Awal Pertama Buku-buku memang selalu bisa melihat bahwa setiap hari aku memutar pandang mencarimu bahwa aku selalu mencuri pandang ke arah...

Sajak Kemarin dan Nanti

Awal

Pertama

Buku-buku memang selalu bisa melihat bahwa setiap hari aku memutar pandang mencarimu
bahwa aku selalu mencuri pandang ke arahmu, setiap kau duduk di sana
bahwa aku selalu kehabisan napas karena memandangimu lekat-lekat
bahwa aku selalu berkata dalam hati
berharap
suatu saat nanti buku-buku itu akan melihatku bicara denganmu



Kedua

Waktu selalu berjalan lebih cepat dari langkahku
karena waktulah aku tetap diam ditempat
mengapa waktu membiarkan orang lain dekat dengannya?
sedangkan aku, terpuruk di antara wantu dan kenyataan
karena aku memang belum mengenalnya
dan aku hanya bisa mengikuti langkah waktu yang selalu lebih dulu
lebih tahu daripada aku



Ketiga

Ini seperti catatan harian
yang hanya akan ditulis saat peristiwa
dan suatu peristiwa lain patut dikenang
Ini seperti catatan harian
yang isinya hanya ocehan panjang lebar sang penulis tentang dunia, semesta
Ini seperti catatan harian
yang di dalamnya terekan perasaan yang mengalir dari tiap goresan tinta yang menghasilkan kata
dan ini catatan yang selalu kutulis
bukan untuk mengingatmu
hanya sekadar untuk mengingatkanku
bahwa aku beruntung bisa mencintaimu




Tengah

Pertama


Pagi hari, aku di stasiun
Siang hari, aku pusing dalam kendaraan
Sore hari, aku di antara hamparan bunga warna-warni
menyuguhkan keharmonisan bagi ragaku
dengan langit dan awan cerah biru muda
yang aku pandangi bersama dengannya
sambil bersama-sama kami sumpahi
keindahan dan kesejukannya
Malam hari, aku di jalanan, tidak terlantar, hanya mencari cara untuk pulang
Dini hari, aku di kamar indekos temanku
menghamparkan diri, memejamkan mata
dan mensyukuri hari kemari



Kedua

Aku bertemu dengannya
melihatnya berjalan di antara kerumunan orang
Aku menyapanya
tertawa melihatnya terkejut dengan penampilan baruku
Aku menyesalinya
karena dia berjalan bersama seseorang
Aku tidak mengutuknya, tentu tidak
Aku mengutuk diriku sendiri
yang tidak bisa berbuat apa-apa
untuk memperjuangkan sesuatu yang selalu kusimpan dalam kotak kosong yang fana



Ketiga

Air itu
mungkinkah hanya akan mengalir
jika kita memang mengalirkannya
atau Tuhan yang membuatnya seperti itu sejak sedia kala?
Air itu selalu mengalir
jika pisau mengiris hatiku
Ah! tidak ada pisau yang bisa mengiris hatiku!
hanya kau
yang bahkan bisa membuat air itu
mengalir tanpa menyayatkan sedikit pun kesakitan di sana



Keempat

mungkinkah hanya aku yang terlalu memikirkannya?
atau kau memang tidak mau tahu?




Akhir

Pertama

Aku baru menyadarinya dewasa ini
aku hidup untuk menulis
dan aku baru menyadarinya
hanya beberapa detik yang lalu
Aku menulis hanya tentangmu
tapi aku tidak hidup untukmu
Aku hidup untuk menulis, dan aku menulis hanya tentangmu
kau tahu 'kan?
kuharap kau tahu walaupun hati kecilku menolak untuk tahu



Kedua

Kita tidak tahu
apa yang sudah menanti kita di sana
mungkin matahari
mungkin bulan
mungkin cahaya menyilaukan
mungkin kegelapan pekat lekat
mungkin...
mungkin hanya aku yang tidak tahu
bahwa yang menanti di sana
hanya sepi
hanya nyanyian jeritan kesedihan



Ketiga

entahlah
aku tidak tahu
aku berdosa
aku bodoh
aku hina
aku menyedihkan
terpuruk
maafkan aku



Keempat

Aku tidak ingin mengucapkan selamat tinggal!

Aku tidak sanggup mengucapkan jangan pergi!

Aku akan dengan senang hati mengatakan
"halo, bagaimana kabarmu hari ini?"
sambil membuat telur dadar untuk sarapan



Kelima

Aku memang tidak ingin kau pergi
karena aku mencintaimu
karena aku ingin selalu melihatmu
karena aku ingin selalu bersama
hal-hal bodoh
aku hanya menginginkan kebodohan itu
Aku tidak ingin kau pergi
karena aku tidak ingin kehilangan sosokmu
yang selalu hadir di antara setumpuk buku
karena aku tidak ingin melupakan sesenti pun garis wajahmu, tubuhmu
Aku memang tidak ingin kau pergi
karena aku ingin selalu ingat

puisi-puisi ini ditulis di semester 2, saat saya baru mengenal cinta pertama saya di UI


You may also like

Tidak ada komentar: