Kepalaku pusing. Ombak telah membuat kapal yang kunaiki bergerak naik dan turun, terombang-ambing tanpa gairah. Aku—entah untuk keberapa ka...

Dari Atas Kapal


Kepalaku pusing. Ombak telah membuat kapal yang kunaiki bergerak naik dan turun, terombang-ambing tanpa gairah. Aku—entah untuk keberapa kalinya—keluar dari kamarku sekadar untuk mengecek apakah sudah ada pulau yang terlihat atau masih lautan lepas yang menyentuh langit dibatasi cakrawala. Ternyata masih laut, namun warna langit sudah tidak biru lagi. Matahari ternyata sudah malu untuk memancarkan sinarnya. Sinarnya sudah meredup. Berubah dari cahaya menyilaukan menjadi sinar merah jingga yang lembut. Air laut pun terpengaruh oleh sinar itu. Di ujung sana, tepat di bawah matahari, warnanya sudah berubah menjadi merah kekuningan.
Sinar itu juga menerpa wajahku. Entahlah. Mungkin sekarang wajahku memerah. Aku menikmati warna-warna itu. Jingga, biru laut, dan langit yang sebagian merah, namun sebagian lainnya sudah mulai gelap. Aku tidak sendirian melihat semua itu. Kapal yang sudah berlayar selama kurang lebih sepuluh jam itu memang telah membuat beberapa penumpang bosan, termasuk aku.
Aku duduk di bangku haluan dek 5 dengan pikiran melayang-layang ke kampung halamanku yang baru saja kutinggalkan dua hari yang lalu. Senja di sana kurang lebih sama. Hanya ada satu perbedaannya, saat di sana aku tidak termenung sendirian. Ada teman-temanku dan beberapa saudara sepupuku yang ikut melihat senja itu di pinggir pantai sambil bernyanyi-nyanyi riang dan bercerita tentang hal-hal menarik yang bisa kuhabiskan bersama mereka di sana. Senja itu menarik. Saat sedang asik bernyanyi, tiba-tiba salah seorang pamanku meneriaki kami dari atas. Ternyata sudah waktunya berbuka puasa. Azan maghrib memang belum terdengar karena, di sana, azan akan dikumandangkan setelah semua orang sudah berbuka puasa, termasuk sang muazin. Waktu berbuka puasa sudah diumumkan sebelumnya melalui masjid terdekat.
Saat naik ke atas, pamanku memintaku untuk berbuka puasa di sana, namun aku mengatakan bahwa aku belum meminta izin. Kutambahkan lagi bahwa mungkin lain kali aku bisa. Aku pulang bersama dua orang sepupu perempuanku. Satu di antaranya tinggal di belakang rumah besar dan kami berpisah di pertengahan jalan. Di depan rumah, mama dan bibiku sudah menunggu kami, aku dan sepupu perempuanku yang juga tinggal di rumah besar. Mereka hanya mengatakan bahwa hidangan untuk berbuka puasa sudah disiapkan di meja belakang: semangkuk kolak cendol, sepiring kecil kue kenari, dan sirup rasa jeruk.
Aku bersama sepupuku itu membawa hidangan kami ke depan rumah dan ikut berbuka puasa bersama mama dan bibiku. Aku menatap langit yang saat itu sudah mulai gelap, namun di satu bagian lainnya masih terlihat awan merah. Kupikir, di Jakarta tidak akan pernah kulihat senja seperti ini. Aku menatap kosong sejenak, lalu dikejutkan oleh teriakan seseorang dari jalan. Pamanku yang memanggil. Paman dari keluarga nenekku. Dia sedang menaiki sepeda motornya dan berhenti di depan rumah kami. Dia menghampiri mama kemudian meminta maaf karena baru sempat datang sekarang. Saat itu, kami sudah delapan hari berada di sana. Kemudian, dia beralih padaku. Aku mencium tangannya sambil tertawa kecil karena aku tidak tahu siapa yang kusalami itu. Dia berpendapat bahwa aku sudah sangat besar. Memang, terakhir kali aku datang ke sana adalah saat aku berusia 9 tahun dan saat ini aku memang sudah lupa pada saudara-saudaraku yang jauh, bukan saudara langsung. Setelah mengatakan itu, dia langsung minta izin untuk pulang dan segera pergi dengan motornya lagi.
Rumahku berada di pinggir jalan—bukan sebuah jalan besar, namun cukup untuk dilalui dua mobil—dan berhadapan dengan sekolah, SD dan SMP. Saat senja begitu, biasanya masih banyak motor-motor yang lewat. Suaranya memang sedikit bising, namun tetap saja tidak sebising di Jakarta. Setelah azan maghrib terdengar, tidak ada lagi motor yang lewat. Hanya ada beberapa anak muda tak tahu adat yang menyalakan mesin motornya saat azan magrib. Pengendara motor lainnya mematikan mesin motornya saat lewat di depan masjid supaya suara mesin motornya tidak mengganggu.
Akhirnya, langit gelap seluruhnya. Entah senja di sana berlangsung selama berapa lama, hanya aku yang penasaran soal itu. Sekarang, aku berada di atas kapal dan menyaksikan langit yang sama, yang masih bersih dan segar. Kapal kami terus maju dan sebelum warna merah itu hilang sepenuhnya, aku mengeluarkan telepon genggamku dari saku, kemudian mengabadikan warna itu dengan kamera dalam telepon genggamku. Satu kali, dua kali, dan tiga kali, sampai warna merah itu hanya tinggal segaris dekat cakrawala.
Aku melihat hasilnya dengan perasaan puas. Sambil tersenyum simpul sendiri, kulihat warna merah itu telah hilang. Langit sudah gelap, tak ada lagi awan yang nampak dan aku pun tidak dapat melihat bulan. Azan magrib juga sudah berkumandang dan sekarang kudengar pengumuman waktu salat magrib pukul 18.25 WITA atau waktu di atas kapal, kemudian arah kiblat menghadap buritan kapal, serong kanan 250, serta ajakan untuk salat berjamaah di musala yang terletak di dek 6. Setelah pengumuman itu selesai, aku merasa perlu kembali ke kamar. Aku saat itu sedang mendapatkan halangan untuk tidak salat, sama seperti wanita lainnya yang biasa mendapatkannya tiap bulan. Aku menutup pintu kamarku, kemudian membaringkan diri di atas tempat tidur sambil melihat-lihat kembali foto-foto yang sempat kuambil selama aku berada di Pulau Alor dan beberapa foto lainnya yang kuambil dari atas kapal.

tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas pertama kelas Penulisan Populer


You may also like

Tidak ada komentar: