Hari ini, sebenarnya saya baru saja sembuh dari sakit tenggorokan yang mengerikan--saya katakan mengerikan karena sakitnya sungguh luar bias...

Riset

Hari ini, sebenarnya saya baru saja sembuh dari sakit tenggorokan yang mengerikan--saya katakan mengerikan karena sakitnya sungguh luar biasa--dan belum pernah saya alami sebelumnya. Jadi, hari ini, pagi ini sebetulnya, saya membawa laptop saya ke bawah dan menonton video Super Junior via Youtube.Saat sedang terpesona mendengarkan suara Kyuhyun, ada seorang wanita berusia 40-an datang ke rumahku. Aku sedang berada di ruang tamu saat itu dan otomatis akulah yang menerimanya, maksudku, akulah yang mempersilahkannya masuk. Nah, lalu, wanita itu menanyakan usiaku.
Lalu, katanya, "Wah pas banget. SMA di mana mba?"
Aku langsung menjawab, "Saya udah kuliah, bu."
Wanita itu langsung menanggapi, "Yah, gini, mba. Jadi hari ini ada riset tentang minuman teh gitu. Nah tadinya saya udah dapet tuh anak-anak SMA 3 tapi tiba-tiba mereka batal. Jadi, saya harus nyari anak SMA nih. Mba lagi nganggur, kan? Ngaku jadi anak SMA gak papa ya? Ngaku aja jadi anak SMA 28. Yang di Pasar Minngu itu. Thu kan ya?"
Aku diam sebentar. Hanya tertawa terpaksa, lalu menjawab, "Oh, gitu ya. Iya sih lagi gak ada kerjaan. Ya udah deh, boleh."
Kemudian, dia memberikan lembar pertanyaan tentang beberapa hal. Tentu saja, aku mengaku sebagai anak SMA 28. Yah, setidaknya aku tidak berbohong soal umurku. Jadi, berangkatlah aku jam 3 ke tempat riset yang berada di belakang Rumah Sakit Budhi Asih bersama temanku yang tinggal dekat rumahku. Lalu, dimulailah riset itu.
Pertama, aku disuruh makan crackers, yang walaupun tidak diperlihatkan mereknya, aku tetap tahu merek crackers tersebut. Setelah itu, aku disuruh minum air putih kemasan yang sudah disediakan. Kata wanita yang mewawancaraiku, itu berguna untuk menetralkan lidahku karena aku akan mencoba tiga macam teh yang berbeda.
Teh pertama dikeluarkan dan aku disuruh mencium aromanya.
"Aroma melati," jawabku singkat.
"Apakah aromanya pekat?"
"Iya. Sangat pekat."
Jujur saja, sebenarnya aku juga sudah tahu teh apa yang kuminum tadi karena rasanya memang sangat khas. Lalu, wanita itu bertanya lagi.
"Warnanya gimana, mba? Bening, ya?"
Dalam hati, aku bertanya, sebenarnya orang ini menanyakan pendapatku atau memaksakan pendapatnya. Tapi, kujawab saja iya.
"Manisnya udah pas ya mba?"
"Mmm.. KUrang manis sih sebetulnya dan kaya ada rasa pahitnya gitu."
"Oh, agak pahit, ya. Terus ada rasa sepetnya gak?" tanya wanita itu sambil menulis di lembarannya.
"Oh, iya, mba, ada. Tapi tetep enak kok. Manisnya berasa."
Nah, berlanjutlah kami ke teh kedua. Aroma, warna, dan rasanya juga tetap ditanyakan. Jawabanku sedikit berbeda, namun tetap jujur. Kali ini pun aku tahu merek teh tersebut. Teh yang kedua ini lebih khas rasanya. Teh ketiga pun kurang lebih sama. Tentu saja, setiap aku selesai mencoba terh-teh tersebut, sebelum mencoba teh lainnya, aku harus memakan crackers dan meminum air putih agar rasanya tidak bercampur.
Tahap mencoba teh dan mencium aromanya selesai. Tahap berikutnya, aku ditanya soal teh mana yang lebih kusuka. Kujawab bahwa teh kedua paling kusuka, teh pertama di urutan kedua, dan teh terakhir di urutan ketiga. Ya, tahap kedua selesai. Berkali-kali aku dihadapkan pada kertas yang bertuliskan skala dari sangat setuju sampai sangat tidak setuju untuk menjawab pertanyaan wanita itu.
Tahap ketiga, aku ditunjukkan sebuah gambar minuman, teh dalam botol. Pertanyaan yang diajukan adalah sebagai berikut.
"Menurut mba, apakah ada yang tidak mba sukai dari gambar ini? Misalnya warna atau yang lain?"
"Mmm.. font-nya sih.. terlalu kaku kayanya."
"Oh.. iya, terus ada simbol yang mba sukai?"
"Iya, ini yang di kanan bawah."
"Kenapa bisa suka? Apakah menarik?"
"Iya, menarik Soalnya lucu, kaya gambar anak kecil gitu."
"Oh iya. Terus bagian apa lagi yang menarik perhatian mba dan mba suka?"
"Ini, mmm.. gambar daun-daunnya."
"Kenapa?"
"Karena kesannya seger gitu. Cocok buat minuman."
"Apalagi?"
"Gambar airnya juga. Yang kaya air dalem botolnya goyang gitu."
"Oh.. kalo warnanya?"
"Ah.. Saya suka warna tehnya yang agak terang ini. Lebih enak dilihat aja."
"Kalau bentuknya?"
"Terlalu lebar, ya, jadi kayanya agak susah di bawa. Kurang ramping gitu."
"Sekarang, dari skala sangat setuju sampai sangat tidak setuju, apakah menurut mba tampilan teh ini akan membuat orang ingin membelinya?"
"Agak setuju."
"Kenapa?"
"Mmm.. Karena font-nya terlalu kaku. Harusnya bentuk font-nya diganti dengan yang lebih meliuk-liuk gitu dan posisinya juga gak harus vertikal, bisa horisontal atau agak miring-miring juga gak apa-apa."
Yak! Dengan begitu, selesailah riset mengenai teh itu. Aku pun diantar ke meja yang ada di dekat pintu masuk tadi dan setelah membubuhkan tandatangan di samping namaku, akhirnya aku keluar dengan amplop berisi uang di tanganku. Ternyata, semudah ini mendapat uang tambahan yang tak diduga. Memang benar sepertinya, rezeki tidak bisa ditolak dan tidak akan pergi ke mana-mana. Banyak orang di sekitar rumahku yang mungkin bisa mendapatkan kesempatan itu. Namun, mengapa aku? Mengapa saat itu wanita yang memintaku ikut riset memarkir motornya di depan rumahku dan datang ke rumahku? SEmuanya mungkin hanya kebetulan, tapi tidak menurutku. Yah, begitulah sedikit cerita di hari ini. Aku hanya ingin membaginya saja dengan kalian. Maaf jika saya memenuhi notification kalian. Terima kasih~ :DDD


You may also like

Tidak ada komentar: