampilan terbaik yang bisa kami tunjukkan. Rasanya rindu sekali. Kami ingin mengulang PK kami. Namun, tidak ada penyesalan akan hal itu. Kami tidak menyesal karena kami tidak menang saat itu. kami hanya ingin kembali merasakan kebersamaan kami dalam latihan PK yang tidak akan pernah kami lupakan itu.
Akhirnya, sat yang telah kami tunggu datang, yaitu pengumuman pemenang. Entah mengapa, kami merasakan déjà vu saat kami duduk di auditorium gedung 9, di tempat yang sama seperti saat kami menunggu pengumuman pemenang PK 2009. Ada sedikit perasaan takut saat itu. Ketakutan akan terulangnya kejadian yang sama setahun yang lalu. Kami mendengar pengumuman dengan perasaan tegang. Juara 3 PSPB sudah diumumkan Prodi Perancis yang mendapatkannya. Saat itu, aku merasakan ketakutan yang luar biasa. Aku mulai merasakan perasaan yang sama seperti setahun yang lalu. Mala yang saat itu duduk di sebelah kiriku juga merasakan hal yang sama. Aku tidak sanggup mengangkat wajahku saat Korea menjadi Juara 2.
Beberapa detik kemudian, hal yang kami takutkan benar-benar terjadi. Prodi kami tidak disebutkan. Saat itu, aku sudah tidak bisa menahan air mataku lagi. Aku menundukkan kepalaku di atas paha Mala. Kesedihan yang kurasakan saat itu melebihi tahun lalu. Aku mengingat usaha yang telah kami lakukan selama seminggu terakhir ini. Aku mengingat betapa sulitnya mengumpulkan teman-temanku seangkatan. Betapa sulitnya menyatukan semuanya dalam satu waktu. Bahkan, saat kami berkumpul bersama dalam satu kelas pun, sangat sulit untuk membuat kami benar-benar bersatu. Aku merasakan itu. Aku tahu bahwa dalam setiap angkatan pasti aka nada masalah seperti itu. mungkin perbedaan pendapat, keegoisan, bahkan mungkin ketidakpedulian pada jurusan sendiri. Aku sempat merasakan itu. saat itu, aku kembali merasakan itu semua dan merasa sangat sedih mengingatnya. Tapi, kenyataan yang kami hadapai sekarang adalah kenyataan yang sama seperti tahun lalu. Kami gagal membuat Prodi Indonesia memenangkan PSPB dan Karnaval seperti tahun lalu. Aku merasa aku telah mengkhianati kepercayaan dan keyakinan mereka bahwa kami pasti menang.
Aku tidak sanggup lagi mengangkat wajahku. Sayup-sayup aku bisa mendengar hiruk-pikuk mahasiswa dari prodi yang memenangkan PSPB. Aku juga bisa mendengar ucapan teman-temanku yang mengatakan bahwa masih ada pengumuman pemenang karnaval, kalau Karnaval kita pasti menang. Tetapi, saat itu aku sudah tidak ingin berharap. Aku tahu hasilnya akan sama. Aku bisa merasakannya. Itu terbukti. Prodi kami tidak disebutkan. Kami gagal dan saat itu aku merasa sangat miris. Aku ingat usah keras kami untuk berteriak seheboh yang beberapa dari kami kehabisan suara. Suaraku juga serak dan tenggorokanku sakit karena berteriak-teriak saat karnaval. Bahkan, panci temanku sampai berlubang karena terus menerus dipukul untuk menghasilkan suara yang berisik. Kami telah berusaha sekuat tenang. Akan tetapi, aku merasa usaha kami sia-sia karena kami tidak berhasil memenangkan Karnaval seperti tahun lalu. Sakit sekali rasanya karena selama dua tahun berturut-turut kami gagal mencatatkan nama prodi kami sebegai juara.
Walaupun begitu, adik-adik kami angkatan 2010 berhasil memberikan kemenangan dalam PK 2010. Mereka berhasil meraih juara 2 serta meraih predikat Make-up Terbaik PK 2010. Kesedihan kami sedikit terbayar saat itu. Kebahagiaan seketika itu merayapi tubuhku dan membuatku bisa mengangkat wajahku bahkan meneriakkan nama prodi kami dengan sangat keras hingga memenuhi ruang auditorium. Kami berdiri sambil meneriakkan prodi kami dengan penuh semangat. Prodi kami menjadi juara. IKSI 2010 berhasil membayar kekecewaan kami tahun lalu. Mereka hebat dan kami bangga akan hal itu. Prodi Indonesia berhasil membawa tiga piala, yaitu Juara 3 GSR (Gelar Sastra Raya) 2010, Juara 2 PK 2010, dan Make-up Terbaik PK 2010.
Namun, tetap ada hal yang mengganjal di hati kami, IKSI 2009. Ya, kami mengalami déjà vu. Kami duduk di tempat yang sama seperti tahun lalu dan kami juga mengalami ketidakberhasilan dan kekecewaan yang sama seperti tahun lalu. Apa yang salah dengan kami? Pertanyaan itu memang terlintas di benak kami. Akan tetapi, jika kami mengingat kebersamaan yang terjalin setiap hari, kemudian saat latihan PSPB dan Karnaval, serta ketika Hari-H kami melaksanakan PSPB dan Karnaval, kami merasa itu kemenangan memang bukan hal utama. Memang, jika kami menag, tentu kami akan merasa jauh lebih senang. Namun, kebersamaan yang kami rasakan selama ini mungkin tidak akan dirasakan oleh jurusan lain. Kami senang telah mengalami ini semua. Kenangan tentang PK, PSPB, dan Karnaval adalah kenangan tentang kebersemaan, kegilaan, dan kegalauan kami bersama.
Aku senang bisa menjadi bagian dari IKSI 2009. Aku senang bisa memiliki teman-teman seperti kalian. Tetaplah semangat karena IKSI 2009 adalah angkatan yang selalu bersemangat bahkan saat galau dan sedih. Kenangan tentang kita tidak akan kulupakan. Sedih memang karena kita tidak bisa memberikan kemenangngan seperti IKSI angkatan lain. Tetapi, IKSI adalah satu keluarga. Kemenangan yang lain adalah kemenangan kita juga. Kutipan dari yel-yel kami saat Karnaval sangat tepat mengungkapkan kalimat sebelumnya, yaitu “IKSI ADALAH KAWAN SEPERJUANGAN!”
Ini adalah sedikit curahan hatiku tentang IKSI 2009. Aku sangat menyayangi kalian semua. Kurasa, kita semua bangga menjadi IKSI 2009. Pasti. Terima kasih banyak untuk semua kegembiraan yang telah kita bagi bersama sampai hari terakhir Fesbud kemarin. Terima kasih banyak atas dukungan dan usaha kalian semua. Di semester depan, masih akan menanti banyak kejadian lain yang akan membuat kita semakin akrab seperti keluarga sebenarnya. Doaku untuk IKSI 2009 sebagai sebuah keluarga dalam IKSI, semoga kebersamaan kita tidak pudar dan tetap terjaga. Kalian teman terbaik yang penah kumiliki. Terima kasih, IKSI 2009.

Minggu, 12 Desember 2010.
Kutulis setelah tanpa sengaja aku melihat foto-foto IKSI 2009 saat HHK dan HBB dan karena semalam kami baru saja mengalami déjà vu bersama. Aku mencintai kalian. J


You may also like

Tidak ada komentar: